Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Saling Menyalahkan


__ADS_3

Renata sudah tiba ke Swedia. Beberapa anak buah Norman yang diutus oleh Norman untuk menjemput Renata sudah menunggu kedatangannya. Renata diperlakukan bagaikan penjahat kriminal. Kedua mata ditutup, tangan di borgol dan mulut ditutup dengan kain. Gaston hanya mengantar sampai anak buah Norman mengambil Renata. Oleh sebab itu dia langsung kembali setelah Renata berpindah tangan.


Renata meronta saat dibawa pergi menggunakan mobil. Dia akan dibawa langsung ke penjara di mana Jasson masih berada di sana. Jasson belum dilepaskan, dia akan diserahkan pada pihak berwajib yang ada di Amerika untuk mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan.


Tubuhnya di dorong dengan kasar setelah tiba, Renata sangat ingin mengumpat namun dia tidak bisa melakukannya akibat mulut yang ditutupi oleh kain. Renata tidak bisa menebak di mana dia berada saat ini, dia takut membayangkan ke mana dia dibawa apalagi Norman sudah berkata jika dia sudah menyiapkan penjara untuknya. Semoga saja tidak tapi suara jeruji besi yang terdengar, membuatnya bisa menembak jika dia sedang dibawa ke dalam penjara saat ini.


Kain yang menutupi mulutnya dilepas, penutup matanya juga dilepaskan namun borgol yang ada di tangan tidak dilepaskan. Renata membuka matanya dengan perlahan, suara pintu yang tertutup pun terdengar. Setelah menyadari keadaan, Renata berteriak dan berlari menuju pintu yang sedang dikunci.


"Lepaskan aku dari sini!" teriaknya.


"Nikmati waktumu dengan baik di sana!" ucap anak buah Norman.


"Jangan banyak bicara, segera lepaskan!" teriak Renata lagi.


"Jangan berteriak, jika tidak sebentar lagi kau akan kehilangan suaramu!" ancam anak buah Norman.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu!" teriaknya.


"Berhenti membuat keributan, Renata!" ucap Jasson. Dia yakin wanita itu Renata. Sekalipun Renata mengubah wajahnya dan meskipun wajah Renata babak belur saat ni tapi dia bisa mengenalinya karena suaranya tidak berubah sama sekali.


Renata terkejut mendengar suara Jasson. Renata berpaling melihat ke kanan, mata melotot melihat Jasson berada tidak jauh darinya tapi setelah keterkejutannya itu, Renata memandangi Jasson dengan tatapan penuh kebencian.


"Jasson? Kenapa kau berada di sini?" tanya Renata. Dia seperti tidak percaya tapi jika mengingat kenapa Abraham dan Norman bisa tahu kejahatan yang dia lakukan selama ini, tidak heran Jasson berada di sana.


"Seharusnya kau tahu kenapa aku bisa berada di sini!" ucap Jasson.


"Semua yang terjadi gara-gara kau?!" teriaknya marah.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa pun jadi jangan menuduh aku sembarangan!" ucap Jasson kesal.


"Semua yang terjadi memang gara-gara kau, Jasson. Seandainya kau tidak memeras aku, Abraham tidak mungkin mengetahui apa yang telah aku lakukan pada Emely!"


"Jangan menyalahkan, seandainya kau bisa memberikan apa yang aku pinta maka dia juga tidak akan tahu!" ucap Jasson membela diri.


"Memberikan apa yang kau mau? Sungguh lucu, Jasson. Aku sudah memberikannya beberapa kali tapi kau tidak merasa cukup dan memeras aku sampai berkali-kali. Apa yang terjadi denganku saat ini adalah ulahmu. Aku sudah hampir mendapatkan kehidupan nyaman yang aku inginkan. Aku sudah akan menjadi istri Abraham tapi gara-gara kau," Renata melihatnya dengan tajam lalu dia kembali berkata, "Semua harus hancur gara-gara keserakahanmu!" teriaknya lantang


"Jangan menyalahkan, memang sudah saatnya kau mempertanggungjawabkan apa yang terjadi!" ucap Jasson.


"Jangan sok suci, kau benar-benar menghancurkan segalanya!" api kebencian meluap di hati. Rasanya tidak bisa menerima karena semua yang terjadi gara-gara Jasson yang serakah.


"Apa kau kira aku senang? Lihat keadaanku saat ini, aku tidak dilepaskan sama sekali padahal aku sudah mengatakan apa yang mereka mau. Nasibku tidak jelas, aku merasa nasibku tidak kalah buruknya dengan nasibmu!" ucap Jasson. Pria itu tampak menunduk, walau dia mendapat makan tapi kebebasannya tidak ada lagi bahkan dia merasa kebebasannya benar-benar tidak akan ada lagi.


"Tidak perlu sok menjadi korban, Jasson! Semua yang terjadi gara-gara kau dan aku adalah korbannya di sini!" teriak Renata marah.


Mereka berdua berdebat, saling menyalahkan. Renata yang paling tidak terima karena dia masih menganggap Jasson adalah orang yang telah membuatnya berada di tempat itu. Mau apa pun itu, nasib Jasson akan segera ditentukan karena anak buah Norman sedang menghubungi Norman yang sedang ijin pulang pada sang adik.


"Aku sudah menghubungi Fbi dan mengatakan pada mereka jadi bawa Jasson ke Amerika. Ada yang akan menjemputnya dibandara nanti!" perintah Norman.


"Baik, Sir. Akan segera kami bawa ke sana!" setelah mendapatkan perintah, Jasson dikeluarkan dari jeruji besi karena dia akan langsung dibawa ke Amerika dan mendapat hukuman di sana.


"Mau apa kalian, lepaskan aku!" teriak Jasson marah.


"Diam, sebaiknya ikut secara baik-baik!" Jasson ditarik dengan paksa dan dibawa pergi.


"Goodbye, Jasson!" cibir Renata.

__ADS_1


"Sialan kau, Renata. Setelah aku pasti kau selanjutnya!" mendengar ucapan Jasson tentu saja membuat Renata terdiam. Benar, selanjutnya pasti dirinya. Entah apa yang akan Norman lakukan yang pasti bukan hal yang baik. Dia harap pria itu tidak pernah kembali bahkan dia berharap pesawat yang ditumpangi oleh Norman meledak di atas sana.


Norman sedang menggendong Ana, rasanya jadi enggan berpisah dengan keponakannya yang manis. Sekarang mereka harus hidup terpisah, Vanila sudah pasti akan berada di London. Rasanya tidak bisa mempercayai adik yang selalu dia jaga akhirnya menikah tapi yang paling tidak dia duga adalah, adiknya bisa menikah dengan sahabat baiknya.


"Uncle akan merindukan dirimu," ucap Norman seraya mencium pipi Ana.


"Segera menikah agar kau juga memiliki bayi!" ucap Vanila.


"Kenapa kau selalu mengatakan hal seperti itu?" Norman tampak tidak senang.


"Aku hanya ingin kau menikah dan melupakan Emely. Dia sudah pergi lama, jadi segera buka hatimu untuk wanita lain!"


"Aku tahu, akhir-akhir ini kau jadi cerewet!"


"Aku juga ingin kau bahagia!" Vanila mengambil Ana dari gendongan sang kakak lalu memberikan ciuman di pipi kakaknya, "Segera beri aku kakak ipar yang keren," ucapnya  lagi.


"Kau ingin sekeren apa, apa kau kira semua wanita bisa melakukan apa yang kau lakukan dan segila dirimu?"


"Hei, pria kaku dan kuno. Keren itu bukan berarti bisa membawa motor besar saja jadi carilah yang keren yang sepadan denganmu dan yang pantas untuk menjadi ratumu!"


"Baiklah, baik. Kau lebih cerewet dari pada Mommy. Aku mau pulang saja," ucap Norman.


Abraham terkekeh, Vanila pun sama. Dia hanya menggoda sang kakak saja tapi dia tetap berharap kakaknya segera menikah agar dia tidak merasa kesepian dan agar dia bisa melupakan Emely.


"Hati-hati, Norman. Aku akan berkunjung jika punya waktu," ucap Abraham.


"Tolong jaga Vanila dan Ana baik-baik," pinta Norman.

__ADS_1


"Sudah pasti!"


Vanila memeluk kakaknya, rasanya juga berat melepaskan kakaknya tapi pada akhirnya semua memiliki kehidupan masing-masing. Setelah berpamitan, Norman pun pergi. Dia akan kembali untuk memberikan pelajaran pada Renata yang sudah membunuh Emely. Saat dia tiba nanti, dia akan mencari keadilan untuk Emely dan memberikan hukuman yang setimpal untuk Renata.


__ADS_2