Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Keputusan


__ADS_3

Seperti yang Bilt katakan, apa pun bisa terjadi saat wanita dan pria berduaan apalagi di tempat sepi. Abraham tidak berhenti mencium bibir Vanila. Gadis itu belum menjawab permintaan Abraham karena pikiran dan juga apa yang dia rasakan saling bertentangan.


Dia harus memikirkan hal ini baik-baik agar dia tidak menyesal di kemudian hari. Perasaan Vanila berkecamuk dan pada akhirnya sebuah keputusan pun dia ambil. Sudah terlanjur basah, jadiĀ  basah sekalian. Dia juga tahu saat dia tertangkap oleh sang kakak, dia tidak bisa menghindari keinginan kakaknya jadi dia akan melawan agar keinginan kakaknya tidak terwujud.


"Kau masih belum menjawab, Vanila?" Abraham memandanginya dan menunggu jawaban darinya.


"Sekali kau memulai, kau tidak boleh berhenti. Kau harus memuaskan aku sampai aku puas karena aku tidak puas hanya satu kali saja," ucap Vanila. Mungkin dengan cara seperti itu sang kakak tidak bisa memaksanya lagi.


"Jika begitu malam ini aku milikmu!" Abraham kembali mencium bibirnya dengan penuh na*su.


Vanila memeluknya erat, semoga keputusannya tidak salah. Dia memang ingin membuat kenangan yang tidak terlupakan dan kenangan inilah yang tidak mungkin dia lupakan. Melakukan hal itu untuk pertama kali dengan pria yang dia sukai, dia tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya karena selama ini hidupnya bukanlah miliknya.


"Tapi jangan di sini, aku takut ada serigala," pinta Vanila.


"Kita pindah!" Abraham beranjak dari atas tubuhnya, lalu membantu Vanila untuk berdiri. Abraham menggendongnya sambil mencium bibirnya. Api unggun yang masih menyala kecil di tinggalkan, mereka juga melewatkan waktu indah mereka untuk menatap langit malam yang indah.


Pakaian dilepas dengan tidak sabar setelah berada di dalam kamar. Vanila tidak menolak saat Abraham menyentuh tubuh dan juga menikmatinya. Rasanya agak aneh tapi setelah ini, dia akan merubah segalanya dan Vanila yang selalu di anggap polos oleh kakaknya sudah tidak ada lagi.


Jangan menyalahkan dirinya, dia terpaksa melakukannya untuk mendapatkan kebebasan jika dia tertangkap nanti. Lagi pula melakukan hal itu tidaklah aneh, se*ks sebelum menikah adalah hal yang wajar di negara itu. Walau Abraham tidak memiliki perasaan untuknya dan tidak menjadi miliknya namun dia bahagia.


Abraham terkejut karena Vanila terlihat menahan sakit saat mereka melakukannya. Dia bahkan berhenti sejenak untuk memastikan keadaan Vanila.


"Kenapa, apa sakit?" tanyanya seraya mengusap air mata Vanila.

__ADS_1


"Ini yang pertama untukku," Vanila memalingkan wajahnya. Abraham terkejut, dia kira Vanila pernah melakukan hal itu sebelumnya tapi nyatanya itu yang pertama kali untuknya.


"Maaf, aku tidak tahu," Abraham memberikan ciuman di dahi Vanila.


"Tidak apa-apa," Vanila berusaha tersenyum.


Abraham menatapnya, tiba-tiba dia merasa mengingat sesuatu karena dia merasa tidak asing dengan kegiatan seperti itu. Seorang wanita, yeah.. seorang wanita selalu berada di bawahnya seperti itu. Sial... lebih baik dia tidak banyak berpikir agar tidak mengacaukan semuanya.


Bisa celaka jika sakit kepalanya datang di saat mereka sedang melakukan hal itu. Jadi dia akan memikirkan nanti agar kegiatan panas mereka tidak terganggu.


Vanila menikmatinya, dia tidak akan menyesali apa yang sedang mereka lakukan saat ini karena dia sudah membulatkan tekad. Setiap sentuhan yang Abraham berikan, otot tubuhnya yang berkeringat dan betapa tampan pria itu saat dilihat dari bawah sana, tidak akan dia lupakan.


Abraham mengabaikan ingatan-ingatan yang berkelebat di kepalanya. Senyuman wanita yang selalu ada di ingatannya mulai terlihat jelas, wajahnya juga samar-samar mulai terlihat jelas. Suara, dan juga beberapa hal mulai terlihat jelas.


Semoga saja benih yang diberikan oleh Abraham jadi. Seharusnya dia melakukan hal itu sejak lama untuk melawan sang kakak tapi memang selama ini dia tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun.


Mereka menyelesaikan malam menyenangkan mereka saat pukul tiga pagi. Abraham diam saja, mata tidak bisa terpejam karena dia sedang menyusun serpihan puzzle yang masih berantakan di dalam memorynya. Vanila sudah tidur, dia tampak kelelahan. Walau tubuhnya terasa sakit namun dia terlihat puas dengan apa yang sedang mereka lakukan.


Tatapan mata Abraham tidak lepas dari langit kamar. Renata, dia ingat memanggil nama wanita itu demikian. Dia juga ingat wanita bernama Renata memanggilnya Abraham. Dia sangat yakin jika itu adalah namanya tapi kenapa Vanila membohonginya saat tanpa sengaja memanggilnya demikian waktu itu?


Abraham melihat ke arah Vanila, entah untuk apa Vanila membohonginya dan dia semakin yakin jika ada yang disembunyikan oleh gadis itu darinya. Sungguh dia sangat ingin tahu, kenapa Vanila membohonginya. Pasti ada alasan untuk itu semua. Dia pasti akan tahu nanti, dia yakin ingatannya akan segera kembali tapi wanita yang bernama Renata?


Wajah diusap dengan kasar, dia sangat yakin dia memiliki hubungan spesial dengan Renata. Semua di luar perkiraan. Jika dia benar-benar memiliki hubungan spesial dengan Renata, lalu bagaimana dengan Vanila? Sial, dia tidak mungkin mengakhiri hubungannya dengan wanita yang bernama Renata tanpa sebab dan dia tidak bisa meninggalkan Vanila setelah menodainya lalu apa yang harus dia lakukan nanti?

__ADS_1


"Kenapa tidak tidur?" tanya Vanila yang terbangun karena sentuhan tangannya.


"Aku sedang berpikir," jawab Abraham.


"Apa? A-Apa kau sudah bisa mengingat sesuatu?"


Abraham memandangi ekspresi wajah Vanila yang terlihat gelisah, dia bahkan merasa jika Vanila tidak mau ingatannya kembali. Sungguh, dia sangat ingin tahu apakah tebakannya benar atau tidak.


"Tidak, aku hanya bermimpi kau menipuku karena sesuatu hal," Abraham mulai memancing.


"Menipu apa?" Vanila pura-pura tenang karena itu hanya mimpi.


"Entahlah, aku hanya bermimpi kau menipuku dengan sebuah alasan tapi kau benar-benar tidak sedang menipu aku, bukan?"


"Te-Tentu saja tidak. Untuk apa aku menipumu?" jantung Vanila berdegup karena pertanyaan itu.


"Baiklah, itu hanya mimpi saja. Betapa bodohnya aku mencurigai dirimu yang sudah menolongku? Maafkan aku tapi aku harap itu benar-benar mimpi saja karena jika kau benar-benar melakukannya maka aku tidak akan memaafkan dirimu jadi sebaiknya kau berkata jujur sekarang jika kau benar-benar menipuku. Aku akan memaafkan dirimu apa pun alasan yang kau miliki sehingga membuatmu harus menipuku," ucap Abraham.


Vanila diam saja, apa dia harus berkata jujur? Tidak, sekalipun Abraham berkata dia akan memaafkan perbuatannya tapi dia sangat yakin pria itu akan murka setelah tahu apa yang telah dia lakukan. Tidak ada satu orang pun yang tidak akan marah karena diculik lalu dibuat hilang ingatan. Sebaiknya dia tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi karena dia belum siap menerima kemarahan Abraham.


"Aku tidak menipumu, aku tidak melakukannya," ucap Vanila.


"Baiklah, aku minta maaf. Sebaiknya kita tidur," Abraham memberikan ciuman di dahi Vanila.

__ADS_1


Vanila berusaha tersenyum, tidak apa-apa. Dia sudah cukup bahagia seandainya Abraham akan murka nanti. Tetapi tidak untuk sekarang karena dia ingin menikmati waktu mereka lebih banyak.


__ADS_2