
Setelah mobilnya berguling di sisi jajan, Renata dikepung oleh Gaston dan Sonny yang semakin mendekatinya dengan senjata di tangan. Renata semakin ketakutan, keluar salah tidak keluar pun salah. Dia dikepung dari berbagai sisi sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk lari.
Panik luar biasa yang dia rasakan. Renata melihat sekitar, anak buah ada di mana-mana. Norman dan Abraham melangkah mendekati mobilnya, mereka berdiri agak jauh untuk menunggu Renata keluar dari mobil.
"Kau ingin keluar sendiri atau salah satu dari kami yang menarikmu keluar!" ucap Abraham.
"Tolong lepaskan aku, Abraham. Aku akan menyerahkan diri pada pihak berwajib dan mengakui semua kesalahanku!" pinta Renata memohon. Kedua tangan tidak berhenti gemetar dengan hebat akibat rasa takut yang dia rasakan.
"Terlambat belasan tahun, Renata. Kau membunuh Emely dan membuat hubungan persahabatan kami berantakan. Kami tidak akan memaafkan perbuatanmu dan penjara pemerintah terlalu bagus untukmu. Aku sudah menyiapkan penjara spesial untukmu di istana!" ucap Norman.
"Tolong jangan lakukan hal itu, Norman. Dulu aku mencintaimu, aku membunuh Emely karena dia tidak mau mendekatkan aku denganmu. Dia begitu serakah ingin memiliki kalian berdua oleh sebab itu aku membunuhnya dan bersumpah akan mengambil pria yang dia cintai!" teriak Renata. Dia harap Abraham dan Norman bermurah hati setelah dia mengatakan hal itu.
"Jadi kau menjalin hubungan denganku karena kau ingin membalas perbuatan Emely?" tanya Abraham. Sungguh ironis dan menyedihkan.
"Itu dulu, Abraham. Tapi sekarang aku benar-benar cinta padamu. Aku sangat ingin menjadi istrimu tapi kemunculan Vanila Elouis menghancurkan segalanya!" teriak Renata.
"Minggir!" Vanila melewati kakak dan suaminya, "Kalian terlalu banyak basa basi. Langsung tangkap dan eksekusi. Tidak perlu basa basi!" ucapnya lagi seraya melangkah mendekati Renata.
"Mau apa kau?" teriak Renata. Dia berusaha mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melawan Vanila tapi sayangnya tidak ada.
"Keluar sekarang juga!" ucap Vanila.
"Tidak akan, pergi kau. Semua yang terjadi gara-gara kau!!" teriak Renata.
"Keluar kau!" Vanila berteriak lalu menghantamkan helm yang dia bawa ke kaca mobil yang ada di sisi Renata.
"Hentikan, kau benar-benar gila!" teriak Renata marah. Jika kaca mobil itu terbuka maka dia akan ditarik dengan mudah walau kaca mobil bagian depan sudah hancur.
Vanila terus memukul sampai akhirnya kaca pecah, Abraham dan Norman lagi-lagi menjadi penonton. Renata berteriak saat Vanila sudah membuka pintu dan menariknya keluar. Vanila bukan menarik baju atau lengan Renata tapi yang dia tarik adalah rambut Renata.
"Lepaskan rambutku!" teriak Renata. Kedua tangan berada di rambutnya yang ditarik oleh Vanila.
"Aku akan menarikmu sampai keluar sekalipun rambutmu sampai botak!" ucap Vanila. Helm yang dia pegang terjatuh karena Vanila menggunakan kedua tangannya untuk menarik rambut Renata.
"Sakit, lepaskan rambutku!" Renata masih juga berteriak, rammbutnya sudah tercabut banyak akibat ditarik oleh Vanila sampai tubuhnya keluar. Tidak ada yang melerai, mereka semua jadi penonton begitu juga dengan Abraham dan Norman yang masih menonton.
__ADS_1
"Apa masalahmu padaku, Vanila Elouis?!" teriak Renata marah saat tubuhnya jatuh ke atas tanah.
"Banyak dan aku sudah tidak sabar memukul wajah palsumu ini!" setelah berkata demikian, Vanila memukul wajah Renata menggunakan tinjunya. Renata kembali berteriak, wajah cantik hasil operasinya jangan sampai hancur. Vanila tidak juga berhenti, hidung mancung hasil operasi yang Renata lakukan menjadi bengkok.
Umpatan dan makian Renata terdengar, Vanila tampak puas. Helm yang dia jatuhkan tadi diambil, Vanila kembali melangkah dan melewati Abraham dan kakaknya.
"Aku sudah puas, aku mau pulang dulu untuk memberi Ana asi," ucapnya.
Abraham dan Norman berpaling, melihat ke arah Vanila. Mereka pun saling pandang, sedangkan Vanila berjalan menuju motornya.
"Segera tangkap, aku tunggu di rumah!" teriak Vanila sambil melambai.
"Putri yang luar biasa," ucap Abraham.
"Awas dia setelah ini, aku harus tahu kenapa dia bisa melakukan itu semua!" ucap Norman.
"Interogasi pelan-pelan!" ucap Abraham.
Vanila sudah membawa motornya pergi, Norman dan Abraham berpaling melihat ke arah Renata tapi saat itu giliran Sonny yang sudah ditipu oleh Renata.
"Kurang ajar, beraninya kau menipu aku sehingga aku harus kehilangan anak buahku?" kini Sonny yang akan membuat perhitungan dengannya.
"Kau sunggu berani, aku akan membunuhmu karena kau telah membunuh Emely!"
"Kalian berdua sama saja , begitu bodoh dan pantas mati!" teriak Renata lagi. Dengan ucapannya itu, Renata mengakui jika dialah yang telah membunuh Emely.
Amarah Sonny meluap dihati, kedua tangan mengepal erat. Setelah membunuh adiknya, sekarang menipunya dan mengadu domba dirinya dengan orang lain. Bagaimana jika dia mati waktu menyerang Abraham? Dia akan mati sia-sia dalam keadaan tertipu dan itu sangatlah memalukan.
"Kurang ajar, aku tidak akan melepaskan dirimu!" tangan yang tadinya mengepal kini menghantam wajah Renata.
Teriakan wanita itu kembali terdengar, tidak saja wajah tapi Sonny juga menendang tubuh Renata. Abraham dan Norman yang tadinya menonton segera menghampiri Sonny. Jangan sampai wanita itu mati di tangan Sonny walau mereka tahu, sebagai kakak Emely, Sonny pasti yang paling terpukul dan marah akan kematian adiknya.
"Cukup!" Abraham memegangi kedua tangan Sonny sehingga pria itu berhenti memukul wajah Renata.
"Jangan menahan aku, biarkan aku membunuhnya karena dia harus membayar kematian adikku!" teriak Sonny dengan keras.
__ADS_1
"Kematian terlalu bagus untuknya, biarkan aku yang menghukumnya sehingga dia membayar semua perbuatan yang dia lakukan!" ucap Norman.
"Aku belum puas memukulnya!" kaki Sonny menendang, tubuh Renata yang sudah meringkuk di atas tanah menjadi sasaran empuk bagi tendangannya.
Renata hanya bisa berteriak dan menangis, dia tidak menduga kejahatan yang dia lakukan harus dia bayar hari ini juga.
Walau belum juga puas, namun emosi Sonny sudah sedikit mereda. Sonny tempak mengatur napas, tatapan penuh kebenciannya pun masih tertuju pada Renata.
"Aku harap kau mati mengenaskan, bi*ch!" ucapnya seraya meludahi tubuh Renata.
"Gaston, bawa dia ke Swedia. Jangan sampai lepas karena dia akan menjalani hukumannya di sana!" perintah Abraham.
"Yes, Sir!" pistol disimpan, Gaston memerintahkan anak buah yang ada untuk menangkap Renata.
"Jangan lakukan hal ini padaku, Abraham. Aku benar-benar minta maaf pada kalian. Semua ini karena aku mencintaimu, Norman. Jika Emely mau mendengarkan permintaanku maka aku tidak akan membunuhnya!" teriak Renata.
"Apa pun itu, kesalahan terbesar yang kau lakukan adalah meembunuhnya dan kami tidak akan memaafkan dirimu!" ucap Norman.
"Norman, tolong maafkan aku!" teriak Renata saat dia mulai diseret pergi.
Norman tidak peduli, Renata pun berteriak pada Abraham, Mungkin saja Abraham bermurah hati.
"Maafkan aku, Abraham. Mengingat hubungan kita yang pernah terjalin aku mohon maafkan aku!" pintanya.
"Bawa, Gaston. Aku muak!"
Teriakan Renata semakin menjadi saat dia ditarik semakin menjauh. Sekalipun dia memohon, ketiga pria itu tidak mempedulikan dirinya.
"Aku benar-benar minta maaf karena hampir mencelakai dirimu," ucap Sonny pada Abraham.
"Tidak perlu dipikirkan, kau hanya tertipu."
"Sekali lagi aku minta maaf pada kalian karena sudah salah sangka. Aku harap kau memberikan hukuman yang pantas untuknya," kini dia berbicara pada Norman.
"Itu sudah pasti!"
__ADS_1
"Jika begitu aku pergi!" Sonny melangkah pergi, dia akan mengunjungi makam adiknya terlebih dahulu sebelum kembali ke New York.
Norman dan Abraham pun pergi dari tempat itu. Norman akan kembali ke Swedia untuk menghukum Renata namun dia ingin menginterogasi adiknya terlebih dahulu.