
Vanila sengaja memutar gas motornya hingga suara motor itu terdengar begitu keras. Roda ban bagian belakang bahkan berputar sehingga asap tipis terlihat. Dia bagaikan siap menabrakkan diri ke arah Renata, tentunya Renata tidak ragu karena memang itulah yang dia inginkan.
Abraham sudah menghentikan mobilnya agak jauh, Gaston dan Sonny mengintip dari persembunyian dan melihat keadaan. Tiba-Tiba saja jalan itu seperti milik mereka. Tidak ada satu kendaraan pun yang melewati jalan tersebut.
Vanila dan Renata bagaikan dua koboi yang menunggang kuda dengan senjata api di pinggang. Mereka seperti sudah siap menarik pistol dan saling menembak, mereka berdua bisa diibaratkan demikian karena mereka seperti menunggu salah satu dari mereka menjalankan kendaraan yang mereka bawa.
Tatapan Vanila tidak lepas dari mobil Renata, pandangan Renata juga tidak lepas dari motor Vanila. Kaki sudah siap menginjak gas, tangan pun sudah berada di pedal gas.
"Apa yang ingin kau lakukan, Vanila?" tanya Abraham.
"Menjadi umpan yang keren jadi jangan ganggu kesenangan ibu muda ini. Awas jika kau berani, tidur sendiri selama satu bulan!" ancam Vanila.
Abraham menggeleng, istrinya benar-benar luar biasa tapi dia juga ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh Vanila.
"Stop bermain, Vanila. Kami akan segera menyergap dan menangkapnya!" ucap Norman.
"Kau terlalu kaku, Kak. Sebab itu kau tidak laku!" goda Vanila.
"Kau?!" Norman sangat kesal, sedangkan Abraham menahan tawanya.
"Sudah aku katakan, hidup itu harus dinikmati oleh sebab itu, mari kita bersenang-senang!" Vanila menutup kaca helm yang sedari tadi dia buka.
Dia sudah sangat siap mengadukan motornya dengan mobil Renata. Motor vs mobil, dia ingin lihat siapa yang paling unggul tapi dia tidak serius karena dia punya rencana. Renata juga sudah siap, kali ini dia pasti berhasil dan tentunya dia belum menyadari jika dia sudah diintai dan masuk jebakan.
"Kau harus mati, Vanila Elouis. Aku pasti membunuhmu dan membuat mereka berdua berada di dalam kehancuran!" setelah berkata demikian, mobil dijalankan dengan kecepatan tinggi.
Vanila juga menjalankan motornya, aksi saat balap liar kembali teringat. Rasanya merindukan saat itu, kini dia merasa sedang bernostalgia. Jarak antara motor dan mobil sudah semakin dekat. Vanila tidak mengurangi laju motornya begitu juga dengan Vanila.
"Menyingkir, Vanila!" teriak Norman. Dia tidak sanggup melihat adiknya yang seperti ingin menabrakkan diri. Apa Vanila sudah gila?
__ADS_1
Vanila tidak menjawab, motor semakin dibawa dengan cepat. Tidak akan ada yang bisa menghentikan aksinya, sekalipun kakaknya berteriak memintanya untuk berhenti.
"Vanila, apa kau gila?" teriak Norman.
"Let's roll, Baby!" Vanila berteriak, adrenaline berpacu sehingga membuatnya semakin bersemangat.
Abraham menggeleng sambil memijit pelipis. Norman masih berteriak meminta adiknya untuk berhenti melakukan aksi bunuh diri itu.
"Aku akan membunuhmu, Vanila Elouis. Aku akan membunuhmu!" Teriak Renata. Dia juga terlihat bersemangat.
Mobil semakin cepat, motor pun tak kalah cepatnya. Jarak mereka tinggal beberapa meter saja, Noman masih meminta adiknya untuk berhenti. Abraham melihat aksi istrinya dengan santai, Vanila Eluois sungguh seorang putri yang tidak terduga.
"Stop it, Vanila!" teriak Norman karena jarak motor dan mobil tidak begitu jauh lagi. Vanila akan mati saat mobil Renata menghantam motornya, apa Vanila tidak memikirkan hal itu?
"Ha... Ha.. Ha... Ha...! Mati kau Vanila Elouis!" teriak Renata di sela tawanya. Dia sudah yakin akan menang. Motor dan Mobil mereka semakin dekat, dekat dan dekat.
Ranata sudah yakin dia yang akan menang tapi siapa yang menduga, saat jarak motor mereka tinggal beberapa meter saja dan dengan kecepatan motor yang maksimal, Vanila mengangkat bagian atas motornya sehingga motor itu melompat naik lalu mendarat di atas mobil Renata.
Renata terkejut saat motor yang dibawa oleh Vanila melompat dan naik ke atas mobilnya. Mobil masih berjalan dengan kecepatan tinggi, Vanila juga masih mengegas motornya hingga motor itu berjalan di atas mobil yang dibawa oleh Renata.
"Apa kau gila?" teriak Renata namun Vanila tidak juga berhenti. Renata berteriak histeris karena roda motor yang terus berputar memecahkan kaca mobilnya. Motor itu berjalan ke atas mobilnya sehingga membuat bagian atas mobil itu penyok ke bawah.
Mobil yang dibawa oleh Renata mulai tidak stabil, Vanila masih mengegas motornya sampai maksimal sehingga motor yang dia bawa turun dari atas mobil Renata.
"Kau benar-benar gila, Vanila!" teriak Renata marah. Dia berusaha membawa mobilnya agar stabil tapi tiba-tiba beberapa mobil keluar dari sisi jalan dan mengepung mobilnya.
Renata terkejut, mobilnya sudah rusak bagian atasnya. Pandangannya pun sulit karena kaca mobil bagian depan yang pecah. Renata mengumpat, firasat buruk. Mobil berputar arah dengan cepat, dia harus lari tapi kini dia dikejutkan oleh sebuah mobil yang menghadang karena mobil itu sudah berada di tengah-tengah.
Gaston dan Sonny keluar dari mobil, begitu juga dengan anak buah yang mengikuti mereka. Renata tampak panik, dia terkepung dengan senjata api.
__ADS_1
Abraham dan Norman keluar dari mobil, Vanila juga sudah menghentikan laju motornya di sisi mobil mereka. Helm dilepaskan, Vanila berlari menghampiri kakak dan suaminya dengan ekspresi puas.
"Abraham, bagaimana dengan aksiku?" tanya Vanila seraya melompat ke dalam pelukan suaminya.
"Bagus, kau terlihat keren!!" puji Abraham.
"Tentu saja, Vanila Elouis sudah pasti keren," ucapnya bangga.
"Oh, ya? Sepertinya ada yang harus kau jelaskan, Vanila Elouis!" ucap Norman.
"Oh, tidak. Aku lupa!" ucap Vanila. Abraham terkekeh, sepertinya akan ada rapat keluarga setelah ini.
"Nanti saja, mari tangkap rubah yang sudah menipu kita selama ini!" ucap Abraham seraya menepuk bahu Norman.
"Kau benar, aku sudah menyiapkan penjara khusus untuknya!"
Kedua pria itu melangkah mendekati mobil Renata, rubah itu tidak akan bisa lari lagi.
Kedua tangan Renata gemetar hebat. Habislah, dia benar-benar habis. Ternyata dia sudah terkecoh dengan kemunculan Vanila Elouis. Seharusnya dia curiga dengan kemunculan wanita itu yang secara tiba-tiba. Dia sungguh tidak menduga kemunculan Vanila untuk memancingnya dan dia juga tidak menduga rupa palsunya ternyata sudah diketahui oleh Abraham dan Norman.
Dia sungguh bodoh terkecoh dengan mudah. Jika dia langsung pergi dengan bantuan Evan, mungkin dia tidak akan berada di dalam situasi seperti itu dan mungkin saja dia sudah pergi yang jauh. Tidak saja kedua tangan yang gemetar, kedua kaki pun gemetar dengan hebat.
"Keluar, Renata. Tidak perlu bersembunyi dan kau tidak akan bisa lari lagi!" teriak Abraham.
"Biarkan aku pergi!" teriak Renata ketakutan.
"Ada nyawa tidak bersalah yang harus kau pertanggung jawabkan, Renata. Kematian Emely, kau harus mempertanggungjawabkannya!"
"Aku tidak tahu, bukan aku yang membunuhnya!" teriak Renata ketakutan.
__ADS_1
Sebaiknya dia kabur, dia tidak akan menang melawan mereka. Renata kembali menginjak gas mobil, dia akan lari. Mobilnya kembali berjalan, dia kira akan mudah tapi dia dikejutkan oleh puluhan timah panas yang mengantam mobilnya tiada henti.
Teriakan Renata terdengar, mobil yang dia bawa pun tidak seimbang sehingga mobil itu terperosok ke sisi jalan. Umpatan Renata terdengar, celaka. Dia benar-benar sudah tidak bisa lari lagi.