Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Bertemu Kembali


__ADS_3

Kaki Abraham bagaikan tidak menyentuh tanah, dia berlari dengan cepat melewati pohon jagung. Bilt mengikutinya sambil mengumpat, pria itu tidak mengalami kesulitan sama sekali menemukan jalan keluarnya. Sebaiknya dia meminta Vanila pergi dari bar itu agar dia tidak bertemu dengan Abraham.


Sambil berlari, Bilt menghubungi Vanila. Dia harap Vanila menjawab. Jangan sampai dia disalahkan oleh kakak Vanila lalu dia ditangkap, uang lima miliar diambil dan dia mendapat cambukan berduri. Kali ini dia yakin kakak Vanila akan membunuhnya karena gara-gara dirinya datang ke kota itu, Abraham jadi menemukan keberadaan Vanila.


"Cepat jawab, Vanila," ucap Bilt. Dia masih terus berlari, akhirnya jalan raya dia temukan. Hanya ada satu mobil saja di sana, truk yang ditumpangi oleh Abraham sudah pergi. Bilt tersenyum, dia menang. Abraham tidak akan bisa ke bar bahkan dia akan membutuhkan banyak waktu jika berjalan kaki.


"Ha.. Ha.. aku ingin lihat kau akan ke bar pakai apa," ucap Bilt, dia tampak berjalan dengan santai karena dia yakin Abraham tidak akan menemukan kendaraan taksi di jalanan sepi itu tapi dia terkejut saat melihat Abraham melempar kaca mobilnya menggunakan batu.


"Dasar gila, itu mobil sewaan!" teriak Bilt, kini dia berlari.


Abraham tidak peduli, yang dia inginkan segera tiba di bar. Mesin mobil dinyalakan dengan menyambungkan beberapa kabel dan setelah mesin mobil menyala, Abraham membawa mobil itu dan meninggalkan Bilt.


"Kurang ajar! Itu mobilku, kembalikan!" teriak Bilt lantang. Menyebalkan, dia ditinggal begitu saja. Sungguh kejam, umpatan dan makiannya terdengar namun tanpa dia duga, mobil itu mundur ke belakang dengan cepat dan berhenti di hadapannya.


"Ambil tas itu dan segera naik! Jika kau berani menghubungi Vanila dan mengatakan aku berada di sini, aku akan membuatmu tidak bisa pergi dari kota ini untuk selamanya!" ancamnya.


Bilt menghela napas, masalah lagi, masalah lagi. Mau lari dari Norman, dia harus menghindari Abraham. Mau lari dari Abraham, dia harus menghindari Norman. Seharusnya dia tidak datang ke kota ini, sungguh dia menyesal. Bilt melangkah ke arah tas Abraham, sudahlah. Moto lamanya, apa yang akan terjadi, biarlah terjadi.


Setelah mendapatkan tas Abraham, Bilt kembali dan masuk ke dalam mobil. Dia tidak mengatakan apa pun, Abraham menjalankan mobil tanpa membuang waktu. Vanila ada di bar? Rasanya sudah tidak sabar. Ini kejutan yang tidak terduga, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Vanila di kota kecil itu. Pantas saja dia tidak bisa menemukan keberadaan Vanila? Ternyata dia berada di kota terpencil seperti itu.


Vanila memutuskan pergi ke bar setelah Anatasya tertidur. Dia sudah berjanji pada Bilt untuk menjelaskan beberapa hal karena Bilt berkata dia juga akan membuka usaha Bar saat dia kembali ke Australia nanti jadi ada beberapa hal yang ingin Bilt ketahui.


Saat Bilt menghubunginya lagi, Vanila sedang sibuk mengajari pegawainya meracik minuman. Pengalaman sewaktu dia bekerja di bar yang ada di Australia membuatnya tidak kesulitan sama sekali. Vanila sangat sibuk tanpa tahu Bilt sudah datang bersama pria yang tidak mau dia temui lagi.


Abraham membiarkan Bilt menghampiri Vanila terlebih dahulu, dia mengancam Bilt agar tidak mengatakan keberadaannya. Bagaimanapun dia tidak boleh mengejutkan Vanila dan membuatnya lari. Dia bahkan sedang memikirkan cara agar Vanila tidak terkejut melihat keberadaannya.

__ADS_1


"Bilt, kenapa kau begitu lama dan kenapa kau menolak panggilan dariku?" tanya Vanila.


"Hm.. so-sory, aku tersesat jadi aku panik," dusta Bilt.


"Tersesat? Bagaimana bisa?"


"Aku dikejar hewan liar di semak belukar!" dustanya.


"Ck, jadi tidak?" Vanila yang tadinya sibuk, berpaling untuk menatap Bilt. Dia tidak menyadari, Abraham memandanginya dari kejauhan tanpa berkedip.


Rasa rindu yang dia rasakan bergejolak di dalam dada. Rasanya ingin segera menghampiri Vanila dan memeluknya erat tapi dia harus menahan diri karena dia tahu, Vanila akan pergi darinya jika dia tidak sabar. Jika sampai hal itu terjadi, dia yakin dia tidak akan menemukan keberadaan Vanila untuk selamanya.


Sudah hampir dua tahun tidak melihatnya. Vanila begitu banyak berubah. Dia tambah cantik, tubuhnya terlihat semakin berisi. Apa tubuhnya berubah seperti itu karena dia baru saja melahirkan? Oh, dia sudah tidak sabar bertemu dengan anak mereka. Oleh sebab itu dia harus bersabar dan hanya bisa memperhatikan Vanila dari jauh.


"Kenapa?" Vanila menatapnya heran. kenapa Bilt tiba-tiba ingin pulang? Bukankah Bilt berkata akan berada di tempat itu sedikit lama?


"Aku sudah meninggalkan bisnis yang harus aku kelola begitu lama, Vanila. Lihat dirimu, kau sudah sukses sedangkan aku belum memulai sama sekali jadi aku rasa sudah saatnya aku memulai bisnisku," lebih baik dia cepat kabur dari pada ketangkap oleh Norman. Dia yakin, Norman akan tahu jika keberadaan Abraham di kota itu karena ingin mencari keberadaannya dan karena hal itu, dia justru mempertemukan Abraham dan Vanila tanpa sengaja.


"Yang kau katakan sangat benar, Bilt. Aku hanya bisa mendoakan dirimu saja, semoga usahamu sukses di sana. Aku juga berharap kau segera menemukan pasangan dan menikah."


"Terima kasih atas doanya," Bilt melirik ke belakang tapi dia tidak melihat Abraham namun dia tahu pria itu pasti mengawasinya dari suatu tempat di bar itu.


Abraham memang masih mengawasi di tempat duduknya. Sabar, itu kunci untuk mendapatkan Vanila. Dia bahkan menunggu lama sampai akhirnya Vanila dan Bilt keluar dari bar. Abraham mengikuti mereka secara diam-diam, Vanila benar-benar tidak tahu sama sekali.


Bilt mengantar Vanila kembali ke rumahnya, inilah yang ditunggu oleh Abraham. Mengetahui tempat tinggal Vanila terlebih dahulu agar Vanila tidak bisa lari barulah dia menemuinya. Kali ini tidak ada lagi acara kejar mengejar. Dia juga yakin dia bisa bertemu dengan anak mereka jika dia langsung mendatangi tempat tinggal Vanila.

__ADS_1


"Aku akan sangat merindukan dirimu, Bilt," ucap Vanila.


"Datanglah ke Australia jika kau punya waktu, aku akan menyambut kedatanganmu."


"Tentu saja, aku akan ke sana setelah Anatsya sudah besar."


"Kau serius?"


"Tentu saja, aku pasti akan ke sana,"jawab Vanila sambil tersenyum.


"Aku tunggu, Vanila."


Mereka sudah tiba, Abraham meminta taksi yang dia tumpangi berhenti. Vanila hendak memberikan sesuatu pada Bilt jadi dia meminta Bilt untuk menunggu sesaat. Vanila masuk ke dalam, sedangkan Abraham mulai melangkah mendekati rumah sederhana namun terlihat nyaman.


Di sana rupanya Vanila tinggal. Sungguh tempat persembunyian yang sempurna. Bilt tidak melihat kedatangan Abraham, dia kira pria itu akan menemui Vanila di bar nanti sebab itu dia tidak curiga di ikuti lagi. Begitu lebih bagus, dia tidak mau berada di antara dua orang yang sudah sekian lama tidak bertemu.


Bilt sedang berdiri membelakangi Abraham, dia akan segera pergi setelah ini. Dia tidak tahu Abraham sudah berjalan tidak jauh darinya. Vanila sudah mendapatkan benda yang hendak dia berikan pada Bilt. Dia keluar lagi sambil melihat benda yang ada di tangan dengan teliti.


"Maaf, aku tidak bisa memberikan apa pun," ucapnya.


"Tidak apa-apa."


Vanila tersenyum dan mengangkat wajah namun tiba-tiba senyum itu hilang saat melihat pria yang sudah tinggal beberapa langkah lagi di belakang Bilt. Mata Vanila melotot, benda yang dia bawa pun jatuh dari tangan. Bilt sangat heran, firasat buruk karena wajah Vanila tampak pucat.


"Ada apa?" Bilt berpaling, "Oh, sial!" umpatnya pelan. Bisakah mereka melakukan pertemuan setelah dia pergi? Entah kenapa mereka yang bertemu, jantungnya yang berdebar. Dia merasa harus segera pergi dan tidak boleh berada di sana. Tiba-tiba dia merasa seperti menjadi orang ketiga di antara mereka. Situasi macam apa ini?

__ADS_1


__ADS_2