Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Introgasi


__ADS_3

Vanila menunduk, tidak berani mengangkat wajah untuk melihat kakaknya yang sedang duduk di hadapannya. Waktu interogasi dimulai, dia tidak bisa mengelak setelah memperlihatkan aksi gila yang dia pelajari sewaktu dirinya menjadi pembalap liar dijalanan.


Vanila masih tidak bersuara, suara ketukan jari sang kakak di atas meja justru semakin membuatnya takut. Abraham tidak ikut campur, dia sedang menggendong putrinya saat itu. Kedua orangtuanya sangat heran melihat kakak adik yang begitu terlihat serius.


"Ada apa dengan mereka?" tanya ibunya sambil berbisik.


"Rapat keluarga, tidak perlu khawatir," jawab Abraham.


"Rapat apa?" tanya ibunya tidak mengerti.


"Tidak ada apa-apa tapi ngomong-ngomong kalian bisa pulang jika ingin pulang karena kami sudah menangkap Renata."


"Benarkah?" tanya ibunya


"Yeah... Kami sudah mendapatkannya jadi Mommy tidak perlu khawatir."


"Apa kau sudah mengirim Renata ke dalam penjara agar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya?"


"Tidak, Gaston sudah membawanya ke Swedia. Norman yang akan memberikan hukuman untuknya."


"Mommy senang mendengarnya, Sayang. Dengan begini istri dan putrimu aman."


"Istriku tidak perlu dikhawatirkan, dia lebih hebat tanpa Mommy duga."


"Maksudmu?" tanya ibunya tidak mengerti.


"Yeah, sebab itu mereka seperti itu," Abraham masih memandangi istrinya yang masih menunduk. Ana yang sudah tidur diambil oleh ibunya dan dibawa ke dalam kamar. Abraham melangkah mendekat, duduk di sisi Vanila. Entah sampai kapan kedua orang itu akan diam, semoga tidak sampai kiamat.


"Kenapa masih diam?" tanyanya karena istrinya masih saja diam. Dia tahu Vanila takut tapi semua itu tidak lepas dari apa yang telah Norman lakukan.


"Aku?" Vanila menangkat wajahnya sedikit tapi dia kembali menunduk karena kakaknya masih melotot ke arahnya.


"Norman, kau ingin mencari tahu atau ingin mengancamnya?" tanya Abraham sambil menggelang. Kenapa sifatnya tidak berubah sedari dulu?


"Kenapa kau diam saja, Vanila?" tanya Norman dengan nada menekan.


"Bagaimana Vanila bisa menjawab pertanyaanmu sedangkan kau menunjukkan ekspresi wajah menakutkan seperti itu?" ucap Abraham.

__ADS_1


Tatapan mata tajam Norman berpaling ke arah Abraham, kini sasarannya justru Abraham.


"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak takut!" ucap Abraham.


Norman mendengus lalu dia menatap adiknya kembali. Vanila masih saja menunduk, Abraham memegangi tangan istrinya dan mengusapnya perlahan. Vanila berpaling, memandang ke arah suaminya yang sedang tersenyum lembut.


"Katakan saja, tidak perlu takut. Ada aku jadi katakan semuanya pada kakakmu," ucapnya.


Vanila mengangguk dan tersenyum tipis, apa yang Abraham katakan benar tapi sejak dulu kakaknya selalu mengekang dan melarangnya melakukan banyak hal, sebab itu perasaan takut itu ada.


"Aku minta maaf padamu, Kak," ucapnya. Vanila berpaling, memberanikan diri menatap sang kakak.


"Aku stress karena kau kekang setiap hari. Apa yang aku lakukan selalu salah di matamu. Aku hanya boleh melakukan apa yang kau perintahkan bahkan untuk berbicara dengan seorang pelayan saja kau melarang. Aku seperti tawananmu setiap hari sebab itu aku tidak tahan!" ucapnya. Tiba-Tiba dia tidak merasa ragu lagi dan merasa ingin menumpahkan semua yang dia rasakan selama ini.


"Sebab itu kau menjadi liar? Sekarang katakan padaku, dari mana kau mempelajari semua itu?" tanya Norman.


"Aku bergabung dengan sebuah geng motor dan menjadi pembalap liar," jawab Vanila tanpa ragu.


"Apa?" Norman terkejut. Dia bahkan berdiri sambil menggebrak meja sehingga membuat Vanila terkejut dan ketakutan.


Norman kembali duduk, beruntungnya kedua orangtua Abraham sudah tidak berada di sana lagi.


"Katakan, bagaimana kau bisa bergabung dengan geng motor padahal kau selalu berada di dalam istana?" jangan-jangan kedua orangtuanya tidak tahu akan hal ini.


"Setiap malam aku menyelinap keluar lalu aku pergi ke bar. Aku mencari kehidupan di sana, aku bertemu dengan geng motor lalu aku bergabung dengan mereka. Aku diajari menjadi bertender, aku diajari cara menggunakan motor. Kami melakukan keributan dan memukul banyak orang yang berani menantang kami," jelas Vanila. Tidak ada yang dia tutupi karena dia merasa sudah tidak perlu.


"Apa?" Norman sangat terkejut mendengarnya. Apa dia tidak salah mendengar? Dia sungguh tidak percaya adiknya melakukan hal seperti itu.


"Beraninya kau melakukan hal itu, Vanila? Kau seorang putri, bagaimana bisa?" Norman terlihat marah, dia bahkan sedang menahan emosi yang meluap di dada.


"Semua gara-gara kau. Kau mengekang kehidupanku, sekalipun aku seorang putri tapi aku tidak memiliki kebebasan. Aku seperti seorang pelayan yang kau beli di jalan lalu kau bawa pulang!"


Norman diam, mendengar perkataan adiknya. Apa dia sudah keterlaluan sehingga membuat adiknya merasa seperti itu?


"Aku pergi saat semua sudah tertidur, aku selalu melakukan apa yang tidak aku lakukan di dalam istana tapi disanalah aku menemukan artinya hidup. Kerja keras, persahabatan dan juga kerja sama dengan para sahabatku. Aku belajar banyak hal tapi kau semakin keterlaluan karena kau ingin menikahkah aku. Oleh sebab itu aku lebih memilih melarikan diri dibantu oleh sahabat geng motorku. Mereka membantu aku membeli tiket, mereka pula yang membantu aku dan membawa aku ke bandara. Aku tahu kau pasti kecewa dan marah, tapi aku hanya ingin kebebasan. Tidaklah menyenangkan hidup di bawah kendali orang lain, Norman. Kau hidup tapi kau tidak berhak atas kehidupan yang kau miliki. Hal itu benar-benar tidak menyenangkan!"


Lagi-lagi Norman diam, Vanila juga diam. Suasana mendadak hening, mereka semua diam namun kemunculan ibu Abraham memecah kesunyian di antara mereka.

__ADS_1


"Vanila, Ana menangis," ucap ibu mertuanya.


"Aku akan ke sana, Mom."


"Segeralah," ibu Abraham berlalu pergi.


Vanila berdiri dari tempat duduknya, dia rasa sudah selesai. Dia tahu kakaknya pasti kecewa tapi memang itulah yang terjadi.


"Maaf, Kak. Aku tidak menghakimi dirimu, aku tahu kau melakukan hal itu karena menyayangi aku dan takut aku berakhir seperti Emely tapi aku tidak tahan selalu hidup dalam tekananmu," ucapnya. Dia menunggu Norman mengucapkan sepatah atau dua kata namun Norman diam saja.


"Aku harus melihat Ana sebentar," Vanila melangkah pergi karena kakaknya diam saja.


"Vanila!" Norman menghampiri adiknya dengan cepat. Vanila terkejut karena Norman menariknya dan memeluknya.


"Aku yang salah selama ini, aku minta maaf padamu. Tidak seharusnya aku mengekang kehidupanmu sampai seperti itu. Aku hanya ingin menjagamu dari pria jahat yang tidak bertanggung jawab!" ucapnya.


"Aku tahu, walau aku liar saat malam hari tapi aku tidak pernah melakukan dengan se*x bebas!!"


"Tidak melakukan? Yang kau lakukan dengan Abraham bagaimana?"


"Hm, itu pengecualian," ucap Vanila, senyum menghiasi wajah karena kakaknya mau memaafkan apa yang dia lakukan.


"Maafkan aku, Kak," ucapnya lagi.


"Tidak, aku yang minta maaf," ucap Norman. Pelukannya begitu erat, Vanila juga melakukannya. Abraham tersenyum dan berlalu pergi untuk menenangkan putrinya.


"Ayo lihat keadaan putrimu," ajak Norman.


"Apa kau akan kembali setelah ini?"


"Yeah... Aku harus memberi hukuman pada Renata."


"Aku harap kau segera menikah."


"Nanti, setelah aku bertemu dengan yang cocok tapi aku harap aku tidak bertemu yang gila seperti dirimu!" ucap Norman.


Vanila tertawa, mereka melangkah menuju kamar di mana Ana berada. Vanila kira kakaknya akan marah besar tapi nyatanya tidak. Dia benar-benar lega, seharusnya hubungan mereka memang seperti itu tapi gara-gara satu orang, yang lain kena imbasnya tapi sekerang, hubungan mereka suah membaik. Hubungan Norman dengan Abraham sudah kembali, kini hubungannya dengan sang adik pun sudah selayaknya kakak dan adik.

__ADS_1


__ADS_2