Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Dia Membenci Dirimu!


__ADS_3

Seperti yang dia katakan, Abraham kembali lagi ke Istana untuk bertemu dengan Vanila. Dia sangat berharap yang kali ini tidak gagal. Kedatangannya kembali disambut dengan baik, Norman tahu Abraham pasti akan kembali untuk mencari kedatangan adiknya sebab itu dia membiarkan Abraham masuk.


Abraham diantar ke sebuah ruangan, Norman sedang menikmati makanannya ketika Abraham tiba. Mereka saling pandang tapi tidak ada yang saling menyapa. Rasanya jadi canggung, seperti yang sudah diduga, hubungan mereka tidak akan kembali seperti dulu lagi.


Mereka tidak akan bisa langsung say hallo lalu saling memeluk seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Bagaimanapun persahabatan mereka sudah tidak bisa disatukan lagi sekalipun permasalahan di antara mereka sudah selesai.


"Untuk apa kau datang?" tanya Norman tanpa mempersilahkan Abraham untuk duduk.


"Seharusnya kau tahu apa tujuanku datang kemari, Norman," ucap Abraham.


"Tujuan? Jika kedatanganmu untuk bertemu dengan Vanila maka lupakanlah!" Norman melihat ke arahnya sejenak namun dia kembali makan.


"Apa maksud perkataanmu, Norman? Jangan menghalangi aku untuk bertemu dengan Vanila!" ucap Abraham dengan nada tidak senang.


"Aku bilang lupakan, apa kau tidak mendengarnya? Apa aku harus mengatakannya dengan pengeras suara sampai orang yang ada di dalam istana ini tahu?"


"Tidak! Aku tidak akan mengikuti apa yang kau katakan. Aku akan menunggu sampai kau mempertemukan aku dengannya!" dia tidak akan pergi sampai Vanila keluar dan bertemu dengannya.


"Hng, apa kau kira aku akan memanggilnya keluar dan mempertemukan kau dengan adikku setelah kau membawa Jasson? Jangan pernah bermimpi, Abraham!"


"Aku tidak pernah berpikir demikian, Norman. Aku memang membawa Jasson datang agar kau tahu dan percaya apa yang telah terjadi tapi kedatanganku juga untuk bertemu dengan Vanila jadi jangan halangi aku untuk bertemu dengannya!"


"Tidak, pergilah!" usir Norman.


"Norman!" Abraham sedikit berteriak, "Jangan pernah menguji kesabaranku!" ucapnya lagi dengan nada tinggi.


"Apa yang mau kau lakukan? Kau mau berteriak atau kau mau menghancurkan istana ini? Lakukan apa yang kau mau tapi kau tidak akan pernah bertemu dengan Vanila!" ucap Norman lagi. Dia ingin lihat, apa yang akan dilakukan oleh Abraham sebab itu Norman santai saja sambil menikmati makanannya.


Abraham tidak bersuara, mencerna perkataan Norman. Apakah Vanila tidak berada di istana? Dia masih ingat jika Vanila selalu berkata jika dia menginginkan kebebasan. Apa Vanila sudah mendapatkan apa yang dia inginkan?

__ADS_1


"Apa Vanila tidak ada di sini, Norman?" tanyanya. Dia curiga memang sudah tidak ada.


"Dia mau ada di mana, apa urusanmu?"


"Jadi benar dia sudah tidak ada di sini?"


Norman diam, dia tidak akan mengatakannya pada Abraham. Diamnya pria itu justru membuat Abraham semakin curiga jika Vanila benar-benar sudah tidak ada di sana lagi.


"Norman, aku datang dengan maksud baik. Aku rasa kau sudah tahu apa yang terjadi padaku dan Vanila jadi pertemukan aku dengannya. Jika dia sudah tidak berada di sini lagi, katakan padaku di mana dia berada!" ucap Abraham.


"Lalu kau mau apa? Setelah kau bertemu dengannya, apa yang mau kau lakukan? Adikku sudah hidup denganĀ  tenang jadi jangan mengganggu kehidupannya!" Norman menatap Abraham tajam. Walau kesalahpahaman mereka sudah selesai tapi permasalahan Vanila dan Abraham tidak ada hubungannya dengan permasalahan mereka.


Lagi pula Vanila tidak ingin diganggu, dia juga meminta pada mereka untuk tidak mengatakan keberadaannya jadi dia tidak akan mengatakan pada siapa pun di mana keberadaan adiknya sekalipun ayah dari bayi yang dikandung oleh Vanila.


Kandungan Vanila sudah menunggu waktu, Vanila mengatakan pada mereka jika dokter yang memeriksa keadaannya mengatakan jika dia tidak boleh setres karena hal itu bisa menyebabkan bayinya lahir prematur oleh sebab itu, mereka tidak pernah membicarakan hal yang bisa membuat Vanila stres.


"Aku ingin tahu keadaannya, aku ingin tahu bagaimana dengan bayinya."


"Sudah aku katakan, Vanila tidak hamil tapi kenapa kau selalu berkata jika seolah-olah dia sedang hamil? Apa kau memiliki bukti jika dia sedang hamil anakmu saat ini?"


"Aku memang tidak memiliki bukti tapi aku yakin jika dia memang sedang mengandung anakku!"


"Dari pada bersikeras ingin bertemu dengan Vanila, sebaiknya katakan padaku di mana Renata. Jangan pernah menyembunyikan keberadaannya karena aku akan membunuhnya bersama denganmu!"


"Renata sudah pergi, seharusnya anak buahmu yang mengikuti aku mengatakan hal ini padamu!"


"Pergi? Hng, sepertinya dia mulai tidak puas denganmu!" cibir Norman.


"Tutup mulutmu, Norman. Aku datang tidak untuk berbasa basi tentang hubunganku dengan Renata. Aku ingin bertemu dengan Vanila jadi katakan di mana dia berada jika tidak aku akan mencari keberadaannya!"

__ADS_1


"Sebaiknya kau mencari keberadaan Renata. Itu lebih penting dari pada kau mengganggu kehidupan adikku. Dia memang sudah melakukan kesalahan padamu, aku meminta maaf padamu sebagai kakaknya tapi jangan mengganggu kehidupan adikku!"


"Sekalipun kau berkata demikian, aku akan mencarinya dan kau tidak akan bisa menghalangi apa yang hendak aku lakukan!" ucap Abraham.


"Berhentilah, apa kau tidak mengerti?" Norman menatapnya tajam.


"Tidak!" jawab Abraham.


Norman menarik napas, seperti dulu, Abraham bukan orang yang muda dicegah jika dia sudah bertekad namun dia tidak akan membiarkan Abraham menemukan keberadaan adiknya.


"Terserah kau mau melakukan apa tapi kau harus tahu satu hal, Vanila tidak ingin bertemu denganmu lagi!"


"Tidak mungkin!" ucap Abraham tidak percaya.


"Apa maksudmu tidak mungkin? Apa kau tidak tahu jika dia begitu membenci dirimu? Satu saja yang dia inginkan sebelum dia pergi, dia tidak ingin bertemu denganmu lagi untuk selamanya oleh sebab itu jangan pernah mengganggu kehidupannya!"


Abraham terkejut, apa yang diucapkan oleh Norman benar? Apa Vanila benar-benar membenci dirinya? Tapi mengingat kelakuan tidak menyenangkan terakhir kali yang dia lakukan pada Vanila dan juga permintaannya dia rasa hal itu tidak mungkin tidak terjadi. Perlakukan kasarnya pada kedua sahabat Vanila pasti membuat Vanila semakin membencinya.


"Apa dia benar-benar membenci aku?" tanya Abraham dengan nada tidak percaya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian tapi dia memang membenci dirimu!"


Abraham tidak bertanya lagi, Norman bisa melihat jika pria itu tidak mempercayai apa yang dia ucapkan tapi Vanila memang tidak ingin bertemu dengannya lagi dan dia sudah berjanji jadi sebaiknya Abraham tidak mencari adiknya dan mengacaukan kehidupan tenang yang sedang dia jalani.


"Kembalilah ke London, jika aku sudah menemukan keberadaan Renata maka aku akan meminta seseorang untuk mengatakannya padamu," setelah berkata demikian, Norman melangkah melewatinya.


Abraham diam, menatap kepergiannya. Kesalahan yang dia lakukan justru membuat gadis yang ingin dia temui membenci dirinya. Seseorang mengantarnya keluar dari istana, Norman melihat kepergiannya dalam diam. Itu yang diinginkan oleh Vanila, dia sudah beranji untuk tidak mencampuri kehidupan adiknya lagi.


Abraham memandangi istana itu setelah berada di luar, tidak ada pilihan lain selain kembali ke London karena dia tahu Vanila tidak berada di istana. Tapi apakah dia harus menyerah begitu saja?

__ADS_1


Tidak. Sekalipun Vanila membencinya, sekalipun Vanila tidak ingin bertemu dengannya, dia tidak akan menyerah dan mencari keberadaannya. Tidak akan ada yang bisa menghentikan dirinya dan dia pasti akan menemukan keberadaan Vanila sekalipun Norman menyembunyikannya di dalam perut bumi.


Abraham pergi dari tempat itu, dia akan kembali ke hotel untuk mengambil barang-barangnya lalu kembali ke London tapi dia tidak akan tinggal diam, dia akan memerintahkan seseorang untuk mencari keberadaan Vanila dan tidak lupa, dia juga akan mencari keberadaan Renata kareka dia tidak akan mengampuni Renata.


__ADS_2