Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Sudah Terlambat


__ADS_3

Sepiring makanan yang entah apa didorong masuk ke dalam jeruji besi. Renata melihat makanan itu dan terlihat kesal. Sudah dua hari dia tidak makan. Semua itu gara-gara makanan aneh yang entah apa diberikan oleh anak buah Norman. Makanan itu seperti bubur berwarna putih dan dia tidak sudi untuk memakannya. Walau Renata sudah berusaha membuka borgol yang ada di tangan, namun borgol itu tidaklah mudah dilepaskan.


Kedua tangannya bahkan sudah terluka akibat goresan borgol karena dia terus mencoba mengeluarkan kedua tangannya dengan paksa namun usahanya sia-sia. Renata mengumpat dan memaki, piring makanan ditendang sampai isinya keluar. Itu sudah piring entah keberapa tapi tidak ada yang peduli dia mau makan atau tidak.


"Keluarkan aku dari sini, aku mau ke kamar mandi!" teriak Renata penuh emosi.


Tidak ada yang peduli, anak buah Norman bahkan tidak peduli dengan teriakan dan makian yang dia ucapkan selama dia berada di sana.


"Apa kau mendengarkan aku? Apa kau ingin aku buang air besar di sini?" teriak Renata lagi.


Kedua anak buah yang berjaga saling pandang, salah satu dari mereka memberi aba-aba lalu salah seorang dari mereka melangkah pergi untuk mengambil sesuatu. Renata terlihat senang, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk lari. Dia akan mencari sesuatu untuk membuka borgol itu lalu lari.


Seutas rantai sudah didapatkan. Pintu jeruji besi dibuka lalu salah seorang mendekati Renata. Rantai yang dibawa digunakan untuk merantai borgol dan setelah itu Renata ditarik keluar dari penjara dengan paksa. Renata berteriak marah, tubuhnya bahkan terjungkal ke depan beberapa kali.


"Apa kalian tidak bisa berhenti menarik aku?!" teriaknya marah.


"Cepat!" perintah anak buah Norman yang menariknya. Sungguh tawanan yang merepotkan.


Renata berusaha menahan diri, dia akan diam demi tujuannya. Tubuhnya di dorong masuk ke dalam kamar mandi yang sempit. Tidak ada lubang udara di kamar mandi tersebut, Renata kembali mengumpat. Jika seperti itu, bagaimana dia bisa melarikan diri?


"Cepat, jangan membuang waktu!" terdengar teriakan anak buah Norman lagi.


"Cih, aku baru saja masuk!" teriak Renata kesal. Tatapan mata melihat sekitar, penutup closet bahkan dibuka karena dia ingin mencari sesuatu tapi sayangnya yang dia cari tidak ada. Renata tidak menyerah, dia hanya butuh sebuah benda runcing dan tipis untuk membuka borgol itu namun di kamar mandi benar-benar bersih. Sungguh penjara yang menakutkan.

__ADS_1


Agar tidak dicurigai, air pun berbunyi. Mau tidak mau Renata keluar dari kamar mandi. Gagal, niatnya untuk melarikan diri gagal. Renata kembali ditarik menuju jeruji besi. Dia masih berusaha mencari cara untuk melarikan diri. Renata berusaha lari tapi gagal karena rantai yang terhubung dengan borgol tertarik sehingga dia terjatuh.


"Sial!" teriaknya.


"Jangan coba-coba untuk lari jika tidak hukuman yang akan kau dapatkan menjadi dua kali lipat" ucap salah satu anak buah Norman. Mereka tidak menunggu Renata berdiri, tubuh Renata ditarik menuju jeruji besi yang akan mengurungnya.


"Lepaskan aku dari sini!" Renata kembali meneriakkan hal yang sama.


Lagi-Lagi tidak ada yang peduli. Tubuhnya di dorong ke dalam jeruji besi. Renata menendang dan memaki, dia masih melakukan hal itu sampai Norman masuk ke dalam karena dia sudah kembali dari London.


"Sepertinya kau begitu bersemangat, Renata."


Renata melihat ke arahnya, "Norman," satu kata itu terucap, perasaan takut melanda karena dia tahu kedatangan pria itu bukan pertanda bagus untuknya.


"Jangan lakukan, Norman. Aku tahu aku salah, aku minta maaf padamu. Aku mohon kau mau memberikan kesempatan untukku. Aku akan menebusnya!" pinta Renata memohon.


"Belasan tahu, Renata. Belasan tahun sudah berlalu. Sudah berapa banyak kesempatan yang kau lewatkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan jahatmu. Seharusnya kau melakukannya, mengakui kesalahanmu tapi kau justru begitu menikmati kehidupanmu. Jika kami tidak tahu akan hal ini, aku rasa kau juga tidak akan pernah mengakui perbuatanmu!"


"Itu semua karena aku mencintaimu, Norman. Aku begitu mencintaimu oleh sebab itu aku membunuh Emely!" teriak Renata.


"Kau mencintaiku? Sungguh lucu, Renata!" cibir Norman. Dia benci dengan wanita yang melakukan sesuatu mengatasnamakan cinta padahal tidak seharusnya Renata membunuh Emely hanya karena perasaan yang dia miliki untuknya.


"Aku tidak bohong, aku benar-benar mencintaimu," semoga saja Norman berbaik hati.

__ADS_1


"Hentikan omong kosongmu, Renata. Jika kau mencintaiku waktu itu, kenapa kau tidak mendekati aku dengan usahamu? Kenapa harus melalui Emely? Aku tidak percaya kau tidak memiliki keberanian hanya untuk mendekati seorang pria saja."


Renata menunduk, tidak bisa berkata-kata. Dulu dia meminta bantuan Emely agar lebih cepat dekat dengan Norman tapi penolakan yang dilakukan oleh Emely justru membuatnya gelap mata. Dia selalu berkata, semua yang terjadi karena Emely tidak mau mengikuti apa yang dia inginkan.


"Aku pikir dengan adanya Emely, aku bisa cepat dekat denganmu, Norman. Tapi dia tidak mau membantu aku, tidak mau memperkenalkan aku denganmu oleh sebab itu aku membunuhnya karena dia begitu serakah ingin memiliki kalian berdua!"


"Sungguh alasan konyol yang tidak masuk akal! Aku tidak akan memaafkan dirimu, Renata. Sungguh. Aku pasti memberikan siksaan untukmu dan membuat kau tidak bisa melihat cahaya matahari lagi!"


"Jangan Norman, jangan. Sekarang juga serahkan aku ke polisi, aku siap menjalani hukuman bahkan sampai seumur hidupku!" ucapnya. Tidak ada yang lebih baik dari pada penjara dari pada berada di sana lalu mendapat siksaan yang entah apa.


"Sudah aku katakan, terlambat! Bawa dia keluar, ikat di tiang!" Jawab Norman seraya memberi perintah pada anak buahnya.


Pintu jeruji besi kembali dibuka, Renata berteriak saat dia kembali ditarik keluar dan ditarik menuju tiang di mana Bilt diikat waktu itu. Renata berusaha meronta, kakinya menendang sana sini namun dia kalah tenaga apalagi dia tidak makan. Seharusnya dia makan walau makanan itu menjijikkan tapi sekarang, dia justru kehabisan tenaga dan tidak bisa melawan sama sekali.


"Lepaskan aku, Norman. Aku mohon padamu!" teriaknya ketakutan.


"Sudah aku katakan, simpan tenagamu!" Norman menggulung lengan kemejanya, Renata terlihat semakin ketakutan. Dia tahu Norman tidak main-main dan tidak akan berbelas kasih meskipun dia wanita.


Entah kenapa tiba-tiba dia merasa menyesal telah membunuh Emely karena saat ini dia berharap Emely ada di antara mereka untuk menenangkan amarah Norman. Mungkin dengan demikian Norman tidak jadi menyiksa dirinya. Mata Renata melotot saat seorang anak buah Norman menghampiri Norman dan memberikan sebuah cambuk berduri. Cambuk itu tidak jadi digunakan untuk Bilt tapi kini, cambuk itu akan berguna untuk Renata.


Rasa takut yang dia rasakan membuat tubuhnya gemetar, jantungnya bahkan hampir copot keluar saat tali cambuk di pecutkan dan menghantam lantai. Norman terlihat serius, dia sudah melangkah mendekati Renata dan menatap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian.


"Jangan, Norman. Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf!" teriak Renata memohon. Air matanya mengalir dengan deras namun semua ketakutan, permohonan dan air mata yang dia tunjukkan tidak membuat Norman menghentikan niatnya untuk menghukum wanita itu karena Renata harus membayar kematian Emely dan juga yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2