
Mendapati Vanila berada di sisinya saat bangun tidur merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Abraham. Setelah malam ini, dia dan Vanila pasti akan selalu seperti ini. Hanya menunggu keputusan Vanila saja maka mereka akan kembali ke London.
Tangan Abraham sudah berada di pipi Vanila, mengusapnya perlahan. Perasaan yang dia rasakan saat ini, dia merasa sudah lama hilang namun perasaan itu kembali lagi dia rasakan.
Vanila terbangun, akibat sentuhan tangannya. Senyuman menghiasi wajah, kecupan lembut pun dia dapatkan di dahinya.
"Good morning, Baby."
Vanila diam, panggilan yang manis. Dia tidak menduga Abraham akan seromantis itu.
"Apa ini panggilan yang pernah kau berikan pada tunanganmu?" tanya Vanila.
"No, ini panggilan spesial untukmu."
"Oh, ya? Apa kau dan tunanganmu?"
"Ssttss!!" Abraham meletakkan jarinya ke bibir Vanila sehingga ucapan Vanila terhenti.
"Aku tidak mau kau membahas tentangnya, aku tidak mau kita membicarakan dirinya. Lagi pula dia sudah menjadi mantan tunanganku dan dia adalah buruanku dan kakakmu!"
"Baiklah, hari ini aku mau pergi ke bar sebentar. Apakah kau bisa menjaga Ana? Aku akan meninggalkan asi di kulkas sebelum aku pergi."
"Serahkan padaku, aku akan menjaganya dengan baik."
"Baiklah, aku jadi terbantu," Vanila berbalik, menghadap ke arah putrinya yang masih tidur.
"Morning, Honey," sebuah ciuman mendarat di pipi putrinya yang lembut.
Abraham beranjak dan pergi ke kamar mandi, sedangkan Vanila mengganggu putrinya sampai terbangun. Tawa kecil Ana terdengar saat Vanila menggelitik tubuhnya. Kebersamaan itu tidak akan dia lewatkan bahkan Abraham berbaring di sisi putrinya setelah selesai dari kamar mandi.
"Ibu dan ayahku pasti akan senang saat kita membawanya kembali ke London," ucap Abraham.
__ADS_1
"Apa kau tidak menghubungi mereka?"
"Tentu saja sudah, mereka sangat ingin datang agar bisa bertemu dengan Ana namun aku mencegah. Oleh sebab itu jangan terlalu lama mengambil keputusan, mereka berdua benar-benar sudah tidak sabar."
"Aku pasti akan memikirkannya, Abraham. Mungkin aku harus menanyakan pendapat ibuku akan hal ini."
"Kenapa kau harus bertanya pada ibumu? Seharusnya kau yang memutuskan, bukan ibumu."
"Aku tetap membutuhkan nasehat darinya."
"Baiklah, lakukan apa yang menurutmu baik."
Vanila tersenyum, dia tahu ibunya pasti mengijinkan tapi bagaimana dengan kakaknya? Jika hubungan Abraham dengan kakaknya tidaklah baik, bukankah kakaknya tidak akan mengijinkan Abraham membawanya ke London? Ini kehidupan yang dia inginkan selama ini, untuk mendapatkan kehidupannya itu, dia sudah melakukan banyak hal sampai membuat kakanya kecewa dan sampai membuat keluarganya malu. Saat kakaknya tahu dia ingin meninggalkan kehidupan yang sudah dia dapatkan dengan susah payah, apakah kakaknya akan melarangnya bersama dengan Abraham?
Vanila menghela napas, semoga saja tidak. Semoga kakaknya tidak melarang tapi dia tetap harus membicarakan hal itu pada kakaknya dan meminta persetujuan darinya apalagi dia tidak mau membuat kakaknya kecewa.
"Aku akan menghubungi mereka setelah aku kembali ke bar," ucap Vanila.
"Apa itu berarti kau mau ikut denganku, Vanila?"
"Lalu?"
"Berikan aku waktu untuk mendapatkan solusinya, Abraham. Aku tahu setelah aku mengambil keputusan untuk mengikutimu, aku harus meninggalkan kehidupanku yang nyaman di sini dan aku, belum siap."
"Baiklah, aku sangat ingin kau segera menjawab tapi aku tidak bisa memaksamu. Memang aku akui, hidup di sini sangat menyenangkan. Jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari keramaian dan pekerjaan yang membuat sakit kepala. Aku tidak akan memaksamu dan memintamu untuk terburu-buru, Vanila. Aku sudah mencarimu selama dua tahun maka aku akan menunggumu dengan sabar sampai kau mengambil keputusan dan bisa meninggalkan kota ini."
"Terima kasih, Abraham," Vanila tersenyum, Abraham mengusap pipinya dengan perlahan. Hanya menunggu sebentar saja, dia tidak akan keberatan karena setelah ini, Vanila dan putrinya akan bersama dengannya untuk selamanya.
"Apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan membuatkan makanan untukmu," ucap Abraham.
"Roti bakar dan segelas kopi, aku mau menjemur Ana jadi bawa ke sana."
__ADS_1
"Serahkan padaku," sebelum beranjak pergi, Abraham mencium dahi Vanila dan mencium pipi putrinya.
Vanila menatap kepergian Abraham dengan senyum terukir di bibir. Rasanya sedikit aneh tapi dia harus membiasakan diri. Dia harap kakaknya tidak mencegah dan mengijinkan, dia sudah berjanji tidak mau mengecewakan kakaknya lagi.
Setelah mencuci wajah, Vanila membawa putrinya keluar. Sebuah tikar dihampar di bawah pohon dekat ayunan, Vanila duduk di atas tikar di mana sinar matahari pagi menyinari tempat itu. Dia lebih suka suasana seperti itu, jika dia ikut Abraham ke London maka dia tidak akan mendapati suasana sejuk seperti itu lagi.
Abraham menghampirinya dengan roti bakar dan dua gelas kopi, mereka jadi seperti sedang piknik bersama lagi tapi bedanya, ada Ana bersama dengan mereka. Dia tahu Vanila menyukai suasana alam, sepertinya dia harus membeli sebuah mansion untuk mereka tinggali nanti. Mansion mewah yang terletak di belakang bukit, sepertinya bukanlah ide buruk. Lagi pula rumahnya sudah dia jual, dia juga tidak mungkin membawa Vanila tinggal di Villa.
Baiklah, sebuah mansion di belakang bukit dengan pemandangan alam. Dia akan minta Gaston mencarinya. Tidak ada yang mustahil jika ada uang. Mereka akan membuat kenangan baru di sana, bersama dengan anak-anak mereka.
Mereka menikmati pagi mereka di bawah pohon, Ana juga terlihat senang apalagi saat Abraham mengendong putrinya dan mengkatnya tinggi. Pagi berharga yang tidak boleh dilewati apalagi di tempat indah itu namun kebersamaan itu tidak bisa lama karena matahari yang semakin bersinar terik.
Vanila memandikan putrinya, sedangkan Abraham membuat makanan di dapur. Vanila juga menyusui putrinya dan menidurkannya karena setelah ini dia mau pergi ke bar. Asi untuk putrinya sudah berada di kuklas, walau dia tidak lama tapi dia harus berjaga-jaga.
"Aku sudah harus pergi," ucap Vanila. Sepotong makanan yang sudah matang dicomot dan dimakan.
"Kau tidak akan lama, bukan?"
"Tidak, masaklah yang benar dan bersihkan rumah," goda Vanila.
"Ck, sekarang keadaan kita jadi terbalik!"
"Apa kau keberatan?"
"Tidak!" Abraham meraih pinggangnya dan merapatkan tubuh mereka.
"Berhati-hatilah," kecupan lembut diberikan di bibir namun dia tidak ingin melepaskan Vanila. Tubuh Vanila dipeluk dengan erat, bibirnya pun kembali di cium. Vanila juga merasa enggan pergi tapi dia harus pergi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di bar.
"Aku sudah harus pergi, jangan lupa asi ada di kulkas dan jaga Ana baik-baik," ucap Vanila karena Abraham tidak mau melepaskannya.
"Pasti, aku berjanji akan menjaganya dengan baik," pelukan dilepaskan, Abraham mengantar Vanila sampai di depan pintu.
__ADS_1
Vanila segera pergi karena dia harus cepat kembali, bagaimanapun dia mengkhawatirkan putrinya. Abraham kembali ke dapur, untuk menyelesaikan pekerjaannya namun suara pintu yang diketuk dari luar menghentikan pekerjaannya.
Abraham melangkah keluar, siapa yang datang? Apa ada yang dilupakan oleh Vanila? Dia berpikir demikian tapi ketika pintu terbuka, Abraham terkejut begitu juga dengan pria yang berdiri di depan pintu karena yang datang saat itu adalah Norman. Mereka berdua bahkan saling pandang dengan tatapan tajam.