Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kau Tidak Diterima


__ADS_3

Marion membuatkan segelas minuman untuk Abraham. Walau dia tidak tahu siapa pria itu, tapi wajahnya yang mirip dengan Anatasya membuatnya mengambil kesimpulan jika dia adalah ayah biologis Anatasya. Walau Vanila tidak pernah mengatakan apa pun tentang ayah Anatasya tapi dia bisa menebak hal itu. Apakah dia harus menghubungi sang ratu atau Norman untuk memberitahu mereka akan kedatangan pria itu?


Setelah meletakkan minuman, Marion berlalu pergi. Dia masih melihat ke arah Abraham sebentar, dia sudah mendapat perintah dari Norman untuk menghubungi Norman dan mengatakan padanya jika ada yang datang. Oh, dia juga belum memberi laporan pada Norman jika sahabat Vanila datang berkunjung.


Abraham menunggu, tangis bayinya masih terdengar. Dia sangat ingin masuk ke dalam untuk melihat bayinya, tapi dia khawatir Vanila marah akan tindakannya. Sebaiknya dia menunggu sebentar, tindakan salah yang dia lakukan bisa membuat Vanila semakin membencinya.


Vanila masih berusaha menenangkan tangis bayinya, entah kenapa beberapa hari ini Anatasya begitu rewel. Dia juga tidak mau minum susu, kedua dadanya sampai terasa sakit luar biasa.


"Ada apa denganmu, Sayang?" Vanila mencoba menimang putrinya yang masih saja menangis. Apa dia harus menghubungi ibunya dan menanyakan hal ini? Sepertinya dia harus membawa Anatasya ke rumah sakit untuk mencari tahu apa yang sedang putrinya alami. Mungkin saja putrinya sedang sakit.


Karena tangisan putrinya masih tidak berhenti, Vanila membaringkannya ke atas ranjang. Dia keluar dari kamar karena dia ingin mencari Marion dan memintanya menyiapkan barang-barang Anatasya. Dia akan membawa putrinya ke rumah sakit.


Vanila tidak memperdulikan Abraham yang sedang duduk di ruang tamu, dia pergi ke belakang sambil memanggil Marion tapi hal itu dijadikan kesempatan bagi Abraham. Pria itu beranjak dan melangkah menuju kamar di mana tangisan putrinya masih juga terdengar.


Sebelum masuk ke dalam kamar, Abraham melihat di mana Vanila menghilang tadi lalu dia masuk ke dalam. Tatapan matanya tidak lepas dari bayi lucu yang sedang menangis di atas ranjang, Abraham melangkah mendekati putrinya dengan perlahan. Sebuah perasaan meluap di hati, apalagi setelah dia berdiri di sisi ranjang.


Tanpa sadar, senyuman menghiasi wajahnya melihat bayi manis yang begitu mirip dengannya. Vanila tidak akan bisa mengelak, bayi itu sudah jelas-jelas putrinya. Perasaan ingin menggendong putrinya meluap di hatinya. Padahal dia belum pernah menggendong bayi sebelumnya tapi dia bisa melakukannya.


Tanpa terasa air mata menetes saat Anatasya sudah berada di dalam dekapannya. Perasaan bahagia benar-benar memenuhi hatinya saat tangan kecil itu berada digenggamannya. Dia tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, dia tidak menyangka hari ini dia bisa menggendong darah dagingnya sendiri.


"Baby, ayo kita pergi ke?" ucapan Vanila terhenti, dia terkejut melihat Abraham berada di dalam kamar dan Anatasya berada di dalam gendongannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Vanila dengan nada tidak senang.


"Sttsss!" Abraham meletakkan jari ke bibir agar Vanila tidak berisik karena putri mereka tertidur di dalam gendongannya.

__ADS_1


Vanila diam, pantas saja putrinya sudah tidak menangis lagi. Apa putrinya tahu jika ayahnya berada di sana?


"Kau benar-benar jahat, Vanila!" ucapnya pelan.


"Kau begitu tega menyembunyikan putriku dariku.  Apa kau senang menyiksa aku seperti ini?"


"Jangan asal bicara, kau tidak tahu apa pun!" Vanila mendekatinya untuk mengambil Anatasya yang sudah tertidur.


"Apa maksudmu aku tidak tahu apa pun? Aku mencarimu ke mana-mana, aku ingin tahu keberadaanmu dan keberadaan bayi kita tapi kau bersembunyi seolah-olah aku tidak boleh menemukan keberadaannya. Kenapa kau begitu tega padaku, Vanila?"


"Sungguh lucu, Abraham," Vanila membaringkan Anatasya ke tempat tidurnya dan setelah yakin putrinya sudah pulas, Vanila beranjak dan mendekati Abraham.


"Aku tidak pernah lupa, satu hari pun aku tidak pernah lupa akan permintaanmu yang terakhir. Aku tidak bersembunyi dari siapa pun, aku berada di sini untuk menikmati hidupku. Aku juga tidak mengatakan akan kehamilanku karena aku tidak mau mengganggu hubunganmu dengan tunanganmu. Kau sendiri yang meminta aku untuk tidak muncul di hadapanmu lagi, bukan? Jadi jangan berkata seolah-olah aku yang berbuat kejam di sini dan asal kau tahu, kau juga mencari aku setelah kau tahu aku sedang hamil anakmu. Jika kau tidak mendapatkan kabar itu, apa kau akan mati-matian mencari aku? Jangan kau kira aku tidak tahu apa pun, Abraham!" ucap Vanila sinis.


"Aku tahu aku salah, Vanila. Aku minta maaf padamu, aku akan menebusnya," Abraham hendak meraih tangan Vanila namun Vanila menepisnya.


"Jangan seperti ini, Vanila. Aku ingin memperbaiki semuanya, jadi berikan kesempatan untukku."


"Tidak ada kesempatan, aku sangat menikmati hidupku di sini jadi jangan mengacaukan kehidupan tenangku!!" Vanila mulai mendorong tubuh Abraham untuk keluar dari kamarnya namun Abraham tidak bergeming. Sekuat apa pun Vanila mendorong, kakinya tidak bergeser sama sekali.


"Keluar kau dari kamarku, keluar!" teriak Vanila marah.


"Jangan berteriak, Vanila. Bagaimana jika bayi kita terbangun," Abraham meraih kedua tangan Vanila, dia tahu tidak akan mudah.


"Pergi dari rumahku, pergi!" kini Vanila mulai memukul dan menendang, dia tidak peduli dengan apa pun karena yang dia inginkan pria itu pergi dari rumahnya.

__ADS_1


"Stop, Vanila!" Abraham mendekapnya erat sampai membuat Vanila tidak bisa bergerak.


"Lepaskan aku, aku tidak sudi disentuh olehmu!" air mata mengalir karena emosi. Apa Abraham mengira dia mau bersama dengan pria itu lagi? Perlakuan kasarnya ada Bilt dan sahabatnya, tidak akan dia lupakan bahkan karena kejadian itu, dia dibenci oleh sahabat baiknya.


"Aku benar-benar minta maaf, Vanila," hanya itu saja yang bisa dia katakan karena dia tahu, Vanila yang saat ini tidak sama dengan Vanila yang waktu itu, yang menculiknya karena terobsesi.


"Lepaskan," pinta Vanila pelan.


"Jika aku melepaskanmu, kau mau berbicara denganku, bukan?"


"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Abraham. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing."


"Tidak, kita memang sudah memiliki kehidupan masing-masing lalu bagaimana dengan putri kita? Apa kau tidak memikirkan keadaannya?"


"Ada apa dengannya? Dia tetap bisa tumbuh seperti semestinya meskipun tidak ada kau jadi pergilah dan kembali pada tunanganmu!" Vanila berusaha melepaskan diri namun dekapan Abraham cukup kuat.


"Aku dan Renata sudah berakhir dan yang aku inginkan bersama denganmu dan bayi kita!"


"Ha.. Ha.., aku sungguh ingin tertawa. Jadi setelah kau berpisah dengannya lalu kau mencari aku dengan alasan bayi? Apa aku begitu menyedihkan, Abraham?"


"Kenapa kau mengambil kesimpulan demikian? Aku tidak seperti yang kau bayangkan!"


"Setelah semua yang terjadi, jangan mengira aku akan menangis  terharu karena kedatanganmu. Aku bukan wanita bodoh, aku tahu kau tidak menyukai aku sama sekali dan aku sudah tahu kau mencari aku karena aku sedang mengandung anakmu!" dengan kekuatan yang ada, Vanila mendorong Abraham sampai pria itu melepaskan dirinya.


"Kau benar-benar salah paham, Vanila."

__ADS_1


"Apa pun itu, aku tidak mau mendengar. Dulu aku menculikmu karena aku jatuh cinta padamu tapi sekarang sudah tidak lagi. Kau sudah melihat Anatasya, jadi pergilah segera!" Vanila melangkah keluar, dia ingin mencari Marion dan mengatakan jika mereka tidak jadi pergi ke rumah sakit.


Abraham diam saja, tatapan matanya tertuju pada bayi mereka yang sedang tidur. Ingin mengusirnya? Jangan kira dia akan pergi begitu saja. Vanila mau beranggapan seperti apa, dia tidak peduli. Dia akan tetap berada di sana sampai Vanila percaya jika dia serius dan sampai Vanila mau ikut dengannya kembali ke London.


__ADS_2