
Lagi-Lagi sebuah undangan didapat oleh Bilt dan tentunya dia menjadi tamu istimewa lagi. Ini undangan kedua dari kerajaan yang dia dapatkan. Bilt sangat senang mendapatkan undangan tersebut. Dia bahkan terlihat tidak sabar dan terburu-buru.
Ini kesempatan bagus untuk bertemu dengan wanita incarannya waktu itu. Sang putri bangsawan yang dia goda saat pernikahan Vanila. Semoga kali ini sang putri bangsawan itu juga datang karena kali ini dia tidak sekedar menggoda saja. Kali ini dia ingin serius.
"Aku datang, Sabrina yang cantik. Semoga kita berjodoh karena aku ingin membawamu pulang," ucap Bilt penuh semangat. Sesungguhnya hubungan mereka sudah dekat sejak saat itu. Walau berada di negara yang berbeda tapi mereka sering berbicara melalui telepon.
Hampir setiap hari Bilt menghubungi wanita yang bernama Sabrina itu. Mereka bahkan melakukan video call setiap malam oleh sebab itu Bilt tidak ragu lagi. Dia sudah sangat yakin dan akan memberanikan diri nanti.
Bar ditinggalkan pada orang kepercayaannya, kali ini dia mau pergi menemui wanita yang dia sukai dan membawanya pulang sebagai stri. Jodohnya tidak ada di Australia, sepertinya para gadis Australia tidak berminat dengannya atau jangan-jangan dia kurang menarik. Apa pun itu, kali ini misinya membawa pulang istri harus berhasil.
Dengan tiket penerbangan vip yang bisa dia gunakan kapan saja, membuat Bilt memutuskan untuk langsung datang ke Swedia. Lagi pula dia yakin Vanila sudah berada di sana. Rasanya sudah lama tidak melihat sahabat gilanya itu. Ternyata tidak Norman saja, Bilt juga tidak mau mendapatkan wanita dengan sifat seperti Vanila karena sahabatnya itu, dia hampir menjadi bebegig di kebun jagung.
Tentunya Vanila sudah berada di istana bersama dengan suami dan putrinya. Satu hal yang dia lupakan selama ini, dia lupa dengan bar miliknya. Apa kakaknya sudah melakukan sesuatu pada bar itu, ataukah bar itu masih beroperasi? Karena ingin tahu, Vanila mencari kakaknya yang sedang sibuk memberi perintah pada para pengawal istana.
"Norman, apa kau punya waktu sebentar?" tanyanya.
"Sekarang kau memanggil namaku, namun tidak lama lagi kau akan memanggil aku kakak!" ucap Norman.
"Ayolah, mau memanggilmu seperti apa yang pasti kau adalah kakakku!"
"Baiklah, katakan ada apa. Aku tidak bisa lama karena masih banyak yang harus aku kerjakan."
"Aku hanya ingin tahu, mengenai bar yang aku miliki. Apa kau sudah melakukan sesuatu pada bar itu? Apa barnya masih beroperasi atau sudah kau tutup?" tanyanya ingin tahu.
"Oh, sudah aku berikan pada putri Marion."
"Apa, kau memberikan bar itu pada putri Marion?"
"Kenapa, jangan katakan kau tidak rela," ucap Norman seraya memandangi adiknya.
"Bukan begitu, tentu saja aku rela. Aku justru senang ada yang mengelola bar itu agar para karyawan yang sudah bekerja di sana masih tetap bisa bekerja."
"Tidak saja bar milikmu, aku juga memberikan rumah milik Nenek pada Marion."
"Apa Mommy tidak keberatan akan rumah itu? Kau tahu banyak kenangan kebersamaan kita dengan nenek di rumah itu."
__ADS_1
"Aku tahu, Vanila. Tapi mau kau atau pun aku, tidak mungkin tinggal di sana lagi. Mommy juga tidak akan kembali ke sana jadi tidak ada salahnya memberikan rumah itu pada Marion apalagi dia sudah lama melayani nenek," jelas Norman. Di rumah itu memang memiliki banyak kenangan tapi mereka tidak mungkin tinggal di sana lagi oleh sebab itu dia memutuskan memberikan rumah itu pada Marion dan bar milik Vanila pada putrinya. Itu semua sepadan dengan pengabdian Marion selama puluhan tahun.
"Baiklah, yang kau katakan sangat benar. Jika begitu, maaf sudah mengganggu waktumu."
"Aku akan mencarimu nanti," ucap Norman.
Vanila mengangguk dan tersenyum, Norman kembali berbicara dengan beberapa pengawal istana. Vanila melangkah menuju kamarnya, Ana sedang tidur ditemani ayahnya. Dengan perlahan Vanila naik ke atas ranjang namun suara ponsel yang berbunyi justru membuatnya kembali turun dari ranjang dan mengambil ponselnya dengan terburu-buru.
Vanila melangkah menuju jendela sambil menjawab telepon dari Bilt, dia tahu sahabatnya pasti akan menghubungi setelah mendapatkan undangan itu.
"Ada apa, Bilt? Apa kau akan datang?"
"Tentu saja, aku pasti datang karena ini kesempatanku," ucap Bilt. saat itu dia sudah berada di dalam pesawat.
"Kesempatan untuk apa?" tanya Vanila tidak mengerti.
"Tentu saja kesempatanku untuk mendapatkan istri. Kali ini aku harus pulang membawa seorang istri!" ucap Bilt.
Vanila terkekeh, siapa yang sedang diincar oleh Bilt? Dia jadi penasaran dan ingin tahu. Siapa wanita yang sudah mengambil hati Bilt?
"Baiklah, kapan kau akan datang? Aku akan meminta seseorang untuk menjemputmu."
"Hei, siapa dia?" tanya Vanila ingin tahu.
"Rahasia, sobat. Aku tidak mau kau mengenalnya terlebih dahulu agar dia tidak terkontaminasi kegilaanmu!!"
"Menyebalkan, apa kau kira aku virus?"
Sekarang Bilt yang terkekeh, dia hanya bercanda saja tapi dia memang tidak mau yang gila seperti Vanila karena dia tidak mau tertangkap untuk hal apa pun lagi.
"Aku hanya bercanda, jangan marah. Apa kau menginginkan sesuatu? Aku akan membawakannya untukmu," ucap Bilt basa basi.
"Kau sudah berada di dalam pesawat jadi jangan sok basa basi!"
"Ups, aku lupa. Lain kali aku belikan."
__ADS_1
"Sudahlah, hati-hati di jalan."
"Oke, sampai jumpa nanti!"
Vanila tersenyum, semoga saja Bilt berhasil dengan misinya untuk melamar wanita yang dia incar. Semoga dia mendapatkan kebahagiaan karena Bilt sudah banyak membantunya dan dia juga banyak mendapat perlakuan tidak menyenangkan gara-gara dirinya.
Vanila kembali melangkah menuju ranjang dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Ana masih tidur saat Vanila berbaring di sisi suaminya.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Abraham yang sudah terbangun sejak tadi karena suara ponsel.
"Bilt, dia sedang di perjalanan."
"Begitu tidak sabar, apa ada yang hendak dia lakukan?"
"Yeah, dia bilang kedatangannya tidak saja menghadiri acara pelantikan kak Norman tapi dia juga berkata jika dia memiliki misi."
"Misi, Misi apa?" tiba-tiba Abraham jadi penasaran.
"Misi membawa pulang wanita yang dia sukai menjadi istrinya," jawab Vanila.
"Wow, misi yang unik. Semoga dia berhasil!"
"Yeah.. semoga sahabat kita berhasil," Vanila berbaring dengan nyaman di dalam pelukan suaminya. Semoga Bilt berhasil dengan misinya. Jujur saja dia penasaran dengan wanita yang sedang diincar oleh Bilt. Sepertinya dia harus mengintip karena dia penasaran.
Pesawat yang ditumpangi Bilt sudah akan lepas landas tapi sebelum itu Bilt menghubungi Sabrina dan berbicara sebentar dengannya.
"Apa kau akan datang ke acara pelantikan Norman Elouis?" tanyanya.
"Tentu saja, ayah dan ibuku diundang jadi kami pasti ke sana."
"Bagus, aku ingin memberikan kejutan untukmu," Bilt sungguh sudah tidak sabar.
"Kejutan, apa itu?" tanya Sabrina ingin tahu.
"Hei, jika aku katakan maka tidak akan menjadi kejutan!"
__ADS_1
"Baiklah, Bilt. Aku menunggu kejutan darimu. Semoga kejutan manis yang akan kau berikan," ucap Sabrina.
"Tentu saja, aku pasti akan memberikan kejutan manis untukmu," semoga ini kabar baik dari Sabrina dan semoga saja misinya untuk membawa Sabrina pulang menjadi istrinya tidak gagal. Jujur saja, dia semakin tidak sabar untu segera bertemu dengan Sabrina.