
Bilt tersadar saat dia masih berada di dalam pesawat. Dia diikat dan didudukkan dikursi penumpang. Mulutnya disekap agar dia tidak bersuara. Beberapa orang duduk mengitarinya, Bilt menatap mereka dengan tatapan tajam. Dia sangat ingin tahu akan dibawa ke mana tapi dia tidak bisa berbicara sama sekali.
Tadinya dia mengira dia akan dibawa ke London karena Abraham yang menangkapnya tapi mendengar orang-orang itu berbicara menggunakan bahasa Swedia, dia jadi ragu jika Abraham yang melakukan hal itu. Tapi siapa yang menculiknya? Sial, jangan katakan seorang wanita tua kaya yang terosebsi dengannya saat berkunjung di bar. Mungkin saja ada Vanila kedua sehingga dia diculik seperti itu.
Tapi jika wanita tua itu kaya raya, boleh-boleh saja asal dia yang mendapatkan warisannya. Bilt mengutuk dalam hati, sial. Pikiran bodoh di saat situasi sedang genting. Dia rasa tidak ada lagi wanita gila seperti Vanila yang akan menculik pria yang dia sukai.
Kota sudah terlihat, pesawat itu sudah akan mendarat. Norman menunggu dengan tidak sabar karena dia sudah sangat ingin memberi hukuman pada orang yang sudah menghamili adiknya lalu tidak mau bertanggung jawab.
Dia sungguh tidak akan memaafkan perbuatan pria itu, cambuk berduri bahkan sudah sangat ingin dia gunakan tapi dia harus sedikit bersabar. Keputusan sang ayah untuk mengasingkan Vanila juga tidak bisa diganggu gugat lagi karena ayahnya menganggap Vanila akan banyak belajar selama di tempat itu.
Hari itu tidak saja Bilt yang akan dibawa ke sana namun seorang pemuda juga akan datang dan tentunya Norman akan mendapat kejutan dari tamu yang tidak diundang. Selama menunggu, Norman tidak tahu apa yang terjadi. Dia sibuk memikirkan apa yang akan dia lakukan pada pria yang sebentar lagi akan datang.
Bilt didorong dengan kasar untuk turun dari pesawat oleh anak buah Norman. Ikatan kaki dilepas tapi kedua mata ditutup agar dia tidak melihat ke mana dia akan dibawa. Bilt bertanya-tanya dalam hati, ke mana dia akan dibawa? Sepertinya kali ini dia terlibat dengan sesuatu yang lebih berbahaya dibandingkan waktu ditangkap oleh Abraham tapi apa? Dia sudah berpikir dengan keras namun tidak bisa menebaknya.
Bilt juga didorong masuk ke dalam mobil, dia sangat ingin melawan namun dengan mata tertutup juga kedua tangan terikat seperti itu membuatnya tidak bisa melakukan apa pun. Dia juga tidak bisa mengatakan apa pun karena ikatan di mulutnya.
Mobil yang membawanya sudah dijalankan, entah mau dibawa ke mana Bilt hanya bisa pasrah saja. Semoga saja dia masih bisa hidup sampai besok tapi seandainya dia mati, semoga saja dia mendapat makanan enak. Setidaknya dia mati dalam keadaan kenyang.
Entah sudah berapa lama yang pasti saat sudah tiba, dia dorong keluar dan kembali di bawa entah ke mana. Bilt di dorong masuk ke dalam sebuah penjara yang disiapkan khusus untuknya. Setelah itu dia ditinggalkan seorang diri. Rasa ingin tahu memenuhi hati, kedua tangan yang diikat ke belakang membuatnya tidak berdaya.
Norman sudah mendapat kabar jika pria yang dia inginkan berada di dalam penjara. Dia segera bergegas karena tidak sabar melihat pria yang sudah menghamili adiknya. Suara langkah kaki yang terdengar membuat Bilt waspada, dia sedang duduk di lantai penjara yang dingin sambil mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bawa dia!" perintah Norman.
Bilt mencoba mengenali suara itu tapi terdengar asing. Sekarang dia semakin yakin jika pria itu bukan Abraham. Sekarang otaknya sedang berpikir, siapa yang telah dia singgung? Tubuhnya diikat dalam keadaan berdiri, kedua tangan direntangkan. Ikatan di mulut dan juga penutup mata dilepas, Bilt melihat sana sini, dia tampak heran saat melihat Norman duduk tidak jauh darinya. Siapa?
"Siapa kau? Kenapa kau membawa aku ke sini dan di mana aku?" tanya Bilt.
__ADS_1
"Kau dilarang bertanya di sini karena yang boleh bertanya hanya aku!" Norman beranjak, mendekati Bilt. Seorang anak buah mendekatinya dan memberikan cambuk berduri untuknya.
"Apa maksud ucapanmu? Kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga kau membawa aku ke sini?"
"Kesalahan apa? Apa kau tidak tahu apa yang telah kau lakukan pada adikku?" teriak Norman marah.
"Tunggu dulu, siapa adikmu dan kesalahan apa yang telah aku lakukan padanya?" tanya Bilt. Sungguh dia belum bisa mengerti dengan situasi yang sedang dia hadapi saat ini.
"Jangan pura-pura melupakan seorang gadis yang sudah kau hamili lalu kau campakkan!"
"What?" Bilt terkejut. Wanita mana yang sudah tidur dan hamil anaknya?
"Tidak perlu pura-pura terkejut, aku akan membuat perhitungan denganmu karena kau sudah menodai adikku!" tali cambuk di pecut ke atas lantai sehingga menimbulkan suara pecutan yang mengerikan apalagi saat kepala cambuk berduri mengenai lantai.
"Tunggu dulu, siapa sebenarnya adikmu?" teriak Bilt. Dia sudah dicambuk oleh Abraham bahkan lukanya masih belum sembuh total. Jika dia kembali dicambuk oleh cambuk berduri itu, dia rasa dia tidak akan bisa bertahan.
"Sumpah demi apa pun. Aku tidak tahu apa maksud perkataanmu? Aku tidak pernah meniduri wanita mana pun jadi katakan padaku siapa adikmu?" teriak Bilt.
"Jadi kau sudah melupakan Vanila Elouis yang sudah kau tiduri sampai hamil?" kemarahan memenuhi hati. Dia tidak akan bermurah hati sama sekali.
"Apa?" Bilt terkejut mendengarnya. Vanila hamil? Yang benar saja tapi dia tahu pria yang sedang ingin menyiksanya saat ini tidak sedang berbohong.
"Sekarang kau sudah ingat, baj*ngan? Aku akan membunuhmu dan memukulmu sampai mati!" Norman sudah siap memecutkan cambuknya tapi Bilt berteriak sehingga Norman menghentikan niatnya.
"Bukan aku, aku seorang ga*y. Aku tidak mungkin tidur dengan Vanila!" teriaknya. Cari aman dulu dari pada dia harus dicambuk.
"Apa kau bilang?" Norman menatapnya dengan tatapan tajam. Apa dia sudah salah tangkap orang?
__ADS_1
"Aku gay, apa kau kira bendaku bisa bereaksi terhadap wanita? Tidak sama sekali. Aku dan Vanila hanya teman karena kami satu profesi, aku tidak mungkin menyentuhnya jadi bukan aku yang telah menghamilinya. Jika kau tidak percaya, ayo ke kamar denganku!" Sial, ini semua pasti perbuatan Abraham karena hanya dia saja yang tinggal dengan Vanila dan gadis itu? Begitu bodoh menyerahkan dirinya padahal dia sudah tahu jika pria itu tidak akan bisa menjadi miliknya.
"Jika bukan kau, lalu siapa pria yang tidur dengannya? Aku yakin kau pasti tahu jadi jawab pertanyaanku jika tidak aku akan mengurung dan menyiksamu sampai kau mati!" ancam Norman.
"Sebelum aku memberi tahumu, jawab dulu pertanyaanku. Siapa kau, dan kenapa kau bisa tahu keadaan Vanila?" tanya Bilt ingi tahu.
"Aku kakaknya, aku akan membunuh orang yang sudah mencampakkan dirinya!" ucap Norman.
Bilt mengumpat, luar biasa. Lagi-Lagi dia harus terlibat masalah karena Vanila Elouis. Sekarang, dia semakin ingin memukul kepala gadis gila itu. Tidak saja sudah menyeretnya ke dalam masalah tapi dia juga begitu bodoh tidak mendengarkan nasehat darinya tapi kesempatan ini bisa dia gunakan untuk melenyapkan Abraham yang sudah begitu berani menyakiti Vanila.
Dia sungguh tidak pernah menyangka mereka berdua akan melakukan perbuatan itu sampai membuat Vanila hamil. Memang bukan urusannya tapi mengingat perlakuan yang dilakukan oleh Abraham pada Vanila, benar-benar tidak bisa dia terima. Sudah menikmati manisnya madu milik Vanila tapi dia masih ingin membunuhnya, bukankah selama dia diculik oleh Vanila dia tidak mengalami kerugian sama sekali? Dia justru bisa menanam benihnya, sungguh belalang jantan yang jahat.
"Sekarang katakan padaku, siapa pria yang pernah menjalin hubungan dengan Vanila?" tanya Norman. Jika pria itu tidak bisa menjawab maka dia akan tetap menganggap jika pria itulah yang telah menghamili adiknya.
"Kenapa kau tidak pergi ke London untuk mencari seseorang di sana, aku rasa dialah pelakunya," jawab Bilt.
"Apa maksudmu?" mendengar nama London saja sudah membuatnya kesal.
"Carilah seoarng pria bernama Abraham Aldway, aku rasa dialah pelakunya."
"Apa?" Norman terkejut, tali cambuk sampai jatuh dari tangannya. Lagi-Lagi untuk kedua kalinya, dia merasa ada seseorang yang melemparkan bongkahan batu di kepalanya.
"Bicara yang jelas jika tidak aku akan memotong lidahmu!" ucap Norman dengan emosi memuncak.
"Untuk apa aku berbohong? Abraham dan Vanila pernah menghabiskan waktu bersama. Jika kau tidak percaya kau bisa menanyakan hal ini pada Vanila dan mencari pria bernama Abraham itu!" ucap Bilt lagi tanpa tahu permusuhan yang terjadi antara Norman dan Abraham.
Kedua tangan Norman sudah mengepal erat, emosi memuncak dan memenuhi hati. Kepalanya terasa panas, jika diibaratkan dengan cerbong kereta api, mungkin kepalanya saat ini sudah mengeluarkan asap. Norman melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun, kali ini dia benar-benar akan memberi pelajaran pada adiknya yang sudah berani menjalin hubungan dengan musuh lamanya. Apa mereka sengaja melakukan hal itu? Sungguh dia tidak terima dan dia akan memberikan hukuman untuk Vanila. Sekalipun ibunya memohon, dia akan tetap memberikan hukuman pada adiknya.
__ADS_1