Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kembali Ke Istana


__ADS_3

Pesawat yang membawanya kembali ke Swedia sudah mendarat, Vanila menghela napasnya. Akhirnya dia harus kembali ke tempat itu lagi. Walau pelariannya singkat tapi dia sangat menikmati kehidupan bebasnya. Kenangan-Kenangan yang telah dia ukir selama pelariannya tidak akan dia lupakan.


Persahabatannya dengan Bilt juga tidak akan dia lupakan. Semoga saja dia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Bilt lagi. Dia tetap berharap bisa mendapatkan kebebasan permanen sehingga dia bisa pergi dari istana dan hidup sebagai rakyat biasa.


Vanila masih enggan beranjak padahal pesawat sudah berhenti sejak lima menit yang lalu. Norman menghampiri adiknya dan berdiri di sisinya.


"Apa kau tidak mau turun?" tanyanya.


"Tidak, bawa aku kembali ke Australia!" pinta Vanila.


"Jangan mengada-ada. Ayo cepat turun!" ucap Norman seraya mengulurkan tangan.


Vanila melirik ke arahnya dan menatap sang kakak dengan tatapan sinis. Norman sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu dari adiknya. Vanila beranjak dan melangkah melewati sang kakak tanpa menyambut uluran tangan kakaknya.


"Masih juga marah sampai sekarang?" tanya Norman seraya mengikuti langkahnya.


"Aku akan tetap membencimu selama kau mengekang kehidupanku dan memaksa aku menikah dengan pria yang tidak aku kenal dan tidak aku sukai!" jawab Vanila.


"Aku melakukan hal itu untuk kebaikanmu, Vanila!"


"Kebaikan mana yang kau maksud? Kau memaksa aku menikah padahal kau sudah tahu aku tidak suka. Jadi kebaikan mana yang kau maksudkan?"


"Aku ingin kau menikah dengannya karena dia pria baik\, dia bukan ba*ngan seperti seseorang yang aku kenal. Pria itu terlihat baik tapi sesungguhnya dia hanyalah baj*ngan yang mempermainkan perasaan!" ucap Norman sambil menyinggung seseorang.


"Bagimu dia pria baik tapi tidak bagiku. Jika kau menyukainya kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya? Pernikahan sesama jenis bisa kau lakukan di Belanda!"


"Vanila!" Norman menghampiri adiknya dan menarik tangannya dengan kasar, "Jaga ucapanmu! Lihatlah kelakuanmu, kau jadi seperti ini karena pergaulanmu di luar sana!" ucapnya lagi.


"Lepas!" Vanila menepis lengannya dan kembali melangkah.

__ADS_1


"Kali ini aku pastikan kau menikah dengannya apalagi dia juga putra mahkota!" Norman kembali mengejar adiknya.


"Terserah!" ucap Vanila. Percuma berdebat dengan kakaknya saat ini, lebih baik dia diam sampai dia memiliki kesempatan untuk berbicara secara pribadi dengan pria yang harus dia nikahi. Dia yakin tidak akan ada putra mahkota yang mau menikahi wanita yang sudah hamil apalagi keturuannya nanti akan mewarisi tahta kerajaan.


Norman melangkah cepat dan meraih tangan adiknya, sebuah topi dikenakan di kepala Vanila agar tidak ada yang melihatnya. Puluhan anak buah sudah menunggu mereka di bawah, mereka tiba saat tengah malam sehingga tidak ada yang tahu. Lagi pula kepergian Noman dirahasiakan sehingga tidak ada yang tahu jika kepergian Norman untuk menjemput sang putri yang kabur.


Selama ini tidak ada pula yang tahu jika Vanila pergi karena keberadaan Vanila ditutupi dengan rapat sehingga banyak yang mengambil asumsi jika sang putri sedang sakit keras sehingga sang putri tidak terlihat.


Mobil sudah disiapkan, mereka akan segera kembali ke istana. Kedua orangtua mereka juga sudah menunggu dan yang paling tidak sabar adalah ibu mereka, sang ratu Alaina Elouis.


Demi menungu putra dan putrinya kembali, Alaina tidak tidur sama sekali. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan putri yang sudah lama pergi. Aliana menunggu dengan perasaan gelisah, dia sudah mendapat kabar dari putranya jika mereka akan tiba saat tengah malam.


Vanila tidak banyak bicara saat di perjalanan. Lagi pula tidak ada yang bisa dia katakan.  Dia juga malas berbicara dengan kakaknya yang sok benar.


"Besok bangun lebih pagi, selain belajar berkuda dan memanah kau juga harus kembali belajar tata krama!" ucap Normal.


"Kenapa aku harus belajar tata krama lagi?" protes Vanila.


"Tanpa itu semua aku bisa hidup di luar!" ucap Vanila sinis.


"Tapi kau membutuhkan semua itu agar kau pantas bersanding dengan putra mahkota!"


"Aku lebih suka menjadi rakyat biasa dari pada menjadi seorang putri!"


"Jangan mulai berdebat denganku, Vanila. Aku tahu tidak akan ada habisnya. Kau dilahirkan oleh seorang ratu, itu adalah takdirmu jadi jangan melawan garis takdir yang sudah ada. Sekeras apa pun kau berusaha menjadi rakyat biasa kau tidak akan bisa karena darah yang mengalir di tubuhmu tidak bisa kau ganti!"


"Jika begitu berikan aku kebebasan dalam menjalani hidupku. Biarkan aku menentukan siapa pria yang hendak aku nikahi. Ini jaman modern, bukan jaman di mana seorang putri harus menikah dengan bangsawan atau keturunan raja agar sepadan. Aku hanya menginginkan itu saja, tapi kau mengekang aku setiap hari sehingga aku tidak bisa menikmati kehidupanku sendiri. Aku bukan boneka yang bisa kau mainkan sesuka hatimu, Norman"


"Cukup, Vanila. Sudah aku katakan, aku melakukan hal itu untuk kebaikanmu. Di luar sana kejam, tidak seindah yang kau bayangkan jadi sebaiknya jangan terlalu bermimpi akan kebebasan. Burung yang terbang bebas pun akan mati saat dia bertemu dengan elang jadi jangan kau kira kehidupan bebas di luar sana tidak memiliki bahaya apa pun!"

__ADS_1


Vanila diam  tidak mau berdebat lagi. Norman meraih tangan adiknya dan mengusapnya perlahan.


"Percayalah padaku, aku sudah banyak bertemu dengan orang. Tidak ada yang benar-benar baik di dunia ini, bahkan sahabat baik yang sangat kau percaya pun bisa menusukmu dari belakang," ucapnya dan lagi-lagi dia menyinggung seseorang.


"Bisakah aku tidak belajar besok? Aku lelah dan ingin istirahat," pinta Vanila. Dia harus menghindari latihan berkuda karena bisa membahayakan janinnya.


"Baiklah, besok kau boleh beristirahat," ucap kakaknya menyetujui.


Vanila bernapas lega, setidaknya dia memiliki satu hari yang bisa dia gunakan untuk melakukan apa yang dia inginkan. Walau hanya satu hari tapi itu sangat berarti baginya.


Mobil yang membawa mereka sudah tiba di istana. Sang ibu yang menunggu sedari tadi sangat senang melihat mereka sudah tiba. Ibunya bahkan sudah tidak sabar dan berdiri di depan pintu namun sang ayah terlihat murka apalagi saat putrinya turun dari mobil.


"Vanila, akhirnya kau pulang," Ibunya berlari menghampiri dan memeluknya untuk melepaskan kerinduan.


"Maaf sudah membuat Mommy khawatir," ucap Vanila.


"Apa kua sudah puas bermain, Vanila?" tanya ayahnya.


"Tidak!" jawab Vanila.


"Beraninya kau?!" tangan sang ayah sudah terangkat, siap memukulnya tapi istrinya segera menahan.


"Jangan coba-coba! Bukankah kita harus mencari tahu kenapa Vanila pergi? Jangan pernah memukul putrimu karena aku akan marah!" ucap ibunya.


"Besok, kau harus menjelaskan semuanya pada kami!" ucap sang ayah seraya melangkah pergi.


"Ayo ke kamarmu, Sayang. Kau harus istirahat dan jangan pikirkan mereka berdua!" ucap ibunya.


Vanila mengangguk dan mengikuti ibunya menuju kamar. Sudah lama ditinggalkan, kamarnya tetap seperti dulu. Sebelum meninggalkan dirinya, ibunya kembali memeluknya. Dia sangat senang Vanila kembali tapi tidak dengan Vanila karena kehidupannya yang bagaikan berada di sangkar emas harus kembali dia jalani dan besok, dia harus menghadapi kemarahan ayahnya.

__ADS_1


Vanila menjatuhkan diri ke atas ranjang, menangis. Bisakah dia mendapatkan kebebasan yang dia inginkan? Tangannya berada di perut, mengusapnya perlahan. Hanya itu saja satu-satu senjata yang dia miliki agar dia bisa kembali terbebas dari sangkar emas yang mengurungnya.


__ADS_2