Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Goodbye


__ADS_3

Suara teriakan Renata terdengar saat tali cambuk berduri menghantam tubuhnya. Rasa sakit tiada tara harus dia rasakan, air mata mengalir dengan deras setiap kali tapi cambuk berduri menghantam dan mengoyak kulitnya bahkan mencabik dagingnya. Untuk seumur hidup, dia tidak pernah berpikir akan berada di dalam posisi itu.


"Sakit, Norman. Sakit!" teriak Renata saat tali cambuk kembali menghantam tubuhnya.


"Sakit? Apa kau bisa merasakan sakit, Renata?" tanya Norman mencibir.


"Tentu saja aku bisa, apa maksud pertanyaanmu itu?" teriak Renata marah.


"Aku kira tidak, biasanya orang jahat dan licik tidak akan merasakan sakit!" Norman kembali mencibir.


"Jangan bercanda!" teriak Renata marah. Matanya menatap ke arah Norman dengan tajam, dia sangat mengharapkan belas kasihan dari pria itu agar Norman menyudahi siksaan yang dia dapatkan.


"Aku benar-benar bersalah, Norman. Aku akui itu dan aku tahu kesalahanku karena sudah membunuh Emely. Aku pasti mempertanggungjawabkan perbuatanku jadi jangan siksa aku seperti ini," pintanya memohon.


"Apa hanya itu kesalahanmu, Renata? Apa kau lupa dengan apa yang barus saja kau lakukan tidak lama ini?"


Renata mengumpat dan memaki dalam hati. Dia melupakan keinginannya yang ingin membunuh Vanila Elouis. Celaka, sepertinya Norman tidak akan bermurah hati karena tindakan bodohnya.


"A-Aku tidak berniat membunuh adikmu, Norman. Aku hanya ingin menangkapnya saja," kilahnya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah menangkapnya? Membunuhnya untuk menghancurkan aku dan Abraham seperti kau membunuh Emely?"


"Tidak, aku tidak akan melakukannya!" teriak Renata tapi sesungguhnya memang itu yang hendak dia lakukan.


"Tidak perlu banyak berkelit, apa kau kira aku tidak tahu? Tidak perlu terlalu banyak membual untuk menutupi kelakuan jahatmu yang tidak bisa kau tutupi itu!"


"Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal!" ucap Renata sambil menangis tersedu.

__ADS_1


"Penyesalan yang tidak berguna!" Norman mengangkat satu tangannya, untuk memberi perintah pada sang anak buah.


"Jangan, Norman. Jangan!" teriaknya.


Norman tidak peduli, tali cambuk kembali menghantam tubuh Renata. Teriakannya kembali nyaring terdengar, pecutan demi pecutan dia dapatkan. Renata hanya bisa berteriak akibat rasa sakit. Norman menonton apa yang dia dapatkan. Anak buah yang mendapat perintah tidak berhenti mencambuknya, Norman juga tidak memberi perintah untuk berhenti. Renata pantas mendapatkannya, sangatlah pantas.


Kematian Emely, permusuhannya dengan Abraham yang disebabkan oleh kasalahpahaman setelah kematian Emely dan adiknya yang menjadi incaran Renata, harus Renata bayar sampai seumur hidupnya. Siksaan itu hanya permulaan saja karena siksaan lain menanti yaitu penjara seumur hidup sudah menantinya. Seperti yang dia ucapkan, Renata tidak akan melihat matahari lagi.


"Ampuni aku, Norman. Jangan pukul aku lagi, jangan memukul aku lagi!" pinta Renata sambil menangis.


"Kau begitu cepat menyerah, Renata. Bukankah kau begitu memiliki banyak akal licik, tapi kenapa kau menyerah dengan cepat?"


"Aku tahu aku bersalah, maafkan aku yang telah berbuat salah pada kalian. Aku minta maaf padamu, Emely!" teriaknya lantang.


"Tidak perlu berteriak. Emely tidak bisa mendengar apa yang kau teriakan lagi!"


"Tolong jangan pukul aku lagi, aku mohon."


"Bawa dia ke penjara!" perintah Norman seraya beranjak.


Renata tampak lega tapi kini dia tidak memberontak dan melawan lagi. Dia tampak pasrah saat anak buah Norman membawanya pergi dan membawanya menuju penjara di mana dia akan menghabiskan  waktunya di sana untuk seumur hidup.


Renata melihat ke arah Norman yang belum pergi dari ruangan itu, semua bermula karena obsesinya pada pria itu. Semua berawal karena perasaan cinta yang dia miliki tapi dia justru salah mengambil langkah dengan membunuh Emely. Seandainya dia tidak melakukan hal itu, maka dia tidak akan mengalami hal seperti ini.


Setelah Renata dibawa pergi, Norman pun pergi dari tempat itu. Dia baru saja tiba, dia langsung menuju penjara untuk memberikan Renata pelajaran. Semoga saja setelah ini tidak ada Renata yang lainnya.


Renata menangis melihat penjara sempit dan kecil yang akan dia tempati. Tidak ada lubang untuk cahaya, hanya ada satu ruangan seperti itu saja yang akan ditutup rapat. Sekarang dia akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara itu. Rasa sesal dia rasakan, seharusnya dia tidak membunuh Emely.

__ADS_1


Tangisannya terdengar, itu tangisan penyesalan atas apa yang dia lakukan tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa dia ubah lagi. Sekarang dia harus  mendekam di dalam penjara itu untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan.


Norman kembali ke dalam kamarnya terlebih dahulu sebelum mencari ayah dan ibunya. Masa pelantikannya menjadi raja sebentar lagi, dia rasa adiknya akan kembali bersama suami dan putrinya. Setelah mandi. Norman melangkah menuju meja di mana foto Emely selalu berada di sana dan tidak pernah dia pindahkan tapi sepertinya, hari ini foto itu sudah harus berada di dalam laci.


Foto Emely diambil, Norman melihat foto itu sebentar. Dia lupa mengunjungi makam Emely, tapi tidak jadi masalah karena dia bisa menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan sebelum foto itu dia simpan ke dalam laci untuk selamanya.


"Maafkan aku, Emely. Maaf aku baru tahu penyebab kematianmu setelah belasan tahun berlalu," ucapnya. Tatapan mata masih tidak lepas dari foto Emely, napas berat pun dihembuskan.


"Aku sungguh minta maaf padamu, aku mengira kau bunuh diri tanpa tahu ternyata kau dibunuh tapi sekarang, aku sudah menangkapnya. Renata akan mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan padamu. Aku minta maaf karena terlalu lama mengetahui hal ini," Norman diam sejenak tapi dia kembali berkata, "Belasan tahun telah berlalu, perasaan cinta itu masih ada tapi sekarang, aku harus melupakannya dan menjadikan dirimu sebagai kenangan di dalam hidupku. Maaf, Emely. Aku harap kau tidak kecewa tapi sejak dulu yang kau sukai memang Abraham. Kita memang tidak berjodoh," ucapnya.


Laci meja dibuka, selama belasan tahu ini kali pertama foto itu akan ditaruh di sana, "Goodbye, Emely," ucapnya dan setelah itu foto Emely dimasukkan ke dalam laci.


Norman keluar dari kamar, dia pergi mencari ayah dan ibunya yang sedang berada di ruang makan karena saat itu memang jam makan siang.


"Norman, kapan kau kembali?" tanya ibunya.


"Baru saja, Mom. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," Norman menghampiri mereka dan duduk dengan mereka.


"Apa yang hendak kau bicarakan, Norman?" tanya ayahnya.


"Setelah pelantikanku, aku ingin pergi jalan-jalan untuk mencari calon istri!"


Brussh!! Makanan yang ada di mulut ayahnya tersembur keluar. Ayah dan ibunya sangat terkejut dengan ucapannya namun Norman cuek saja dan mengambil makanan.


"Apa kau bilang?" tanya mereka berdua.


"Aku mau jalan-jalan, mencari suasana baru. Mungkin aku akan bertemu dengan seseorang yang bisa menggantikan Emely."

__ADS_1


"Oh, Norman. Entah apa yang terjadi padamu tapi Mommy sangat senang mendengarnya. Kau boleh pergi, nikmati waktumu. Semoga kau menemukan jodoh yang cocok denganmu," ucap ibunya. Tentunya ini kabar baik bagi mereka karena selama ini Norman tidak mau menjalin hubungan dengan siapa pun.


"Thanks, Mom," memang sudah waktunya, dia ingin pergi jalan-jalan. Mungkin saja dia bertemu dengan jodohnya. Dia harap yang sedikit mirip dengan Emely dan yang jauh berbeda dengan adiknya.


__ADS_2