Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Mimpi Dan Pertemuan


__ADS_3

Abraham sudah kembali ke London, beberapa orang juga sudah mendapat perintah untuk mencari keberadaan Renata dan Vanila. Sudah beberapa waktu berlalu tapi keberadaan Renata belum juga ditemukan, entah ke mana wanita itu pergi yang pasti dia menghilang tanpa jejak.


Pagi itu, Abraham bermimpi. Dia seperti melihat seorang anak kecil berdiri di hadapannya. Anak itu sedikit mirip dengannya, dia berusaha mengejar saat anak kecil itu lari tapi entah kenapa, secepat apa pun kakinya, dia tidak bisa mendapatkan anak itu.


Sungguh aneh, tidak saja anak itu yang dia lihat. Seorang pria yang muncul tiba-tiba menghentikan langkahnya, wajah pria itu tidak begitu jelas namun yang paling membuatnya terkejut adalah kedatangan Vanila di antara mereka. Pria itu memeluk Vanila, menciumnya dengan mesra. Vanila bahkan melihat ke arahnya dan tersenyum mengejek lalu Vanila mengatakan sesuatu padanya sebelum dia pergi.


"Aku membawa anakmu, Abraham. Salahkan dirimu yang ingin membunuh aku dulu," ucapan itu bagaikan tamparan keras.


"Sekarang pria lain yang akan menjadi ayahnya," ucap Vanila lagi.


"Tidak, jangan bawa anakku pergi, Vanila!" teriak Abraham.


"Semoga kau bahagia dengan tunanganmu!" ucap Vanila sambil melambaikan tangan.


"Vanila, tunggu!" Abraham mengejar, namun mereka bagaikan bayangan tipis yang menghilang. Dia kembali berteriak, memanggil Vanila. Dia harap Vanila tidak pergi namun mereka sudah menghilang dari pandangannya.


Abraham berteriak dengan keras, sampai akhirnya suara ibunya membangunkan dirinya. Abraham terkejut, menatap ibunya dengan tatapan heran. Dia juga melihat sekitarnya yang ternyata dia masih berada di dalam kamarnya.


"Kenapa kau berteriak seperti itu, Abraham? Apa kau mimpi buruk?" tanya ibunya.


"Yeah, mimpi paling buruk!" wajah diusap kasar, rasanya mimpi itu begitu nyata.


"Kau mengangetkan aku, Mommy kira terjadi sesuatu padamu!" Gorden dibuka, Abraham memalingkan wajah akibat silaunya sinar matahari.


"Mom, apa kau pernah membuat sebuah kesalahan?" tanya Abraham.


"Tentu saja pernah, kenapa bertanya demikian?" ibunya balik bertanya.

__ADS_1


"Apa kesalahan yang Mommy lakukan adalah kesalahan fatal?"


"Mommy tidak tahu tapi semua kesalahan itu pasti bisa diperbaiki. Kenapa kau tidak meminta maaf saja sehingga kau tidak dihantui rasa bersalah itu? Temui secara langsung, lalu selesaikan. Buang ego yang kau miliki dan perbaikilah kesalahanmu!" ucap ibunya.


Napas berat dihembuskan, dia sudah berusaha mencari keberadaan Vanila tapi dia tidak menemukan keberadaannya sama sekali. Apa mimpi yang baru dia alami adalah gambaran nyata apa yang sedang terjadi saat ini? Apa Vanila sudah menikah? Rasanya ingin menyangkal tapi jika dipikir dengan baik, hal itu tidaklah mustahil.


Abraham mengumpat, sial. Norman benar-benar menyembunyikan keberadaan Vanila dengan begitu baik. Dia kesulitan untuk menemukan keberadaan Vanila, dia juga sudah beberapa kali mendatangi Norman untuk mncari tahu keberadaan Vanila tapi Norman tetap tidak mau buka mulut.


Norman juga belum bisa menemukan keberadaan Renata, Walau dia sudah memerintahkan orang-orang ahlinya tapi Renata bagaikan lenyap. Kecurigaan jika Renata sudah mengganti identitas dan juga wajah muncul, sebab itu Norman memerintahkan para anak buahnya untuk mencari di rumah-rumah sakit tertentu untuk membuktikan kecurigaannya itu.


"Segeralah bangun, Mommy sudah menyiapkan sarapan!!" ucap ibunya seraya keluar dari kamarnya.


Abraham tidak menjawab, dia sedang berpikir. Ke mana dia harus mencari keberadaan Vanila? Dia tidak begitu banyak tahu tentang Vanila, kebersamaan mereka juga sesaat saja. Matanya terpejam, pikirannya berkelana namun ingatannya tertuju pada pemuda yang pernah dia tangkap dulu.


Abraham terduduk di atas ranjang, bodoh. Kenapa dia lupa dengan pemuda itu? Dia pasti tahu keberadaan Vanila mengingat dia adalah teman baiknya. Sepertinya dia harus mencari pemuda itu terlebih dahulu namun sayangnya, Bilt sudah tidak bekerja di bar lagi.


Sebuah tempat indah menjadi tempat tujuan, Bilt memandangi pegunungan indah sejauh mata memandang. Ini adalah petualangan terakhirnya sebelum dia sibuk dengan bisnis yang harus dia kelola.


"Apa ada tempat untuk minum di sekitar sini?" tana Bilt pada seseorang yang dia temui. Sudah lama berjalan membuatnya merasa haus.


"Di sana kau akan menemukan sebuah bar," ucap orang itu.


"Thanks," Bilt melangkah pergi, tidak disangka di tempat kecil itu memiliki sebuah bar.


Dia kira hanya lelucon tapi yang dikatakan oleh orang itu sangat benar, sebuah bar kecil sudah terlihat. Bilt melangkah dengan cepat, ransel yang dia gunakan dilepaskan dan duduk di sebuah kursi kosong yang ada. Segelas minuman pun dipesan, Bilt melihat bar itu dengan teliti. Mungkin bisa jadi inspirasi namun bartender yang sedang meracik minuman mengejutkan dirinya.


Dia bahkan mengucek mantanya, seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bukankah itu sahabat gilanya? Tapi kenapa bisa berada di sana? Minuman diteguk sampai habis, Bilt beranjak dan mengambil ranselnya. Dia pura-pura tidak melihat dan memesan minuman.

__ADS_1


"Cocktail, please," pintanya.


Saat mendengar suaranya, sang bartender terkejut. Dia bahkan berpaling dan terbelalak melihat Bilt.


"Bilt!" suara teriakannya terdengar, wajahnya bahkan terlihat berseri.


"Gadis edan, apa yang kau lakukan di sini?" yeah, sahabat gilanya hanya satu saja yaitu Vanila Elouis.


Sesuai dengan yang dia inginkan, Vanila membuka sebuah bar kecil namun pengunjungnya cukup ramai. Kehidupannya benar-benar tenang di sana, tidak ada yang mengenali dirinya. Tidaka ada yang mengganggu kehidupannya. Kedua orangtuanya terkadang datang berkunjung, kakaknya juga datang bahkan ketika bayinya lahir, mereka semua datang berkunjung.


"Seharusnya itu pertanyaanku, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vanila seraya meletakkan minuman yang Bilt inginkan.


"Aku sedang menikmati hidupku, Vanila. Aku berpetualangan di beberapa tempat tapi kenapa kau ada di sini, hah? Setelah membuatku hampir celaka untuk kedua kali kau justru menikmati kehidupanmu di sini!" ucap Bilt, dia tidak lupa hendak membuat perhitungan dengan Vanila atas apa yang dia alami.


"Sorry, Bilt. Lagi-Lagi aku mempersulit hidupmu!"


"Baiklah, lupakan. Aku sudah mendapatkan kompensasinya," Bilt melihat Vanila dari atas sampai ke bawah. Bukankah Vanila dikabarkan sedang hamil, tapi kenapa dia tidak seperti sedang hamil? Apa dia sudah melahirkan? Oh, jika dihitung waktunya, sepertinya sudah.


"Kita bicara nanti, Bilt. Sebentar lagi pekerjaanku selesai," ucap Vanila.


"Kau bekerja di sini?" tanya Bilt.


Vanila hanya tersenyum, dia tidak menjawab. Dia datang ke bar itu karena bartendernya meminta ijin sebentar. Dia sudah jarang datang karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama bayinya yang baru berusia tiga bulan.


Pertemuannya dengan Bilt kembali sungguh tidak terduga, dia tidak tahu jika Bilt pecinta alam sehingga melakukan banyak petualangan. Bilt juga tidak menyangka jika petualangan terakhirnya sebelum dia kembali ke Australia justru mempertemukannya dengan Vanila di tempat kecil itu.


Waktu memang sudah berlalu begitu cepat, banyak yang sudah berubah. Vanila juga terlihat berubah, gadis yang dulunya terlihat semaunya kini sudah terlihat dewasa. Tentunya semua yang dia alami membuatnya jadi seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2