Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Aku Juga Ingin Kau Bahagia


__ADS_3

Sebuah undangan pernikahan sudah terkirim untuk Bilt, tentunya dia terkejut akan hal itu apalagi yang mengirim undangan itu adalah Vanila sendiri. Undangan itu Vanila kirimkan lewat sebuah pesan beserta sebuah ancaman.


Pernikahan Vanila dan Abraham langsung disiapkan atas perintah Norman saat mereka hendak kembali. Kali ini pernikahan adiknya tidak boleh gagal dan tidak ada yang boleh menggagalkannya.


Kartu undangan dicetak dengan cepat lalu disebar untuk para kerabat dan juga para kenalan. Gaun pengantin memang sudah siap, pernikahan dilakukan satu minggu lagi.


Setelah mendapat kabar dari Norman, ibunya memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan pesta mewah yang akan dilaksanakan di istana. Mereka juga menunggu kedatangan kedua orangtua Abraham. Terkesan begitu mendadak tapi mereka tidak mau menunda apalagi pernikahan Vanila sudah gagal satu kali.


Bilt menghela napas, membaca pesan yang dikirimkan oleh Vanila baik-baik.


"Awas jika tidak datang, lima miliar yang kau dapat akan melayang!" itu ancaman yang Vanila berikan tentunya ancaman itu membuat Bilt ciut. Lima miliar melayang, maka dia kembali menjadi bartender di bar.


"Tetap saja kejam walau sudah punya anak!" ucapnya. Bilt melihat tanggal yang tertera lalu dia mengambil keputusan untuk segera berangkat. Semoga saja diabertemu dengan putri kerajaan lain sehingga dia bisa menjadi pangeran.


Tidak mau menunggu dan berlama-lama, Bilt pergi ke Swedia untuk menghadiri acara pernikahan sahabat gilanya. Menurutnya yang menikah dengan Vanila benar-benar tidak waras dan memang Abraham hampir gila gara-gara Vanila Elouis.


Begitu tiba di Istana, Abraham mempersiapkan semua yang diperlukan. Cincin pernikahan sudah dia dapatkan, dia menginap di hotel bersama dengan kedua orangtuanya yang barus saja tiba.


Ayah dan Ibunya terlihat tidak sabar karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan raja dan ratu juga dengan cucu mereka.


Selain menyiapkan acara pernikahan, hari ini mereka juga menyiapkan acara untuk menyambut kedatangan kedua orangtua Abraham.


Semua pelayan sibuk, Vanila juga sibuk karena dia diijinkan untuk mempersiapkan pernikahan yang dia inginkan. Anatasya dijaga oleh pelayan yang selalu melayani jadi dia tidak perlu khawatir meski pun dia sibuk.


Vanila baru saja keluar dari kamar, langkahnya terhenti saat melewati kamar kakaknya. Sejak pagi dia tidak tidak melihat kakaknya. Apakah Norman berkabung seperti biasanya?


Niatnya untuk mencari sang ibu diurungkan, Vanila melangkah menuju pintu dan mengetuk pintu kamar kakaknya dengan perlahan.


"Norman, apa kau berada di dalam?" tanya Vanila sambil mengetuk.

__ADS_1


"Yeah, masuk saja Vanila!"


Vanila membuka pintu, Norman sedang berdiri di depan jendela dengan sebuah foto di tangan. Tatapan matanya menerawang jauh namun dia berpaling ketika adiknya melangkah mendekatinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vanila.


"Melakukan apa yang selalu aku lakukan," foto Emely diletakkan di atas meja yang ada di sisinya.


"Kau selalu berkabung untuknya, apa kau tidak berniat menjalin hubungan dengan wanita lain? Aku dengar dari Mommy dan Daddy jika mereka ingin segera menjadikanmu sebagai raja."


"Entahlah, Vanila. Aku tidak berminat bahkan aku merasa belum ada yang bisa menggantikan dirinya dihatiku."


"Itu karena kau selalu berada di istana. Cobalah pergi keluar dan jadilah rakyat biasa. Mungkin kau akan mendapatkan sesuatu di luar sana."


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan kewajibanku."


Norman diam, tatapan mata tertuju pada adiknya yang menghampirinya sambil tersenyum. Foto Emely yang ada di atas meja diambil, ini kali pertama Vanila melihat rupa wanita cantik yang disukai oleh kakaknya.


"Jika dia tahu, dia pasti tidak akan suka melihat kau jadi seperti ini setelah kepergiannya. Kau mengekang aku karena kau ingin aku bahagia lalu bagaimana dengan kehidupanmu? Apa kau hanya memikirkan kehidupanku saja dan tidak memikirkan kehidupanmu?"


"Bagiku kebahagiaanmu lebih penting dari pada apa pun!" ucap Norman.


"Dan aku juga ingin kau bahagia," foto diletakkan kembali, Vanila melangkah mendekati kakaknya dan berdiri di sisinya. Mereka menatap keluar jendela, mereka berdua diam namun Vanila kembali berpaling dan melihat ke arah kakaknya.


"Kau ingin aku bahgia, sekarang aku bahagia. Kau bahkan ingin aku dan Abraham agar cepat menikah, aku lakukan tapi aku harap mulai sekarang kau memikirkan kehidupanmu. Setelah aku menikah, aku akan mengikuti Abraham dan di sanalah kehidupanku lalu bagaimana denganmu? Aku harap setelah ini kau mulai berubah dan mulai mencari pengganti Emely. Dia pasti akan senang jika kau sudah tidak bersedih akan kepergiannya lagi."


"Kenapa tiba-tiba jadi cerewet?" tanya Norman.


"Kau sudah menakuti aku sehingga aku mau kembali dan menikah dengan Abraham jadi aku juga ingin kau bahagia."

__ADS_1


"Ck, baiklah. Aku akan melakukannya tapi setelah aku menangkap Renata. Untuk saat ini aku sedang fokus mengejar dirinya, aku yakin dia akan segera terpancing keluar!" ucap Norman.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Vanila ingin tahu.


"Berhati-hatilah, Vanila. Aku dan Abraham sudah sepakat untuk menyebar pernikahan kalian secara terang-terangan. Dia pasti tidak akan terima ketika melihat pernikahan kalian berdua jadi aku ingin kau berhati-hati dan menjaga Ana dengan baik. Saat kau sudah tinggal dengan Abraham di London, jangan percaya dengan siapa pun!" ucap Norman mengingatkan.


"Jangan khawatir, Kak. Aku bisa jaga diri, aku juga akan membantu kalian menangkapnya jika aku bertemu dengannya."


"Tidak, aku lebih suka kau tidak terlibat. Jangan melakukan apa pun, jika kau melihatnya segera hubungi Abraham karena dia yang akan membereskan rubah jahat itu."


"Baiklah, apa kau sudah selesai berkabung? Jika sudah sebaiknya kita keluar karena sebentar lagi Abraham dan kedua orangtuanya akan datang."


"Tentu saja sudah, ayo keluar," Norman mengusap kepala adiknya dan mengajaknya untuk keluar.


Mereka akan menyambut kedatangan Abraham dan kedua ortangtuanya untuk saling mengenal dan juga membahas pernikahan yang sebentar lagi akan digelar. Sesuai yang Norman duga, Renata sangat murka saat melihat sebuah artikel di majalah yang memperlihatkan foto Abraham dan Vanila yang akan menikah sebentar lagi.


Renata mengumpat marah, majalah dirobek menjadi dua. Dia sungguh tidak terima, Abraham adalah miliknya dan sampai kapan pun harus menjadi milliknya. Tidak ada yang boleh memilikinya apalagi Vanila Elouis sekalipun dia tidak bisa bersama dengan Abraham lagi. Vanila Elouis harus menjadi Emely kedua yang harus mati di tangannya.


"Kenapa kau terliihat marah?" seorang pria yang berada bersama dengannya bertanya.


"Tidak, kapan kita akan kembali?" Renata berusaha tersenyum, dia tidak boleh membuat pria yang sudah membayarnya dengan harga tinggi itu kecewa dan marah.


"Dua minggu lagi, berikan aku pelayanan yang memuaskan maka aku akan menambahkan bonus untukmu."


"Aku senang mendengarnya," Renata tersenyum dengan manis.


Setelah tahu jika hubungannya dan Abraham tidak akan berhasil dan setelah tahu rahasianya sudah tidak bisa ditutupi lagi, Renata pergi mencari pengusaha kaya yang mau membayarnya dengan harga tinggi untuk pelayanan yang dia berikan. Dengan uang yang dia dapatkan, Renata merubah dirinya. Sekarang tidak akan ada yang mengenali dirinya mau itu Norman atau pun Abraham.


Diam-Diam Renata tersenyum licik, dua minggu lagi? Rasanya sudah tidak sabar untuk kembali dan membunuh Vanila Elouis dan dia harus berakhir tragis seperti Emely.

__ADS_1


__ADS_2