Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Hari Yang Dinantikan.


__ADS_3

Saat membuka mata, sebuah gaun pengantin yang dilihat oleh Vanila. Gaun itu dikenakan di sebuah patung dan terlihat begitu indah. Vanila beranjak dari atas ranjang, rambut berantakan pun dirapikan. Tatapan matanya tidak lepas dari gaun pengantin yang entah kapan dibawa masuk ke dalam kamarnya.


"Selamat pagi, Nona," sapa sang pelayan yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Pagi, kapan gaun itu dimasukkan ke dalam kamarku?" tanya Vanila.


"Semalam, sewaktu Nona sudah tertidur. Bagaimana, gaun itu cantik, bukan?" nampan berisi sarapan diletakkan di atas meja, sang pelayan melangkah menuju jendela untuk membuka gorden.


Vanila turun dari atas ranjang dan melangkah mendekati gaun pengantin yang disiapkan untuknya. Gaun itu terlihat semakin indah setelah sinar matahari masuk ke dalam kamar. Gaun dihias dengan batu-batu permata yang mahal, itu gaun mahal yang disiapkan untuk seorang putri seperti dirinya.


"Nona pasti akan sangat cantik menggunakan gaun itu nanti," ucap sang pelayan.


"Ya, memang indah apalagi digunakan untuk menikah dengan orang yang kita cintai," jawab Vanila seraya menghela napas.


Akhirnya harinya tiba, hari ini dia membutuhkan banyak energi dan tenaga karena hari inilah dia akan mengungkapkan kehamilannya. Bermula dari sang calon suami lalu keluarganya akan tahu kemudian. Napas berat kembali dihembuskan, apa yang akan terjadi hari ini akan dia hadapi sendiri. Dia tidak akan takut atau lari seperti dia menghadapi kemarahan Abraham.


"Apa Nona memiliki seseorang yang dicintai?" tanya pelayannya.


"Orang yang dicintai?" Vanila diam sejenak namun dia kembali berkata, "Waktu itu ada tapi sekarang sudah tidak karena aku sudah mengubur perasaan itu di dalam hatiku."


"Kenapa terdengar seperti cinta tak terbalas, Nona?"


"Memang tidak, sebab itu aku sudah mengubur cinta itu sedalam mungkin," Vanila melangkah mendekati ranjang dan duduk sisinya.


"Tapi Nona sebentar lagi akan menikah, jadi Nona pasti bisa melupakan cinta itu."


"Kau benar," sarapan diambil. Dia memang sedang melupakan cinta pertamanya yang menyakitkan. Ini hari pertemuannya dengan sang calon suami, dia yakin calon suaminya tidak akan mau melanjutkan pernikahan mereka dan hari ini adalah hari penentuannya.


"Apa ada yang Nona inginkan?" tanya sang pelayan karena dia sudah mau keluar dari kamar.


"Ada, tolong singkirkan gaunnya," pinta Vanila.

__ADS_1


"Ah, Nona suka bercanda. Panggil aku jika ada yang Nona inginkan," sang pelayan pun keluar dari kamarnya.


Vanila menikmati makananya dalam diam, tatapan matanya tidak lepas dari taman istana yang bisa dia lihat dari jendela kamarnya. Kupu-Kupu terbang mengitari bunga-bunga yang ada, dia sangat ingin menjadi seperti kupu-kupu itu sehingga dia bisa terbang bebas. Semoga saja keinginannya dapat terkabul sebentar lagi.


Ibunya masuk ke dalam kamarnya saat itu, dia ingin tahu apakah putrinya suka dengan gaun pengantinnya atau tidak. Aliana menghampiri putrinya yang sedang termenung, Vanila bahkan terkejut saat ibunya duduk di sisinya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?"


"Tidak ada," Vanila melirik ke arah ibunya sejenak dan setelah itu kembali menikmati sarapannya.


"Apa yang Norman lakukan, Mom?"


"Kakakmu ada di kamarnya. Kau tahu ini tanggal berapa, bukan? Dia akan berkabung sebentar di dalam kamar."


"Sampai kapan kakak akan seperti itu? Bukankah kejadian itu sudah lama berlalu?"


"Entahlah, itu sebabnya dia jadi keras padamu. Jangan marah dengannya, dia memiliki trauma yang teramat dalam."


Vanila mengangguk, entah apa yang kakaknya alami selama berada di Inggris tapi sikapnya berubah drastis dan setiap tahun akan ada hari di mana dia akan mengurung diri di dalam kamarnya untuk mengenang seseorang.


"Aku akan bersiap-siap," Vanila tersenyum. Ibunya sangat heran karena Vanila terlihat tidak sabar padahal sebelumnya Vanila menolak pernikahan itu.


Vanila bersemangat karena itu adalah hari yang sangat dia nantikan. Senyum manis menghiasi wajah saat ibunya mengusap kepalanya perlahan. Tentunya hal itu semakin membuat ibunya heran tapi dia tidak mau memikirkannya karena dia kira Vanila sudah bisa menerima pernikahannya.


"Bagaimana gaunnya, apa kau menyukainya?" tanya ibunya saat melihat gaun pengantin indah milik putrinya.


"Sangat, gaun itu sangat indah."


"Mommy senang mendengarnya, segeralah bersiap sebelum kakakmu masuk ke dalam lalu bernyanyi tanpa henti."


Vanila terkekeh, kakaknya memang lebih cerewet dari pada ibunya. Tapi sebaiknya dia bergegas dari pada dia harus mendengar ocehan kakaknya yang tiada henti bagaikan kereta api.

__ADS_1


Setelah ibunya pergi, Vanila beranjak dan melihat gaun pengantinnya. Gaun yang benar-benar indah, jika pernikahannya sudah batal maka dia akan pergi dan dia juga tidak akan mengenakan gaun itu untuk seumur hidupnya karena dia sudah memutuskan untuk tidak menikah. Dia akan membesarkan anaknya seorang diri. Hal itu sudah cukup, dia tidak butuh yang lainnya.


Para pelayan istana begitu sibuk, acara penyambutan calon suami Vanila akan dilakukan dengan meriah. Dua orang pelayan yang ditugaskan untuk membantu Vanila mengenakan gaunnya sudah berada di dalam kamar. Sebuah gaun merah berada di atas ranjang, dia harus terlihat sempurna hari ini.


"Tolong jangan terlalu kencang," pinta Vanila saat seorang pelayan hendak mengikat tali dibagian perutnya.


"Tapi perutmu harus terlihat lebih kecil lagi, Putri," ucap sang pelayan.


"Nona tidak suka kencang-kencang jadi jangan terlalu kencang!" ucap pelayan yang selalu melayaninya.


"Jangan terlalu erat, kalian bisa membuat aku pingsan," dusta Vanila padahal yang dia khawatirkan adalah janinnya.


"Apa yang kalian debatkan?" Norman masuk ke dalam kamar adiknya. Dia ingin melihat apakah Vanila sudah siap atau tidak dan memastikan Vanila tidak akan bisa kabur lagi.


"Tidak ada, keluar dari kamarku!" usir Vanila.


"Kenapa? Apa kau pikir kau bisa kabur lagi, Vanila?"


"Aku sedang tidak ingin berdebat, Norman. Lagi pula aku bisa kabur ke mana? Penjaga begitu ketat, aku tidak bisa pergi ke mana pun!" ucap Vanila sinis.


"Bagus, jagalah sikap. Jangan membuat kami malu," ucap Norman mengingatkan.


"Bagaimana jika aku membuat kalian malu? Apa kau akan memukul aku dan mengusir aku dari rumah?"


"Apa yang sedang kau rencanakan, Vanila? Kau tidak sedang berencana mempermalukan kami, bukan?" tanya kakaknya curiga.


"Tidak, aku tidak merencanakan apa pun!" sangkal Vanila. Sepertinya kakaknya akan murka dan dia yakin ayahnya juga akan murka tapi tidak jadi soal, dia siap menerima konsekuensi dari apa yang telah dia lakukan.


"Bagus, setelah selesai segera keluar. Dia sudah mau datang!"


Vanila mengangguk, Norman keluar dari kamar. Rasa curiga jika adiknya memiliki rencana memenuhi hati namun berusaha dia tepis. Semoga saja kecurigaannya tidak terjadi. Setelah selesai dengan pakaian, wajah Vanila dipoles dengan sedikit make up tipis agar penampilannya semakin sempurna.

__ADS_1


Calon suami Vanila sudah tiba bersama dengan kedua orangtuanya. Vanila diminta keluar kamar untuk menyambut. Vanila membungkuk sambil mengangkat gaunnya untuk menyambut kedatangan seorang pemuda tampan yang tidak dia kenal sama sekali.


Pemuda itu melihatnya dan tersenyum, calon istrinya begitu cantik tentu dia tidak akan menolak. Vanila tersenyum manis, dia harus mencari kesempatan untuk berbicara dengan pemuda itu untuk mengatakan kehamilannya. Dia tahu dia akan mendapatkan amarah besar tapi demi kebebasan, apa pun akan dia lakukan.


__ADS_2