Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Tiga Pelaku


__ADS_3

Vanila tidak bersemangat setelah kepergian Abraham. Entah sudah berapa lama pria itu pergi, dia sendiri tidak tahu. Seharusnya dia tidak perlu bersedih seperti itu karena sejak awal mereka memang tidak memiliki hubungan apa pun bahkan kata cinta saja tidak pernah diucapkan.


Dia kira dengan kenangan yang mereka miliki sudah cukup tapi ternyata, kenangan-kenangan itu justru membayanginya sehingga rasa rindu yang dia rasakan semakin besar seakan hendak membunuhnya dengan perlahan.


Rasanya sudah tidak sabar menunggu kedatangan Abraham, walau dia tahun kedatangannya bukan untuk hal yang baik. Walau sesaat, dia sangat ingin melihat wajah pria itu agar rasa rindunya dapat terobati.


Selama ini dia juga selalu bergerak hati-hati agar tidak tertangkap oleh orang-orang yang diutus oleh kakaknya. Dia tidak mau tertangkap dan dia juga tidak mau keluarganya terlibat karena dia tahu, Abraham pasti akan mencarinya sampai dapat namun dia tidak tidak tahu, Abraham dan kakaknya adalah musuh.


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Bilt saat melihat Vanila sedang termenung. Sesungguhnya itu bukan pertama kalinya Vanila seperti itu, tapi Vanila sudah bertingkah seperti itu semenjak Abraham pergi.


"Aku baik-baik saja," Vanila berusaha tersenyum.


"Kau yakin?" tanya Bilt memastikan karena wajah Vanila terlihat pucat.


"Tentu saja, Bilt. Aku justru tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya."


"Tidak perlu berpura-pura. Kau sudah seperti ini sejak dia pergi, apa kau bisa menipu aku?"


"Aku tidak menipu, sungguh. Aku merasa lebih baik sekarang. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, ucap Vanila sambil tersenyum.


"Ck, aku benar-benar tidak senang melihat keadaanmu yang seperti ini. Kau tidak seperti dirimu yang biasanya. Seharusnya kau tahu sejak awal jika dia tidak akan pernah menjadi milikmu. Sebab itu jangan pernah bermain-main dengan perasaan. Kau lihat keadaanmu sekarang? Sudah hampir dua bulan dia pergi tapi kau masih saja seperti ini. Kau benar-benar menanggung akibatnya sekarang!"


"Aku tahu, Bilt. Terima kasih, aku akan berusaha melupakannya. Lagi pula sudah saatnya aku mencari cinta baru. Apa kau mau mendaftar?" goda Vanila.


"Tidak mau, aku tidak mau dengan gadis gila seperti dirimu!" tolak Bilt.


Vanila terkekeh, lebih baik dia kembali bekerja. Vanila beranjak namun tiba-tiba saja dia merasa aneh. Kepalanya sakit, dia juga merasa sedikit mual. Sepertinya dia terlalu tenggelam dalam kesedihan sehingga membuatnya seperti itu.


Baiklah, apa yang Bilt katakan selalu benar. Dia yang sudah memulai terlebih dahulu jadi dia harus melupakan apa yang telah dia mulai. Sudah hampir dua bulan, apakah dia belum memiliki tanda-tanda akan hamil? Apakah bibit yang Abraham tanam di rahimnya belum juga jadi?


Sepertinya dia harus mencoba pergi memeriksakan keadaannya. Dia harap keinginannya untuk hamil bayi dari Abraham terwujud. Setidaknya dia memiliki sesuatu yang berharga dalam hidupnya yang bisa dia perjuangkan nanti seandainya dia tertangkap.

__ADS_1


"Ada apa?" Bilt bertanya karena Vanila tampak limbung.


"Tidak ada apa-apa, aku belum makan sejak pagi. Rasanya jadi ingin makan ayam goreng," jawab Vanila.


"Ck, aku mencium bau kebangkrutan!" ucap Bilt.


"Kau sangat tahu, Bilt. Aku ingin dua paha ayam, satu bungkus kentang goreng ukuran besar. Dua bagian dada dan burger double cheese. Tidak perlu pakai cola, aku tidak terlalu suka dengan minuman itu tapi aku ingin waffle dengan toping strawberry ice cream di atasnya."


"Astaga, kenapa begitu banyak?" tanya Bilt tidak percaya.


"Aku lapar, Bilt. Lagi pula obat untuk menyembuhkan rasa sedih adalah makanan," ucap Vanila sambil tersenyum.


"Baiklah, baik. Tapi apa kau bisa menghabiskan semua itu?" tanya Bilt tidak yakin.


"Semua itu untuk makan siang dan untuk makan malam."


"Menyebalkan, dasar tidak mau rugi!" gerutu Bilt.


Abraham memang sengaja memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Vanila karena jika Vanila melarikan diri, dia bisa menemukannya dengan mudah. Para anak buahnya menyamar menjadi para tamu agar tidak ada yang curiga, lagi pula di antara banyaknya para tamu tidak akan ada yang curiga sama sekali.


Setelah kembali, Abraham menyembuhkan ingatannya yang hilang sambil menunggu Gaston mencari tahu siapa yang telah memukul kepalanya malam itu. Tentunya semua ingtannya sudah kembali berkat bantuan seorang dokter yang dia datangkan dari jauh.


Abraham berada di kantornya saat itu, pria itu berdiri di depan jendela dengan segelas minuman. Lagu Always yang dinyanyikan oleh penyanyi ternama terdengar dari ruanganya. Hari ini dia enggan melakukan apa pun. Tatapan matanya melihat keluar sana, pikirannya melayang.


Setelah semua ingatannya kembali, dia benar-benar marah begitu tahu Vanila telah menipunya dengan mengatakan jika dia dikejar oleh penagih hutang sehingga dia harus bersembunyi di dalam rumah tanpa berani pergi ke mana pun padahal anak buahnya mencari-cari dirinya begitu juga dengan Renata.


Sekarang dia semakin yakin jika Vanila terlibat bahkan dia curiga jika Vanila dalang dari apa yang dia alami. Jika bukan Vanila, lalu bagaimana dia bisa berada di rumah Vanila? Dia bahkan bisa menebak sekenario yang dimainkan oleh Vanila tapi dia tetap akan menunggu bukti yang akan dibawakan oleh Gaston hari ini.


Gaston melangkah lebar menuju ruangan bosnya. Memang dia sudah menemukan siapa pelaku yang telah membuat bosnya hilang ingatan. Pelakunya sungguh tidak terduga, bosnya pasti akan terkejut dan tentunya marah.


Abraham berpaling ke arah pintu saat Gaston membuka pintu dan masuk ke dalam. Abraham melangkah menuju meja, meletakkan gelas minuman dan lagu pun dimatikan karena dia ingin tahu kabar apa yang dibawa oleh asistennya.

__ADS_1


"Kabar apa yang kau dapatkan?" tanya Abraham tanpa basa basi.


"Gadis itu, aku rasa kau tidak akan meduganya," ucap Gaston.


"Apa maksud ucapanmu?" Abraham melihat ke arah sang asisten yang terlihat ragu.


"Sir, gadis itu adalah Vanila Elouis."


Abraham terkejut, matanya melotot ke arah sang asisten. Apa dia tidak salah mendengar nama? Elouis, dia benci nama itu bahkan mendengarnya saja dia tidak mau.


"Apa kau tidak salah?" tanya Abraham memastikan.


"Tidak, Vanila Elouis adalah saudara kandung dari musuh yang sangat kau benci."


Kedua tangan mengepal erat, darah mendidih di atas kepalanya. Jadi dia sudah menghabiskan waktu bersama dengan salah satu anggota keluarga musuhnya? Sungguh dia tidak senang sama sekali apalagi dia dan Vanila sudah melakukan hal yang lebih jauh.


"Lanjutkan, apa kau sudah mendapatkan bukti siapa yang telah memukul kepalaku sewaktu di hotel?" tanya Abraham.


"Tentu saja, salah satu pelaku adalah security hotel sebab itu rekaman cctv bisa di kamuflase dengan mudah. Waktu itu aku mengira kau pergi tapi setelah aku telusuri baik-baik, aku bisa mendapatkan rekaman aslinya," jelas Gaston.


"Siapa lagi yang lain?" perasaan jika Vanila terlibat semakin kuat.


"Seorang lagi bartender bar," Gaston mengeluarkan foto dua pemuda yang sudah terlibat lalu yamg terakhir foto seorang gadis yang sangat tidak asing bagi Abraham.


"Dan Vanila Elouis!" ucap Gaston saat meletakkan foto Vanila di atas meja.


Mata Abraham kembali melotot melihat foto Vanila. Ekspresi wajah Abraham berubah, dia bahkan terlihat sedang menahan amarah. Ternyata semua dugaannya benar jika apa yang dia alami diakibatkan oleh Vanila Elouis. Apa pria itu yang meminta Vanila melakukannya? Emosi memuncak, membuat darahnya semakin mendidih. Vanila Elouis, tidak akan dia lepaskan.


"Siapkan pesawat, aku akan pergi ke sana dan tangkap mereka!" perintahnya.


"Yes, Sir!" Gaston keluar dari ruangan, sedangkan Abraham mengambil foto Vanila dan meremasnya lalu dia melihat foto Bilt, orang yang dia lihat mengetuk pintu untuk menakutinya beberapa kali. Bagus... sungguh sekenario yang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2