Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Sang Putri Yang Tidak Akan Bisa Kabur Lagi


__ADS_3

Perjalanan jauh menuju Swedia membuat Vanilla bosan setengah mati. Padaal dia sudah melarikan diri ke Australia tapi kakaknya tetap saja bisa menangkapnya. Sesungguhnya itu bukan hal yang mustahil, orang-orang kepercayaan kakaknya begitu banyak dan mereka adalah orang-orang yang sudah dilatih sedemikian rupa.


Sesungguhnya siapa Vanila Elouis? Kenapa dia selalu dikekang harus hidup sesuai dengan apa yang kakaknya katakan?


Vanila Eloius adalah anak kedua dari Raja Archer Elouis dan Ratu Alaina Elouis. Norman adalah putra mahkota yang akan mewarisi tahta kelak dan Vanila adalah putri kerajaan.


Kehidupan di dalam kerajaan membuat Vanila tidak boleh bertindak sesuka hatinya. Apa yang dia lakukan harus selalu diawasi oleh sang kakak bahkan satu makanan ringan yang dia beli harus kakaknya periksa terlebih dahulu.


Kakaknya memang selalu over protective padanya sejak kecil namun kelakuan kakaknya semakin menjadi setelah dia kembali dari Inggris. Entah apa yang terjadi dengan sang kakak selama berada di sana, tidak ada yang tahu tapi semenjak itulah, hidup Vanila bagaikan di neraka. Walau dia sudah dikekang sejak kecil namun setelah kakaknya kembali membuatnya semakin tidak tahan.


Kabur saat malam hari sudah sering dia lakukan. Dengan bantuan seorang pelayan, dia bisa menyelinap keluar. Malam hari adalah surga baginya karena saat pagi, dia harus belajar, belajar dan belajar sampai membuatnya muak dengan kehidupan yang ada apalagi dia harus menuruti semua perkataan kakaknya.


Balap liar, bermain di bar sering dia lakukan saat dia kabur. Baginya itulah kehidupan, tidak harus selalu belajar dan hidup seperti yang kakaknya inginkan. Dengan identitas palsu, tidak ada yang tahu siapa dirinya. Dia melarikan diri saat ada kesempatan namun putri yang kabur itu, sudah tertangkap dan kali ini dipastikan dia tidak akan kabur lagi.


Vanila menghela napas, berakhir sudah petualangannya di Australia tapi bukan berarti dia tidak akan pergi lagi. Hanya menunggu waktu, dia akan mencari waktu yang tepat mengatakan kehamilannya dan pada saat itu, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Norman Elouis.


Norman menghampiri adiknya, dia membawa sesuatu dari Swedia untuk Vanila. Yang dia bawa tentu makanan kesukaan Vanila, walau dia seperti itu tapi sesungguhnya dia menyayangi Vanila. Kenangan buruk masa lalu'lah yang membuatnya jadi seperti itu dan tentunya kenangan itu berhubungan dengan Abraham dan kenangan itulah yang membuat mereka berdua saling bermusuhan.


"Aku membawakan sesuatu untukmu," Norman duduk di sisi Vanila dan memberikan kue yang dia bawa, "Kau sudah lama tidak memakan kue ini, bukan?" tanyanya.


"Tolong kembalikan ponselku, Norman," pinta Vanila. Tatapan matanya menatap kosong keluar jendela, dia enggan melihat sosok kakak yang dia benci.


"Aku akan kembalikan setelah waktunya tiba."


"Kapan?" Vanila belum juga berpaling.


"Setelah kau menikah!'' jawab Norman.


Napas berat dihembuskan, Vanila mengambil kue yang diberikan oleh kakaknya. Dia harus berusaha menyembunyikan kehamilannya untuk saat ini karena kakaknya tidak boleh tahu sampai waktunya tiba. Vanila mengira dia akan mual atau semacamnya seperti wanita lain yang sedang hamil muda tapi ternyata dia salah. Dia bahkan tidak merasakan apa pun, tubuhnya bahkan terasa segar bugar.

__ADS_1


Vanila sudah tidak merasakan sakit kepala dan mual lagi seperti yang dia rasakan waktu itu. Mungkin semua itu berkat vitamin yang dia dapat dari rumah sakit. Celaka, dia lupa akan hal itu, apa anak buah kakaknya juga membawa Vitamin itu? Dia harap tidak agar tidak ketahuan tapi bagaimana jika dia kembali mual dan pusing?


Semoga saja hal itu tidak terjadi, dia harap dia juga tidak mengalami morning sickness yang bisa membuat kakak dan juga kedua orangtuanya curiga.


"Habiskan itu, dan istirahat. Beberapa jam lagi kita akan segera tiba!" ucap Norman seraya beranjak karena ada yang hendak dia lakukan.


Vanila mengangguk, kue pun dihabiskan. Dia masih merasa lapar sehingga dia meminta makanan pada pramugari. Norman melihat adiknya sejenak lalu dia kembali melanjutkan pekerjaan. Seperti dulu, wajah Vanila selalu ceria. Dia tidak terlihat sedih atau apa pun. Dia selalu memendam apa pun sendirian karena dia akan mendapat hukuman jika dia salah bicara. Dia sudah terbiasa bahkan dia sudah seperti seorang artis profesional.


Vanila meminta beberapa jenis makanan pada pramugari, mumpung tidak sedang berada di kerajaan di mana dia harus menjaga image dan mengikuti tata cara makan jadi dia harus memanfaatkan keadaan yang ada. Beruntungnya Norman tidak melarang, dia hanya diam dan melihat. Itu karena setelah ini, Vanila tidak akan bisa seperti itu lagi.


Vanila benar-benar beruntung tidak merasakan mual atau muntah saat makan namun ayah dari bayi yang sedang dia kandung saat ini, dialah yang harus merasakan itu semua.


Mungkin itu pelajaran untuknya, kedua orangtuanya saling pandang saat Abraham memuntahkan apa yang sedang dia makan. Dia bahkan mengeluh mual saat mencium bau makanan.


Padahal semua makanan yang ada di atas meja adalah makanan yang dibuat oleh ibunya. Semua itu sesuai dengan yang dia yang minta. Hari ini dia benar-benar aneh, sangat aneh. Tiak ada yang tahu kenapa tapi Abraham seperti wanita yang sedang hamil muda.


"Entahlah, sepertinya aku kurang enak badan."


"Jangan-Jangan kau terkena virus saat berkunjung ke Australia," ucap ibunya.


"Tidak ada Virus, jangan mengada-ada!"


"Lalu, kenapa kau seperti wanita hamil? Apa Renata sedang hamil?" tanya ibunya curiga.


"Tidak, dia selalu mengkonsumsi obat. Lagi pula apa hubungannya dengan keadaanku jika dia benar-benar hamil?"


"Tentu saja ada. Kau ayah dari bayinya jadi kau juga bisa mengalami apa yang seharusnya ibunya alami," jelas ibunya.


"Ck, sudah aku katakan Renata tidak hamil!" Renata memang selalu menggunakan obat karena dia tidak mau hamil begitu cepat. Mereka juga sudah lama tidak berhubungan badan saat dia diculik. Ibunya pasti hanya asal bicara, keadaannya yang seperti itu pasti diakibatkan kelelahan karena perjalanan yang dia tempuh.

__ADS_1


"Jika begitu sebaiknya kau beristirahat, Mommy akan membuatkan minuman hangat untukmu."


"Tidak perlu, Mom. Aku mau tidur saja," Abraham beranjak dengan kepala sakit luar biasa. Ada apa dengannya hari ini? Dia benar-benar tidak mengerti. Sebaiknya dia tidur, mungkin besok keadaannya akan segera membaik namun sayangnya, matanya tidak mau terpejam sama sekali.


Abraham tampak gelisah, pikiran berkelana. Sosok gadis yang pernah menemani malam dan menghangatkan dirinya kembali memenuhi pikirannya. Sekeras apa pun dia berusaha menyingkirkan sosok itu namun gadis yang melewatkan waktu tidak lama dengannya itu sulit untuk dia lupakan.


Tidak benar, apa yang dia alami tidak benar. Abraham beranjak dan mengambil sebuah bantal, tiba-tiba dia sangat ingin tidur dengan ibunya.


Ayahnya terkejut saat membuka pintu mendapati putranya berdiri di depan pintu sambil memeluk sebuah bantal seperti anak kecil.


"Ada apa denganmu, Abraham?" tanya ayahnya.


"Aku mau tidur dengan Mommy," jawab Abraham seraya masuk ke dalam.


"Apa?" ayah dan ibunya terkejut mendengar keinginan putra mereka.


"Memangnya kau anak kecil!" ayahnya mulai protes.


"Dad, malam ini saja. Aku tidur di tengah dan tidak akan mengganggu tidur kalian!" Abraham sudah naik ke atas ranjang dan membaringkan diri.


"Hei, kembali ke kamarmu!" ayahnya mulai mengusir.


"Aku tidak akan mengganggu, kalian boleh melakukan apa saja," ucapnya.


"Sembarangan, besok malam jangan harap bisa masuk ke dalam kamar ini lagi!" ucap ayahnya.


"Aku tahu, hanya malam ini saja!"


Lagi-Lagi ayah dan ibunya saling pandang, apa yang sebenarnya terjadi dengan putra mereka? Abraham tidak mempedulikan apa pun, dia tertidur di samping ibunya. Sungguh aneh, dia tidak mengerti apa yag sedang dia alami dan tentunya dia tidak curiga dengan keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2