Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Serpihan Memori


__ADS_3

Bilt sangat heran saat vanila masuk ke dalam bar yang belum dibuka untuk umum. Bukankah masa cuti Vanila belum selesai? Tapi kenapa dia sudah datang ke bar? Sepertinya sudah terjadi sesuatu, dia punya firasat seperti itu apalagi ekspresi wajah Vanila menunjukkan demikian.


Vanila menghampiri Bilt yang sedang membersihkan gelas dan meletakkan beberapa botol minuman. Vanila terlihat tidak bersemangat sama sekali, Bilt semakin yakin jika sudah terjadi sesuatu dengan Vanila tapi dia tidak bisa menebaknya.


"Hei, gadis gila. Apa yang telah terjadi denganmu? Apa kebohonganmu sudah terbongkar?" tanya Bilt asal.


Vanila tidak menjawab, Bilt terkejut saat Vanila memeluknya secara tiba-tiba dan menangis. Rekan kerja yang lain melihat ke arah mereka dan bertanya pada Bilt apa yang terjadi dengan sebuah kode namun Bilt menggeleng karena dia juga tidak tahu.


Bilt membiarkan Vanila memeluknya dan menangis. Vanila tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dia selalu ceria namun hari ini, dia benar-benar berbeda. Walau dia sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi dia akan membiarkan Vanila menumpahkan semua kesedihan yang dia rasakan.


Setelah menangis cukup lama dan setelah merasa lebih baik, Vanila melangkah mundur dan menghapus air matanya yang tersisa. Hari ini dia begitu banyak menangis. Hidungnya jadi terasa sakit bahkan kepalanya juga.


"Sudah lebih baik?" tanya Bilt.


"Maaf, aku membuat bajumu basah."


"Sudahlah, sekarang duduk. Katakan padaku apa yang telah terjadi sehingga kau seperti ini. Aku akan mendengarkan keluh kesahmu sebelum bar dibuka," Bilt mendorong kursi ke dekat Vanila.


"Terima kasih, Bilt," ucap Vanila, dia juga berusaha untuk tersenyum.


"Jadi, apa kau dan dia bertengkar selama di kabin sehingga kau begitu cepat kembali?"


"Tidak, bukan begitu!" Vanila duduk di kursi. Wajahnya terlihat sendu, dia juga masih terlihat tidak bersemangat.


"Jika tidak, kenapa kau terlihat lesu seperti itu seperti seorang istri yang baru saja memergoki suaminya sedang berselingkuh. Katakan, jika tidak aku tidak akan memberikan bahuku secara gratis lagi!"


Vanila tersenyum tipis, Bilt sahabat yang paling pandai mengubah suasana hatinya dengan ucapan-ucapannya di saat dia sedang sedih.


"Aku sadar sekarang, aku sudah membuat sebuah kesalahan besar," ucap Vanila dengan pelan.

__ADS_1


"Ah... akhirnya kau sadar juga. Aku kira kau tidak akan pernah sadar dengan apa yang telah kau lakukan. Apa kau telah mendapat pencerahan setelah berada di hutan?"


"Sepertinya. Tidak seharusnya aku melakukan hal seperti itu," Vanila menghela napas. Walau dia menyesal telah menculik Abraham tapi dia tidak menyesali apa yang telah mereka lewati.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Bilt melirik ke arahnya. Dia akan membantu Vanila nanti jika diperlukan.


"Aku pikir sudah saatnya mengembalikan Abraham pada keluarganya. Apa tunangannya masih sering datang?" tanya Vanila.


"Beberapa hari yang lalu wanita itu masih datang, tapi setelah itu tidak."


"Ck, di mana aku harus mencarinya?" Vanila menghela napas. Dia sudah bertekad akan mengembalikan Abraham pada tunangannya maka akan dia lakukan.


"Kau tidak perlu khawatir, aku rasa besok wanita itu akan datang lagi. Aku akan membantumu, aku akan berpura-pura berkata jika aku mengetahui keberadaan Abraham dan mengatakan keberadaan pria itu padanya," ucap Bilt seraya menepuk bahu Vanila.


"Terima kasih, Bilt. Jika terjadi sesuatu denganku nanti, kau bisa mengambil gajiku. Kau harus datang ke rumahku dan mengambil barang-barangku. Semua aku wariskan untukmu tapi rumah itu tidak, karena aku sewa beserta perabotannya."


"Lalu aku dapat apa?" Bilt menjitak kepala Vanila sehingga Vanila berteriak pelan.


"Itu ide yang sangat bagus, Bilt. Sepertinya kita harus memberi ide pada manager agar mengadakan tarian para pria gagah menggunakan pakaian seksi setiap malam untuk menarik perhatian para g*y dan kau harus menjadi leadernya," goda Vanila.


"Sembarangan!" Bilt kembali menjitak kepala Vanila dan lagi-lagi Vanila berteriak sambil memegangi kepalanya.


"Jangan asal bicara, aku masih normal!" ucap Bilt kesal.


Vanila terkekeh, perasaannya jauh lebih baik setelah menggoda Bilt. Setelah ini dia tidak boleh menangis lagi, dia harus menghadapi semuanya konsekuensinya.


"Tapi ngomong-ngomong, kau tidak melakukan apa pun dengan pria itu, bukan?" tanya Bilt seraya menatapnya curiga.


"Tentu saja aku melakukan banyak hal dengannya. Kami piknik di bawah pohon, membuat api unggun dan membakar makanan. kami juga memancing sebelum kami kembali."

__ADS_1


"Bukan itu, Vanila. Kalian tidak melakukan, ehm.... maksudku?" ucap Bilt canggung.


"Tidak, aku tidak melakukan seperti yang kau kira. Dia sudah memiliki tunangan, apa kau kira aku gila? Aku tahu batasanku," dusta Vanila.


"Bagus, ternyata kau masih memiliki akal. Jadi kau datang ke sini hanya untuk curhat?"


"Tidak, aku datang kemari untuk mengembalikan kunci kabin. Terima kasih, Bilt. kami sudah membuat banyak kenangan jadi aku tidak menyesal mengembalikan Abraham pada tunangannya."


"Sebagai ucapan terima kasih, kau harus membantu aku bekerja walau tidak lama!"


"Aye yay Captain," ucap Vanila sambil menegakkan duduknya dan meletakkan telapak tangan di dahi.


"Ck, jika begitu ayo. Bar sudah akan dibuka!"


Vanila mengikat rambutnya dan bersiap. Walau tidak ada seragam tidak masalah. Dia akan membantu Bilt sebentar dan akan pulang nanti. Lagi pula dia harus melakukannya agar Abraham tidak curiga kenapa dia pulang lebih cepat dari biasanya.


Vanila sungguh tidak tahu jika Abraham berada di luar sana. Dia tidak bisa masuk karena bar masih ditutup untuk umum. Selama menunggu, Abraham mendapatkan serpihan ingatannya. Tempat itu tidak asing, sepertinya dia pernah datang ke tempat itu beberapa kali.


Untuk memastikan jika dia pernah datang ke tempat itu atau tidak, Abraham menunggu bar dibuka. Walau dia harus menunggu lama, dia tidak keberatan. Orang-Orang berlalu lalang melewatinya, tapi tidak ada satu pun yang mengejar bahkan tidak ada satu pun yang mengenalinya.


Aneh, apakah yang diucapkan oleh Vanila jika dia dikejar oleh penagih hutang hanyalah tipuan belaka? Seharusnya saat ini ada yang mengejar jika dia benar-benar memiliki hutang apalagi dia berada di tempat terbuka. Topi yang dia kenakan bahkan dilepaskan, tapi tidak ada yang peduli dengannya.


Jangan-Jangan Vanila memang menipunya selama ini. Apa Vanila meminta maaf untuk hal ini? Rasa ingin tahu memenuhi hati. Kakinya mulai melangkah menuju bar. Abraham masuk bersama dengan beberapa tamu yang lain.


Kini dia dapat mengingatnya dengan benar setelah berada di dalam bar. Dia memang pernah datang ke tempat itu beberapa kali. Kaki Abraham terus melangkah dan terhenti saat melihat Vanila sedang meracik minuman.


Gadis itu, dia ingat sekarang. Vanila adalah bartender yang menawarinya minuman sebelum dia tidak bisa mengingat apa pun. Serpihan memori yang ada di kepala mulai sedikit menyatu. Sekarang dia ingat dengan jelas jika pada malam itu ada yang memukul kepalanya.


Abraham melangkah mundur, dia akan memastikannya. Walau dia belum bisa mengingat keseluruhan apa yang dia alami tapi dia akan pergi mencari tahu.

__ADS_1


Abraham keluar dari bar. Dia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, siapa sebenarnya dirinya dan kenapa Vanila bisa menolongnya dan kenapa gadis itu menipunya. Satu tempat yang harus dia datangi dan dia yakin jika dia pergi ke tempat itu, dia akan mendapatkan petunjuk lainnya.


__ADS_2