
Bilt baru saja masuk ke umah Vanila, dia sengaja mampir sebentar sebelum pergi bekerja. Dia sangat berharap Vanila kembali ke rumah itu apalagi dia sudah mendapat informasi jika rekaman yang dia kirimkan sudah tiba ke London dan sudah berada di tangan Abraham.
Harapan Vanila dilepaskan oleh Abraham sangatlah besar namun ternyata, Vanila tidak juga kembali. Hal itu membuat Bilt heran dan penasaran, apa dia sudah salah menebak? Jangan-Jangan Vanila memang sudah pergi tanpa pamit dengannya, jangan katakan jika dia memang sudah salah mengira. Jika sampai hal itu terjadi maka apa yang dia lakukan sia-sia saja dan jika memang demikian dia akan memberikan jitakan mematikan untuk sahabat gilanya itu.
Untuk memastikan kecurigaannya itu, Bilt memeriksa semua rumah dengan teliti. Semua barang-barang milik Vanila sudah tidak ada. Pemuda itu terlihat berpikir, jika seandainya Vanila dibawa pergi oleh Abraham, tidak mungkin semua barang-barangnya diambil.
Abraham pasti akan langsung menculiknya dan membawanya pergi tanpa mempedulikan barang-barang miliknya. Tunggu, sepertinya ada yang dia lewatkan dan dia merasa jika dia yang sudah salah sejak awal. Bilt berpikir dengan keras lalu umpatannya terdengar. Sial, penculik mana yang menculik orang plus barang-barangnya? Bahkan Vanila tidak melakukan hal itu saat menculik Abraham.
"Dasar kau bodoh, Bilt. Kenapa kau tidak memikirkan hal ini sebelumnya?" Bilt mengusap wajah, "Sepertinya otakmu sudah terendam oleh minuman sebab itu kau jadi bodoh!" ucapnya pada diri sendiri.
Bilt mengumpat seraya keluar dari kamar, kenapa dia begitu bodoh? Sudah dipastikan jika Vanila pergi tanpa pamit darinya tapi dia justru mengirimkan rekaman itu pada Abraham karena salah paham. Sial, dia jadi menyesal. Seharusnya tidak dia kirimkan karena dia lebih senang Abraham ditipu oleh tunangannya itu.
Memang sedikit jahat tapi dia lebih suka Abraham Aldway hancur karena dia sudah berlaku kasar pada Vanila. Seandainya bisa diambil kembali, dia akan mengambil rekaman itu dengan senang hati agar paket yang dia kirimkan tidak sampai ke tangan Abraham karena dia cocok ditipu oleh wanita. Jika ada Abraham di hadapannya saat ini, akan dia cibir sampai mati.
"Sial, aku justru menyelamatkan dirinya dari rubah busuk itu. Semoga saja setelah ini kau ditipu oleh wanita lainnya lagi!" ucap Bilt kesal.
Sebaiknya dia lupakan Abraham dan memikirkan ke mana Vanila pergi. Dia benar-benar terlambat menyadarinya, dia justru salah paham yang membawa keuntungan bagi Abraham. Sungguh dia tidak rela. Bilt melangkah menuju ruang tamu karena dia ingin mencari sesuatu . Mungkin saja Vanila meninggalkan surat untuk dirinya.
Bantal mulai dibongkar, Bilt mencari dengan teliti namun kegiatannya terganggu oleh suara pintu yang diketuk dan juga terdengar suara teriakan seseorang.
"Vanila, sudah saatnya membayar uang sewa," itu adalah pemilik rumah yang ingin menagih uang sewa.
Bilt melangkah menuju pintu, seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu dan melihatnya dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Siapa kau? Mana Vanila?" tanya wanita itu sambil menatap Bilt dengan tatapan heran.
"Maaf, Nyonya. Vanila tidak tinggal di sini lagi," ucap Bilt.
"Kenapa? Apa kau yang akan menggantikannya menjadi penghuni rumahku ini?"
"Oh, tidak. Aku hanya datang untuk mengambil barang-barangnya," dusta Bilt.
"Jika begitu segera kosongkan karena aku akan menyewakannya pada yang lain."
"Tentu," ucap Bilt. Dia kembali masuk setelah si pemilik rumah itu pergi. Bilt tidak menyadari jika ada yang mengawasi dirinya dari kejauhan dan tentunya itu adalah anak buah Norman.
"Seorang pria terlihat berada di rumahnya," sang anak buah melapor.
"Selidiki lebih jauh agar tidak salah tangkap!" perintah Norman.
"Yes, Sir!" anak buah yang sudah terlatih kembali menjalankan perintah. Mereka mengawasi Bilt, sedangkan pemuda itu tidak tahu sama sekali. Bilt keluar dari rumah Vanila, dia tidak akan kembali ke rumah itu lagi karena pemiliknya sudah meminta rumahnya kembali.
Motor dijalankan, Bilt pergi ke bar. Dia akan mencari keberadaan Vanila nanti karena dia yakin Vanila tidak akan pergi jauh dari tempat itu. Semoga saja dia menemukannya, kepalan tangan sudah siap menjitak kepala gadis gila itu. Anak buah Norman mengikuti Bilt sampai tiba di Bar. Sekarang mereka yakin jika Bilt target yang harus mereka tangkap tapi mereka harus memberi laporan.
"Sir, mereka bekerja di bar yang sama," begitu mendengar perkataan anak buahnya, Norman sangat marah. Dia yakin jika pria itulah ayah dari anak yang dikandung oleh adiknya. Teman kerja lebih meyakinkan karena mereka bisa terlibat asmara.
"Tangkap pria itu dan bawa!" perintah Norman. Akan dia siksa pria itu di hadapan Vanila agar dia melihat jika pria itu tidak pantas hidup.
__ADS_1
"Yes, Sir!" anak buahnya memantau, melihat ke arah Bar. Mereka akan menangkap Bilt saat ada kesempatan karena pemuda itu sudah masuk ke dalam bar.
Bilt yang tidak curiga sejak tadi benar-benar tidak tahu jika dia sedang diincar oleh kakak Vanila. Dia melakukan pekerjaannya seperti biasa, membuat minuman untuk para tamu.
Semenjak Vanila tidak bekerja lagi, rasanya jadi aneh. Waktu bekerja tidak terasa lama karena mereka akan berbincang dan bercanda saat bekerja tapi sekarang, dia merasa bartender baru yang menggantikan Vanila tidaklah menyenangkan.
Bilt merasa pekerjaan itu mulai membosankan, dia tidak bersemangat sama sekali. Itu sebabnya ketika pulang dia terlihat begitu lesu. Para anak buah Norman masih berada di sana, menunggu Bilt keluar dan ketika pemuda itu terlihat, mereka langsung mengelilingi Bilt tanpa ragu.
Bilt terkejut karena puluhan orang mengelilinginya. Siapa mereka? Jangan katakan jika mereka adalah anak buah Abraham yang hendak menangkapnya. Itu bisa saja terjadi mengingat rekaman yang dia kirimkan.
"Apa mau kalian?" tanya Bilt seraya menghampiri motor dan mengambil helmnya.
"Kau harus ikut kami!" ucap salah satu dari mereka.
"Katakan pada bos kalian, seharusnya dia berterima kasih padaku karena aku telah mengirimkan video akan kebusukan tunangannya jadi dia tidak perlu menangkap aku!" Bilt masih juga salah paham dan mengira mereka utusan Abraham.
"Tidak perlu basa basi, tangkap!"
"Kurang ajar, katakan pada Abraham aku akan membuat perhitungan dengannya setelah ini!" teriak Bilt marah. Dia mulai melawan, entah apa yang diinginkan oleh Abraham tapi kali ini dia akan melawan namun perlawanannya sia-sia karena satu pukulan keras di belakang kepala membuatnya pingsan.
Bilt segera diamankan untuk dibawa ke Swedia. Laporan akan penangkapannya pun sudah didengar oleh Norman. Sebuah cambuk berduri pun sudah dia siapkan untuk menghajar pemuda yang sudah menghamili adiknya namun sesungguhnya ayah dari bayi yang diikandung oleh Vanila belum mengetahui hal itu sama sekali.
Selama beberapa hari Abraham terbaring karena sakit. Entah apa yang terjadi tapi yang pasti dia tidak ingin melakukan apa pun tapi besok, dia akan mendapat kejutan yang tidak pernah dia duga sama sekali.
__ADS_1