Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Kejadian tidak terduga


__ADS_3

Selama di perjalanan menuju bar Vanila tampak was-was. Dia akan segera menyelesaikan pekerjaannya agar dia bisa cepat pulang. Dia khawatir dengan keadaan Anatasya karena Abraham tidak berpengalaman sama sekali. Jika ada Marion maka dia tidak akan sekhawatir itu tapi sepertinya dia memang harus cepat pulang karena pertemuan mendadak dua sahabat yang belum juga berbaikan walau kesalahpaham mereka sudah tidak ada lagi.


Abraham dan Norman masih saling tatap, sungguh pertemuan yang tidak terduga. Norman terlihat tidak senang karena Abraham berada di rumah neneknya. Dari mana pria itu bisa tahu keberadaan Vanila? Tatapan masih saja tidak berpaling begitu juga dengan Abraham.


"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Norman dengan nada sinis.


"Aku di sini karena putri dan calon istriku berada di sini, apa itu salah?" Abraham tak kalah sinisnya.


"Jangan bermimpi, siapa calon istrimu?!" Norman semakin terlihat tidak senang.


"Tentu saja Vanila, apa ada yang lain?"


"Jangan asal bicara!" ucap Norman seraya melangkah melewatinya. Sial, sungguh dia tidak menduga. Sepertinya sebentar lagi Abraham akan menjadi adik iparnya.


"Apa maksudmu jangan bermimpi? Kau tidak lupa dengan perkataanmu sendiri, bukan?" pintu ditutup, Abraham mengikutinya dari belakang. Sungguh tamu yang tidak terduga dan mengganggu. Dia dan Vanila baru saja berbaikan, mereka bahkan belum melakukan apa pun tapi pengganggu sudah datang.


"Mana Vanila?" tanya Norman acuh tak acuh.


"Ke bar."


"Marion?"


"Cari sendiri!" ucap Abraham kesal. Abraham melewatinya, hubungan mereka benar-benar sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi karena dia juga tidak bisa kembali bersikap seperti dulu.


Norman juga cuek saja. Selagi Abraham berada di dapur, Norman masuk ke kamar adiknya untuk mengganggu tidur keponakan manisnya.


Suara tangisan Anatasya terdengar, Abraham segera berlari menuju kamar dan mendapati Norman berada di sana.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau membuat Ana menangis?"


"Dia keponakanku, terserah aku mau membuatnya menangis atau tidak!"


"Keluar, jangan mengganggu tidurnya!"


"Kau yang keluar!" ucap Norman kesal.


Perdebatan mereka justru membuat tangisan Anatasya semakin nyaring terdengar. Norman tampak panik, begitu juga Abraham.


Abraham berlari keluar untuk mengambil susu yang ada di dalam kulkas, sedangkan Norman menenangkan tangisan keponakannya yang semakin menjadi.


Setelah susu sudah siap, Abraham segera berlari masuk ke dalam kamar di mana putrinya masih juga menangis dengan keras.


"Cepat, berikan susunya!" ucap Abraham.

__ADS_1


Norman mengambil botol susu yang diberikan oleh Abraham, mereka kira masalah selesai tapi nyatanya tangisan Ana semakin keras dan dia tidak mau minum susu sama sekali.


"Bagaimana ini, apa Vanila tidak mengatakan cara menenangkannya?" tanya Norman. Seharusnya dia tidak mengganggu tidur keponakannya.


"Tidak, dia hanya berpesan untuk memberi Ana susu. Berikan padaku, mungkin saja kau bau oleh sebab itu dia tidak mau berhenti menangis!"


"Sembarangan, apa kau kira aku dari tong sampah?" Norman tampak kesal tapi dia tetap memberikan Anatasya pada Abraham.


Abraham menimang putrinya, seperti yang selalu Vanila lakukan namun tangisan Ana semakin kencang. Mereka berdua sudah berusaha, tapi gagal.


Anatasya dibaringkan ke atas ranjang kembali, Abraham dan Norman berdiri di hadapan bayi yang masih saja menangis dan mereka terlihat frustasi. Bagaimana cara menenangkan tangisan Anna?


"Semua ini gara-gara kau!" ucap Abraham kesal.


"Apa maksudmu? Kenapa kau menyalahkan aku?" Norman tampak tidak terima.


"Jika kau tidak mengganggu tidurnya maka dia tidak akan menangis!"


"Jangan menyalahkan aku, seharurnya kau bisa menenangkan tangisan putrimu sendiri!"


"Aku baru saja bertemu dengan mereka beberapa hari belakangan, apa kau pikir aku bisa langsung jadi ayah super?"


"Jika begitu pinta Vanila untuk pulang!"


Sepertinya itu masalah yang terjadi sehingga putrinya terus menangis. Abraham mulai meraba, mencoba membuka popok yang putrinya gunakan.


"Mau apa kau?" tanya Norman.


"Melepaskannya, apa kau tidak lihat?" jawab Abraham kesal.


"Jangan coba-coba, kau tidak boleh melihatnya!" cegah Norman.


"Apa maksudmu?" tanya Abraham tidak mengerti.


"Aku tidak akan mengijinkan kau melihat keponakanku yang sedang telanjang jadi jangan coba-coba membukanya!"


"What the hell? Kau yang tidak boleh melihat, jadi keluar!"


"Tidak akan jadi jangan kau buka sampai Vanila pulang!" Norman masih mencegah.


"Apa kau tega melihatnya menangis begitu lama? Sebaiknya jangan ganggu aku, aku sedang belajar menjadi ayah yang baik untuknya!" ucap Abraham.


Norman diam, apa pria itu serius dengan ucapannya?? Norman tidak mencegah lagi, Abraham pun membuka popok yang putrinya gunakan namun ketika popok sudah terbuka, bau tidak sedap yang tercium.

__ADS_1


"Oh my God," Norman melangkah mundur sambil menutup hidung.


Abraham juga melakukan hal yang sama, ternyata Ana menangis karena hal itu. Sekarang apa yang harus mereka lakukan? Mereka tidak punya pengalaman sama sekali.


"Selamat berjuang untuk menjadi ayah yang baik untuknya!" ucap Norman. Sebaiknya dia keluar namun ketika dia melewati Abraham, tangan Abraham sudah meraih kerah baju bagian belakangnya sehingga langkah Norman terhenti.


"Jangan lari, Norman. Kau harus membantu aku!"


"Tidak! Kau sedang belajar jadi ayah yang baik, bukan? Jadi lakukanlah!" tolak Norman.


"Bukankah kau pamannya? Jadi kau harus membantu aku jika tidak aku akan katakan pada Vanila kau tidak mau membantu dan aku akan mengatakan pada Ana kau paman tidak berguna!" ucapnya.


"Jangan mengancam!" ucap Norman.


"Aku tidak mengancam jadi cepat bantu!"


"Oke, fine. Apa yang harus kita lakukan!!"


"Aku tidak tahu!" ucap Abaham.


Mereka berdua saling pandang, napas berat pun dihembuskan. Walau tidak tahu harus melakukan apa, mereka bekerja sama. Popok bersih sudah didapatkan, Norman memegangi kedua kaki Ana dan mengangkat kakinya sedikit tinggi sedangkan Abraham yang membersihkan kotoran putrinya dengan tisu.


"Sudah belum?" tanya Norman.


"Jangan berisik!" ucap Abraham. Mereka menutup hidung mereka menggunakan kain yang mereka temukan.


Ini pengalaman baru, mereka yang tadinya tidak akur jadi bekerja sama hanya untuk membersihkan kotoran Ana. Yeah... Itu kejadian tidak terduga.


Abraham memeriksa apakah sudah bersih atau belum, kaki putrinya dibuka satu tapi ketiika Abraham melihatnya dengan teliti pada saat itu pula, air hangat menyembur ke wajahnya lalu mengenai bajunya. Abraham terkejut begitu juga Norman.


Tawa Ana terdengar, Abraham memejamkan matanya apalagi wajahnya basah. Norman diam saja namun tidak lama kemudian gelak tawanya terdengar. Dia bahkan memuji Ana dalam hati, pelajaran bagus untuk Abraham. Dia memang harus merasakannya.


Abraham mengusap wajahnya yang basah, mau marah tapi tidak bisa. Dia hanya bisa melotot ke arah Norman yang masih menertawakan dirinya, aneh. Dia bahkan tidak kesal sama sekali Norman menertawakan dirinya.


"Jaga dia baik-baik," Abraham menggendong Ana dan memberikannya pada Norman.


"Hei, kau belum menggunakan popok untuknya!" ucap Norman.


"Tolong pakaikan," ucap Abraham.


"Aku tidak bisa, jangan sampai kau mengencingi Uncle, Anna," ucap Norman. Sebaiknya dia segera mengenakan popok untuk Ana namun sayangnya, Ana benar-benar mengencingi bajunya karena tadi Ana belum selesai akibat terkejut.


Norman berteriak, Abraham berlari keluar karena dia sedang berada di dalam kamar mandi. Ketika dia melihat keadaan Norman yang tidak jauh berbeda dengannya, giliran dia yang tertawa terbahak. Bagus, putrinya benar-benar pintar.

__ADS_1


__ADS_2