
Abraham dan Norman duduk bersama di ruang tamu. Untuk belasan tahun lamanya dan setelah sekian lama menjadi musuh, ini kali pertama mereka duduk bersama seperti itu.
Ana sedang tidur di gerobak bayi yang mereka letakkan di sisi sofa. Anatasya kembali tidur setelah dibersihkan dan diberi asi. Tidak adanya pengalaman membuat mereka berdua tampak kacau, sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan.
"Bagaimana kau bisa menjalin hubungan dengan Renata?" tanya Norman tiba-tiba.
"Yeah, waktu itu kita sudah berselisih. Aku tidak begitu ingat, aku terpikat dengan kebaikan yang dia tunjukkan!" jawab Abraham.
"Hng, dulu Emely menyukaimu. Apa kau tidak tahu?"
"Aku tahu, Norma. Tapi aku juga tahu jika kau menyukainya."
"Dulu aku mengira Emely bunuh diri karena kau menolak cintanya dan mengucapkan perkataan kejam yang membuatnya sakit hati. Oleh sebab itu aku benci denganmu yang telah menyebabkan kematiannya."
"Sungguh lucu, Norman. Emely tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku, bagaimana mungkin aku menolak cintanya dan mengucapkan perkataan yang menyakiti hatinya?"
Norman diam, namun tawanya terdengar. Entah kenapa dia merasa bodoh, benar-benar bodoh. Kesalahpahamannya telah menghancurkan persahabatan mereka selama belasan tahun.
"Aku minta maaf padamu, Abraham," ucapnya.
Abraham terkejut, dia bahkan melihat ke arah Norman. Apa pria itu jadi waras setelah terkena air seni putrinya?
"Aku sungguh bodoh tidak mempercayai perkataanmu waktu itu. Aku mengira Emely bunuh diri gara-gara kau," ucap Norman lagi.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Aku tahu kenapa kau bisa menuduh aku seperti itu. Kau mencintai Emely tapi Emely justru menyukai aku. Kematian Emely diduga akibat bunuh diri jadi wajar kau mencurigai aku dan membenciku apalagi kau sudah mengalah akan perasaanmu padanya. Lagi pula saat itu kita tidak mengenal Renata namun dia hadir disaat kita mulai saling membenci dan bersikap seolah-olah dialah orang yang paling kehilangan akan kematian Emely sehingga aku terjebak dalam tipu dayanya."
"Lihatlah, kau benar-benar bodoh. Kau bahkan diculik oleh adikku dan ditipu olehnya!" cibir Norman.
"Itu kasus berbeda, Norman. Aku hanya sial bertemu dengannya namun aku mensyukuri apa yang dia lakukan padaku. Kau lihat dirimu, setelah kematian Emely kau justru mengekangnya sehingga dia memberontak dan melakukan perbuatan gila!"
Norman menghela napas, yeah... Vanila jadi seperti itu gara-gara dirinya. Jika dia tidak mengekang Vanila maka Vanila tidak akan melakukan perbuatan gila yang merugikan orang lain.
"Sekali lagi aku minta maaf padamu karena perbuatannya," ucap Norman.
"Tidak, berkat dia kita bisa jadi seperti ini. Bisa dikatakan jika dia adalah jembatan penghubung antara kau dan aku."
__ADS_1
Norman kembali menghela napas, waktu belasan tahun yang terbuang sia-sia. Jika tidak karena adiknya itu, mungkin mereka masih berada di dalam kesalahpahaman dan mungkin saja mereka tidak akan pernah mengetahui siapa yang telah menyebabkan kematian Emely.
"Aku tidak akan melepaskan Renata, Abraham. Saat aku sudah menangkapnya, kau tidak boleh menghalangi aku untuk menghukumnya!" ucap Norman.
"Aku tidak akan mencegah Norman, selama belasan tahun dia sudah menipu kita. Aku bahkan akan berakhir dengannya jadi aku tidak akan mencegah apa yang akan kau lakukan padanya nanti. Jika aku menemukan keberadaannya terlebih dahulu, maka aku akan menyerahkan dirinya padamu dan aku harap kau tidak membiarkannya cepat mati sehingga dia hidup dalam penderitaan. Itu sangat sepadan dengan apa yang dia lakukan pada Emely dan pada kita!"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, tapi kau harus berhati-hati dan jagalah Vanila juga Ana baik-baik karena aku khawatir Renata akan kembali untuk mengincar mereka."
"Aku berjanji padamu, aku pasti akan menjaga mereka dengan baik."
"Baiklah, kenapa Vanila belum juga kembali? Aku sudah lapar!" ucap Norman seraya beranjak.
"Kau datang dan mengganggu pekerjaanku, jaga Ana baik-baik!" Abraham juga beranjak dan melangkah menuju dapur.
Norman hanya memperhatikan Abraham, apa persahabatan mereka sudah kembali lagi? Apa pun itu, mereka sudah tidak saling membenci lagi bahkan ini kali pertama mereka berbicara tanpa harus adu tenaga.
Abraham kembali membuat makanan yang tertunda, sedangkan Norman membantu setelah membawa Ana ke dalam kamar. Kedua pria itu sibuk di dapur saat Vanila kembali.
Vanila sangat heran mendapati sepatu yang tidak dikenal di depan rumah juga saat mendengar percakapan dua orang pria di dalam. Apa Bilt datang lagi?
"Kakak, kapan kau datang?" tanyanya.
"Kau sudah kembali rupanya, mana Marion?" tanya kakaknya.
"Marion ada urusan. Kenapa kakak tidak mengabari aku jika mau datang?"
"Apa aku harus memberimu laporan terlebih dahulu? Apa aku harus mendapat ijin darimu baru aku boleh datang?"
"Tidak, bukan begitu," aneh, kenapa kakaknya tidak marah padahal Abraham ada di sana? Seharusnya kakaknya marah saat ini tapi kenapa dia justru telihat akrab dengan Abraham? Apakah hubungan mereka sudah membaik?
Abraham menghampiri Vanila yang terlihat tidak mempercayai dengan apa yang terjadi dengan hubungan mereka. Tidak saja Vanila, dia juga tidak pernah menyangka di mana dia dan Norman akan berbincang bersama tanpa keributan kembali lagi.
"Pergilah mandi lalu makan dengan kami," ucapnya.
"Kalian tidak akan adu tenaga, bukan?" entah kenapa dia jadi khawatir, takut tiba-tiba mereka adu tenaga sehingga dapurnya jadi berantakan.
__ADS_1
"Tidak," Abraham mencium pipinya, mata Vanila tertuju pada sang kakak karena dia khawatir kakaknya marah karena Abraham melakukan hal itu lalu memukulnya namun Norman seperti tidak melihat apa yang Abraham lakukan.
"Pergi mandi, Vanila. Setelah makan, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua," ucap Norman.
"Baiklah, apa Ana sudah minum asi?"
"Tentu saja, Ana baru saja tidur jadi pergilah mandi dan setelah itu kita berbincang," ucap Abraham.
Vanila mengangguk, sebelum berlalu pergi Vanila melihat kakaknya sejenak. Kakaknya tidak seperti biasanya, padahal dia takut kakaknya murka tapi semua diluar dugaan. Vanila pergi mandi dengan banyak pertanyaan di hati, dia tidak menyangka kakaknya akan datang hari ini.
Sebelum keluar, Vanila memeriksa popok yang digunakan oleh putrinya. Abraham bahkan sampai menyusulnya ke dalam kamar karena dia belum juga keluar.
"Apa kau belum selesai?" tanyanya.
"Sebentar," Vanila mengeringkan rambutnya yang basah, namun Abraham mengambil handuk yang ada di tangannya.
"Biar aku," ucapnya.
"Kapan kakakku datang, Abraham?"
"Tidak lama setelah kau pergi."
"Kalian berdua tidak bertengkar, bukan?" dia harap tidak tapi sepertinya hal itu tidak terjadi.
"Tidak, sudah aku katakan padamu jika kesalahpahaman di antara kami sudah selesai."
"Aku senang mendengarnya. Jujur saja aku takut kakak marah saat tahu kau berada di sini."
"Tidak perlu khawatir, dia tidak marah," handuk dijatuhkan, Abraham memeluk Vanila dari belakang, "Aku sangat bersyukur bertemu denganmu, Vanila. Kau benar-benar telah memberikan perubahan terbesar dalam hidupku," ucapnya.
"Benarkah?"
"Yes, jika bukan karena kau maka kami tidak akan jadi seperti ini."
Vanila tersenyum, dia merasa senang hubungan mereka kembali membaik. Setelah merapikan rambutnya, mereka segera keluar dari kamar dan menuju dapur di mana Norman sudah menunggu mereka untuk makan siang bersama.
__ADS_1