Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Perasaan Bahagia


__ADS_3

Setelah menikmati waktu mereka di bawah pohon, Abraham dan Vanila melanjutkan perjalanan mereka menuju kabin. Vanila tertidur saat itu karena dia sangat mengantuk. Dengan peta yang diberikan oleh Vanila, juga ponsel yang bisa menunjukkan arah membuat Abraham tidak mengalami kesulitan sama sekali.


Selama berkendara, dia merasa beberapa kejadian perah dia alami walau di hutan tadi dia merasa sangat asing namun apa yang dia lakukan dengan Vanila tidak akan dia lupakan. Perkataannya tadi ingin menjadikan Vanila sebagai kekasihnya bukanlah isapan jempol belaka tapi itu seandainya dia tidak memiliki kekasih.


Perjalanan yang mereka tempuh memang cukup jauh, tempat tujuan sudah dekat saat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Vanila terbangun dari tidur pulasnya,  namun dia masih terlihat malas untuk bergerak.


"Sudah bangun, Nona?" Abraham melirik ke arahnya sekilas.


"Hm, apa kita sudah dekat?" Vanila mengusap matanya yang masih terasa berat.


"Sepertinya sebentar lagi," Abraham melihat ke layar ponsel untuk melihat tujuan mereka.


"Apa perlu aku gantikan? Kau sudah berkendara begitu lama, kau pasti lelah."


"Tidak apa-apa, sudah tidak begitu jauh aku masih sanggup."


Vanila tersenyum dan memandanginya, dia sudah tidak sabar untuk cepat tiba agar mereka bisa tiba sebelum gelap karena malam ini dia sangat ingin menghabiskan waktu berdua dengan Abraham di depan api unggun jika perlu mereka berkemah di depan kabin seperti yang dia rencanakan.


Rasa tidak sabar semakin dia rasakan apa lagi dia sedang membayangkannya. Pasti malam mereka akan menjadi menyenangkan tapi ucapan Bilt kembali terngiang. Menyebalkan, semua gara-gara Bilt tapi bukankah dia juga berpikir demikian sebelumnya?


"Bagaimana jika nanti malam kita buat api unggun?" tanya Vanila.


"Boleh saja, apa kita akan membakar sesuatu?"


"Ya, semua sudah tersedia di kabin. Kita bisa menikmati malam sambil membakar makanan lalu camping di luar kabin untuk menikmati indahnya langit malam," ucap Vanila.


"Terdengar menyenangkan, Vanila," Entah kenapa dia merasa menyenangkan. Apa ini karena pertama kalinya atau karena dia memang tidak mengingat apa pun.


"Tentu saja menyenangkan, kau pasti tidak bisa melupakan apa yang akan kita lakukan nanti setelah tiba."


Abraham tersenyum, yeah... dia memang tidak akan melupakannya dan akan menikmati waktu mereka bersama sambil mencari memorynya yang hilang. Dia sangat berharap bisa mengingat sesuatu walau sedikit. Setelah berkendara cukup lama, tempat tujuan sudah terlihat, sebuah kabin yang tidak begitu besar.

__ADS_1


Vanila melihat tempat itu dengan ekspresi wajah senang, dia benar-benar harus berterima kasih pada Bilt nanti. Mobil mulai melambat, Vanila melompat turun setelah mobil berhenti. Tempat itu benar-benar indah, sebuah danau kecil berada di depan kabin.


Dia bahkan berlari menuju danau dan berdiri di sisinya. Seandainya dia bisa terus menikmati waktu seperti itu, hidupnya pasti akan menyenangkan dan dipenuhi warna. Oleh sebab itu kesempatan tidak boleh dia sia-siakan, dan dia akan mengukir kenangan indah di tempat itu.


Abraham menghampiri Vanila karena dia ingin memberikan ponselnya. Tempat itu benar-benar indah, entah dari mana Vanila bisa tahu tempat itu tapi dia memuji keindahannya.


"Ponselmu," Abraham sudah berdiri di sisi Vanila dan memberikan ponselnya.


"Bagaimana, tempat ini indah, bukan?" tanya Vanila seraya mengambil ponsel.


"Tentu saja," Abraham melihat sekeliling yang hanya di kelilingi hutan. Suasana sepi seperti itu sangat bagus untuk merefres pikiran.


"Ini kunci kabinnya, aku ingin menghubungi sahabatku untuk berterima kasih padanya. Nanti aku akan membantu setelah selesai."


"Baiklah, aku tunggu di dalam," Abraham mengambil kunci kabin dan sebelum pergi, Abraham memberikan sebuah ciuman di dahi.


Vanila tersenyum, betapa indahnya kebersamaan yang seperti itu dan dia sangat beruntung bisa berada di sana. Tidak ingin membuang waktunya karena setiap detiknya sangatlah berharga. Vanila duduk di sisi jembatan dan menghubungi Bilt untuk mengucapkan terima kasih.


"Hm, tempat ini sangat indah. Terima kasih, Bilt. Semua berkat dirimu," ucap Vanila.


"Aku iba padamu tapi kau harus ingat, kau harus membalasnya suatu saat nanti."


"Pasti, Bilt. Aku pasti akan membalas kebaikanmu, aku juga akan membawakan oleh-oleh untukmu setelah aku kembali."


"Ck, di sana hanya ada pohon dan hutan. Memangnya oleh-oleh apa yang bisa kau bawakan?"


"Ranting pohon dan dedaunan kering," ucap Vanila bercanda.


"Sialan, untuk apa aku semua itu? Apa kau pikir aku berang-berang yang membutuhkan semua itu untuk membuat rumah!" ucap Bilt kesal.


Vanila tertawa, dia sangat senang menggoda Bilt. Walau Bilt suka marah dan kesal tapi dia pemuda yang sangat baik. Tapi untuk dijadikan teman. Mereka tidak mungkin berjodoh tapi bagaimana jika tebakannya salah? Karena suatu saat nanti, dia harus mengambil keputusan sulit.

__ADS_1


"Baiklah, aku hanya bercanda saja. Aku sangat berterima kasih padamu, Bilt."


"Sudahlah, tapi kau harus ingat pesan yang aku ucapkan padamu, Vanila. Jangan membuat kesalahan yang bisa membuatmu menyesal," ucap Bilt mengingatkan.


"Terima kasih sudah mengingatkan aku tapi aku tidak akan menyesali apa pun yang aku lakukan di sini nantinya."


"Hei, apa maksudmu?" tanya Bilt curiga.


"Bukan apa-apa," jawab Vanila. Tapi sesungguhnya dia memang tidak akan menyesali apa pun yang akan dia lakukan bersama Abraham selama di kabin itu karena dia tahu, kebersamaan mereka tidak akan terulang kembali.


"Baiklah jika begitu, berhati-hatilah. Aku ingatkan sekali lagi, jangan melakukan perbuatan yang bisa membuatmu menyesal di kemudian hari!"


"Aku tahu, Bilt. Kau benar-benar sudah seperti seorang ayah saja!"


"Ck, siapa yang mau jadi ayahmu. Jadi sahabatmu saja sudah pusing apalagi jadi ayahmu!"


Vanila terkekeh, jika Bilt mengetahui kehidupan seperti apa yang dia jalani selama ini, dia yakin Bilt tidak akan percaya.


"Sudah sana, nikmati waktu kalian sebaik mungkin sebelum dia kembali ke pelukan tunangannya."


"Terima kasih sudah mengingatkan, aku mau masuk ke Kabin. Bye," ucap Vanila. Pembicaraan mereka pun selesai karena Bilt juga harus bekerja.


Vanila melangkah menuju kabin dengan wajah ceria. Matanya terpejam, Vanila juga menghirup segarnya udara lalu kedua tangan di rentangkan dan tubuhnya pun diputar. Dia harus menikmati udara kebebasan itu sebisa mungkin. Vanila bahkan bernyanyi sambil berlari kecil, dunianya benar-benar terasa indah saat ini.


Senyum terukir di bibir saat melihat Abraham keluar dari kamar. Bolehkah saat ini dia menganggap Abraham sebagai kekasihnya? Walau hanya dalam fantasi saja, dia sangat ingin menganggapnya demikian.


"Kenapa begitu senang?" tanya Abraham.


"Karena aku berada di tempat ini bersama denganmu," Vanila menghampiri Abraham dan memeluknya. Untuk sesaat dia ingin seperti itu, untuk menikmati kebahagiaan yang sedang meluap di dalam hatinya.


Pelukan yang Abraham berikan, semakin membuatnya bahagia. Sentuhan tangan dan juga ciuman lembut yang pria itu berikan benar-benar membuat Vanila lupa dengan permasalahan yang sedang terjadi dan permasalahan yang akan terjadi nantinya.

__ADS_1


__ADS_2