
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, vanila terlalu serius membantu Bilt sampai dia lupa waktu. Dia lupa jika dia masih cuti, sebab itu Vanila tampak terburu-buru membuat minuman terakhir yang sedang dia racik. Malam itu bar lebih ramai tidak seperti biasanya, itu karena hari ini adalah akhir pekan di mana orang-orang akan menikmati waktunya di sana.
Setelah selesai membuat minuman, dia kembali mendapatkan pesanan sehingga membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak.
Vanila kembali meracik minuman seraya melihat ke arah Bilt yang juga sedang sibuk. Napas berat dihembuskan. Sudahlah, dia akan membantu sebentar lagi. Lagi pula jika dia cepat kembali maka Abraham akan curiga. Vanila melakukan pekerjaannya tanpa menyadari jika ada yang mengambil foto dirinya namun orang itu pergi setelah mendapatkan potret dirinya.
Malam yang sibuk membuatnya lupa dengan apa yang dia rasakan saat ini. Rasa sedih dan firasatnya akan berpisah dengan Abraham juga tidak dia rasakan. Vanila juga tidak tahu jika Abraham sudah pergi dari rumahnya. Vanila berusaha mencari kesempatan untuk berbicara dengan Bilt karena dia ingin pulang tapi para tamu yang semakin ramai membuatnya tidak memiliki kesempatan itu.
Bilt melihat ke arahnya dan tersenyum. Vanila melotot, dia hanya membantu tapi kenapa dia seperti sedang bekerja saja? Awas saja nanti, Bilt harus membelikan sebotol minuman untuknya.
"Senyum," bisik Bily dengan pelan.
Vanila menunjukkan jam yang melingkar di tangan yang bertanda jika dia sudah ingin pulang. Bilt menghela napas, ya sudahlah. Lagi pula vanila sedang cuti walau sesungguhnya malam ini begitu sibuk. Bilt menghampirinya sambil meracik minuman, dia akan memanggil rekan yang lain untuk membantu.
"Ya sudah, pulang sana," ucapnya.
"Sorry, hanya malam ini saja kau sibuk. Besok aku sudah kembali bekerja," ucap Vanila.
"Baiklah, baik. Semoga besok wanita itu datang sehingga aku bisa berpura-pura mengetahui keberadaan Abraham supaya kau bisa mengembalikan pria itu padanya. Lagi pula sejak awal dia bukan milikmu dan dia tidak akan bisa menjadi milikmu."
"Aku tahu, Bilt. Sebab itu aku akan mengembalikan dirinya pada yang empunya. Walau singkat tapi aku sudah mengukir banyak kenangan indah bersama dengannya dan aku sudah cukup puas akan hal itu," ekspresi wajahnya terlihat sedih, perasaan jika mereka akan berpisah kembali dia rasakan bahkan dia memiliki firasat jika hal itu sudah terjadi.
__ADS_1
"Sudah! Tidak perlu sedih seperti itu. Aku akan mengajakmu ke tempat bagus nanti sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah membantu aku hari ini jadi jangan sedih seperti itu!" ucap Bilt seraya mengusap kepalanya.
"Benarkah? Apa kau akan mengajak aku makan ramyeon?"
"Ck, aku tidak suka makanan Korea!"
"Ayolah, makanan itu enak. Kau pasti akan suka."
"Tidak perlu beralasan, memangnya aku tidak tahu apa mau-mu? Aku akan mentraktirmu makan Ramyeon nanti jadi jangan sedih!"
"Kau memang paling tahu apa yang aku inginkan!" Vanila tersenyum lebar, walau sesungguhnya dia sedang merasa sedih.
"Jika begitu aku pulang dulu, bye," Vanila melambai sebelum dia pergi.
"Hati-Hati!" teriak Bilt tapi dia ingat dengan satu hal. Celaka, dia lupa mengatakan pada Vanila jika orang-orang yang waktu itu dia takuti datang lagi ke bar untuk mencari dirinya bahkan salah satu dari mereka menunjukkan foto Vanila padanya. Di foto itu Vanila sangat jauh berbeda dengan penampilannya saat ini. Di foto itu Vanila berdandan seperti seorang putri kerajaan. Dia bahkan mengira Vanila keturunan bangsawan tapi dia merasa Vanila hanya suka melakukan cosplay saja sehingga berpenampilan seperti itu.
Semoga saja Vanila tidak bertemu dengan mereka dan memang, Vanila kembali tanpa ada kendala. Begitu tiba, Vanila menghentikan langkah saat mendapati rumah yang begitu gelap. Air matanya menetas padahal dia belum masuk ke dalam rumah. Kesedihan memenuhi hati karena dia bisa menebak apa yang telah terjadi.
Pintu rumah dibuka, Vanila menghapus air matanya sambil menyalakan lampu. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Keberadaan Abraham juga tidak terasa di tempat itu. Dia tahu, ternyata firasat yang dia rasakan sangat benar.
Vanila jatuh terduduk di depan pintu setelah pintu tertutup. Tangisannya terdengar, ternyata begitu menyakitkan berpisah dengan cara seperti itu. Walau dia berkata kenangan yang mereka buat sudah cukup namun sesungguhnya tidaklah cukup. Mungkin dia serekah, tapi hanya bersama pria itu saja dia bisa merasakan apa artinya kehidupan dan kebahagiaan.
__ADS_1
Sekarang dia sendirian lagi, dia pun harus siap menghadapi konsekuensi dari apa yang dia lakukan. Dia yakin Abraham sudah mendapatkan ingatannya, sebab itu dia pergi. Setelah menangis cukup lama di depan pintu, Vanila masuk ke dalam rumahnya. Semua pakaian yang dia belikan masih ada, itu berarti Abraham tidak membawa apa pun saat pergi.
"Tidak apa-apa, Vanila. Semua sudah berakhir. Bukankah kau memang ingin mengembalikannya pada tunangannya? Jadi tidak ada bedanya antara hari ini atau pun besok karena pada akhirnya, dia akan tetap pergi darimu," ucapnya untuk menghibur diri.
Vanila mencuci wajahnya, pertemuan yang dipaksakan juga perpisahan yang tak terduga. Sejak awal kebersamaan mereka memang dipaksakan jadi dia tidak boleh sedih akan hal itu apalagi dia yang telah memaksa Abraham untuk bersama dengannya.
Vanila berusaha tersenyum namun sakit yang dia rasakan. Bukan rasa sakit akibat luka, tapi rasa sakit akibat perpisahan yang dia rasakan. Apa rasa cinta yang dia miliki untuk Abraham sehingga membuatnya seperti itu?
Air mata kembali mengalir, dia kembali menangis dengan keras di dalam kamar mandi. Kebahagiaan yang dia dapatkan hilang seketika. Walau dia tahu kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama tapi jika tiba-tiba kebahagiaan itu hilang begitu saja rasanya tetap menyakitkan.
Tangisannya masih pecah, biarlah. Setelah ini dia tidak boleh menangisi perpisahan mereka apalagi hal itu sudah seharusnya terjadi. Cukup lama dia menangis seperti itu dan setelah merasa lebih baik, Vanila naik ke atas ranjang. Rasa rindunya pada pria yang tiba-tiba pergi memenuhi hati. Vanila mengambil baju yang pernah digunakan oleh Abraham lalu memeluknya. Walau hanya baju tapi itu cukup untuk mengobati rasa rindu yang dia rasakan.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tidak akan lari, aku akan menunggu kedatanganmu setelah kau tahu semuanya, Abraham. Pada saat itu, aku akan meminta maaf lagi padamu. Kau mau memaafkan aku atau tidak aku akan menerima semua keputusanmu dan aku akan menerima konsekuensi dari apa yang aku lakukan," ucap Vanila perlahan.
Air mata kembali menetes, Vanila semakin memeluk baju Abraham dengan erat. Dia sungguh tidak menduga, setelah bersama dengan pria itu ternyata rasa cintanya tumbuh semakin besar. Isak tangisnya kembali terdengar, padahal dia tidak mau menangis lagi tapi dia tidak bisa menahan rasa sedih yang menyesakkan dada.
Vanila mengambil ponselnya, sebaiknya dia mengatakan pada Bilt akan kepergian Abraham karena Bilt harus tahu.
"Bilt, dia sudah pergi jadi besok tidak perlu berpura-pura lagi jika tunangannya datang," itu pesan yang dikirim oleh Vanila untuk sahabatnya agar Bilt tidak melakukan rencana mereka tapi dia yakin, Abraham sedang bersama dengan tunangannya saat ini dan besok wanita itu tidak mungkin datang lagi ke bar.
Bilt belum membaca pesan yang Vanila kirimkan karena dia sibuk bekerja tapi ketika sudah selesai, Bilt terkejut membaca pesan tersebut. Bilt mencoba menghubungi Vanila namun Vanila tidak menjawab karena dia sudah tertidur sambil memeluk baju yang pernah digunakan oleh Abraham.
__ADS_1