Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Mereka Yang Paling Penting


__ADS_3

Vanila sangat heran karena Abraham meminta mereka untuk segera bergegas. Dia sangat ingin bertanya, dia juga merasa ada yang tidak beres karena Abraham juga meminta kedua orangtuanya ikut serta.


Barang-Barang sudah dimasukkan ke dalam mobil, tidak semua dibawa karena kedua orangtuanya akan kembali lagi ke rumah itu jika semua sudah berakhir. Mengenali Renata akan sulit saat ini, namun tiga wajah berbeda sudah dikirimkan oleh Norman. Walau belum pasti tapi mereka harus waspada jika bertemu dengan orang dengan wajah demikian.


"Apa masih ada yang tertinggal?" tanya Abraham.


"Tidak," jawab ibunya.


"Jika begitu kita pergi!"


"Ada apa sebenarnya? Kenapa begitu terburu-buru?" tanya Vanila, dia sungguh ingin tahu.


"Kita bicarakan hal ini nanti," ucap Abraham.


Vanila duduk di kursi bagian paling belakang sambil menggendong putrinya. Walau dia sangat ingin tahu tapi dia tetap menahan diri. Dia yakin pasti ada sesuatu yang sangat dikhawatirkan oleh Abraham sehingga membuatnya seperti itu.


Selama perjalanan menuju Mansion, mereka semua diam. Abraham sedang mencari cara bagaimana caranya mengetahui keberadaan Renata yang telah berubah wajah. Akan dia bahas hal ini dengan Gaston karena saat ini dia tidak mau membuat ayah dan ibunya semakin cemas karena dia bisa melihat ibunya begitu gelisah. Jangan sampai penyakit orangtuanya kambuh gara-gara masalah ini.


Penjagaan di mansion juga sudah begitu ketat. Cctv sudah terpasang di mana-mana sesuai dengan perintahnya. Jika sampai ada penyusup mereka akan tahu. Dengan adanya mansion itu setidaknya Abraham bisa membawa keluarganya ke tempat yang aman karena Renata tidak akan pernah tahu keberadaan mansion yang dia beli.


Mansion itu juga besar dan memiliki banyak kamar, kedua orangtuanya tidak perlu kahwatir akan apa pun di sana. Vanila masuk ke dalam kamar saat Abraham mengantar kedua orangtuanya ke dalam kamar yang akan mereka tempati.


"Aku harap Mommy dan Daddy tidak berbicara dengan siapa pun yang tidak dikenal!" ucapnya.


"Kenapa? Yang kita khawatirkan hanya Renata saja, bukan?" tanya ibunya.


"Maaf aku lupa mengatakan hal ini pada Mommy. Renata sudah mengubah wajahnya sehingga kita tidak mengenalinya lagi oleh sebab itu aku harap Mommy dan Daddy tidak mempercayai sembarangan orang!"

__ADS_1


"Oh my God, sungguh licik!" ibunya tidak menyangka, wanita yang hampir menjadi menantunya begitu licik.


"Jangan terlalu mengkhawatirkan kami, Abraham. Jagalah istri dan putrimu baik-baik, mereka yang paling penting. Kami tidak akan pergi ke mana pun jadi kau tidak perlu khawatir!" ucap ayahnya.


"Baiklah," Abraham mengambil ponselnya dan menunjukkan tiga wajah berbeda yang baru saja Norman kirimkan untuknya.


"Ingat wajah mereka bertiga baik-baik, jika melihat wajah mereka sebaiknya segera pergi. Aku akan memerintahkan pengawal untuk mengikuti kalian jika kalian mau pergi!"


Ayah dan ibunya melihat wajah ketiga wanita yang ditunjukkan oleh Abraham, mereka juga mengingat rupa ketiga wanita itu agar mereka bisa waspada seandainya mereka bertemu dengan salah satu wanita yang ada difoto itu.


Mereka tidak pernah menduga Renata akan melakukan hal seperti itu padahal mereka mengira Renata adalah wanita baik-baik. Setelah selesai berbicara dengan kedua orangtuanya, Abraham menemui Gaston yang baru saja selesai menurunkan barang-barang kedua orangtuanya.


"Ada yang aku ingin kau lakukan, Gaston."


"Ada apa, Sir?" Gaston menghampirinya yang sedang berdiri di depan pintu.


"Apa kau tidak mau menangkap Evan dan menginterogasinya, Sir?" tanya Gaston.


"Tidak, percuma kita menangkapnya. Dia tidak mungkin mau buka mulut. Jika kita menangkapnya, kita justru membuat Renata waspada karena dia akan tahu bahwa aku mengetahui dirinya sudah kembali sehingga dia berhati-hati jadi aku ingin dia mengira aku dan Norman tidak mengetahui apa pun. Biarkan dia menganggap kami bodoh, sehingga dia bisa bergerak bebas. Kita juga akan untung karena kita bisa menemukan keberadaannya lebih cepat."


"Baik, Sir. Aku juga akan meminta para pelayan di rumah Tuan dan Nyonya untuk waspada."


"Bagus, segera kerjakan!!" Abraham melangkah masuk ke dalam, Gaston segera pergi untuk menjalankan perintah.


Abraham melangkah menuju kamarnya, Vanila hampir tertidur karena menunggunya saat memberi Ana asi. Abraham berbaring di sisi Vanila, baju Vanila diturunkan karena Ana sudah tertidur dengan nyenyak di sisinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Abraham?" tanya Vanila seraya berbalik dan masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kakakmu berkata Renata sudah kembali ke London oleh sebab itu aku ingin kita waspada. Kita belum mengetahui rupa barunya jadi kita harus mewaspadai apa pun. Jangan sampai hal buruk terjadi barulah kita waspada."


"Kau benar, sayangnya dia merubah wajahnya. Jika dia bertemu denganku, aku akan memukul sampai wajahnya babak belur."


"Wow, Nyonya. Kau terdengar seperti jagoan."


"Tentu saja, tapi ini rahasia kita saja karena kakak dan kedua orangtuaku tidak tahu."


"Rahasia apa, hm?" Abraham mengangkat dagu Vanila dan menatapnya dengan lekat.


"Sesungguhnya setiap malam aku menyelinap keluar dari istana, aku pergi ke bar lalu bertemu dengan banyak teman di sana. Aku diajari menjadi bartender, aku diiajari menjadi pembalap liar. Aku bahkan bergabung dalam sebuah kelompok dan melakukan beberapa perkelahian. Walau kehidupan yang aku jalani keras saat malam tapi di sanalah aku menemukan arti kehidupan karena aku mengenal banyak orang yang berbeda."


"Wow, ternyata kau nakal juga, Nyonya. Pantas saja kau bisa membawa motor besar itu dengan mudah!"


"Jika aku seorang putri yang lemah lembut maka aku tidak akan menculikmu, Tuan Aldway," tangan Vanila bermain di dada suaminya, jika dia seperti putri lain mungkin dia tidak akan berani melakukan hal seperti itu.


"Kau benar," bibir Vanila dikecup dengan lembut, mereka berdua saling pandang dengan senyum menghiasi wajah.


Abraham mencium dahi istrinya, bibirnya bermain di wajah Vanila tampa henti. Kedua mata Vanila terpejam, dia sangat menikmati kebersamaan mereka yang seperti itu.


"Tidurlah, aku perhatikan kau mau tidur tadi."


"Aku akan tidur jika kau memelukku."


"Dengan senang hati, Nyonya," ucap Abraham seraya mencium dahinya.


Vanila tersenyum, pelukannya semakin erat. Jika dia bertemu dengan Renata, akan dia pukul wajah palsunya sampai hancur. Dia pasti akan melakukannya sebagai balasan karena wanita itu telah membuat kakaknya berubah dan sedih akibat kematian Emely. Semoga saja dia bertemu terlebih dahulu agar dia bisa menghajar wajah palsunya sampai babak belur.

__ADS_1


Abraham menggusap punggung Vanila perlahan, mata tidak bisa terpejam karena banyak yang sedang dia pikirkan. Semoga saja Renata bisa dia dapatkan terlebih dahulu sebelum dia bisa melukai keluarganya namun sesungguhnya yang harus dia waspadai bukan Renata saja melainkan penjahat yang akan membantu Renata.


__ADS_2