
Bilt mulai merasa haus, dia juga merasa lapar. Entah sudah berapa lama dia diikat seperti itu tapi yang pasti, dia mulai kelaparan dan kehausan. Bilt berteriak agar dia dilepaskan namun tidak ada yang peduli dengannya. Sepertinya dia akan segera mati, jika dia menjadi hantu maka yang pertama kali akan dia datangi adalah Vanila.
Dia akan mengganggu Vanila agar hidup gadis itu tidak tenang. Salahkan dirinya yang sudah membuatnya mati penasaran tapi sesungguhnya dia belum mau mati karena dia belum punya pacar dan belum menikah. Jangan sampai keturunan ayahnya putus pada dirinya.
"Hei, lepaskan aku!" teriak Bilt.
Suasana hening, Bilt menunduk dan terlihat pasrah. Makan, dia hanya ingin makan enak sebelum dia mati. Semoga keinginannya terkabul. Bilt benar-benar sudah pasrah namun ketika dia merasa dia akan mati di tempat itu, pintu ruangan terbuka dan beberapa orang pria masuk ke dalam.
Bilt tidak bertanya, dia dilepaskan lalu dibawa pergi dari ruang penyiksaan. Bilt dibawa ke dalam sebuah kamar, dua pemuda gagah melayaninya. Bilt tidak mengatakan apa pun, kenapa bukan pelayan wanita tapi kenapa harus dua pemuda gagah? Oh, sial. Sepertinya semua gara-gara ucapannya yang mengatakan jika dia adalah gay. Sepertinya Norman menganggap serius ucapannya.
Pakaian bersih bahkan sudah disiapkan untuknya, Bilt mandi terlebih dahulu, tanda tanya memenuhi hati. Apa dia dilayani terlebih dahulu sebelum dieksekusi mati? Peduli dengan semua itu, yang penting dia bisa makan walau dia jijik dengan kedua pemuda yang sangat ingin dia lempar ke luar dari jendela. Lain kali dia tidak akan asal bicara tapi dia mengatakan hal itu untuk menyelamatkan dirinya dari tali cambuk berduri.
Setelah selesai mandi, dua pemuda itu membawa Bilt ke ruangan lain. Mata Bilt tidak henti melihat sana sini, dia yakin itu adalah sebuah istana. Sebuah ruangan yang dipenuhi oleh makanan menjadi tempat tujuan, Bilt semakin yakin dia dijamu sampai kenyang sebelum dia dihukum pancung. Ah, akhirnya dia bisa makan enak walau dia akan mati pada akhirnya.
"Apa aku boleh makan?" tanyanya pada pelayan yang ada di sana.
"Tentu, Tuan. Semua makanan ini untuk anda," jawab sang pelayan.
"Aku tidak akan ragu!" Bilt menghampiri makanan. Sebuah piring diambil, hampir semua jenis makanan diambil sampai piringnya penuh. Bilt duduk di kursi, seorang pelayan menuangkan segelas anggur terbaik untuknya.
"Tolong ambilkan makanan itu, itu dan itu!" pinta Bilt sambil menunjuk makanan yang belum diambil tentunya dengan mulut yang penuh makanan.
Semua makanan itu akan dia makan sebelum dia mati. Dua pemuda menjijikkan diusir keluar, jangan sampai dia benar-benar menjadi gay padahal dia masih normal. Melihat gaya mereka saja sudah membuatnya mual. Jangan sampai kedua pemuda itu menghancurkan selera makannya.
Selagi Bilt menikmati makanan, Norman masuk ke dalam ruangan. Dia yang memerintahkan Bilt dijamu seperti itu untuk menebus kesalahan karena dia sudah salah menangkap orang dan memperlakukan Bilt dengan tidak pantas. Hampir saja dia mencambuk pemuda tidak bersalah itu, semoga saja Bilt puas dengan pelayanan yang dia berikan.
__ADS_1
Bilt melihat ke arah Norman sejenak lalu dia kembali makan. Tidak peduli dengan pria itu yang penting perutnya kenyang terlebih dahulu. Mau mati atau tidak, yang penting dia kenyang.
"Bagaimana pelayanan yang aku berikan, apa kau puas dengan pelayanan kedua pemuda itu?" tanya Norman basa basi seraya duduk di hadapan Bilt.
"Tidak perlu basa basi jika pada akhirnya aku akan mati," ucap Bilt dengan mulut penuh makanan. Menyebalkan, apa dia kira dia senang dengan kedua pemuda menjijikkan itu? Vanila dan kakaknya, tidak jauh berbeda. Mereka berdua sama-sama menyebalkan.
"Tolong maafkan aku, aku sudah bertindak tidak sopan padamu. Aku sudah salah menangkapmu dan mengira kau yang sudah menghamili adikku jadi maafkan aku," ucap Norman.
"Mana Vanila, aku ingin bertemu dengannya!" ucap Bilt tanpa mempedulikan permintaan maaf Norman.
"Vanila tidak bisa bertemu denganmu, aku minta maaf."
"Kenapa? Aku ingin bertemu dengannya. Setelah kau memperlakukan aku seperti seorang penjahat, kau juga tidak mau mempertemukan aku dengannya. Apa sebenarnya yang terjadi pada Vanila?" tanya Bilt ingin tahu.
"Untuk hal ini, aku tidak bisa menjawab tapi aku akan memberikan kompensasi padamu atas perlakuan tidak menyenangkan ini."
"Aku akan meminta seseorang mengantarmu kembali ke Australia, kau akan mendapatkan penerbangan terbaik dan kau juga akan mendapat kompensasi yang lain," ucap Norman.
"Apa? Jika kompensasi yang kau berikan tidak menyenangkan maka aku tidak akan terima!" Bilt masih jual mahal.
Norman menepuk kedua tangannya ke atas, pada saat itu puluhan pria berotot bak binaragawan yang menggunakan celI*na dalam saja masuk ke dalam ruangan. Mereka berdiri berbaris di depan Bilt, sedangkan mata Bilt melotot bahkan makanan yang ada di mulut belum dia telan.
"A-Apa maksudnya?" tanya Bilt tidak mengerti.
"Pilihlah salah satu dari mereka, kau bisa membawa yang mana saja kau mau dan kau bisa membawanya pulang ke Australia," ucap Norman dengan santai. Karena Bilt berkata dia adalah gay, dia yakin Bilt akan menyukai kompensasi yang dia berikan.
__ADS_1
Semua makanan yang ada di mulut Bilt tersembur keluar. Beruntungnya jarak Norman dengannya cukup jauh karena meja yang luas. Bilt bahkan terbatuk dan meneguk minuman dengan terburu-buru. Luar biasa, dia benar-benar sudah dianggap tidak normal.
"Kenapa, apa kau tidak puas dengan mereka?"
Bilt diam, rasanya ingin memaki. Sungguh kakak dan adik yang tidak jauh berbeda. Sekali lagi akan dia katakan, mereka berdua sama-sama menyebalkan.
"Aku sudah punya pacar, aku tidak berminat dengan mereka," dusta Bilt.
"Baiklah," Norman mengangkat tangan, para pria itu pun diantar keluar, sedangkan Bilt kembali makan.
"Sekali lagi aku minta maaf karena perlakuan kasarku. Ini untukmu, kau akan mendapat penerbangan terbaik untuk kembali ke Australia dan cek ini, anggap sebagai ganti rugi karena sudah membawamu ke sini dan sebagai bayaran atas informasi yang kau berikan," sebuah tiket penerbangan dan juga cek di letakkan di atas meja.
Bilt melihat itu, sok tidak peduli padahal dia ingin tahu berapa jumlah cek yang akan diberikan oleh seorang pangeran kerajaan. Oh, tidak. Jika pria itu adalah kakak Vanila berarti dia adalah putra mahkota. Semoga jumlahnya cukup untuk membeli minuman sampai mabuk.
"Sekali lagi aku minta maaf, seseorang akan mengantarmu nanti. Tidak perlu buru-buru, kau boleh menikmati makanan ini sepuasmu," ucap Norman seraya beranjak.
Norman meninggalkan ruangan, Bilt meraih tiket dan juga cek. Kedua lembar kertas itu dimasukkan ke dalam saku, dia akan melihatnya nanti setelah dia berada di luar. Bilt makan dengan cepat dan setelah itu, dia pergi dari istana diantar oleh seseorang yang ditugaskan oleh Norman untuk mengantarnya.
Bilt meminta orang itu pergi karena dia bisa sendiri. Itu dia lakukan untuk melihat jumlah cek dan setelah orang itu pergi, Bilt melihak ceknya. Mata terbelalak melihat nomilan yang tertera. Lima miliar. Bilt melihat sana sini lalu dia berteriak senang. Dia pun berjoget memaju mundurkan tubuhnya karena dia begitu gembira.
"Kau bisa menculik aku lain kali!" teriak Bilt dan setelah itu dia melompat girang.
Lima miliar, apa yang akan dia lakukan dengan uang sebanyak itu? Akhirnya tidak saja mendapat kesialan karena berurusan dengan Vanila tapi kini dia dapat untung besar.
"Vanila, kau benar-benar dewi fortunaku," ucap Bilt seraya mencium cek yang baru dia dapat.
__ADS_1
Bilt meninggalkan tempat itu sambil berjoget. Membuka bar, membeli rumah mewah, yes. Dia akan kembali ke Australia dan mendadak menjadi orang kaya.