Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Tidak Terkejut


__ADS_3

Kabar kedatangan Abraham tidak membuat Norman terkejut karena dia sudah tahu dari anak buahnya.  Dia juga sudah tahu jika Abraham datang membawa pria yang sama-sama mereka cari. Sepertinya pria itu memang memiliki informasi akan kejadian belasan tahun yang lalu sehingga Abraham membawanya untuk bertemu dengannya.


Kepergiannya ke Swedia dimanfaatkan oleh kedua orangtuanya untuk kabur. Mereka akan melanjutkan acara keliling dunia mereka yang belum tuntas. Lagi pula kali ini mereka bisa menebak jika kepergian Abraham akan sedikit lama. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Ibunya meminta Abraham untuk menemui Vanila dan mencari tahu apakah gadis itu benar-benar hamil atau tidak. Jika dihitung, perut gadis itu pasti sudah besar dan dia tidak akan bisa berbohong.


Tanpa diminta pun, Abraham akan melakukan hal itu. Kali ini dia tidak akan langsung kembali. Dia akan menetap di Swedia selama beberapa hari sampai dia bisa bertemu dengan Vanila. Lagi pula dia yakin Norman tidak akan mengusirnya dari negara miliknya. Sekalipun Norman berani, dia tidak akan pergi juga.


Norman sudah menunggu kedatangannya, dia tidak peduli dengan hubungannya dengan Abraham apakah akan kembali seperti semula lagi atau tidak tapi yang dia ingin tahu adalah penyebab kematian Emely. Sejak dulu Abraham memang selalu berkata jika dia tidak terlibat dengan kematian Emely sebab itu dia ingin tahu apakah yang diucapkan oleh pria itu benar atau tidak.


Abraham juga tidak terkejut sama sekali saat dia sambut baik oleh beberapa orang yang sudah ditugaskan oleh Norman tapi dia tetap hanya boleh masuk seorang diri. Dia tahu beberapa orang bergerak mencurigakan di sekitarnya. Kini dia jadi tahu jika orang-orang itu adalah para anak buah Norman.


"Well, aku tidak terkejut sama sekali kau menyambut aku seperti ini," ucap Abraham.


"Dan aku tidak terkejut dengan kedatanganmu," ucap Norman pula.


"Jika begitu aku tidak perlu basa basi lagi, bukan? Aku rasa kau sudah tahu untuk apa aku datang kemari, Norman?"


"Aku tidak peduli dengan tujuanmu datang kemari karena aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dengan caraku. Apa kau kira aku tidak mampu? Aku lebih mampu dari pada dirimu!" cibir Norman.


"Aku tahu kau mampu tapi kenapa kau tidak pernah mencari tahu kejadian yang terjadi pada Emely padahal sudah jelas aku tidak bersalah dan sudah aku katakan, bukan aku yang menyebabkan kematiannya!"


"Diam, tutup mulutmu!" Norman tampak marah. Pria itu melangkah mendekati Abraham dan berdiri di hadapannya.  Kerah baju Abraham bahkan sudah berada di tangan Norman dan tubuhnya sedikit tertarik. Abraham diam saja, dia harus ingat dengan tujuannya, selain meluruskan kesalahpahaman yang terjadi akan permasalahan mereka, dia juga ingin bertemu dengan Vanila.

__ADS_1


"Aku tidak akan percaya apa pun yang kau katakan karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Emely mati di tanganmu. Sekalipun para petugas itu berkata Emely mati akibat bunuh diri aku tetap tidak akan percaya!" ucapnya penuh amarah.


"Jika begitu, bagaimana jika orang lain yang menjelaskan padamu. Apa kau tidak akan mempercayainya juga?"


"Pria itu?" Norman mendorong tubuh Abraham ke belakang, "Sejak awal aku memang ingin menangkapnya tapi kau lebih cepat. Jadi tidak ada bedanya kau menangkapnya terlebih dahulu atau aku!"


"Norman, aku ingin berdamai denganmu tapi kau selalu menunjukkan api permusuhan. Aku tidak mengharapkan hubungan kita kembali menjadi sahabat baik seperti dulu. Aku hanya ingin kau tahu jika bukan aku yang menyebabkan Emely bunuh diri agar rasa kebencian yang ada di hatimu padaku hilang walau sesungguhnya aku juga tidak peduli!" sungguh dia harus menahan amarah untuk hal ini.


Norman diam, melangkah mundur. Hening melanda mereka untuk sesaat, Norman memalingklan wajah, melihat ke arah Abraham.


"Apa kau melakukan hal ini agar kau bisa bertemu dengan Vanila, Abraham?" tanyanya sinis.


"Semua yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan Vanila. Sebelum aku tahu akan kehamilannya, aku sudah mendengar percakapan Renata dengan pria itu sebab itu aku ingin menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi pada Emely!"


Kedua tangan Abraham sudah mengepal erat, sungguh menguras emosi berbicara dengan Norman. Dulu dia tidak seperti itu tapi kematian Emely benar-benar sudah merubah dirinya seratus delapan puluh derajat.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu, Norman. Aku datang dengan maksud baik, jadi biarkan Gaston dan pria itu masuk agar kau mendengar perkataannya jika bukan aku yang sudah membunuh Emely!" kesabaran sudah diambang batas. Masalah Vanila bisa dibahas nanti karena yang paling penting saat ini, mereka berdua harus mendengar penjelasan Jasson jika Emely mati karena dibunuh oleh Renata padahal waktu itu Emely dinyatakan bunuh diri dan apa alasan Renata melakukan hal itu.


Norman melangkah menjauh, dia juga ingin tahu apa penyebab Emely bunuh diri. Apa Abraham menolak cintanya ataukah Abraham menghina Emely dengan kata-kata pedas menyakitkan sehingga Emely mengambil jangan nekad itu? Di antara kedua pilihan itu, dia yakin salah satu adalah jawabannya.


"Bawa kedua orang yang ada di luar sana masuk ke dalam!" perintah Norman pada anak buahnya.

__ADS_1


Abraham menghembuskan napas, akhirnya. Emosinya hampir saja meledak. Selama menunggu, mereka tidak mengatakan apa pun. Abraham melihat sekitar ruangan, rasanya ingin berlari keluar untuk mencari keberadaan Vanila. Dia yakin Vanila ada di istana itu dan dia harap dia dan Vanila betemu tanpa sengaja sehingga dia bisa melihat keadaan Vanila.


Tidak menunggu lama, Gaston sudah diijinkan masuk bersama dengan Jasson. Jasson tampak ketakutan, apa yang akan terjadi dengannya? Dia tidak menduga apa yang dia ketahui justru membawanya ke dalam masalah dan sekarang dia berada di tangan dua penguasa yang berbahaya.


Gaston mendorong tubuh Jasson hingga pria itu jatuh di dekat Norman. Tatapan mata Norman menatap ke arah Abraham lalu dia melihat ke arah Jasson yang terlihat ketakutan.


"Sekarang katakan padaku, siapa yang telah membunuh Emely?!" ucap Abraham.


Jasson masih tidak menjawab, dia tahu masalah itu akan menjadi panjang. Kali ini Renata benar-benar dalam masalah dan dia harus merelakan sumber uangnya demi kehidupannya.


"Jawab, kenapa kau diam saja?" Abraham tampak kesal, dia membawa Jasson secara langsung agar Norman mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada mereka belasan tahun yang lalu.


"Kau ingin tetap diam, atau aku paksa dengan caraku?" tanya Norman.


"A-Aku akan bicara, aku akan bicara!" teriak Jasson ketakutan.


"Jika begitu, cepat katakan!" bentak Norman.


"Seperti yang aku katakan padanya, yang membunuh Emely adalah Renata," teriak Jasson.


"Apa?" Norman terkejut, kakinya melangkah menghampiri Jasson. Kerah baju Jasson diraih sehingga tubuh pria itu terangkat keatas.

__ADS_1


"Jangan menipu aku karena akibatnya fatal. Bagaimana bisa Emely dibunuh oleh Renata padahal waktu itu kami belum mengenal Renata?!" tanyanya penuh emosi.


Pada waktu itu mereka memang belum mengenal Renata. Mereka mengenal wanita itu setelah Emely bunuh diri. Renata tiba-tiba hadir di antara mereka di mana kebencian mulai tumbuh di hati. Norman menjauhi Abraham sehingga wanita itun lebih dekat dengan Abraham jadi bagaimana bisa Emely mati dibunuh oleh Renata?


__ADS_2