
Abraham masih berada di bar, menenangkan pikirannya yang sedang kacau karena dia masih tidak mengerti kenapa dia tidak bisa membunuh Vanila padahal dia bukan orang yang bermurah hati sekalipun yang hendak dia bunuh adalah wanita.
Segelas minuman diteguk sampai habis. Mata Abraham tidak berpaling dari seorang bartender yang sedang sibuk meracik minuman. Entah kenapa wajah Vanila terbayang, sial. Sepertinya dia sudah gila. Sebentar lagi dia akan pergi dan setelah ini dia tidak akan kembali lagi dan tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke kota itu lagi. Semua yang terjadi akan dia lupakan, dia akan melupakan jika dia pernah menghabiskan waktu dengan seorang gadis bernama Vanila Elouis, dia akan melupakan kebersamaan mereka.
Setelah dia kembali, dia akan melamar Renata. Memang itulah yang seharusnya terjadi. Sejak awal dia memang mau melakukan hal itu dan sekarang dia tidak akan ragu lagi. Segelas minuman kembali diteguk sampai habis dan setelah itu Abraham beranjak. Sudah saatnya pergi dan dia akan pastikan jika dia dan Vanila tidak akan pernah bertemu lagi. Ini adalah pertemuan terakhir mereka tapi bagaimana jika benang merah di antara mereka tidak terputus sama sekali?
Dengan perasaan aneh yang memenuhi hati, Abraham mengajak Gaston pergi dan meminta Gaston mempersiapkan kejutan yang tertunda akibat kelakuan Vanila Elouis karena dia akan melakukan rencana itu setelah dia kembali.
Walau dia pergi tapi dia tidak bisa mengucapkan selamat tinggal pada sosok gadis yang pernah mengisi harinya walau dalam hati. Dia pasti bisa menyingkirkan sosok gadis yang telah memberikan kenangan berbeda dari sebelumnya. Dia juga tidak mau memikirkannya lagi, semua tertutup oleh rasa benci dan juga permusuhan yang sudah terjadi sejak lama.
Tidak saja Abraham yang ingin melupakan apa yang telah terjadi, Vanila juga melakukan hal yang sama. Pakaian yang pernah digunakan oleh Abraham dan yang selama ini menemani malamnya untuk mengobati rasa rindu dikeluarkan dari dalam kamar. Sudah saatnya membuang semua pakaian itu agar dia tidak terjebak dalam perasaan yang tidak akan pernah terbalas. Dia juga akan mengubur rasa cinta yang ada di hati karena saat ini dia benci dengan Abraham.
Vanila membawa semua pakaian itu ke belakang rumah. Dia akan membakar semua pakaian itu agar dia tidak terbayang akan sosok keberadaan pria itu di rumahnya lagi. Sebotol bensin sudah berada di tangan, Vanila menuang semua bensin itu ke atas baju yang sudah dia tumpuk di dalam sebuah drum besi.
"Seperti baju ini, aku akan melupakan semua kenangan yang telah kita lalui. Walau aku sedang mengandung anakmu, walau wajahnya mirip denganmu setelah dia dilahirkan tapi aku tidak akan pernah mengatakan padanya jika kau adalah ayahnya. Kebersamaan kita cukup kita saja yang tahu, aku akan membawa rahasia ini sampai mati!" ucap Vanila dan setelah itu, sebatang korek api dinyalakan dan dilemparkan ke atas tumpukan baju.
Api menyala membakar setiap helai baju, air mata menetes tanpa dia mau. Cinta pertama yang menyakitkan dan itu akan menjadi cinta pertama dan juga cinta terakhirnya karena mulai sekarang dia tidak akan jatuh cinta lagi. Tidak akan ada pria dalam hidupnya, dia tidak akan pernah mau terlibat perasaan dengan siapa pun lagi.
Angin yang berhembu, membawa serpihan abu dari baju yang sudah terbakar. Vanila memandangi serpihan abu itu terbang ke atas, seperti serpihan abu yang dibawa angin pergi begitu pula perasaannya pada Abraham Aldway yang mulai hilang dari hatinya. Seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan semakin pergi dari hatinya sehingga dia bisa melupakan semuanya.
Vanila masih memandangi baju yang semakin habis terbakar. Air mata yang menetes di hapus sesekali. Menyakitkan, sudah pasti tapi sejak awal kebersamaan mereka memang sebuah kesalahan.
"Vanila, apa yang terbakar?!" suara teriakan Bilt terdengar di depan pintu. Dia datang untuk membawa makanan namun asap yang terlihat membuatnya terkejut karena dia pikir rumah Vanila terbakar.
"Buka pintunya, Vanila!" teriak Bilt lagi.
__ADS_1
Vanila menghapus air matanya dengan terburu-buru dan segera melangkah keluar. Teriakan Bilt kembali terdengar di depan pintu karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Vanila tapi saat Vanila membuka pintu dia terlihat lega.
"Asap apa itu, apa yang kau lakukan?" tanya Bilt.
"Bukan apa-apa," jawab Vanila.
"Tidak mungkin!" Bilt menerobos masuk untuk melihat keadaan namun dia tidak menemukan apa pun yang terbakar.
"Kau membuat aku takut saja, aku kira kau membakar rumahmu!"
"Aku tidak segila itu! Kenapa kau datang? Bukankah kau harus beristirahat?"
"Aku datang untuk mengantarkan makanan untukmu. Kau belum makan siang, bukan? Jangan sampai jatuh sakit dan tidak perlu memikirkan pria kasar itu lagi!" ucap Bilt seraya mengangkat makanan yang dia bawa.
Vanila tersneyum dan menghampiri Bilt. Sungguh dia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Bilt tapi dia sudah tidak bisa berada di sana lagi.
"Aku sangat beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu, aku sudah membuatmu berada di dalam masalah tapi kau begitu baik padaku. Mulai sekarang aku tidak akan merepotkan dirimu lagi, aku juga tidak akan membuatmu terlibat dalam masalah lagi," ucapnya.
"Apa maksud perkataanmu, Vanila?"
Vanila melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. Bilt memperhatikan wajahnya dengan serius, kenapa ucapan Vanila seperti ucapan perpisahan?
"Aku sudah memutuskannya, Bilt. Aku akan pergi dari sini," jawab Vanila.
"Apa maksudmu?" Bilt masih tidak paham.
__ADS_1
"Aku sudah mempersulit hidup kalian, aku benar-benar minta maaf. Aku sumber masalah dari apa yang kalian alami. Acton bahkan membenci aku sekarang. Aku sudah memikirkannya, aku akan pergi dan melupakan apa yang telah terjadi di kota ini tapi aku tidak akan lupa jika aku memiliki seorang sahabat sebaik dirimu."
"Bodoh, ke mana kau akan pergi? Kau tidak akan bertemu dengan sahabat sebaik aku lagi yang akan membawakan makanan untukmu" Bilt melangkah menghampirinya dan memeluknya.
"Oleh sebab kau sahabat terbaikku, aku tidak mau membuatmu berada di dalam masalah lagi. Percayalah, tidak ada hal menyenangkan jika kau dekat denganku. Aku harus pergi, Bilt. Aku juga ingin mengubur perasaan yang sedang aku rasakan dan melupakan semuanya."
Bilt tidak lagi bertanya, namun pelukannya semakin erat. Rasanya tidak rela kehilangan sahabat menyebalkan seperti Vanila tapi dia juga tidak bisa mencegah apa yang Vanila inginkan.
"Ke mana pun kau pergi, jangan lupa memberi aku kabar. Tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengatakan pada siapa pun di mana kau berada," ucap Bilt.
"Terima kasih, Bilt. Aku percaya padamu."
"Jadi, kapan kau akan pergi?" tanya Bilt seraya melepaskan pelukannya.
"Aku rasa dua hari lagi. Besok aku harus ke bar untuk mengundurkan diri. Aku tidak bisa pergi tanpa kabar, bukan?"
"Kau benar, aku mendukung apa pun keputusanmu, Vanila. Sekarang makan itu sebelum dingin, aku mau pulang untuk beristirahat."
"Aku benar-benar berterima kasih padamu," ucap Vanila. Dia tidak akan bosan mengatakan hal itu karena dia benar-benar bersyukur memiliki sahabat sebaik Bilt.
"Sudahlah, jangan terlalu bersedih," Bilt mengusap kepala Vanila sebelum dia pergi.
Vanila mengantar Bilt sampai di depan pintu dan melambaikan tangannya. Walau dalam keadaan punggung yang sakit namun Bilt masih mau mengantarkan makanan untuknya.
"Sampai jumpa besok!" teriak Vanila sambil melambai.
__ADS_1
Bilt juga melambaikan tangannya sebelum membawa motornya pergi. Vanila belum beranjak dan masih berdiri di depan pintu untuk melihat kepergian sahabat baiknya. Besok dia akan datang lebih pagi ke bar untuk mengundurkan diri dan dia juga akan menghabiskan waktu lebih lama dengan Bilt sebelum mereka berpisah namun sayangnya, itu adalah pertemuan terakhir mereka.