
Norman sudah tiba, Abraham pun sudah menunggunya. Mereka berdua bertemu di bandara karena mereka berdua akan pergi menemui Sonny hari itu juga tanpa membuang waktu.
Norman melihat tempat itu, ini kali pertama dia kembali setelah belasan tahun berlalu. Tempat itu tidaklah berubah, sama seperti dulu.
Abraham bersandar di mobil menunggunya. Rasanya kembali seperti dulu lagi, sebelum mereka berselisih paham dan bermusuhan.
Norman melangkah mendekatinya, dengan sebuah tas di tangan. Abraham pun berdiri tegak, tiba-tiba dia jadi canggung seperti lupa bagaimana caranya menyapa.
"Apa Vanila tahu akan hal inii?" tanya Norman.
"Tentu saja dia tahu. Aku sudah mengatakan apa yang terjadi, kenapa? Apakah dia tidak boleh tahu?" tanya Abraham.
"Bukan seperti itu. Bawa aku menemui kakak Emely. Aku tidak akan kembali sebelum aku menangkap Renata!"
Gaston membukakan pitu mobil untuk Norman, sang supir membukakan pintu untuk Abraham. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil, Gaston pun membawa mobilnya pergi. Di sepanjang jalan mereka berbincang, mereka sudah seperti dulu lagi.
"Apa kakak Emely mengatakan sesuatu mengenai Renata?" tanya Norman.
"Aku belum menginterogasinya, aku pikir lebih baik kita menginterogasinya bersama sehingga tidak membuang waktu."
"Baiklah, entah apa yang dikatakan oleh Renata tapi dia adalah pria ketiga yang telah dibohongi oleh Renata," ucap Norman.
"Yeah... Setidaknya masih ada pria bodoh lain selain kita berdua!" ucap Abraham pula.
Norman terkekeh, mereka memang bodoh sudah termakan tipu daya Renata sampai-sampai bermusuhan sampai belasan tahun.
"Tapi di antara kalian berdua, akulah yang paling bodoh!" ucap Abraham karena selama bertahun-tahun dia menjalin hubungan degan Renata bahkan hampir saja menjadikan Renata sebagai istrinya.
"Sudahlah, kita masih muda dulu, kurang dewasa dan berpengetahuan luas sehingga kita begitu mudah tertipu. Kita juga memiliki ego yang tinggi sehingga tidak ada satu pun dari kita yang ingin meluruskan permasalahan yang terjadi sehingga kita berdua terjebak dalam kesalahpahaman!"
"Baiklah, anggap itu adalah kebodohan yang aku lakukan di dalam hidupku."
"Yeah, itu adalah kebodohan yang kita lakukan!" ucap Norman menyetujui.
Mereka berdua terkekeh, sudah lama tidak berbincang seperti itu. Sekarang mereka menyadari jika mereka terlalu egois sehingga mereka terjebak dalam dendam yang seharusnya tidak ada.
Sebuah bangunan sudah terlihat, mobil pun melambat lalu berhenti. Norman keluar terlebih dahulu karena dia benar-benar tidak sabar. Suara teriakan seorang pria terdengar saat mereka sudah berada di depan pintu. Abraham dan Norman pun masuk ke dalam dan ketika melihat mereka, Sonny berteriak marah.
__ADS_1
"Keluarkan aku dari sini!" teriaknya marah.
"Kau akan keluar jika kau bekerja sama dengan kami!" ucap Abraham.
"Apa yang kalian inginkan? Apa kalian tidak puas membunuh adikku lalu sekarang kalian ingin membunuhku?" teriak Sonny.
"Jadi kau kakak Emely?" Norman melihatnya dari atas sampai ke bawah.
"Kenapa? Bunuh jika kau berani!" teriak Sonny.
"Kami di sini ingin berbicara baik-baik denganmu, Sonny," ucap Abraham sambil meliihat berkas yang Gaston berikan padanya dan itu adalah informasi mengenai Sonny.
"Dari mana kau tahu namaku?"
"Tidak sulit, semua ada di sini termasuk ke jahatan yang kau lakukan. Jika Emely tahu kakaknya adalah seorang penjaat jalanan kira-kira seperti apa reaksinya?"
"Dia tidak akan tahu!" ucap Sonny.
"Ya, dia tidak akan pernah tahu karena Emely sudah meninggal belasan tahun yang lalu!" ucap Norman.
"Jangan bercanda, Emely baru saja meninggal akibat perbuatan kalian. Aku sudah melihat makamnya yang masih baru jadi jangan menipu aku!"
"Sayangnya kau tertipu!" ucap Norman.
"Benar, aku ditipu oleh kalian!" Sonny masih marah dan berteriak.
"Katakan pada kami, siapa yang memberitahumu akan hal ini?" tanya Norman.
"Dia sahabat baik Emely, dia datang mencariku untuk mencari keadilan untuk adikku!"
Norman dan Abraham kembali saling pandang, lalu tawa mereka terdengar. Sejauh mata Renata telah menipu pria itu? Sepertinya mereka tidak kalah bodohnya.
"Hentikan tawa kalian!" ucap Sonny kesal.
"Jika dia mau bekerja sama dengan kita, maka kita bertiga bisa minum bersama untuk merayakan kebodohan kita!" ucap Abraham.
"Ide bagus!" ucap Norman setuju. Mereka berdua kembali tertawa tentunya Sonny semakin kesal dibuatnya.
__ADS_1
"Hentikan tawa kalian!" ucap Sonny kesal.
"Baiklah, waktunya serius. Sekarang katakan siapa yang telah mengatakan hal itu padamu??" tanya Norman, ekspresi wajahnya terlihat serius.
"Namanya Bryana, dia berkata dia sahabat baik Emely," entah kenapa dia merasa kedua pria itu terlihat serius dan menakutkan.
"Bryana? Bagaimana rupanya??" tanya Abraham.
"Seperti wanita biasa, apa kalian menggira dia banci?"
"Di antara wanita ini, tunjukkan yang mana rupanya," Norman sudah mengeluarkan ponselnya, beberapa foto kemungkinan wajah barru Renata diperlihatkan.
Sonny melihat wajah-wajah itu dengan serius namun dia belum menemukan rupa wanita yang dia kenal sebagai Bryana. Foto terus digeser dan ketika foto yang kedua puluh tujuh, Sonny mengenali rupanya.
"Itu dia, wanita itu Bryana!" ucapnya.
Norman melihat rupa wanita yang diitunjuk oleh Sonny begitu juga dengan Abraham. Ternyata seperti itu rupa palsu Renata.
"Kau tidak menipu kami, bukan?" tanya Abrahamm.
"Tentu saja tidak, dia datang padaku dan mengatakan padaku jika kalian berdua yang telah membunuh Emely!" ucap Sonny.
"Baiklah, sekarang kau harus tahu jika bukan kami yang membunuh Emely. Wanita yang bernama Bryana ini adalah Renata. Dia memang sahabat baik Emely namun dia juga yang telah membunuhu Emely!" jelas Norman.
"Tidak mungkin?" ucap Sonny tidak percaya.
"Untuk apa kami menipumu? Kami memiliki saksi. Kami juga ditipu selama belasan tahun olehnya. Kami mengira Emely bunuh diri tapi nyatanya dia dibunuh oleh Renata," kali ini Abraham yang menjelaskan.
"Benar, persahabatan kami bahkan hancur gara-gara hal itu. Kami tidak menduga dibalik kematian Emely tersimpan rahasia besar dan kau juga korban yang ditipu olehnya. Kami sedang mengejarnya saat ini, kami ingin menangkapnya tapi dia justru memanfaatkan dirimu dan menipumu agar kau membunuh kami sehingga dia bisa hidup bebas tanpa kami kejar!" ucap Norman pula.
"Sial, jadi aku tertipu?" umpat Sonny kesal.
"Jika kau tidak percaya, kami memiliki saksi kunci yang mengetahui perbuatan kejinya yang telah membunuh Emely tapi sebelum itu, bekerja samalah dengan kami dan katakan pada kami apa sebenarnya yang diinginkan oleh Renata??"
"Dia ingin aku membunuh kalian tapi target utama yang sangat ingin dia bunuh adalah Vanila Elouis!" ucap Sonny. Dia bisa melihat jika kedua pemuda itu tidak sedang menipunya. Dia bena-benar bodoh karena tertipu dengan mudah tapi selama ini dia memang tidak pernah mengetahui kehidupan adiknya bahkan dia tidak menyangka adiknya sudah meninggal belasan tahun yang lalu. Sungguh menyedihkan dan bodoh karena dia dimanfaatkan oleh wanita.
Norman dan Abraham saling pandang, jadi targetnya adalah Vanila? Sepertinya mereka harus memikirkan cara untuk memancing Renata keluar.
__ADS_1
Sonny dilepaskan karena dia bersedia bekerja sama. Lagi pula dia tidak terima ditipu dan dimanfaatkan seperti itu. Dia tidak mungkin kembali untuk menemui wanita yang dia kenal sebagai Bryana karena dia yakin Renata pasti sudah tahu kekalahannya dan sudah bersembunyi dan memang begitulah kenyataannya. Renata sedang bertsembunyi sambil menyusun rencana. Kali ini dia tidak boleh gagal, tentunya bukan dia saja yang memiliki rencana namun Norman dan Abraham juga memilki rencana unruk menangkapnya.