Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kembali Ke Australia


__ADS_3

Renata sangat heran karena tiba-tiba saja dia mendapat kabar jika Abraham akan pergi ke Australia. Dia sungguh tidak mengerti apa yang telah terjadi bahkan Abraham tidak mau menjawab setiap pertanyaan yang dia berikan. Semenjak kembali dari Australia, sikap Abraham benar-benar berubah.


Sosok pria yang dulu begitu mencintainya seperti hilang entah ke mana. Abraham benar-benar begitu asing, perhatian yang selalu dia berikan pun hilang bahkan mereka tidak pernah bermesraan lagi setelah itu.


Abraham sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas saat Renata masuk ke dalam kamar. Renata semakin tidak bisa memahami Abraham yang berubah begitu saja.


"Aku dengar kau mau pergi ke Australia, apa benar?" tanya Renata.


"Ya, ada yang hendak aku lakukan di sana!" jawab Abraham tanpa melihat ke arahnya.


"Jika begitu aku ikut!"


"Tidak, aku tidak akan lama!"


"Kenapa, Abraham? Apa selama kau menghilang kau melakukan sesuatu yang tidak boleh aku ketahui?" tanya Renata curiga.


"Apa maksud pertanyaanmu, Renata?" Abraham menatap sang tunangan dengan tajam, "Apa kau mencurigai aku?" tanyanya lagi kini dengan nada tidak senang.


"Apakah tidak boleh? Setelah kau kembali, kau berubah. Kau tidak seperti dirimu lagi, Abraham!" teriak Renata marah.


"Sekali lagi kau berteriak, aku akan menendangmu keluar dari rumah ini!!" apa Renata tidak melihat situasi? Saat ini dia sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun apalagi dia sedang menahan amarah sedari tadi setelah tahu siapa pelaku yang telah membuatnya hilang ingatan.


Vanila Elouis, dia benar-benar tidak menduganya jika gadis itu begitu berani. Dia yakin jika semua yang Vanila lakukan sesuai dengan permintaan kakaknya tapi untuk apa? Rasanya tidak begitu yakin karena yang rugi adala Vanila sendiri. Apa pun alasannya, dia tidak peduli karena dia tidak akan memaafkan Vanila Elouis.


"Maafkan aku, Abraham. Aku hanya merasa kau berubah setelah kau kembali. Kau terlihat tidak mencintai aku lagi, kau juga tidak mempedulikan aku. Sikap yang kau tunjukkan padaku sebelum kau pergi tidak kau tunjukkan lagi. Apa kau sudah tidak mencintai aku? Kau sudah berjanji akan melamar aku tapi sampai sekarang tidak juga kau lakukan. Kenapa, Abraham? Apa rasa cintamu padaku sudah idak ada lagi?" Renata menangis dan menatapnya dengan tatapan sendu. Dia juga memasang ekspresi sedih.


Abraham menghela napas. Kakinya melangkah mendekati Renata. Apa yang dia lakukan? Renata tunangannya, tidak seharusnya dia memperlakukan Renata seperti itu. Apakah dia jadi bimbang antara Renata dan Vanila? Tidak, untuk apa dia bimbang. Vanila saudara dari musuh yang sangat dia benci, dia juga telah menipu dan menculiknya jadi dia tidak akan ragu lagi.

__ADS_1


Semua janji yang dia ucapkan pada Vanila akan dia lupakan karena semua janji itu sudah tidak berarti. Entah dia harus bersyukur atau apa atas kebetulan yang terjadi pada mereka. Seandainya Vanila bukan adik dari musuhnya dan seandainya Vanila memang orang yang telah menyelamatkan dirinya, apa yang akan dia lakukan? Tidak mungkin dia mencampakkan Renata dan tidak mungkin pula dia menikahi mereka berdua.


Tapi dengan kejadian yang telah terjadi, dia sudah tidak perlu memikirkan hal itu dan dia juga tida perlu ragu lagi untuk melamar Renata. Lagi pula dia memang ingin menikahi Renata sejak awal jadi tidak boleh ada kerahuan lagi dan dia tidak akan menundanya lebih lama.


"Maafkan aku, Renata. Aku sedang mengalami sedikit masalah. Aku harus pergi ke Australia untuk menyelesaikan masalah itu dan setelah aku kembali, aku akan melamarmu jadi kau tidak perlu khawatir," ucapnya. Memang ini yang seharusnya dia lakukan sejak awal. Bukankah dia memang sudah berancana melamar Renata begitu dia kembali berbisnis? Keinginan itu akan segera dia wujudkan.


"Apa kali ini kau tidak akan mengikari janjimu?" tanya Renata sambil menghapus air matanya.


"Tentu saja," Abraham mengangkat dagu Renata dan mencium bibirnya.


Renata sangat senang, sudah lama tidak dicium seperti itu. Tiba-Tiba dia jadi ingin melakukan se**x karena sudah lama Abraham tidak menyetuhnya.


"Abraham, sebelum kau pergi. Bolehkah?" tangan Renata sedang mengusap dada Abraham untuk menggodanya.


"Apa kau sedang menginginkan aku, Renata?"


"Jika begitu," Abraham mengangkat tubuh Renata dan menggendongnya, "Mari kita lakukan!" ucapnya.


Abraham kembali mencium bibir Renata penuh na*su dan membawanya menuju ranjang. Dia akan pergi setelah mereka selesai. Renata benar-benar senang, akhirnya Abraham yang seperti biasanya kembali lagi. Renata menikmati setiap sentuhan yang Abraham berikan karena mereka memang sudah lama tidak melakukannya.


Abraham mencium wajahnya, bibirnya dan setiap jengkal tubuhnya tapi sosok seorang gadis mulai menghantui pikirannya. Tatapan matanya, ekspresi wajahnya dan air mata pertama yang dia lihat saat mereka melakukan hal itu. Abraham mengumpat dalam hati,  apa yang sedang dia pikirkan?


Renata sudah dipenuhi hawa na*su, dia sudah sangat menginginkan Abraham namun ketika sudah saatnya Abraham menyatukan tubuh mereka, Abraham tampak diam saja seperti kehilangan minatnya.


"Ada apa?" tanya Renata heran.


"Tidak!" Abraham menyingkir dari atas tubuh Renata dan duduk di sisi ranjang. Sial, kenapa dia justru mengingat wajah Vanila saat ini? Dia juga seperti melihat Vanila yang berada di bawahnya. Tidak benar, dia tidak boleh berfantasi akan gadis itu apalagi dia sedang bersama tunangannya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau berhenti?" Renata sungguh tidak mengerti.


"Lain kali kita lanjutkan," Abraham berbalik untuk memberikan kecupan di bibir Renata.


"Apa? Apa maksudmu?" Renata terlihat kesal. Dia sudah sangat menginginkannya tapi Abraham tidak mau menuntaskan hal itu.


"Aku sedang tidak berminat!" Abraham mengambil pakaiannya dan mengenakannya dengan cepat.


"Abraham, jangan tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini!" teriak Renata.


"Tunggu aku kembali, Renata. Aku akan melamarmu seperti yang kau inginkan!"


"Tapi jangan tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini!" Renata masih berteriak kesal.


"Segera bersihkan diri, aku pergi dulu!" Abraham mengambil tasnya dan melangkah keluar.


"Abraham, kau benar-benar keterlaluan!" teriak Renata marah.


Dia tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Ini penghinaan paling besar dalam hidupnya. Tidak, dia tidak boleh marah akan hal seperti ini karena Abraham bisa marah dan mencampakkan dirinya. Lebih baik dia bersabar, mungkin Abraham memang sedang tidak berminat.


Pakaian pun diambil satu persatu, tidak masalah karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Abraham. Pada saat itu tiba, jangankan kapal Yacht yang diinginkan oleh kakaknya, dia bisa meminta apa pun yang dia inginkan pada Abraham bahkan dia bisa menyingkirkan pria yang selalu mengganggunya dengan mudah agar rahasianya tetap aman.


Abraham bergegas pergi ke Australia tanpa menunda. Vanila Elouis dan kedua pria itu tidak akan dia lepaskan. Apakah dia harus menunjukkan pada musuhnya apa yang akan dia lakukan pada Vanila nanti?


Sekalipun terjadi peperangan dengan mereka berdua, dia tidak akan takut.  Mungkin dengan demikian permusuhan di antara mereka bisa terselesaikan tapi sekarang, hukuman apa yang pantas didapatkan oleh Vanila dan kedua rekannya? Rasanya langsung membunuh mereka tidaklah cukup.


Jika begitu, akan dia siksa mereka pelan-pelan terutama dalangnya. Tidak peduli sekalipun dia wanita karena baginya sama saja.

__ADS_1


__ADS_2