
Renata terlihat kesal karena beberapa orang yang dia minta untuk memantau rumah kedua orangtua Abraham mengatakan rumah itu kosong, tidak ada siapa pun bahkan satu pelayan pun tidak. Itu karena Gaston meliburkan mereka semua.
Renata mengira rumah itu juga dijual, jangan katakan mereka semua sudah pindah dan tinggal di Swedia. Tapi tidak mungkin, dia tahu Abraham tidak akan meninggalkan perusahaannya.
Rasanya sangat ingin berteriak dan memaki. Dia kira semua akan mudah setelah wajahnya berubah tapi nyatanya tidak, dia justru kesulitan mencari keberadaan Abraham. Jika seperti ini, bagaimana dia bisa menghabisi Vanila Elouis?
"Sial!" umpatnya dengan amarah tertahan. Padahal dia tidak berniat lama berada di kota itu karena setelah menghabisi Vanila Elouis, dia berniat melarikan diri yang jauh sehingga tidak ada yang tahu di mana keberadaannya.
"Kenapa kau marah seperti itu?" seorang pria bertanya, dialah yang akan membantu Renata. Tidak masalah membantunya yang penting tujuannya tercapai.
"Aku kira akan mudah tapi ternyata sulit. Mereka justru hilang begitu saja!" ucap Renata.
"Siapa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya pria itu lagi.
"Aku menginginkan kematian Vanila Elouis agar mereka berdua kembali merasakan kehancuran dan aku yakin, yang kali ini akan membuat mereka semakin hancur!" ucap Renata dengan kemarahan yang berkobar di hati.
"Kenapa kau tidak memanfaatkan orang-orang terdekat mereka untuk memancing mereka keluar? Sahabat atau siapa pun yang bisa kau manfaatkan," pria itu bertanya demikian karena dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Renata.
"Siapa? Vanila putri kerajaan, aku rasa sahabatnya juga bukan orang yang bisa dimanfaatkan!!" ucap Renata.
"Jika begitu, apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
Renata diam, dia tampak sedang berpikir. Apa yang harus dia lakukan? Dia benar-benar tidak tahu karena dia pikir dia bisa melakukan apa yang pernah dia lakukan pada Emely dulu dengan mudah. Tapi semua jadi sulit karena yang kehilangan jejak adalah dirinya. Apa yang harus dia lakukan?
"Kau benar-benar tidak ada rencana, Bryana," ucap pria itu. Bryana adalah nama samaran yang digunakan oleh Renata.
"Diam, kau juga tidak punya rencana Sonny padahal kau juga berkata ingin membalas dendam pada mereka berdua!" teriak Renata.
"Aku sudah punya rencana, tidak seperti dirimu!" pria yang bernama Sonny beranjak, tentu dia mau membantu Renata karena dia menyimpan dendam pada Abraham dan juga Norman.
"Mau apa kau?" Renata mengikuti langkah Sonny. Apa yang hendak pria itu lakukan?
"Kau menginginkan Vanila Elouis, bukan? Aku juga menginginkannya. Seharusnya kau tahu itu karena mereka harus membayar kematian adikku!" ucap Sonny dengan penuh dendam.
Sonny yang hidup sebagai penjahat jalanan di Amerika, tidak tahu apa yang terjadi pada Emely. Dia memang tidak pernah mencari Emely karena dia tidak tahu kemana ibunya membawa sang adik pergi sedangkan dia dibawa oleh ayahnya yang seorang penjudi dan pemabuk.
Renata mengetahui itu dari Emely sendiri. Emely selalu berkata jika dia sangat ingin pergi ke New York untuk mencari keberadaan kakaknya namun dia tidak memiliki uang. Emely bahkan menunjukkan wajah kakaknya pada Renata, sebab itu dia pergi ke New York dan bisa menemukan keberadaan Sonny dengan mudah.
Sonny yang juga sangat ingin bertemu dengan sang adik dimanfaatkan oleh Renata. Lagi-Lagi dia muncul seperti malaikat, berpura-pura baik dan berpura-pura menyampaikan pesan yang diucapkan terakhir kali oleh Emely untuk kakaknya padahal pesan itu tidak pernah ada. Tentunya kematian Emely membuat Sonny sangat terkejut, di sanalah peran Renata dimulai. Tipu muslihat dan hasutan pun dilancarkan.
Norman dan Abraham disebut sebagai orang yang telah menyebabkan kematian Emely. Amarah dan kebencian meluap dihati, oleh sebab itu Sonny bersedia bergabung dengan Renata yang sudah menyamar untuk menghabisi dua orang yang sudah membunuh adiknya.
Sonny yang tidak tahu apa pun termakan tipuan Renata. Lagi pula dia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan adiknya selama ini. Da juga tidak tahu jika Emely sudah meninggal belasan tahun yang lalu dan dia menyangka Emely baru meninggal tidak lama.
__ADS_1
Tidak saja terpikat dengan wajah baru Renata, wanita itu juga bisa memberinya informasi akan kedua orang yang sudah membunuh adiknya. Semula dia berpikir untuk Vanila Elouis dan membunuhnya. Dia akan membuat kedua orang yang sudah membunuh adiknya merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayang namun jejak yang hilang membuatnya merubah rencana.
"Lalu, kau ingin pergi ke mana?" tanya Renata.
"Katakan padaku di mana aku bisa bertemu dengan Abraham Aldway? Jika kau tidak mau ikut, maka duduk diam saja dan lihat hasil yang aku dapatkan!" ucap Sonny.
Diam-Diam Renata tersenyum licik, menarik. Sonny memang penjahat jalanan yang tidak akan pikir panjang untuk membunuh seseorang. Sepertinya dia tidak perlu mengotori kedua tangannya untuk membunuh mereka semua. Vanila Elouis, Norman atau Abraham, jika mereka berakhir di tangan Sonny itu lebih baik. Mereka memang pantas mendapatkan kematian. Dengan begitu tidak akan ada yang mengejarnya. Kekuatan yang dia dapatkan memang tidak salah, Sonny adalah pria bodoh ketiga yang bisa dia tipu selain Abraham dan Norman tapi bagaimana jika apa yang dia inginkan tidak sesuai dengan rencana?
Sebuah alamat sudah diberikan oleh Renata. Sonny tidak peduli siapa wanita itu, yang dia inginkan hanya membalas kematian adiknya. Lagi pula dia bisa menikmati tubuh Renata dengan mudah. Ada uang, ada barang. Itu istilah yang tepat untuk mereka berdua. Renata bahkan sudah membawanya ke makam Emely yang dia rombak sehingga terlihat baru bahkan tanggal kematian Emely dihapus sehingga Sonny semakin percaya adiknya baru saja meninggal.
Sonny mengumpulkan anak buah yang dia bawa, dia bergegas pergi namun Renata mengikutinya secara diam-diam karena ada yang hedak dia lakukan. Lagi pula dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Sonny. Dia menebak Sonny hendak menyerang Abraham. Tidak jadi soal jika memang itu yang hendak dilakukan oleh Sonny meskipun dia tahu Abraham bukan orang yang mudah dibunuh namun semua itu bisa terjadi jika Sonny lebih pintar darinya.
Sonny pergi ke perusahaan Abraham, dia mengintai Abraham dari sana. Dia sudah melihat rupa Abraham jadi dia tidak mungkin salah mengenali. Renata tidak jauh darinya, dia juga mengintai tanpa sepengetahuan Sonny.
Mereka menunggu cukup lama dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Abraham keluar dari kantor bersama dengan Gaston.
Sonny menatap Abraham dengan penuh dendam dari balik teropong, Renata juga melihat Abraham dengan perasaan benci. Jika Abraham mati di tangan Sonny, itu lebih baik karena dengan demikian tidak akan ada yang bisa memilikinya.
Sonny sudah siap dengan sepucuk senjata api, dia akan menembak kepala pria itu namun sebuah mobil yang berhenti menghalangi dirinya. Umpatannya terdengar apalagi Abraham masuk ke dalam mobil bersama dengan Gaston. Padahal satu tembakan sudah cukup untuk melubangi kepala pria itu namun dia gagal.
Mobil yang membawa Abraham pun berjalan pergi, Sonny memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti. Renata juga mengikuti mereka, dia tidak boleh melewatkan tontonan menarik yaitu kematian Abraham di tangan Sonny.
__ADS_1