Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Umpan


__ADS_3

Renata terlihat gelisah, dia tidak memiliki jalan untuk lari lagi. Dia bagaikan terkurung di kota besar itu, sekarang dia tidak tahu harus lari ke mana. Dia sudah berusaha kembali ke bandara, dia bahkan meminta seseorang membeli tiket untuknya namun gagal. Walau rupanya berubah namun kartu identitasnya tidak berubah.


Orang yang dia mintai tolong bahkan ditangkap karena dicurigai. Sekarang dia dalam masalah besar, benar-benar dalam masalah besar. Kartu identitasnya diambil petugas, tapi beruntungnya dia langsung lari. Tanpa kartu itu dia tidak bisa pergi ke mana pun lagi. Sepertinya mau tidak mau dia harus meminta bantuan kakaknya. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa pergi dari London.


Nomor ponsel sudah dia ganti, dia yakin tidak akan ada yang menyadap pembicaraannya.


"Siapa kau?" tanya Evan setelah menjawab panggilan darinya.


"Ini aku, Evan," Renata berbicara berbisik seperti takut ada yang mendengar padahal dia berada di sebuah motel saat itu.


"Renata?" Evan terdengar tidak percaya.


"Sttss! Jangan menyebut namaku!" pinta Renata.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau terdengar waspada?" tanya Evan curiga.


"Abraham sedang memburu aku, Evan. Aku tidak bisa lari ke mana pun jadi bantu aku pergi dari sini!" pinta Renata.


"Apa maksud perkataanmu?" tanya Evan. Dia dan kedua orangtuanya tidak tahu apa yang telah terjadi dengan hubungan Renata dan Abraham. Renata tidak mengatakan apa pun pada mereka, Abraham datang sebentar untuk memutuskan tali pertungan mereka dan tidak mengatakan apa pun. Walau kedua orangtua mereka bertanya tapi Abraham tidak mau mengatakan apa pun.


"Jangan banyak bertanya, segera bantu aku agar aku bisa keluar dari kota ini!" pinta Renata.


"Baiklah, di mana kau sekarang?" tanya Evan.


"One Eye, temui aku di sana. Aku harap kau bisa membawa aku keluar dari kota ini jika tidak aku akan mati," ucap Renata.


Sang kakak tidak mengerti namun dia pergi juga untuk membantu adiknya. Renata harap kakaknya bisa membawanya pergi dari London namun sayangnya, pembicaraan mereka sudah didengar karena ponsel Evan sudah disadap oleh Gaston.


Norman dan Abraham mendengar percakapan itu, Vanila juga sudah mendengarnya. One Eye, mereka akan segera bergegas. Abraham mengambil ponselnya, dia harus memberi perintah pada Gaston.


"Gaston, pergi bawa Sonny dan beberapa anak buah ke One Eye. Menyebar di sana tapi jangan sampai Renata curiga!" perintahnya.


Gaston segera bergegas ke One Eye, jangan sampai target yang mereka cari hilang begitu saja. Sonny pun tidak membuang waktu, dia segera bergegas menuju One Eye bersama Gaston.


"Saatnya umpan ini menunjukkan diri," ucap Vanila.


"Jangan gegabah, ayo kita pergi mengintai bersama sebelum kita menangkapnya!" ucap Abraham.


"Aku rindu dengan aksi kita waktu itu," ucap Vanila.

__ADS_1


"Kau akan mendapatkannya, Vanila."


"Benarkah?"Vanila tampak tidak percaya.


"Yes, aku sudah menyiapkan apa yang kau mau."


"Oh, Abraham. Kau paling mengerti aku," Vanila terlihat senang dan tidak sabar.


Abraham menggeleng, sedangkan Norman terlihat tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Tidak ingin membuang waktu, mereka segera bergegas.


Renata sengaja memilih One Eye karena di sana tempat wisata yang sudah pasti ramai. Tidak akan ada yang mengenalinya apalagi dia menyamar dan dia juga akan berbaur dengan para wisatawan.


Renata sudah tiba, dia bahkan menaiki gondola untuk melihat sekitar. Tidak ada yang aneh, semua baik-baik saja. Renata tampak lega, dia harap dia bisa pergi dari kota itu. Lebih baik dia lari terlebih dahulu, dia pasti akan kembali setelah mendapatkan kekuatan besar.


Para pengunjung di One Eye semakin ramai, Gaston dan Sonny juga beberapa anak buah menyebar. Mereka juga berbaur dengan pengunjung lainnya. Renata sudah berada di sebuah cafe, menunggu kedatangan kakaknya. Dia tampak gelisah karena Evan begitu lama.


Gaston dan Sonny terus memantau namun seorang wanita yang ada di cafe dan terlihat mencurigakan justru menarik perhatian mereka. Mereka memantau wanita itu, laporan itu pun disampaikan oleh Gaston pada Abraham.


"Seorang wanita berambut pirang, memakai kaca mata berada di cafe. Celana hitam, baju cream dan syal berwarna hitam. Wanita itu tampak mencurikan," ucap Gaston.


"Terus pantau, jangan ada yang menampakkan diri sampai Evan datang. Tugas kalian hanya memantau saja, jangan gegabah jika tidak dia akan lari," perintah Abraham.


"Yes, Sir!" jawab Gaston. Perintah untuk anak buah pun diberikan agar mereka tidak terlalu mencolok dan mencurigakan.


"Tunggu apa lagi, ayo tangkap!" ucap Norman.


"Jangan gegabah, Norman. Dia akan lari di antara kerumunan. Kita akan kehilangan dirinya jika dia sampai lari jadi sebaiknya kita bersabar sebentar. Kita pancing di tempat sepi sampai barulah kita tangkap!"


"Aku harap rencana kalian untuk menjadikan Vanila umpan tidaklah salah," Norman benar-benar takut adiknya celaka hanya karena harus menjadi umpan.


"Jangan khawatir, Kak. Percayalah padaku," Vanila juga mengintip dari teropong.


Renata semakin cemas dan gelisah, dia benar-benar takut tapi ketika melihat kakaknya yang sudah tiba, rasa lega dia rasakan tapi rasa lega itu dia rasakan sesaat saja karena dia belum keluar dari kota itu.


"Kenapa begitu lama?" tanyanya dengan nada tidak senang


"Macet, apa kau tidak tahu?"


"Baiklah, ayo segera bawa aku pergi dari tempat ini!" Renata melihat sekitar, kenapa tiba-tiba dia merasa ada yang memperhatikan dirinya?

__ADS_1


"Kenapa Begitu terburu-buru, apa kau tidak mau pulang terlabih dahulu??" tanya Evan.


"Jangan bercanda, aku sedang dalam bahaya. Apa kau kira aku memiliki waktu untuk berbasa basi dengan kalian?" ucap Renata sinis.


"Baiklah, sekarang katakan kau mau pergi ke mana?"


"Ke mana saja, yang pasti aku bisa keluar dari kota ini!!"


Semoga saja dia berhasil keluar dari London. Dia tidak boleh tertangkap oleh Abraham, tidak boleh. Mereka berdua melangkah menuju mobil, Renata kembali melihat sekitarnya. Aman, tidak ada yang mencurigakan namun nyatanya, dia sudah diintai sedari tadi.


Evan membawa mobilnya pergi, meninggalkan One Eye. Gaston dan Sonny pun meninggalkan One Eye. Mereka pergi menuju lokasi yang sudah ditentukan, sedangkan Vanila sedang bersiap-siap karena sebentar lagi adalah aksinya


"Vanila, apa yang kau lakukan?" tanya kakaknya. Vanila menggunakan celana karet ketat, tank top putih dan juga sebuah jaket kulit. Rambutnya dikat ke belakang, dua sarung tangan pun dia pakai. Norman melihat penampilan adiknya yang sudah bagaikan seorang pembalap dengan tatapan heran. Apa yang hendak Vanila lakukan?


"Menjadi umpan," ucap Vanila.


"Menjadi umpan? Kenapa penampilanmu seperti itu?" tanya kakaknya tidak mengerti.


"Lihat saja, Kak. Aku sudah katakan aku tidak selemah yang kau kira!!"


Pintu mobil dibuka, sebuah motor sport berhenti di sisi mobil mereka. Abraham cuek saja, sedangkan Norman masih tidak mengerti.


"Bye, aku pasti akan menjadi umpan yang keren!" ucap Vanila seraya naik ke atas motor.


"Hati-Hati, Vanila," ucap Abraham.


"Vanila, jangan main-main!" ucap Norman. Dia sungguh tidak tahu jika adiknya bisa membawa motor yang memiliki ukuran lebih besar dari pada tubuhnya itu.


"Lihat saja, Norman. Sepertinya kau tidak begitu mengenal adikmu" ucap Abraham.


"Kau tahu?" Norman sungguh tidak percaya.


"Yeah!" jawab Abraham sambil tersenyum.


Tatapan mata Norman tidak lepas dari adiknya yang sudah menyalakan mesin motor. Vanila melambai pada mereka dan setelah itu, motor sport itu dibawa melesat dengan kecepatan tinggi sampai membuat norman terkejut.


"Wow, apa itu istrimu?" tanyanya tanpa sadar dengan ekspresi tidak percaya.


"Adikmu!" ucap Abraham.

__ADS_1


Sekarang mereka akan menyerahkan hal itu pada Vanila. Abraham memerintahkan sang supir untuk jalan menuju tempat yang sudah dipastikan sedangkan Vanila mengejar Renata seorang diri.


Renata berincang dengan kakaknya di sepanjang jalan. Mobil yang dibawa oleh Evan berhenti di lampu merah. Tatapan mata Renata tidak lepas dari mobil yang berhenti di sisi mereka namun dia dikejutkan oleh sebuah motor sport yang berhenti tidak jauh darinya. Mata Renata melotot, Vanila Elouis. Apa ini? Apakah ini hanya kebetulan saja? Sepertinya dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.


__ADS_2