Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kedatangan Norman Elouis


__ADS_3

Sebuah pesawat pribadi baru saja mendarat. Seorang pemuda turun dari pesawat itu dan seorang pria lagi berada di sisinya. Kakinya belum menuruni tangga, mata elangnya melihat sekitarnya dan setelah itu kaca mata hitamnya dilepaskan.


Puluhan orang yang memaki pakaian serba hitam sudah berbaris untuk menyambut kedatangannya. Mereka membungkuk secara serempak untuk menyambut kedatangan majikan mereka.


Pemuda itu adalah Norman Elouis, tentu kedatangannya untuk menarik adiknya yang sudah sekian lama melarikan diri untuk pulang. Kali ini dia akan pastikan Vanila tidak bisa lari ke mana pun lagi. Dia bahkan sudah berencana untuk langsung menikahkan adiknya begitu dia membawanya kembali. Sudah cukup petualangan yang Vanila lakukan, dia tidak akan pergi ke mana pun setelah dia menikah.


"Apa kalian yakin dia tidak pergi ke mana pun?" tanya Norman pada anak buahnya.


"Tentu, Sir. Beberapa orang masih mengintai di rumahnya untuk memastikan dia tidak pergi." jawab sang anak buah.


"Bagus, segera bawa aku ke sana!" perintah Norman. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan adiknya yang suka membangkanng itu. Jika Vanila masih ingin pergi maka akan dia rantai agar Vanila jera.


Tentunya Vanila tidak tahu akan kedatangan kakaknya yang akan membawanya kembali. Saat itu Vanila sedang memasukkan barang-barang miliknya ke dalam koper. Tidak ada yang dia lakukan jadi dia sengaja membereskan barang-barang miliknya. Lagi pula besok dia harus ke bar dan dia ingin menghabiskan waktu untuk terakhir kalinya di sana sampai Bilt pulang bekerja dan setelah berpisah dengan Bilt, dia akan pergi walau dia belum tahu ke mana dia harus pergi.


Barang-Barang miliknya tidaklah banyak, dia masih ingat ketika dia melarikan diri dari rumah dia tidak membawa pakaian kecuali yang dia kenakan. Hal itu dia lakukan untuk mempermudah dirinya melarikan diri. Waktu itu yang dia bawa hanya sebuah dompet yang berisi beberapa uang dolar dan beberapa kartu juga sebuah kartu hitam yang masih aktif sampai sekarang namun tidak berani dia gunakan.


"Selesai!" ucap Vanila, walau semua barang belum masuk tapi dia sudah terlihat puas. Tinggal sedikit barang, itu mudah. Koper pun ditutup, entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa jika dia harus segera pergi dari tempat itu.


Firasat yang mengatakan agar dia segera pergi semakin kuat dia rasakan. Apa yang terjadi, apa Abraham akan kembali dan mencekik lehernya lagi? Tidak, dia rasa tidak mungkin karena pria itu sudah tidak mau bertemu dengannya lagi tapi kenapa dia merasa jika dia harus pergi saat ini juga? Aneh, apa perasaan yang sedang dia rasakan saat ini terjadi karena dia sudah tidak sabar untuk pergi?


Mungkin demikian karena dia benar-benar tidak sabar pergi dari tempat itu lalu memulai kehidupan baru serta di tempat yang baru.

__ADS_1


"Baby, Mommy akan membawamu ke tempat yang jauh dan Mommy bersumpah kau tidak akan mengalami apa yang Mommy alami," ucapnya. Kedua tangan berada di bagian perut, Vanila tersenyum sambil mengusap perutnya. Tidak peduli apa yang akan orang-orang ucapkan tentang dirinya kelak yang pasti dia akan menjadi ibu hebat untuk anaknya.


"Baiklah, sekarang waktunya mandi," Vanila melangkah menuju kamar mandi. Dia ingin berendam sebentar untuk merenggangkan otot-ototnya.


Air bathtup pun di isi, selama menunggu air penuh Vanila berdiri di depan cermin untuk melihat bekas jari Abraham yang tadinya merah tapi kini terlihat kebiruan. Bisa dibayangkan betapa kuatnya pria itu mencekik lehernya dan tenaga yang dia keluarkan? Dilihat dari bekas cekikan itu, Abraham pasti sangat membencinya.


Biarlah, lagi pula sejak awal dia yang salah. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun untuk hal ini. Siapa pun yang berada di posisi Abraham pasti akan sangat marah.


Vanila menghela napas, sebaiknya dia mandi. Air bathtub sudah penuh dan dimatikan. Vanila keluar sebentar untuk mengambil ponsel karena dia berencana mendengarkan lagu namun ketika dia hendak kembali ke kamar mandi, langkah Vanila terhenti karena suara pintu yang diketuk dari luar sana.


Vanila mengernyitkan dahi, perasaan jika dia harus segera pergi kembali memenuhi hati. Aneh, dia juga merasakan perasaan takut.


Suara pintu yang diketuk kembali terdengar. Apakah Bilt yang berada di luar sana? Selain Bilt, dia menebak jika yang mengetuk pintu adalah Abraham. Cuma itu dua kemungkinannya namun tebakannya salah karena sang kakak yang sangat dia benci sudah berdiri di depan pintu.


Vanila semakin gugup dan was-was, suara ketukan sudah tidak terdengar lagi. Dia ingin melihat jadi dia memutuskan untuk keluar kamar namun begitu dia keluar, Vanila dikejutkan oleh puluhan orang menyergap masuk ke dalam rumahnya.


Firasat buruk, dia bisa menebak siapa yang mengutus mereka dan ketika kakaknya masuk ke dalam, mata Vanila melotot. Kakinya terasa terpaku di lantai, dia tidak bisa bergerak, napasnya pun terasa tertahan.


"Di sana kau rupanya, apa kau tidak mau menyambut kedatangan kakakmu?" Norman menghampirinya, petualangan adiknya selesai hari ini juga.


Vanila ketakutan, bayang-bayang kehidupan lama yang dia tinggalkan kini seolah-olah berada di depan mata. Apa yang ingin dia lakukan selalu dikekang dan dia tidak memiliki kebebasan.

__ADS_1


"Kenapa menatap aku seperti itu, apa kau tidak senang melihat kakakmu ini, Vanila?"


"Ti-Tidak!!" Vanila berteriak. Entah kekuatan dari mana, Vanila memutar langkah dan berlari masuk ke dalam kamar namun kaki kakaknya lebih cepat sehingga tangan Vanila sudah berada di genggamannya.


"Kau mau lari ke mana? Apa kau kira bisa lari lagi dariku?"


"Tidak, aku tidak mau. Lepaskan aku," pinta Vanila memohon.


"Tidak akan pernah, Vanila. Cukup sudah bermainnya, sekarang ikut aku pulang. Kau harus menjalani kewajibanmu!"


"Tidak mau, aku tidak mau. Aku lebih suka hidup seperti ini jadi lepaskan aku!" Vanila berusaha menahan tubuhnya dengan menginjak lantai kuat-kuat agar kakaknya tidak bisa menarik tubuhnya. Tentunya perlawanan yang dia lakukan sia-sia karena dia kalah tenaga.


"Jangan membantah. Takdirmu sudah ditentukan jadi ikut aku kembali selagi aku memiliki kesabaran!" ucap kakaknya kesal.


"Aku tidak mau kembali, kenapa kau selalu ikut campur dalam kehidupanku? Aku ingin hidup bebas jadi jangan memperlakukan aku seperti ini!" teriak Vanila. Dari dulu sampai sekarang, kakaknya tidak berubah sama sekali dan rasa bencinya semakin besar pada kakaknya.


"Membuang waktuku saja!" Norman menarik tangan adiknya dengan kuat sehingga tubuh Vanila tertarik maju ke depan. Vanila berteriak lalu dia terkejut saat kakaknya memukul tengkuknya secara tiba-tiba. Vanila jatuh ke dalam pelukan kakaknya, tidak sadarkan diri. Berakhir sudah kehidupan bebasnya.


"Ambil semua barang-barangnya!!" perintah Norman. Vanila sudah berada di dalam gendonggannya, dia akan langsung membawa adiknya kembali tanpa perlu berlama-lama di kota itu.


Koper milik Vanila diambil, tas dan juga beberapa barang pribadi. Norman sudah membawa adiknya ke dalam mobil, Vanila sedang berbaring di pahanya saat itu. Semua yang terjadi begitu mendadak karena dia tidak tahu jika kakaknya datang untuk menangkapnya.

__ADS_1


Rumah ditinggalkan dalam keadaan gelap, siapa pun yang mengenalnya tidak akan melihatnya lagi karena setelah dia kembali, dia harus menjalani kewajibannya dan dia juga tidak akan memiliki kebebasan lagi tapi apa yang akan terjadi saat Norman tahu jika adiknya sedang berbadan dua saat ini? Terlebih lagi, bayi yang ada di rahim adiknya adalah benih dari musuh yang sangat dia benci.


__ADS_2