
Bilt ditinggal seorang diri di ruang penyiksaan. Setelah Norman pergi, semua anak buah yang ada di sana juga pergi tapi mereka berjaga di luar. Bilt berteriak dan meminta untuk dilepaskan tapi tidak ada yang berani karena tidak ada perintah untuk melepaskan pria itu.
Dia sudah lelah berteriak, makiannya juga terdengar. Dia tidak menyangka akan mengalami kejadian itu dan lagi-lagi semua karena ulah Vanila Elouis. Kesal, sudah pasti tapi entah kenapa dia tidak bisa membenci Vanila. Mungkin karena dia sahabat yang menyenangkan sehingga membuatnya seperti itu.
Kejadian hari ini menjawab pertanyaannya ke mana Vanila pergi. Dia menebak gadis itu sudah ditarik keluarganya pulang dan yang paling tidak dia duga adalah kehamilan Vanila. Tapi siapa sebenarnya Vanila?
Entah kenapa dia jadi teringat dengan foto yang dia lihat waktu itu. Dia semakin yakin jika Vanila bukan gadis biasa. Jangan katakan jika dia seorang putri yang sedang melarikan diri. Rasanya ingin tertawa dengan keras, kejadian yang sungguh tidak terduga.
Dia juga tidak menyangka Vanila akan menyerahkan dirinya pada Abraham yang sudah memiliki tunangan. Sekarang, dia harus menyesal atau bersyukur atas rekaman yang dia kirimkan untuk Abraham? Tidak, dia masih tidak bisa melupakan perlakuan kasar pria itu pada Vanila. Dia sengaja menyebut namanya karena dia harap Abraham dihabisi oleh kakak Vanila walau sesungguhnya dia tidak tahu apakah Vanila benar-benar mengandung anak Abraham atau tidak.
"Vanila, dasar kau gadis gila dan pembawa masalah, awas saat aku bertemu denganmu," ucap Bilt sambil menundukkan kepalanya. Dia pasti bisa bertemu dengan Vanila karena dia yakin Vanila pasti berada di sana.
Norman mencari adiknya dengan kemarahan di hati. Dia sungguh tidak menduga Vanila menjalin hubungan dengan Abraham. Tapi bagaimana mereka bisa saling mengenal? Entah kenapa dia jadi curiga jika Abraham sengaja mendekati Vanila dan menodainya untuk membalas dendam.
Dia tahu Abraham sudah memiliki seorang tunangan, tidak seharusnya Abraham melakukan perbuatan keji itu pada adiknya. Jika bukan ingin membalas dendam, lalu apa? Sungguh rencana sempurna untuk menghancurkan dirinya. Setelah ini dia akan membuat perhitungan dengan Abraham. Tidak saja membalas perbuatan pria itu karena sudah menodai Vanila, tapi dia juga akan membuat perhitungan karena kejadian lama.
Apa tidak cukup menghancurkan Emely saja? Apa Abraham akan puas setelah menghancurkan adiknya juga? Benar yang orang katakan, sekali baji*ngan maka seterusnya akan tetap baj*ngan dan Abraham Aldway, adalah baj*ngan sejati yang mempermainkan wanita.
Pasti akan dia hancurkan, dia akan pergi ke London dan menghancurkannya. Abraham yang mengibarkan bendera perang terlebih dahulu maka kali ini dia tidak akan ragu tapi tanpa perlu dia pergi ke London pun, sang musuh lama yang semakin dia benci sudah tiba di kota itu karena pesawat yang membawa Abraham baru saja mendarat.
Swedia, dia tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat itu tapi kali ini dia harus datang untuk mencari kebenaran dari isu yang diucapkasn oleh Gaston. Kepergiannya ke Swedia yang mendadak tentu saja membuat kedua orangtua heran. Tidak saja orangtuanya, Renata juga terkejut dan panik. itu sebabnya dia langsung menghubungi Abraham saat dia tahu. Jujur dia takut Abraham pergi ke sana karena sudah mengetahui rahasia yang dia tutupi. Jangan katakan Abraham pergi ke Swedia untuk berdamai dengan Norman.
__ADS_1
Renata kembali menghubungi karena dia yakin Abraham sudah tiba. Dia akan pura-pura terkejut dengan kepergiannya padahal dia sangat ingin tahu untuk apa Abraham pergi ke sana. Dia juga ingin mengutarakan niatnya untuk membeli kapal yacht, Abraham pasti akan memberikannya. Dia yakin itu.
Abraham menjawab panggilan dari Renata walau rasanya enggan, dia ingin tahu apa yang Renata inginkan. Lagi pula Renata tidak boleh tahu jika dia sedang mencari tahu apa yang sedang dia rahasiakan.
"Ada apa?"
"Aku dengar kau pergi ke Swedia, kenapa tidak mengajak aku?" tanya Renata.
"Aku datang untuk berbisnis!" dusta Abraham.
"Tidak mungkin, bukankah kau sudah bersumpah untuk tidak meginjakkan kaki ke tempat itu?" dia sangat yakin jika Abraham pergi ke sana hanya untuk satu tujuan. Tapi untuk apa? Dia harus mencari tahu hal ini karena dia harus lari jika kebusukan yang dia simpan rapat diketahui oleh mereka.
"Baiklah, padahal aku ingin ikut tapi tidak apa-apa. Ada hal yang ingin aku bicarakan mengenai kapal yacht yang baru saja aku lihat dengan kakakku," saatnya mengutarakan niatnya.
"Aku sedang tidak berminat membeli apa pun!" ucap Abraham seraya mengakhiri pembicaraan mereka. Seperti yang dia tebak, Renata pasti ingin meminta kapal mahal itu darinya. Sekarang dia sudah tidak sebodoh dulu dan dia tidak akan memberikan apa pun pada Renata lagi sampai dia tahu apa yang sedang disembunyikan wanita itu darinya.
"Abraham, hei?!" Renata tampak tidak terima karena Abraham mengakhiri pembicaraan mereka begitu saja. Sungguh menyebalkan, sekarang dia sudah tidak bisa menggunakan uang Abraham dengan bebas akibat kartu yang sudah diblokir dan dia juga tidak bisa meminta apa yang dia mau dengan mudah.
Abraham menyimpan ponselnya, rasanya ingin menertawakan dirinya yang bodoh karena sudah ditipu oleh Renata tapi sekarang belum terlambat sama sekali. Dia tidak akan ditipu oleh Renata lagi dan dia juga akan membawa Vanila jika dia benar-benar sedang hamil anaknya sekalipun dia harus melawan Norman.
Norman benar-benar murka setelah tahu dari Bilt siapa pria yang telah menghamili adiknya. Jika pria lain, mungkin dia tidak akan semurka itu namun orang yang sudah menodai adiknya adalah musuh yang sangat dia benci. Namanya saja tidak ingin dia dengar apalagi melihat rupanya.
__ADS_1
Kamar Vanila menjadi tujuan, para pelayan dan penjaga yang melihatnya menjadi takut karena ekspresi wajahnya yang menakutkan. Dia tidak pernah terlihat semarah itu selama di istana tapi sekarang, dia benar-benar emosi.
"Vanila Elouis!" Norman berteriak lantang. Vanila tidak akan dia ampuni sekalipun Vanila adalah adiknya. Ide ayahnya mengirimkan Vanila kepengasingan akan dia dukung bahkan dia tidak akan membiarkan Vanila kembali lagi ke Istana untuk selamanya.
"Vanila!" Norman berteriak dan menendang pintu kamar hingga terbuka. Norman masuk ke dalam, kedua tangannya sudah mengepal erat. Norman mencari adiknya di kamar tapi dia tidak ada di sana.
"Keluar kau, Vanila!" teriaknya seraya melangkah menuju kamar mandi karena dia mengira Vanila berada di kamar mandi.
"Nona sedang menikmati teh dengan ibu Ratu di taman belakang, Tuan," ucap pelayan Vanila yang buru-buru masuk ke dalam kamar.
Tanpa berkata apa-apa, Norman melangkah menuju taman belakang. Sekalipun ada ibunya dia tidak akan menghentikan niatnya untuk menghukum Vanila namun langkahnya harus dihentikan oleh seorang penjaga yang menghampirinya dengan terburu-buru.
"Sir, ada yang ingin bertemu dengan putri Vanila," ucap sang penjaga.
"Siapa?" Norman melirik sang penjaga dengan tatapan tajam.
"Namanya Abraham dan dia sedang menunggu di luar."
"Apa?" bagaikan gunung api yang sudah akan meletus, Norman semakin marah mendengar pria yang sudah menodai adiknya dan musuh yang sangat dia benci datang ke Istananya.
Niatnya untuk ke taman belakang untuk memberi pelajaran pada Vanila tidak jadi, Norman melangkah keluar bersama sang pengawal. Sebelum memberi adiknya hukuman, dia akan memberikan pelajaran pada si biang masalahnya dan dia akan pastikan, Abraham akan berakhir di tangannya hari ini juga karena dia begitu berani datang. Permusuhan di antara mereka pun, akan dia selesaikan hari ini dan perbuatan Abraham yang sudah menodai Vanila, harus Abraham bayar hari ini pula.
__ADS_1