
Sonny belum juga pergi saat Abraham dan Gaston melangkah mendekati mobilnya. Ternyata dia terlalu meremehkan musuh dan mengira Abraham hanya pengusaha biasa namun nyatanya Abraham memiliki kemampuan.
Sewaktu dia dan Norman belum berselisih, Abraham pergi mengikuti Norman untuk latihan menembak. Norman calon raja selanjutnya yang dituntut untuk memiliki kemampuan berperang, dia bahkan pernah mengikuti pelatihan militer. Sebagai seoarang penerus dia dituntut untuk bisa menghadapi situasi apa pun apalagi bahaya selalu mengincar dirinya oleh sebab itu, Abraham selalu mengikuti Norman sehingga di juga memiliki kemampuan.
Senjata api yang dia miliki juga barang legal. Di kota itu memang mewajibkan warganya memiliki senjata api untuk jaga diri, orang awam pun bisa membeli benda itu dengan mudah.
Gaston, dia adalah mantan militer yang bekerja sebagai asisten Abraham setelah mengundurkan diri dari kemiliteran. Malam ini, sepertinya Abraham bisa menggunakan kemampuan yang dia perlajari bersama dengan Norman. Tidak akan dia lepaskan siapa pun yang berani menyerangnya.
Sonny mengumpat, sepertinya dia akan kalah. Semua diluar rencana. Sebaiknya dia pergi terlebih dahulu lalu kembali menyerang dengan cara lain. Tidak membuang waktu, mobil dijalankan dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.
"Jangan lari!!" teriak Gaston sambil berlari. Pistol pun di tembakan sehingga mengenai badan mobil.
Renata mengumpat dari pesembunyian, sungguh bodoh. Dia yang menyerang dia yang lari tapi dia rasa Abraham tidak mungkin membiarkan Sonny lari begitu saja. Sesuai dengan dugaannya, Abraham dan Gaston sudah masuk ke dalam mobil lalu mobil mereka mengajar mobil Sonny.
Sekarang situasi menjadi terbalik, kini Sonny yang dikejar. Sang supir sudah bagaikan seorang pembalap, mobil dibawa dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil musuh.
"Aku harap mobil ini sudah kau asuransikan, Sir!" ucap sang supir.
"Tabrak saja, gulingkan mobilnya!" perintah Abraham.
Ijin sudah didapatkan, sang supir pun tidak ragu sama sekali. Mobil semakin dibawa cepat lalu, Brraakkk...... Benturan antara dua mobil pun terjadi.
Sonny berteriak marah, semua yang terjadi tanpa dia duga. Sekarang dia bagaikan kucing yang sedang berlari ketakutan. Sungguh memalukan. Sebaiknya dia mencari cara untuk mengakhiri semua itu. Benturan kedua mobil kembali terdengar, kini Gaston sudah berada di posisi menembak, dia akan membidik roda ban musuh untuk menggulingkannya.
__ADS_1
Senapan sudah siap di tembakan. Sonny melihat ke belakang dari kaca spion sambil memaki. Sepertinya dia harus ke tempat ramai agar bisa terhindar dari kejaran pria itu. Jangan sampai dia mati konyol sebelum membalas kematian Emely.
"Jangan sampai dia kabur, Gaston!" perintah Abraham.
"Tidak akan, Sir. Aku tidak akan membiarkannya pergi setelah menyerangmu!" senjata api sudah terbidik, tanpa menunggu aba-aba letusan senjata api terdengar.
Peluru melesat dengan kecepatan tingggi, mengarah ke arah mobil Sonny. Tidak saja satu peluru, peluru-peluru yang lain juga membidik ke arah mobil itu. Peluru-Peluru itu menghantam badan mobil milik Sonny, teriakan penuh amarah pria itu pun terdengar. Dia tidak terima, benar-benar tidak terima.
Sonny memerintahkan anak buahnya untuk membawa mobil dengan benar karena dia ingin menembak Gaston. Sebuah senjata api laras panjang sudah berada di tangan, lalu Sonny berdiri dan menghadap ke belakang.
Atap mobil yang terbuka mempermudah dirinya untuk membidik Gaston yang juga sedang berdiri, mereka saling membidik, Gaston menembak namun Sonny bisa menghindarinya.
"Kau tidak akan bisa membunuh aku dengan mudah!" teriak Sonny, senjata api pun di tembakan ke arah Gaston. Suara letusan senjata api memecah keheningan malam. Di sana peran sang supir sangat dipenting. Setiap kali Sonny menembak, mobil dibelokkan ke kiri dan ke kanan agar Gaston tidak terkena peluru yang di tembakan oleh Sonny. Aksi tembak menembak terus terjadi, suara letusan senjata api pun tiada henti terdengar namun senjata api mereka sudah kehabisan peluru sehingga mereka harus mengisinya kembali.
"Yes, Sir!" Gaston dan sang supir saling pandang dan mengangguk. Mobil dibawa dengan cepat dan Gaston pun berusaha untuk mengambil posisi namun Sonny sudah menembaknya terlebih dahulu.
Gaston menunduk, hampir saja kepalanya pecah oleh timah panas. Sonny tidak memberi kesempatan untuknya menembak karena setiap kali Gaston hendak mengambil posisi, Sonny menembak terlebih dahulu.
"Tabrak!!" perintah Abraham dengan nada kesal. Sang supir kembali menabrak mobil musuh, Sonny mengumpat dan kehilangan keseimbangan. Dia bahkan hampir terjatuh.
Itu saat yang paling tepat bagi Gaston untuk mengambil posisi. Pria itu sudah berdiri, senjata api pun sudah terbidik ke arah Sonny. Tanpa membuang waktu, Gaston menembakan senjata apinya ke arah Sonny.
Sonny mengumpat, timah panas menghujaninya tiada henti. Gaston mulai mengambil kendali, dia pun tidak memberi kesempatan untuk Sonny melawan balik. Timah panas yang dia tembakan mengenai lengan Sonny juga bahunya. Teriakan Sonny terdengar nyaring, umpatannya pun tak kalah nyaring akibat dua tembakan yang dia dapat.
__ADS_1
Sang supir pun berusaha mensejajarkan mobil mereka, Gaston masih juga menembak meskipun Sonny sudah kembali duduk di tempatnya.
"Pergi, bawa aku pergi dari sini!" teriak Sonny. Sebaiknya dia pergi jika tidak dia akan mati sia-sia. Anak buahnya tampak panik melihat keadaan bosnya, situasi memang tidak memungkinkan. Dia akan membawa bosnya namun tiba-tiba saja mobil mereka dibentur dari sisi kiri. Sonny kembali mengumpat, sang anak buah berusaha mengendalikan mobil dengan maksimal. Gaston menembaki mereka, sehingga membuat anak buah Sonny panik luar biasa.
Serangan yang tiada henti, peluru yang menghujani tiada henti dan mobil yang dibeturkan tiada henti membuatnya panik namun itulah yang direncanakan oleh Abraham. Dia mengingginkan Sonny dalam keadaan hidup.
Mobil terus membentur hingga hampir sejajar, Abraham sudah siap dengan senjata apinya. Gaston masih menembak walau meleset karena dia sengaja. Sonny pun mulai terlihat panik akibat serangan dari sisi kiri dan bagian atas.
"Sialan kalian semua!" teriaknya marah.
Sonny berpaling ke arah kiri, dia pun terkejut akibat mobil Abraham yang sudah sedikit maju dari pada mobilnya. Dia menebak mobilnya akan dihadang dari depan namun nyatanya? Praangg..... Terdengar suara kaca mobil yang pecah, disusul dengan kaca mobil miliknya yang pecah. Sonny terkejut begitu juga dengan supirya. Mata sang supir melotot, dia tidak bergerak sama sekali namun tidak lama kemudian sang supir jatuh ke setir mobil karena dua peluru yang di tembakan oleh Abraham menebus kepala dan juga lengannya.
Mobil berjalan tidak beraturan karena anak buah yang mengendalikannya sudah mati. Mobil itu meliuk ke kanan lalu ke kiri, berjalan tidak beraturan.
"Kurang ajar!" Sonny meraih setir mobil agar benda itu bisa berjalan dengan benar namun tubuh anak buahnya yang berada di setir mobil mempersulit dirinya untuk memutar setir.
Sonny sangat panik dan pada saat itu, Brakkk.... Satu benturan lagi dia dapatkan dan kali ini benturan itu membuat mobilnya yang sudah kehilangan keseimbangan berguling ke sisi jalan.
Renata yang masih melihat pun sangat kesal, tindakan buru-buru yang Sonny lakukan membuatnya kalah total. Sekarang dia tidak bisa lagi mengharapkan pria itu.
"Kakak adik sama saja!" cibirnya.
Sebaiknya dia pergi terlebih dahulu, dia pasti menemukan keberadaan Vanila Elouis dan menghabisinya. Dia yakin itu.
__ADS_1