Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Aku Tidak Akan Percaya


__ADS_3

Vanila sangat kesal karena Abraham tidak keluar dari kamarnya. Pria itu justru tertidur di sisi Anatasya sehingga mau tidak mau Vanila tidur di sofa namun saat malam, mau tidak mau dia harus tidur di atas ranjang untuk menyusui Anatasya.


Abraham pura-pura tidur, dia tahu Vanila tidak akan mampu menariknya keluar jadi dia diam saja saat Vanila memintanya untuk keluar atau bergeser apalagi dia harus menyusui putrinya dari arah yang berbeda agar dadanya tidak sakit sebelah. Tadinya dia berniat kembali ke sofa setelah selesai tapi dia justru tertidur.


Abraham tidak peduli sama sekali, dia justru sangat senang karena Vanila berbaring di hadapannya. Akibat kantuk yang luar biasa, Vanila sudah tidak peduli apa pun lagi. Anatasya juga sudah tertidur, begitu juga dirinya. Abraham menarik baju Vanila ke bawah, untuk menutupi tubuhnya. Bagaimanapun dia tidak mau Vanila sakit walau kemungkinan Vanila tidur dalam keadaan seperti itu setiap malam.


Dalam mimpi pun dia tidak pernah membayangkan akan tidur dengan Vanila lagi. Selimut ditarik untuk menutupi sebagian tubuh Vanila dan setelah itu Abraham memeluknya dari belakang. Senyuman menghiasi wajah, sudah begitu lama dia tidak memeluknya. Perasaan rindu akan masa lalu dan akan kebersamaan mereka dulu memenuhi hati. Dia sangat ingin mengulangi kebersamaan itu, tentunya akan dia ulangi tapi kali ini berbeda. Tidak saja dengan Vanila tapi bersama dengan putri kecil mereka.


Abraham kira dia bisa tidur seperti itu dengan Vanila tapi tiba-tiba saja Vanila terbangun dan menatapnya dengan tatapan tajam. Tadi dia diam saja karena Anatasya menangis tapi sekarang dia tidak akan membiarkan pria itu semena-mena.


"Keluar!" ucap Vanila sinis namun pelan.


"Ijinkan aku tidur bersama kalian berdua, Vanila," pinta Abraham.


"Kau yang keluar, atau aku dan Anatasya yang keluar!" ancam Vanila.


"Oke, aku yang keluar," Abraham beranjak, tangan Vanila hendak diraih namun Vanila sudah melompat turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu.


Tanpa berkata apa-apa, Vanila menunjuk ke arah luar yang berarti Abraham harus keluar. Napas berat dihembuskan, dia tahu Vanila pasti akan membuat jarak namun selebar apa pun jaraknya, setinggi apa pun tembok yang Vanila bangun, akan dia hancurkan dengan usahanya.


Pintu dibanting dengan keras saat Abraham sudah berada di luar. Vanila mengunci pintu, jangan sampai pria itu bisa masuk ke dalam kamarnya dengan mudah.

__ADS_1


Abraham diam, mau tidak mau dia kembali ke kamar yang sudah disediakan oleh Marion. Dia akan menebalkan mukanya karena dia tidak akan pergi walau Vanila selalu mengusirnya.


Vanila tidak bisa tidur, dia justru termenung dengan tatapan kosong. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Abraham? Padahal kehidupannya sudah tenang. Lebih baik mereka tidak bertemu lagi tapi untuk apa pria itu mencarinya?


Tatapannya kini berpaling ke arah putrinya. Apa kedatangan Abraham untuk mengambil Anatasya darinya? Tidak... sekalipun Abraham adalah ayah biologis Ana, dia tidak akan membiarkan Abraham membawa putrinya pergi.


Tidak saja Vanila yang sudah tidak bisa tidur, Abraham juga sama. Terus terang saja, dia sudah tidak sabar membawa Vanila dan putri mereka kembali Ke London. Kali ini Norman tidak bisa menghalanginya karena pria itu sudah berkata tidak akan menghalangi. Pikirannya berkelana ke mana-mana, entah kapan dia tertidur yang pasti ketika terbangun Abraham dikejutkan oleh benda keras yang terjatuh karena tanpa sengaja Marion menjatuhkan botol sabun milik Ana.


Abraham segera beranjak dan melihat keluar melalui jendela. Senyuman menghiasi wajah ketika melihat Vanila sedang berada di luar bermandikan cahaya matahari bersama putri mereka karena Vanila sedang menjemur Anatasya, itu adalah kegiatan yang selalu dia lakukan setiap pagi. Tidak mau melewatkan hal itu, Abraham membersihkan diri dan segera keluar.


Seperti biasa, dia kembali mendapat tatapan tidak menyenangkan dari Vanila ketika dia menghampiri Vanila.


"Aku akan pergi bersama dengan kalian!"


"Sudah aku katakan, aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku sudah mendapatkan kehidupanku di sini, aku tidak ingin pergi ke mana pun jadi pergilah. Aku tidak akan melarang kau bertemu dengan Anatasya, aku juga akan memberikan kalian waktu untuk bersama tapi satu hal saja yang aku inginkan, jangan pisahkan aku darinya!"


"Bukan itu yang aku mau, Vanila," Abraham duduk di sisinya. Tempat itu benar-benar tenang, pantas saja Vanila betah tinggal di sana.


"Aku tidak peduli apa yang kau mau, yang aku inginkan kau pergi dari sini!"


"Aku tidak akan pergi ke mana pun tanpa kalian. Ijinkan aku menebus kesalahan yang aku lakukan, ijinkan aku menunjukkan padamu jika aku serius untuk bersama denganmu. Jangan mencegah aku, Vanila. Lagi pula kau yang memulai semua ini terlebih dahulu."

__ADS_1


"Untuk apa kau melakukan hal itu, Abraham?" Vanila berpaling, melihat ke arahnya, "Dari pada kau bersusah payah di sini, bukankah lebih baik kau pergi dan kembali ke rumah nyamanmu? Kau lihat tempat tinggalku, rumah ini sempit dan tidak cocok untukmu!"


"Siapa yang berkata demikian? Kau sungguh tidak tahu apa pun setelah kau pergi dariku. Aku merindukan dirimu setiap hari, aku melupakan bagaimana aku menjalani hari sebelum aku bertemu denganmu karena apa pun yang aku lakukan terasa tidak menyenangkan sama sekali. Kebersamaan kita memang sesaat tapi bagiku apa yang kita lakukan lebih berkesan dari pada apa yang sudah-sudah aku lakukan!!"


"Jangan berkata manis seolah-olah aku sangat penting bagimu. Sekarang jawab aku, Abraham. Seandainya aku tidak mengandung anakmu, apakah kau akan berada di sini?"


"Tentu saja, sudah aku katakan kau sudah membawa sebagian diriku pergi. Kehidupan yang aku jalani terasa hampa, apa kau kira ada yang mengatakan kehamilanmu padaku?Tidak, Vanila. Tidak ada yang mengatakan hal itu padaku tapi sebelum aku tahu, aku sudah sangat merindukan dirimu!"


"Aku tidak akan percaya dengan kebohongan yang kau katakan," Vanila beranjak, sudah saatnya memandikan Anatasya karena setelah ini dia harus ke bar sebentar.


"Aku tidak berbohong, Vanila. Aku serius," Abraham juga beranjak.


"Cinta dan benci tidak jauh berbeda, Abraham. Mungkin kau pikir aku egois tapi aku tahu, kau begitu membenci aku. Kau hanya mengingat kenangan manis yang kita lewati bersama tanpa mengingat kenangan buruk yang sudah kita lewati juga. Apa harus aku ulangi setiap kata yang kau ucapkan saat terakhir kali kita bertemu? Aku mengingat setiap kata-kata yang kau ucapkan, aku ingat ekspresi penuh kebencian yang kau tunjukan padaku saat itu jadi apa kau kira aku akan percaya dengan apa yang kau ucapkan saat ini?" Vanila melangkah pergi namun langkahnya terhenti sejenak, Vanila berpaling menatap Abraham dengan tajam.


"Waktu itu kau berkata jika aku bukan siapa-siapa dan tidak berarti bagimu jadi sebaiknya tetaplah menganggap aku demikian karena aku memang tidak berarti bagimu!" Setelah berkata demikian, Vanila melangkah pergi.


Abraham tidak berkata apa-apa karena dia memang mengatakan hal itu. Dia bahkan masih ingat bagaimana dia ingin membunuh Vanila waktu itu. Abraham melihat kedua tangannya, tangan yang sudah mencekik Vanila. Jika waktu itu dia benar-benar membunuh Vanila, apa dia akan menyesal karena sudah membunuh bayinya?


Walau Vanila sudah menculiknya tapi dia tahu apa yang dia lakukan lebih keterlaluan. Sekarang hubungan mereka seperti serpihan kaca yang harus disatukan. Walau tidak bisa seperti sedia kala namun dia yakin, meskipun memiliki kenangan yang tidak menyenangkan tapi hubungan mereka akan menjadi indah jika dia terus berusaha.


Batu yang keras akan berlubang jika ditetesi oleh air terus menerus, dan hati Vanila yang beku akan luluh jika dia menunjukkan keseriusan dan juga cintanya. Dia tidak akan pernah pergi, tidak akan. Meski pun dia harus kembali adu tenaga dengan Norman dia takut jika Norman berani ikut campur dalam permasalahannya dengan Vanila.

__ADS_1


__ADS_2