
Rantai yang mengikat kedua tangan Bilt juga Acton dilepaskan. Mereka sangat beruntung tidak jadi dibunuh dan dilepaskan begitu saja. Entah apa yang terjadi dengan Abraham, dia tidak pernah melepaskan siapa pun sebelumnya.
Abraham pergi ke bar untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Dia masih tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia lakukan. Kenapa dia tidak jadi membunuh Vanila? Apakah dia merasa iba dengan gadis itu atau sesuatu yang lainnya? Sungguh dia tidak mengerti tapi dia harap Vanila tidak muncul di hadapannya lagi untuk selamanya.
Bilt berusaha menghampiri Vanila karena dia ingin melihat keadaannya. Acton tidak mau berada di sana lagi jadi dia pergi dari tempat itu sambil menahan rasa sakit yang dia rasakan. Dia tidak mau lagi menjalin persahabatan dengan Vanila yang sudah membuatnya berada di dalam masalah seperti itu. Dia tidak mati saja sudah sangat bersyukur.
Sambil menahan rasa sakit, Bilt berjalan ke arah Vanila. Dia harap Vanila tidak dibunuh oleh Abraham karena Vanila tidak bergerak sedari tadi.
"Vanila, apa kau masih hidup?" Bilt duduk di sisinya dan mengangkat kepalanya. Wajah Vanila juga ditepuk-tepuk agar dia sadar.
"Apa kau mendengar aku? Jika kau masih hidup segeralah sadar!" wajah Vanila kembali ditepuk. Bilt harap Vanila baik-baik saja.
"Jangan terlalu keras, Bilt. Nanti aktingku ketahuan," ucap Vanila tapi dia hanya bercanda saja.
"Apa? Jadi kau hanya berakting?" Bilt terdengar tidak senang.
"Aku hanya bercanda saja," Vanila berusaha duduk sambil memegangi kepalanya yang sakit. Yang pertama Vanila lihat adalah bagian perutnya, dia sangat bersyukur tidak ada rasa sakit atau terjadi sesuatu di sana.
"Jangan bercanda di saat seperti ini, Vanila!"
"Maaf, Bilt," Vanila berbalik dan memeluk sahabatnya.
"Aw, jangan sentuh punggungku!" teriak Bilt.
Vanila melepaskan Bilt dengan terburu-buru, Bilt meringis kesakitan karena punggungnya seperti terbakar akibat rasa sakit yang dia rasakan. Vanila menunduk setelah melihat jika Bilt begitu kesakitan dan semua itu akibat kesalahan yang dia lakukan.
"Maafkan aku, Bilt," Vanila menunduk, air mata kembali menetes. Akhirnya kisahnya dan Abraham berakhir seperti ini. Memang hubungan yang dipaksakan sejak awal tidak akan berakhir baik tapi tidak apa-apa, dia akan melupakan pria itu dan menyingkirkan perasaan yang ada di hati.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis. Kita harus bersyukur masih hidup dan tidak mati di tangannya," hibur Bilt.
"Tapi kalian harus mengalami hal seperti ini gara-gara aku. Tidak seharusnya aku membuat kalian jadi seperti ini, maafkan aku, Bilt," air mata Vanila semakin mengalir deras. Seandainya dia tidak datang ke tempat itu, mungkin semua yang mereka alami tidak akan terjadi karena Bilt dan Acton tidak akan mengenal dirinya. Benar yang kakaknya katakan, dia hanya bisa mempersulit orang lain saja.
"Sudahlah, aku tahu risikonya saat membantumu. Kau juga tidak memaksa aku saat itu, jadi jangan merasa bersalah."
Vanila melihat ke arah Bilt sejenak, lalu dia kembali menunduk. Kenapa Bilt begitu baik? Tidak, dia tidak boleh mempersulit Bilt lebih dari pada ini. Dia sahabat yang tidak berguna, dia hanya bisa membawa Bilt dan Acton ke dalam masalah. Acton bahkan sudah pergi, pemuda itu pasti tidak mau berteman dengannya lagi.
"Baiklah, ayo ke rumah sakit untuk mengobati luka di punggungmu," ajak Vanila.
"Bagaimana denganmu, kau baik-baik saja, bukan?" Bilt melihat leher Vanila di mana bekas tangan Abraham terlihat jelas.
"Tidak apa-apa, leherku sedikit pegal," Vanila menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Sekarang kau sudah tidak boleh mengganggunya lagi. Dia berkata kau tidak boleh muncul di depan matanya lagi jika tidak dia akan membunuh kita."
"Sebab itu setelah ini jangan mengganggunya lagi!" ucap Bilt.
"Tentu saja tidak Bilt. Aku tidak akan mengganggu siapa pun lagi, mulai sekarang aku ingin hidup dengan damai. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan bekerja karena aku ingin megumpulkan banyak uang dan uang itu ingin aku gunakan untuk menikmati hidupku!"
"Bagus jika demikian, sekarang kita pergi. Pungggungnya semakin terasa sakit!"
Vanila mengangguk dan tersenyum, Bilt membantunya untuk berdiri walau sekujur tubuh masih terasa sakit. Beruntungnya Abraham tidak mencambuk tubuh Vanila seperti yang Abraham katakan. Walau Bilt tidak mengerti tapi dia sangat bersyukur Vanila tidak mengalami rasa sakit yang dia rasakan.
Vanila memapah tubuh sahabatnya untuk pergi dari sana. Tempat itu sudah sepi, sudah tidak ada siapa pun lagi. Akhirnya mereka sudah melewati hari yang berat itu dan dengan lewatnya hari ini, mereka sudah mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan.
Mereka pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati luka Bilt. Vanila tidak tega melihat luka cambukan yang terdapat di punggung Bilt. Rasa bersalah kembali memenuhi hati karena semua itu gara-gara dirinya. Dia hendak membayar biaya rumah sakit sebagai tanggung jawab namun Bilt menolak. Vanila semakin tidak enak hati dibuatnya tapi Bilt benar-benar tidak menginginkan uangnya.
__ADS_1
"Apa kau akan langsung pulang?" tanya Vanila saat mereka keluar dari rumah sakit karena sudah selesai.
"Tidak, aku harus mengambil motorku," ucap Bilt.
"Apa perlu aku temani?"
"Tidak, aku bisa pergi sendiri. kau pulanglah untuk beristirahat."
"Apa kau yakin?"
"Sudah, pulang sana. Lupakan apa yang terjadi hari ini dan jangan mengulanginya!" Bilt menyetop sebuah taksi untuk Vanila.
Dia bisa pergi mengambil motornya sendiri, lagi pula keadaan Vanila lebih memprihatinkan karena wajahnya lebih pucat dari pada tadi pagi.
"Aku akan menjengukmu besok," ucap Vanila saat sudah berada di dalam taksi.
"Jangan lupa dua loyang pizza," ucap Bilt
"Akan aku belikan, berhati-hatilah," Vanila melambaikan tangannya dan meminta sang supir untuk menjalankan taksi karena dia ingin pulang dan tidur. Bilt masih berdiri di sisi jalan melihat kepergian Vanila tapi tidak lama karena dia pun pergi sambil menghubungi seseorang.
Vanila termenung selama di dalam mobil. Apa yang mereka alami hari ini tidak boleh mereka alami lagi dikemudian hari. Mulai hari ini dia bersumpah tidak akan muncul di hadapan Abraham seperti yang Abraham pinta sekalipun anak mereka mencari sosok ayahnya kelak.
Dia akan mengatakan pada anaknya jika ayahnya sudah tidak ada, anggap saja demikian. Lagi pula sejak awal mereka tidak memiliki hubungan apa pun jadi dia akan menganggap dia melakukan one night stand dengan pria asing yang tidak dia kenal sama sekali.
Setelah ini dia akan memikirkan apa yang harus dia lakukan dengan baik. Seperti rencana awal, dia akan pergi dari tempat itu tapi setelah keadaan Bilt membaik karena dia tidak bisa meninggalkan Bilt dalam keadaannya yang terluka seperti itu. Dia akan berada di tempat itu untuk beberapa hari lagi dan setelah itu, dia akan pergi dan memulai hidupnya di kota baru sambil menyembunyikan diri dari kejajaran kakaknya tapi apa semua akan berjalan sesuai dengan rencananya?
Tanpa Vanila ketahui, anak buah yang diutus oleh kakaknya sudah mengetahui di mana dia tinggal dan tanpa dia ketahui pula kakaknya akan datang sendiri untuk menariknya pulang dan mengakhiri petualangan hidup bebasnya.
__ADS_1