
Setelah mendapati kabar gembira akan kehamilan Vanila. Ibu mertuanya memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama dengan Abraham karena mereka harus membantu menjaga Anna yang sudah semakin hari semakin aktif.
Keputusan itu juga disetujui oleh Abraham yang khawatir akan keadaan istrinya. Jangan sampai Vanila terlalu lelah sehingga mengganggu pertumbuhan janin dan jangan sampai mencelakai calon bayi kedua mereka karena Ana yang sedang aktif.
Walau sudah jarang datang ke kantor tapi Abraham membutuhkan bantuan kedua orangtuannya oleh sebab itu dia membiarkan kedua orangtuanya untuk tinggal bersama.
Ayah dan ibunya tidak saja akan menjaga Ana tapi mereka juga akan menjaga Vanil. Sewaktu Vanila sedang mengandung Ana, mereka melewatkan banyak hal. Mereka tidak menemani Vanila, mereka juga tidak memberikan perhatian dan kasih sayang mereka pada Vanila oleh sebab itu, kesempatan yang mereka dapatkan kali ini tidak akan mereka sia-siakan.
Vanila mendapatkan perhatian penuh dari mereka, semua yang dia lakukan diawasi oleh suami, ibu dan ayah mertuanya. Kabar gembira itu tentunya sudah diketahui oleh keluarga Vanila. Begitu memberi tahu suami dan kedua orangtuanya, Vanila memberi kabar gembira itu kepada keluarganya.
Setiap hari, tidak pernah lupa perhatian untuk Vanila selalu diberikan oleh keluarganya. Vanila benar-benar bahagia apalagi dia tidak kekurangan kasih sayang sama sekali.
Seperti biasa, Vanila menghabiskan waktunya bermain dengan Ana di gazebo yan ada di bawah pohon. Itu adalah tempat favoritenya bersama dengan putri dan suaminya.
Vanila berbaring sambil mengusap perutnya yang besar. Usia kehamilannya tentu sudah menginjak waktu untuk bersalin. Mereka hanya menunggu waktu, untuk menyambut kehadiran sang buah hati.
Sambil menikmati semilir angin yang berhembus, Vanila jadi ingin menghubungi ibunya. Dia baru saja mendapatkan kabar jika kakaknya sedang pergi, melakukan petualangan pertamanya. Dia sangat senang dan berharap Norman menemukan apa yang dia cari.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Vanila?" tanya ibunya.
"Aku baik-baik aja, aku sedang menantikan anak keduaku dan sudah tidak sabar."
"Mommy juga sayang, Mommy harap kakakmu segera menyusul agar dapat memberikan calon raja baru," ucap ibunya.
"Ke mana kak Norman pergi, Mom? Apa akan lama?"
"Entahlah, dia berkata dia akan kembali setelah dia puas."
"Aku berharap dia menemukan apa yang dia cari," ucap Vanila.
__ADS_1
"Mommy juga demikian. Sepertinya kami tidak bisa datang saat kau melahirkan. Kau tahu kami tidak bisa meninggalkan istana di saat kakakmu tidak ada," ucap ibunya.
"Tidak apa-apa, ada suami dan mertuaku yang akan menjaga aku."
"Mommy senang mendengarnya, nanti kita bicara lagi. Mommy sedang banyak pekerjaan."
"Baiklah, maaf sudah mengganggu waktu Mommy."
Pembicaraan berakir, Vanila tersenyum dan memandangi pepohonan yang ditiup oleh angin. Sebuah mobil berhenti, Vanila berpaling untuk melihat siapa yang datang. Vanila tersenyum begitu melihat kepulangan suaminya. Vanila beranjak sambil menggendong putrinya, dia ngin menghampiri suaminnya tapi sialnya, kaki Vanila justru terpeleset sehingga membuatnya terjatuh.
Vanila berteriak keras, Ana pun menangis. Abraham terkejut mendengar teriakan istrinya dan segera berlari dengan terburu-buru karena dia takut terjadi sesuatu pada Vanila.
"Ada apa, Vanila??" tanyanya
"Sakit, Abraham!" Vanila merintih sambil memegangi perutnya, "Bawa aku ke rumah sakit, cepat!" pinta Vanila sambil merintih.
"Mom, Dad!" Abraham berteriak memanggil ibu dan ayahnya. Mereka sudah berlari keluar saat mendengar teriakan Vanila.
"Jaga Ana, aku harus membawa Vanila ke rumah sakit!"
"Oh Tuhan!" mereka terkejut melihat Vanila sedang memegagi perutnya, sedangkan Ana menangis.
Tanpa membuang waktu, Abraham menggendong istrinya dan berlari menuju mobil yangg baru saja terparkir sedangkan ibunya mengambil Ana. Teriakannya terdengar untuk memanggil sang supir. Dia harap tidak terjadi apa pun pada Vanila dan juga bayi mereka.
Selama di perjalanan, Vanila terus merintih kesakitan. Dia sungguh tidak menduga akan mengalami hal seperti itu. Lagi pula dia tidak menyangka tanahnya licin.
"Untuk apa kau berada di luar, Vanila? Bukankah aku sudah memintamu untuk berada di dalam saja?" Abraham mendekapnya dengan erat, dia harap tidak terjadi hal buruk.
"Maaf, tiba-tiba aku ingin bersantai dengan Ana tapi tanpa sengaja menginjak tanah yang licin."
__ADS_1
"Bodoh, kenapa tidak berhati-hati?"
"Maaf," ucap Vanila dan rintihannya kembali terdengar.
"Cepat!" Abraham berteriak pada supir pribadinya.
Mobil dibawa dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Semoga saja mereka tidak terlambat, mereka tidak akan sanggup jika mereka harus kehilangan bayi mereka dan mereka harap hal itu tidak terjadi.
Setelah tiba, Abraham menggendong istrinya dan berlari memasuki rumah sakit. Dia bahkan berteriak dan terlihat panik. Dua orang perawat menghampirinya dengan sebuah ranjang, Abraham membaringkan Vanila meminta dua perawat itu untuk segera bergegas.
Dia terlihat bergitu khawatir, apalagi dia tidak diperbolehkan masuk karena keadaan Vanila yang harus segera ditangani. Abraham menunggu di depan ruangan bersalin dengan rasa takut luar biasa apalagi terdengar suara teriakan Vanila yang sedang kesakitan. Karena tidak tahan hanya menunggu, Abraham meminta para perawat mengijinkan dirinya untuk masuk.
Teriakan Vaniila masih terdengar, itu karena dia berusaha melahirkan bayinya. Dia menolak melakukan operasi caesar karena dia ingin melahirkan secara normal. Walau ini bukan pertama kali tapi dia akan berusaha, dia sangat berharap semua baik-baik saja. Kini Abraham sudah berada di sisinya karena sudah diijinkan untuk masuk untuk menemani istrinya.
Vanila berusaha dengan sekuat tenaga, para medis dan Abraham memberinya semangat apalagi kepala bayi sudah terlihat. Sakit, itu yang dia rasakan tapi dia harus berjuang apalagi mereka sudah menantikan bayi mereka. Perjuangan yang dia lakukan tidak sia-sia ketika bayinya bayinya di lahirkan.
Suara tangis bayi yang terdengar membuat mereka berdua lega karena anak kedua mereka baik-baik saja. Tadinya Vanila sudah sangat khawatir, tapi dia sangat bersyukur tidak terjadi apa pun. Itu karena saat terjatuh perutnya tidak membentur apa pun.
"Apa kau baik-baik saja, Vanila?" tanya Abraham seraya memberikan ciuman di dahi.
"Aku tidak apa-apa, aku justru mengkhawatirkan keadaan bayi kita."
"Kau benar-benar membuat aku takut."
"Sorry," ucap Vanila. Dia juga tidak bermaksud tapi itu adalah kecelakaan.
Abraham kembali mencium istrinya, Vanila tersenyum penuh kebahagiaan apalagi saat bayi laki-laki mereka sudah dibersihkan.
Kedua orangtua Abraham sudah datang bersama dengan Ana. Mereka sangat senang mendapati Vanila dan bayinya baik-baik saja. Bayi laki-laki yang lucu dan tampan. Bayi itu mereka beri nama Alexander Aldway.
__ADS_1
Kedua orangtua Vanila diberi tahu akan kelahiran Alex. Mereka pun sangat senang namun mereka tidak bisa datang untuk melihat. Video call pun dilakukan, mereka sangat senang melihat cucu kedua mereka yang lucu dan sekarang mereka berharap putra mereka segera menemukan pasangan hidup yang sepadan dengannya. Tentunya kabar itu sampai ke telinga Norman, dia pun menghubungi adiknya dan memberikan ucapan selamat untuk adiknya dan Abraham.
Kabar gembira walau tadinya sempat terjadi kejadian yang menakutkan tapi rasa cemas dan khawatir itu sudah pergi digantikan dengan kehadiran sang buah hari, Alexander Aldway.