Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Cari Jika Kau Mampu


__ADS_3

Gaston melangkah menuju ruangan Abraham untuk memberi laporan akan perintah yang dia dapatkan. Dia sudah mengutus beberapa orang ke Australia untuk mencari keberadaan Bilt namun pemuda itu sudah tidak ada di sana lagi. Bar di mana dia bekerja pun sudah didatangani tapi mereka hanya mendapatkan jika Bilt sudah tidak bekerja dia bar itu lagi.


Anak buahnya justru mendapat informasi jika Bilt sedang berpetualangan dan sekarang dia berada di kota kecil. Gaston ingin tahu, apakah dia harus pergi menangkap Bilt atau tidak. Apa pun perintah dari bosnya, akan dia jalankan apalagi menangkap pemuda itu tidaklah sulit.


Abraham tampak kusut di dalam ruangan. Dia tidak terlihat melakukan apa pun. Sudah berada lama, dia merasa sebagian dirinya hilang. Rasa sepi selalu dia rasakan. Bukan kepergian Renata yang membuatnya seperti itu, tapi hilangnya sosok manis yang dia yakini membawa benihnya itu.


Vanila sungguh pandai bersembunyi, Norman juga begitu pandai menyembunyikan keberadaan adiknya. Mencari satu orang di dunia yang begitu luas tidaklah mudah apalagi jika orang itu bersembunyi di tempat terpencil.


"Sir, pemuda itu sudah tidak berada di Australia lagi," ucapnya.


"Apa maksudmu?" Abraham bertanya tanpa berpaling melihat ke arah Gaston.


"Dia sudah tidak bekerja di bar lagi dan kabarnya dia sedang pergi berpetualangan. Sekarang dia sedang berada di kota kecil," jelas Gaston.


Napas berat dihembuskan, apakah dia benar-benar tidak akan bertemu dengan Vanila lagi? Apa sebaiknya dia menyerah saja mencari keberadaan Vanila?


"Apa yang harus aku lakukan, Sir? Apakah kau ingin aku pergi menangkap pemuda itu?"


"Lupakan saja, Gaston. Aku merasa semua itu akan sia-sia," ucapnya.


Dia sudah mencari, mencari dan mencari namun tidak menemukan hasil. Dia rasa semua yang dia lakukan akan sia-sia saja mengingat Norman yang menyembunyikan keberadaan Vanila dan mengingat perlakukan buruknya pada Vanila.


"Apa kau akan berhenti mencarinya, Sir?" tanya Gaston.


"Ada saatnya kita berhenti, Gaston. Kita tahu kekuatan yang Norman miliki, aku rasa semua akan sia-sia!" ucapnya.


"Ini bukanlah gayamu, Sir. Kau tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, ini pertama kalinya kau seperti ini dan aku tidak setuju kau menyerah begitu saja!"


Abraham diam saja, tatapan mata menerawang. Gaston menunggu perintah. Dia tahu bosnya tidak akan menyerah begitu saja dan akan melakukan apa pun untuk menemukan Vanila Eloius.


"Siapkan rapat, Gaston," perintahnya.

__ADS_1


"Yes, Sir," Gaston keluar dari ruangan. Dia kira akan mendapat perintah untuk menangkap Bilt tapi nyatanya, dia justru mendapat perintah lain.


Abraham beranjak, melangkah menuju jendela. Dia tampak berpikir, bukan pilihan bagus menangkap Bilt karena bisa saja, Vanila semakin membencinya karena lagi-lagi dia menangkap sahabat baiknya. Sepertinya dia harus melakukan hal lain, menemui pemuda itu dan berbicara dengannya secara langsung sepertinya bukan ide buruk.


Ponsel diambil dari saku, dia ingin menghubungi Norman dan setelah itu dia akan menghubungi ibunya yang sedang liburan dengan ayahnya. Dia ingin tahu kapan ibunya akan kembali karena dia juga ingin pergi.


Walau hubungannya belum membaik dengan Norman, namun Norman sudah memberikan nomor ponselnya karena mereka akan bertukar informasi jika salah satu dari mereka sudah menemukan Renata. Setelah mendapatkan nomor ponsel itu, Abraham tidak pernah menghubungi Norman dan ini pertama kalinya dia melakukan hal itu.


"Siapa?" tanya Norman.


"Aku!" jawab Abraham singkat.


"Untuk apa kau menghubungi aku? Apa kau sudah mengetahui keberadaan Renata?"


"Tidak, aku menghubungimu bukan untuk membahas tentang Renata!"


"Lalu?" Norman pura-pura tidak mengerti.


"Aku rasa Vanila tidak memiliki masalah dengamu, Abraham. Jadi tidak ada yang perlu diselesaikan antara kau dan dirinya!"


"Berhentilah ikut campur dalam permasalahan kami, Norman!" Abraham mulai kesal.


"Ikut campur? Sungguh lucu, Abraham. Jika kau benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan kalian berdua, carilah dia dengan kemampuan yang kau miliki. Tunjukkan padaku jika kau memang serius. Jika kau bisa menemukan keberadaannya, maka aku tidak akan menentang jika adikku ingin menjalin hubungan denganmu!" Norman berani berkata demikian karena dia yakin, Vanila tidak akan bersama dengan Abraham dan dia yakin, Abraham tidak mungkin menemukan keberadaan adiknya.


"Apa kau serius dengan ucapanmu, Norman?"


"Tentu saja, jadi cari keberadaannya jika kau mampu!" ucap Norman seraya mengakhiri pembicaraan mereka.


Abraham diam saja, berpikir. Apa Norman sengaja ingin mengetes dirinya? Jangan kira dia tidak mampu, dia pasti akan menemukan keberadaan Vanila dan melakukan cara apa pun. Setelah berbicara dengan Norman, Abraham menghubungi ibunya. Tadinya dia sudah hampir menyerah tapi kini dia akan buktikan pada Norman jika dia bisa menemukan keberadaan Vanila dengan caranya.


"Ada apa? Jangan katakan kau ingin meminta Mommy kembali," ucap ibunya.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin tahu kapan kalian akan kembali," ucap Abraham.


"Entahlah, apa ada sesuatu yang kau inginkan?"


"Aku juga ingin pergi, aku ingin berlibur. Aku harap Mommy cepat kembali agar Daddy bisa menggantikan aku di perusahaan."


"Kau akan pergi ke mana?" tanya ibunya ingin tahu.


"Aku hanya ingin bertemu dengan seseorang saja. Lagi pula aku sudah lama tidak pergi berlibur jadi setelah menemui orang itu, aku ingin menikmati waktuku sebentar di alam bebas."


"Baiklah jika begitu, Mommy akan mengajak Daddy kembali. Pergilah, nikmati waktumu. Kau memang membutuhkannya setelah melewatkan banyak hal. Mungkin saja kau bisa bertemu dengan gadis yang kau cari," ucap ibunya.


"Yeah," jawab Abraham singkat walau dia tahu hal itu tidaklah mungkin terjadi. Dia bahkan sangat yakin kepergiannya tidak akan membuahkan hasil tapi tidak jadi soal, dia akan mengganggap sedang pergi berlibur untuk menghilangkan penat dan juga melupakan beberapa kejadian yang tidak menyenangkan.


Abraham masih berdiri diam di depan jendela setelah berbicara dengan ibunya. Tatapan matanya menatap keluar jendela, dia bahkan melihat telapak tangannya sesekali. Dia seperti kehilangan sesuatu, sebab itu dia merasa hampa. Padahal Renata adalah tunangannya, tapi dia tidak sedih sama sekali tapi hilangnya Vanila justru menghancurkan dirinya.


Cintanya pada Renata memang sudah lama mati apalagi setelah tahu kejahatan yang dilakukan oleh Renata. Rasanya tidak sabar mencabik wanita itu yang sudah melakukan perbuatan keji tapi sampai sekarang pun, Renata belum juga ditemukan.


Pintu ruangan terbuka, Gaston kembali setelah menjalankan perintah yang dia berikan. Gaston masih berharap dia mendapat perintah untuk menangkap pemuda itu dan dia juga berharap bosnya tidak menyerah.


"Semua sudah siap, Sir," ucap Gaston.


"Di mana pemuda itu, Gaston?" Abraham masih tidak melihat ke arahnya.


"Apa kau ingin aku pergi menangkapnya?" Gaston terlihat bersemangat.


"Tidak, setelah rapat aku ingin pergi liburan!"


Gaston tampak tidak mengerti. Liburan? Dia kira bosnya ingin pergi menangkap Bilt tapi ternyata dia hanya ingin pergi berlibur. Walau tidak mengerti namun Gaston tidak bertanya. Abraham melangkah melewatinya tanpa mengatakan apa pun.


Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan tapi dia akan mengganggap sedang pergi untuk menikmati waktu apalagi kota yang dikatakan oleh Gaston adalah kota kecil yang menawarkan keindahan alam. Jujur saja sejak saat itu, dia jadi suka dengan alam dan lebih banyak menghabiskan lebih banyak waktu di villa apalagi rumahnya sudah dia jual untuk menghapus jejak Renata dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2