Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kau Harus Bertanggung jawab


__ADS_3

Suasana hening, Abraham melangkah maju, sedangkan Vanila melangkah mundur. Dia ingin lari, tapi kakinya terasa berat. Tidak ada yang bersuara, Vanila mencari cara, dia merasa lari tidak akan menyelesaikan masalah. Lagi pula tidak ada alasannya sehingga dia harus lari dari pria itu.


Senyum Vanila mekar, tapi bukan untuk Abraham, melainkan untuk Bilt. Benda yang tadinya jatuh dari tangan, diambil kembali. Dia harus terlihat biasa saja. Lagi pula pria itu berkata jika dia tidak boleh menunjukkan wajahnya lagi jadi dia akan menganggap pria itu tidak ada di sana.


Abraham menatapnya tanpa berkedip, dia jadi tidak tahu apa yang harus dia lakukan padahal dia sangat ingin memeluk Vanila tapi dia bisa melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Vanila padanya bukanlah ekspresi bersahabat bahkan wanita itu terlihat acuh tak acuh.


'Maaf aku menjatuhkannya, Bilt. Tanganku licin," ucap Vanila basa basi.


"Tidak apa-apa," ucap Bilt basa basi pula. Dia sudah tidakk sabar untuk pergi dari tempat itu.


"Apa kau yakin tidak mau menginap? Pintu kamarku terbuka lebar untukmu."


Bilt terkejut mendengar perkataan Vanila, matanya melotot menatap Vanila. Ekspresi wajah Abraham sudah terlihat menakutkan, punggung Bilt jadi terasa panas. Dia tidak berani berpaling, firasat buruk.


"Janga bercanda seperti ini, aku mau pergi," ucap Bilt.


"Hei, bukankah kau bilang ingin menikahi aku? Aku menerima lamaran darimu, Bilt," Vanila tersenyum manis, tanpa menunjukkan wajah berdosa.


"Beraninya kau?" nada bicara Abraham, terdengar tidak senang. Bilt merasa bulu romanya meremang apalagi dia merasa Abraham sudah menghampiri


"Vanila, itu aku hanya?" dia jadi serba salah.


"Apa? Bukankah kau mengajak aku menikah? Aku menyetujuinya sekarang," Vanila mendekatinya tiba-tiba dan menempel padanya, Bilt mengangkat dua tangannya, tidak berani menyetuh. Vanila benar-benar paling pandai membuatnya berada di dalam masalah.


"Jangan menyentuhnya!" Abraham menarik lengan Vanila hingga membuatnya menjauh dari Bilt.


"Apa masalahmu, kenapa kau menarik aku?" teriak Vanila marah. Matanya menatap pria itu tajam, ekspresi yang dia tunjukkan juga ekspresi tidak senang.


"Vanila, aku datang untuk berbicara denganmu," ucap Abraham.


"Berbicara? Maaf, aku tidak mengenal dirimu jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan!" Vanila menepis lengannya, dia bahkan memalingkan wajahnya, tidak mau melihat ke arah Abraham.


"Tidak perlu sok tidak mengenal. Ada yang harus kita bicarakan jadi sekarang ayo kita bicara!" Abraham kembali meraih tangannya.

__ADS_1


"Oke, aku mau pergi. Aku tidak mau terlibat!" ucap Bilt.


"Bilt!" Vanila berteriak memanggilnya.


"Tidak baik lari dari masalah, Vanila. Selesaikan permasalahan di antara kalian. Satu hal saja yang aku minta padamu, jangan katakan pada kakakmu jika aku datang ke kota ini dan bertemu denganmu," pinta Bilt.


"Maaf, ada gangguan tidak terduga. Seharusnya pertemuan kita bisa lebih lama, tapi?" ucap Vanila tidak enak hati. Sekarang dia jadi tahu kenapa Bilt ingin cepat kembali ke Australia.


"Tidak apa-apa, datanglah ke Australia jika kau punya waktu tentunya setelah semua permasalahan kalian sudah selesai," Bilt melihat Vanila lalu dia melihat ke arah Abraham, semoga saja permasalahan mereka segera selesai. Bilt pamit pergi, dia masih berpaling melihat ke arah mereka berdua yang tidak juga bergeming dan masih terlihat diam saja.


Abraham tidak melepaskan tangan Vanila, sedangkan Vanila masih membelakanginya dan tidak mau melihatnya.Dia tidak menduga akan bertemu dengan Abraham dalam situasi seperti itu.


"Lepaskan tanganku," pinta Vanila pelan.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kau pergi lagi dariku!"


"Sungguh lucu, Tuan. Kita tidak memiliki hubungan apa pun sebelumnya dan aku tidak pernah pergi darimu. Lalu untuk apa kau berbicara seperti itu? Aku tidak akan lupa kata-kata terakhir yang kau ucapkan, bukankah kau tidak mau melihat wajahku lagi? Lalu untuk apa kau datang?" tanya Vanila dengan nada sinis.


"Aku tahu aku salah, Vanila," tas dijatuhkan, Abraham melangkah mendekat lalu mendekapnya.


"Apa yang kau lakukan, Abraham?" tanya Vanila mencibir.


"Aku merindukanmu, Vanila."


"Ha, Ha... Ha.. Ha..!" Vanila tertawa mendengar ucapannya. Merindukannya? Perkataan itu terdengar seperti lelucon yang manis namun menyakitkan.


"Tidak perlu membual dengan perkataan manis itu. Apa aku terlihat menyedihkan? Tidak sama sekali. Aku bahkan tidak mencari atau mengganggumu lagi setelah kejadian itu jadi jangan pernah mengganggu aku!"


"Tidak, kau yang sudah bermain api denganku terlebih dahulu!" ucap Abrabam.


"Aku memang salah waktu itu, tapi aku rasa kau tidak rugi apa pun jadi lepaskan aku!" Vanila berusaha memberontak namun Abraham mendekapnya semakin erat.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu, Vanila. Tidak akan pernah jadi jangan harap aku akan melepaskan dirimu. Kau sudah membuat aku seperti ini, apa yang kau lakukan sudah menghancurkan diriku jadi kau harus bertanggung jawab."

__ADS_1


"Apa maksudmu, selain menculik dan membuatmu hilang ingatan. Aku tidak melakukan apa pun lagi. Bukankah aku sudah membayar apa yang aku lakukan? Seharusnya kau membunuh aku waktu itu agar kau puas!" Vanila jadi kesal, perkataan Abraham terdengar tidak masuk akal baginya.


"Dari pada membunuhmu, aku lebih suka membawamu pulang. Kau sudah membuat hidupku sepi, kau sudah membawa sebagian diriku pergi jadi kau harus bertanggung jawab!"


"Permintaan yang sangat lucu, tidak ada yang harus aku pertanggungjawabkan jadi pergi!" Vanila berusaha melepasakan kedua tangan Abraham yang melingkar di tubuhnya, namun tidaklah mudah.


"Aku tidak akan melepaskan pelukan ini bahkan kita akan berdiri di sini sampai kau mau ikut aku ke London!"


"Jangan bercanda, aku tidak akan pergi ke mana pun apalagi bersama denganmu jadi lepaskan aku!" Vanila memberontak sekuat tenaga, seharusnya Bilt tidak pergi sehingga bisa membantunya tapi Bilt tidak mau terlibat.


"Lepaskan aku, Abraham!" teriak Vanila marah.


Abraham tidak juga mau melepaskannya, sekalipun Vanila memaki dan menginjak kakinya. Dia tahu tidak akan mudah namun suara tangisan bayi, mengejutkan dirinya.


"Apa itu bayi kita, Vanila? Apa itu anakku?"


"Jangan bermipi! Itu anakku, bukan anakmu!"


"Tidak perlu menipu, pertemukan aku dengannya. Aku sudah begitu sengsara selama ini jadi jangan kira kau bisa menipu aku!"


"Aku tidak akan mempertemukan kau dengannya jadi pergi!" teriak Vanila lantang.


Suara tangisan Anatasya semakin nyaring terdengar, Marion berusaha menenangkannnya tapi Anatasya sedang lapar. Dia mendengar suara Vanila di luar sana, apakah Vanila sedang bertengkar dengan seseorang?


"Lepaskan aku, Abraham!" pinta Vanila. Dia harus segera menenangkan tangisan Anatasya.


"Jika kau tidak lari dan mempertemukan aku dengannya, maka aku akan melepaskanmu!"


Vanila menunduk dan menghela napas, perdebatan itu tidak akan pernah berakhir jika dia tidak mengiyakan apa yang pria itu inginkan. Lagi pula Abraham sudah berada di sana, dia tidak bisa menahannya.


"Lepaskan, Anatasya butuh susu," ucapnya pelan.


Anatasya, jadi mereka memiliki seorang putri? Abraham melepaskan pelukannya apalagi tangisan Anatasya semakin nyaring terdengar. Vanila segera berlari masuk, dia harap Abraham pergi tapi Abraham mengambil tasnya dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Dia tidak akan pergi sekalipun Vanila mengusirnya dengan kejam. Dia akan membawa Vanila dan bayi mereka, apa pun caranya.


Vanila mengambil putrinya dari gendongan Marion dan membawa Anatasya masuk ke dalam kamar. Abraham sudah berada di dalam, apa yang harus dia lakukan sekarang?


__ADS_2