
Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat. Ana menangis dengan keras saat pesawat sudah terbang merendah. Mungkin tekanan udara di dalam pesawat yang membuat Ana menangis, mungkin juga hal yang lainnya.
Mereka tiba saat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Waktu yang tepat untuk beristirahat setelah kembali. Vanila berusaha membujuk Ana dengan memberinya asi, dia akan turun setelah Ana tidak menangis lagi.
Kedua orangtua Abraham sudah siap turun, mereka akan kembali ke rumah mereka. Sepertinya mereka tidak perlu diantar karena mereka tahu Abraham akan membawa istri dan putrinya kembali ke Mansion yang baru dia beli.
"Sepertinya kau tidak perlu mengantar kami, Abraham," ucap ayahnya.
"Tidak masalah, aku akan mengantar kalian sebelum membawa mereka ke rumah," ucap Abraham.'
"Tidak perlu, kami sudah melihat mansion itu. Letaknya agak jauh dan berbeda arah. Istri dan putrimu pasti sudah lelah jadi bawalah mereka pulang. Lihat, Vanila yang paling lelah jadi tidak perlu mengantar kami. Besok kami yang akan pergi mengunjungi kalian," ucap ibunya.
"Baiklah jika itu yang Mommy dan Daddy inginkan, tidak perlu mengunjungi aku besok. Aku akan membawa Vanila ke rumah."
"Baiklah," ibunya melangkah melewatinya untuk menghampiri Vanila yang sudah menenangkan Ana. Vanila merapikan bajunya, dia jadi tidak enak hati karena sudah membuat yang lain menunggu.
"Maaf membuat kalian menunggu, Mom," ucapnya.
"Tidak apa-apa, tidak perlu terburu-buru tapi kita akan berpisah di sini," ucap ibu mertuanya.
"Kenapa? Apa kita tidak sejalan?" tanya Vanila.
"Tidak, dari pada membuang waktu mengantar kami lebih baik kalian segera pulang agar bisa beristirahat."
"Baiklah," jawab Vanila karena dia tidak tahu ke mana Abraham akan membawanya tinggal.
Mereka berpisah di sana. Kedua orangtua Abraham diantar oleh supir sedangkan Gaston yang akan mengantar Abraham ke mansion miliknya. Ternyata apa yang ibunya katakan benar, mansion itu memang sedikit jauh karena Mansion itu terletak di sebuah bukit. Seperti yang Abraham inginkan, suasana alam. Dia meminta mansion seperti itu agar Vanila senang dan tidak mengingat kota kecil di mana dia mendapatkan kehidupan nyamannya.
Seperti yang dia duga, Vanila tampak kagum dengan tempat itu di mana sekeliling mansion di kelilingi dengan pepohonan. Sebuah ayunan bahkan ada di samping rumah dengan sebuah gazebo untuk bersantai. Semua dibuat agar Vanila merasa nyaman.
Mobil yang dibawa oleh Gaston sudah memasuki pekarangan Mansion yang ditumbuhi dengan pepohonan hijau. Mobil yang dia bawa bahkan sudah berhenti. Dua orang penjaga membukakan pintu untuk mereka berdua. Vanila melihat sekeliling, melihat megahnya mansion yang akan mereka tempati setelah dia keluar dari mobil.
"Wow, tempat yang sangat bagus!" ucap Vanila.
__ADS_1
"Apa kau menyukainya? Aku membelikan Mansion ini untukmu agar kau nyaman tinggal di sini denganku."
"Benarkah? Kau sampai memikirkan hal seperti ini untukku," Vanila masih melihat tempat itu dengan tatapan kagum.
"Yes, this is our home. Aku ingin kau nyaman tinggal denganku dan tidak kabur lagi sebab itu aku membelikannya untukmu."
Vanila tersenyum, apa dia akan kabur lagi?
"Jika kau memukulku maka aku akan lari darimu!" ucapnya.
"Bodoh, sudah aku katakan padamu jika aku tidak akan menyakitimu lagi."
"Baiklah, itu berarti aku tidak akan kabur darimu," ucap Vanila sambil tersenyum.
Abraham menariknya mendekat untuk memberikan kecupan di pipi. Senyum kebahagiaan menghiasi wajah mereka berdua, mulai sekarang mereka akan menghabiskan waktu mereka berdua di sana.
''Apa tempat ini tidak terlalu besar?" tanya Vanila. Dia rasa tempat itu terlalu besar hanya untuk mereka berdua saja.
Barang-Barang mereka diturunkan, Gaston menjelaskan setiap ruangan yang ada tapi yang paling penting adalah kamar utama yang akan mereka tempati.
Kamar itu begitu besar, di samping ranjang yang berukuran besar terdapat sebuah ranjang bayi. Mereka bisa tidur bersama dengan Ana tapi sebuah kamar bayi juga sudah tersedia. Vanila melihat kamar itu dan terlihat senang, dia lebih suka Ana tidur dengannya apalagi Ana masih bayi.
Vanila sibuk melihat kamar itu, sedangkan Abraham keluar karena dia ingin berbicara dengan Gaston dan memerintahkan Gaston untuk menambah beberapa penjaga untuk berjaga di mansion itu. Bagaimanapun dia harus waspada pada Renata yang sudah merubah wajahnya.
Ana sudah dibaringkan di tempat tidurnya, Vanila juga sudah mengganti pakaian dan berbaring di atas ranjang untuk menunggu Abraham yang belum kembali. Setelah menikah, mereka belum melewatkan malam pernikahan mereka karena pesta yang tidak usai.
Malam ini, apakah mereka akan melewatkannya ataukah mereka akan tidur saja? Vanila memegangi wajahnya yang terasa panas, pikiran mesum. Sebaiknya dia tidur namun suara pintu kamar yang terbuka membuat jantungnya berdegup kencang.
Langkah kaki Abraham yang berjalan mendekat membuat degupan jantungnya seperti genderang. Ranjang yang bergerak saat Abraham menaikinya dan tangan lembut pria itu membuat Vanila menahan napasnya.
"Apa kau sudah tidur?" ciuman lembut diberikan. Malam ini, mereka akan mengulangi apa yang pernah mereka lakukan di kabin dulu.
"Hm," Vanila berbalik dan mendapati Abraham memandanginya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ke-Kenapa begitu lama?" Vanila tampak gugup, padahal itu bukan pertama kali tapi rasa gugupnya seperti pertama kali hendak melakukan. Apa karena mereka sudah lama tidak melakukannya?
"Apa kau menungguku?" Abraham mendaratkan kecupan di dahi Vanila, lalu bibirnya turun ke bawah. Kedua mata Vanila terpejam, menikmati sentuhan yang diberikan oleh suaminya.
"Pergilah mandi terlebih dahulu," ucap Vanila.
"Bagaimana jika aku mandi setelah kita melakukannya?"
"Kau tahu, Abraham?" kedua mata terbuka, tangannya sudah berada di dada Abraham dan bermain di sana.
"Aku sangat ingin melihat dirimu dalam keadaan basah," ucapnya seraya menggigit bibirnya menggoda.
"Kau akan mendapatkannya!" Abraham mencium bibirnya sampai membuat Vanila hampir kehabisan napas.
"Apa kau ingin membunuhku?" ucap Vanila sambil mengatur napasnya.
Abraham terkekeh dan turun dari atas ranjang. Kaki mulai melangkah menuju kamar mandi, baju pun mulai dilepaskan.
"Tunggu di sana baik-baik," ucapnya.
"Cepatlah, Tuan Adway. Kita harus mencoba kekuatan ranjangnya!" Vanila menepuk ranjang, satu kaki ditekuk lalu gaun tidurnya diangkat sedikit sehingga memperlihatkan pahanya yang mulus.
"Awas kau, Vanila. Aku tidak akan lama!" kaki melangkah dengan cepat memasuki kamar mandi, suara air shower pun terdengar. Sungguh dia sudah tidak sabar.
Vanila tetawa, dia sangat menantikan namun dia terkejut ketika Abraham keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun tentunya dalam keadaan basah seperti yang dia inginkan sehingga suaminya terlihat semakin menggoda.
"Astaga, kenapa tidak memakai apa pun!" Vanila menutup mata dengan tangan tapi dia mengintip dari balik jarinya.
"Aku tidak perlu repot membukanya!" Abraham melangkah mendekati ranjang, Vanila hampir memekik karena Abraham menerkamnya secara tiba-tiba.
Bibir Vanila dicuim dengan buas, bajunya pun ditanggalkan dan dilempar begitu saja. Tangan Vanila sibuk mengusap otot dada suaminya yang masih basah. Bibir Abraham pun sibuk, Ana tidur nyenyak saat kedua orangtuanya tenggelam dalam kenikmatan yang menggulung-gulung.
Bayi manis yang lucu, Ana bahkan tidak terganggu oleh suara ******* ibunya dan juga suara derit ranjang yang dipadu dengan suara tepukan tubuh kedua orangtuanya yang saling beradu. Ana berada di alam mimpi, sedangkan kedua orangtuanya menikmati malam pernikahan mereka yang tertunda.
__ADS_1