Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Percayalah Padaku


__ADS_3

Vanila sangat senang karena kakaknya datang. Setelah berbicara dengan Sonny, Abraham mengajak Norman untuk ke mansion. Lagi pula Vanila sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakaknya.


Sonny mereka lepaskan, dengan catatan pria itu harus bekerja sama dengan mereka untuk menemukan keberadaan Renata. Tentunya Sonny setuju karena dia sudah tertipu.


Norman dan Abraham berada di dalam sebuah ruangan, mereka sedang menyusun rencana tentunya mereka berkomunikasi degan Sonny yang sedang mencari keberadaan Renata. Abraham sudah menyebar orang-orang di bandara, setiap stasiun dan beberapa tempat untuk memantau agar Renata tidak melarikan diri dari kota itu.


Sonny mendatangi tempat di mana terakhir kali dia dan Renata bertemu. Pria itu melangkah dengan hati-hati, meski terasa mustahil karena mereka tahu Renata tidak mungkin berada di tempat itu lagi tapi tidak ada salahnya mencoba. Sonny memeriksa dari ruangan ke ruangan yang lain dengan sebuah pistol. Dia sungguh bodoh termakan hasutan wanita yang sudah membunuh adiknya dan mengorbakan anak buahnya. Walau dia belum mendengar dari saksi yang Norman sebutkan tapi dia yakin kedua pria itu tidak sedang membohonginya.


Setiap ruangan tidak ada yang Sonny lewatkan, sepertinya wanita bernama Bryana itu benar-benar sudah tidak ada. Sudah hampir semua ruangan diperiksa, dia tidak menemukan apa pun.


"Dia sudah pergi!" ucap Sonny.


"Apa tidak ada petunjuk sama sekali?" tanya Abraham.


"Tidak. Dia tidak sebodoh yang kalian kira, bukan?"


"Kau benar, pergi dari sana. Kau bisa bergabung dengan Gaston!!" perintah Abraham.


Sonny memutuskan untuk pergi, sekarang mereka harus memikirkan cara untuk menemukan keberadaan Renata. Mereka membutuhkan umpan untuk memancing Renata keluar, tapi siapa?


Vanila masuk ke dalam ruangan dengan dua gelas minuman di tangan saat mereka memikirkan hal itu. Norman dan Abraham terlihat serius, rupa wajah palsu Renata terpampang jelas di layar komputer. Vanila meletakkan minuman yang dia bawa lalu dia berdiri di belakang Abraham dan memeluknya dari belakang.


"Apa itu wajah palsu tunanganmu?" tanya Vanila.


"Mantan. Ingat itu, Vanila!" ucap Abraham.


"Apa kau sudah mengakhiri hubungan kalian sebelumnya?" Vanila mengatakan hal itu hanya untuk menggoda suaminya saja.

__ADS_1


"Anggap saja sudah berakhir, jadi jangan dibahas"


"Mana putrimu?" tanya Norman.


"Tidur, apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian sudah menemukan keberadaannya?"


"Belum, Vanila. Kami sedang memikirkan cara untuk memancingnya keluar. Kami perlu umpan yang mirip denganmu karena yang dia inginkan adalah kau," ucap kakaknya.


"Jika begitu libatkan aku."


"Tidak!" jawab Norman dan Abraham secara bersama-sama.


"Kenapa? Dia menginginkan aku jadi aku bisa menjadi umpan untuk menariknya keluar!"


"Tidak, Vanila. Itu sangat berbahaya untukmu!" ucap kakaknya.


"Kak, kau meremehkan aku!" ucap Vanila.


"Kau tidak tahu apa pun, aku sudah berlatih dengan keras di istana selama ini dan kau yang melatih aku secara langsung. Senjata api, pedang, kau tahu bagaimana kemampuanku!"


"Tidak, itu semua tidak menjamin. Bagaimana jika Renata menggunakan seorang penembak jitu lalu membunuhmu dari jauh? Jangan menganggap remeh dirinya!"


"Itulah gunanya kalian. Aku akan muncul dikeramaian, kalian bisa membuat keamanan di setiap bangunan yang sehingga tidak ada celah baginya menggunakan seorang penembak jitu. Lagi pula dia tidak mungkin langsung melihatku saat aku keluar, kita butuh beberapa kali untuk memancingnya sampai dia melihatku."


"Tidak, itu ide yang paling buruk!" tolak kakaknya.


"Aku rasa itu ide paling bagus, Norman," ucap Abraham.

__ADS_1


"Apa maksud perkataanmu? Apa kau ingin mencelakai Vanila?" Norman terlihat tidak senang.


"Tidak, aku tidak ingin mencelakainya. Tapi jika kita memang ingin menangkap Renata, tidak ada umpan lain selain Vanila," ucap Abraham.


"Apa kau sudah gila? Apa kau ingin membunuhnya?" Norman terlihat marah dan kesal.


"Kak, percayalah padaku. Aku bukan putri lemah lembut seperti yang kau kira," Vanila masih berusaha membujuk kakaknya agar mau melibatkan dirinya.


"Tidak, aku tidak mau kau celaka!" Norman masih menolak. Mungkin Vanila menganggap remeh Renata tapi mereka harus waspada dengan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Sonny bisa tertipu oleh Renata, lalu bagaimana dengan yang lain? Jangan sampai ada penjahat lain yang lebih keji yang dimanfaatkan oleh Renata.


"Apa yang kakak khawatirkan? Hanya menghadapi seorang wanita saja aku masih sanggup," ucap Vanila.


"Yang aku khawatirkan bukan Renata saja, Vanila. Tapi aku khawatir dia mencari seorang penjahat yang lebih hebat dari pada Sonny untuk membantunya," ucap Norman.


"Aku yakin dia tidak akan sanggup, Norman. Kau lihat rupanya? Sekalipun dia membuka kedua kakinya lebar untuk mendapatkan bantuan, dia tidak akan mendapatkan bantuan dalam waktu singkat kecuali penjahat jalanan yang bersedia membantu atas apa yang akan dia berikan!" ucap Abraham. Apa Renata begitu hebat? Tidak, dia tidak akan bisa menjerat penjahat kelas kakap dalam waktu singkat dan aku berani bertaruh, tidak akan ada penjahat kelas kakap yang mau melibatkan diri dalam permasalahannya meskipun dia membuka kakinya. Dari pada melibatkan diri pada masalah Renata, lebih baik mereka membayar ja*lang yang tidak jauh berbeda!"


Norman tampak berpikir, memikirkan perkataan Abraham. Tatapan matanya jatuh pada adiknya, Vanila memandangi sang kakak dan berusaha meyakinkan kakaknya.


Kali ini dia ingin terlibat, dia ingin membantu kakak juga suaminya menangkap Renata. Mungkin untuk inilah kemampuan yang dia pelajari saat di jalanan. Dia harap kakaknya tidak keberatan dan mau mempercayainya.


"Percayalah padaku, Kak. Aku tidak selemah yang kau kira. Ijinkan aku terlibat, aku ingin membantu kalian menangkapnya agar semuanya selesai dan agar kalian bisa membalaskan kematian Emely," ucap Vanial.


"Lalu bagaimana dengan Ana?"


"Ibu mertuaku yang akan menjaganya. Untuk kali ini saja, berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku tidak selemah yang kau kira. Aku juga akan membuktikan padamu, jika apa yang aku pelajari padamu selama ini tidaklah sia-sia!"


Norman menatap adiknya dengan lekat, napas berat pun dihembuskan. Tatapan matanya kini ke arah Abraham, Abraham hanya mengangkat bahu saja. Norman jadi sangat heran, kenapa Abraham tidak mencegah istrinya untuk melakukan sesuatu yang berbahaya? Jangan katakan ada yang tidak dia ketahui.

__ADS_1


Dia hanya khawatir saja, takut Renata menghasut penjahat lainnya. Itu sangat berbahaya bagi Vanila tapi apa yang dikatakan oleh Abraham sepertinya sangatlah benar. Tidak mungkin Renata mendapatkan kekuatan dengan begitu cepat meskipun dia membuka kedua kakinya. Penjahat jalanan mungkin mau, tapi penjahat kakap tidak mungkin dan dia juga menyetujui ucapan Abraham yang seperti itu.


Memang Renata tidak memiliki kekuatan apa pun. Dia bahkan panik tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada sekutu lagi yang bisa dia ajak bekerja sama. Mencari kakaknya juga tidak mungkin apalagi mencari kedua orangtuanya. Renata merasa dia berada dalam masalah besar, dia bahkan berpikir untuk pergi dari kota itu namun orang-orang yang tersebar di bandara dan stasiun kereta membuatnya cemas. Dia tahu mereka adalah orang-orang yang disebar oleh Abraham, jika dia nekad maka dia akan tertangkap dengan mudah. Dia juga sudah mencoba untuk melarikan diri dengan kapal namun hal sama yang dia dapatkan. Mobil jalan satu-satunya menjadi pilihan namun pemeriksaan yang dilakukan saat hendak ke kota lain membuat Renata berputar arah. Tidak ada yang bisa tidak dilakukan oleh uang. Dia bisa menjadi buronan jika Norman meminta bantuan polisi dan mengatakan dia adalah buronan yang melarikan diri. Renata tidak punya pilihan lain selain mencari cara untuk menemukan Vanila dan membunuhnya. Setelah membunuhnya, dia tidak takut tertangkap yang penting dia sudah membuat Norman dan Abraham kembali kehilangan orang yang mereka sayangi.


__ADS_2