
Bilt membawa mobilnya dengan cepat, sang supir truk merasa dirinya seorang pembalap sehingga mobil dibawa dengan cepat pula. Abraham tidak mau kehilangan jejak pemuda itu karena dia adalah petunjuk apalagi dia tahu, dia tidak akan bertemu lagi dengan Bilt jika dia gagal.
Suara umpatan Bilt terdengar, siapa pun yang mengejar dia tahu bukan hal yang baik dan dia juga tahu semua itu berhubungan dengan Vanila karena dia tidak menemukan kesulitan apa pun saat tidak bertemu dengannya tapi yang kali ini, dia harus bisa lari.
Yang terakhir kali dia mendapat kompensasi lima miliar, yang kali ini jangan-jangan nyawa melayang. Vanila Elouis, dia sungguh tidak punya nyali menikahinya. Bertemu dengannya saja sudah membawanya dalam masalah apalagi menikahnya.
"Come on, jangan mengikuti aku!" ucap Bilt. Tatapannya tidak lepas dari truk. Dia berusaha melihat siapa yang ada di dalam truk tapi sedikit sulit.
Truk masih terus saja mengikutinya, Bilt mengumpat kesal saat melihat bensin yang semakin sedikit. Tidak bisa, sejauh apa pun dia lari truk itu akan terus mengejar apalagi jalanan itu hanya lurus saja. Bilt memutar otak, mau tidak mau mobil dihentikan di sisi jalan.
Abraham juga meminta truk dihentikan, Bilt tampak keluar dari mobil lalu dia berlari menuju ladang jagung. Dia akan mengelabui siapa pun yang sedang mengejarnya bahkan dia tidak akan ragu untuk berpura-pura menjadi bebegig.
Setelah mengucapkan terima kasih, Abraham melompat turun dan mengejar Bilt. Pemuda itu sudah berlari dan menyembunyikan diri di antara pohon jagung yang tinggi. Dia ingin melihat siapa yang mengejar dan ketika melihat Abraham, Bilt mengumpat.
Ternyata benar, dia dalam masalah setelah bertemu dengan Vanila dan lagi-lagi dia harus berurusan dengan pria itu. Kali ini dia akan mengelabui Abraham, dia tidak akan tertangkap dengan mudah seperti waktu itu lagi. Kali ini dia tidak mau disiksa, apalagi harus merasakan tali cambuk tapi apa yang dilakukan oleh Abraham di tempat terpencil itu?
Abraham mencari di antara pohon jagung, ke mana pemuda itu? Sungguh cerdik, mencari seseorang di antara pohon jagung yang tinggi tidaklah mudah. Abraham terus mencari, sedangkan Bilt sudah menghillang di antara pepohonan jagung. Sekarang saatnya dia kembali ke mobil dan pergi tapi mana jalannya untuk kembali?
Bilt melihat sana sini, oh tidak. Dia tersesat di antara pepohonan jagung yang tinggi. Dia mencoba melompat untuk melihat jalanan namun tingginya pohon jagung membuatnya tidak bisa melihat apa pun.
"Keluarlah! Aku hanya ingin berbicara denganmu!" teriakan Abraham terdengar. Bilt menerobos pohon jagung, semoga dia menemukan jalan keluar dari ladang itu. Terserah Abraham mau tersesat atau tidak, dia tidak peduli tapi semakin lama dia melangkah, dia justru semakin tersesat bahkan dia bertemu dengan boneka bebegig yang berdiri kokoh.
"Dasar kau bodoh, Bilt. Kenapa jadi kau yang tersesat?" Bilt mengangkat wajah, melihat boneka jerami yang berdiri kokoh. Jika dia menaiki boneka jerami itu, apakah dia bisa menemukan keberadaan jalan raya?
"Keluar aku bilang!" Abraham kembali berteriak, dia tampak kesal.
"Keluar ke mana, Bung? Aku sendiri tidak tahu jalan keluarnya!" ucap Bilt. Sepertinya mau tidak mau dia memang harus menaiki boneka jerami tersebut untuk mencari jalan raya.
Abraham masih terus mencari, dia sudah menandai jalan keluar dengan menumbangkan pohon jagung yang dia lewati, Setidaknya dia tidak sebodoh Bilt karena dia tahu dia akan kesulitan menemukan jalan keluar jika berada di kebun seperti itu.
Bilt mulai melakukan aksi gilanya, dia mencoba memanjat boneka yang tergantung pada satu tiang namun apa yang dia lakukan tidaklah mudah. Dia jatuh beberapa kali, Bilt bahkan mengumpat marah. Sungguh ide yang konyol. Jika dia tahu akan jadi seperti itu, dia tidak akan masuk ke dalam ladang jagung.
__ADS_1
"Jangan main-main denganku, cepat keluar!" teriak Abraham.
Bilt berbaring di atas pohon jagung yang sudah mengering, tatapan mata menatap ke langit biru. Napas berat pun dihembuskan, dia rasa dia tidak bisa pergi ke mana pun. Dia juga tidak mau menginap di ladang jagung itu karena hari sudah mau gelap.
"Setelah ini aku tidak mau bertemu dengamu lagi, Vanila," ucapnya.
Bilt beranjak, suara teriakan Abraham kembali terdengar. Mau tidak mau dia harus menyerah. Tapi dia harus berpura-pura bernegosiasi agar tidak terlihat memalukan.
"Untuk apa kau mengejarku?" teriak Bilt.
Abraham mencari datangnya suara, dia melangkah mendekati suara Bilt yang kembali terdengar.
"Kita tidak punya masalah apa pun tapi kenapa kau mengikuti aku?!" teriak Bilt.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu saja!" teriak Abraham.
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan!" Bilt kembali berteriak.
"Kali ini aku mencarimu dengan maksud baik, aku tidak akan berbuat kasar padamu seperti waktu itu!"
"Katakan padaku, di mana Vanila?" suara Abraham sudah semakin dekat karena dia hampir tiba di tempat Bilt.
"Kenapa kau bertanya padaku? Pergi dan tanyakan keberadaannya pada keluarganya. Aku rasa mereka lebih tahu dari pada aku!"
"Kau sahabat baiknya, tidak mungkin kau tidak tahu keberadaannya!" Abraham muncul dari balik pohon jagung, Bilt menatap pria itu dengan tajam. Tidak saja dirinya yang harus selalu terlibat dengan orang yang salah tapi Vanila juga sudah mengganggu orang yang salah.
"Sungguh lucu, aku tidak tahu di mana dia berada. Aku sudah tidak pernah mengetahui keberadaannya lagi setelah dia pergi begitu saja!" dusta Bilt.
"Jangan berdusta, katakan padaku di mana dia berada maka aku akan memberikan apa pun yang kau mau!" ucap Abraham. Dia akan mencoba bernegosiasi dengan pemuda itu.
"Sekalipun kau memberikan aku segunung emas, aku tidak tertarik!" ucap Bilt sambil membuang muka.
__ADS_1
"Jadi apa yang kau inginkan? Katakan saja padaku. Akan aku berikan asal kau memberitahu di mana Vanila berada!" Abraham berusaha bersabar, bagaimanapun pria itu petunjuk satu-satunya yang dia miliki.
"Aku ingin kau menghilang dari pandanganku!" ucap Bilt sinis.
"Katakan padaku di mana Vanila maka aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu!"
"Untuk apa lagi kau mencarinya? Waktu itu kau ingin membunuhnya jadi buat apa lagi kau mencarinya?Bukankah kau yang tidak ingin bertemu dengannya lagi? Jangan menjilat ludah yang sudah kau buang!" ucap Bilt sinis.
"Kau?"Abraham mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia tidak bisa membalas ucapan yang Bilt berikan karena memang itu kenyataannya.
"Jangan buang waktu, katakan di mana dia," Abraham masih berharap Bilt mau mengatakannya.
"Sudah aku katakan, aku tidak tahu!" Bilt membuang wajah, bagaimanapun dia tidak akan mengatakkan di mana Vanila berada.
Abraham diam, menatapnnya tajam. Bilt juga melakukan hal yang sama. Suasana hening, namun suasana itu terusik dengan suara ponsal Bilt. Ponsel diambil, Bilt melihatnya. Vanila? Bukan situasi yang tepat untuk menjawab.
Bilt mematikan ponselnya, namun Vanila kembali menghubungi karena dia sudah menunggu Bilt di bar. Untuk kedua kali, Bilt mematikan ponselnya, tentunya hal itu membuat Abraham heran.
"Kenapa tidak kau jawab, itu dari Vanila, bukan?"
"Jangan asal menebak!" ucap Bilt kesal.
"Jike begitu jawab!"
"Tidak ada urusannya denganmu!"
"Jawab jika tidak aku akan merebut paksa ponselmu!"
"Ambil jika kau bisa!" Bilt justru menantang.
Abraham kesal setengah mati, dia berjalan mendekat. Bilt memasukkan ponsel ke saku, dia tidak akan memberikan ponselnya pada Abraham namun dia justru membuat kesalahan. Dia justru menjawab panggilan dari Vanila dan menekan pengeras suara tanpa sengaja.
__ADS_1
"Bilt, di mana kau? Aku sudah berada di bar!"
Bilt terkejut, begitu juga dengan Abraham. Bilt mamatikan ponselnya dengan terburu-buru namun Abraham sudah berlari pergi. Bilt mengumpat, celaka. Mau tidak mau dia harus mengikuti Abraham karena dia tidak mau berduaan dengan boneka jerami yang mengerikan.