Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Sebaiknya Dia TidakTahu


__ADS_3

Vanila sudah selesai karena karyawannya sudah datang. Dia duduk bersama dengan Bilt di sebuah meja yang sedikit jauh dari keramaian. Sebotol minuman sudah berada di atas meja, dengan sebuah gelas kosong. Bilt sungguh tidak menduga, Vanila bisa berada di kota kecil itu.


Ini benar-benar pertemuan yang tidak terduga, dia tidak menduga bisa bertemu lagi dengan Vanila setelah sekian lama. Padahal dia kira Vanila berada di istananya, tapi sepertinya tembok yang tinggi pun tidak bisa menahan keinginan gadis itu.


Vanila juga tidak menduga akan bertemu dengan sang sahabat baik di tempat itu, Bilt terlihat begitu berbeda, semua benar-benar sudah berubah.


"Apa yang kau lakukan di kota ini, Bilt?"


"Aku melakukan petualangan, Vanila. Aku pergi ke tempat-tempat indah untuk memulai petualanganku dan ini tempat terakhir yang aku kunjungi sebelum aku kembali ke Australia. Aku tidak menyangka kau ada di sini. Apa yang kau lakukan, kenapa kau tidak berada di Istana?"


"Dari mana kau tahu aku tinggal di Istana?" Vanila menatapnya serius.


"Gara-Gara kau, aku ditangkap oleh kakakmu dan hendak dicambuk olehnya!"


"Oh ya, Tuhan. Norman melakukan hal itu padamu?"


"Semua itu gara-gara kau!" ucap Bilt, lalu sebuah jitakan Vanila dapatkan.


"Aw, sakit!"


"Hng, lihat dirimu? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ditangkap oleh kakakmu karena dia mengira aku ayah dari bayi yang kau kandung, kenapa kau begitu bodoh, Vanila? Bukankah sudah aku katakan, dia tidak mungkin jadi milikmu!"


"Aku tahu, Bilt," Vanila tersenyum tipis. Tentu dia tahu tapi dia tidak menyesal sama sekali karena dari kebodohan yang dia lakukan, dia mendapatkan sesuatu yang berharga. Walau cinta yang dia rasakan sesaat namun kenangan yang mereka lewati tidak akan dia lupakan karena kenangan itu akan selalu ada sampai seumur hidupnya.


"kau tahu, tapi kau masih bermain api. Apa yang membuatmu senekad itu?"


"Aku melakukannya karena sebuah alasan tapi aku tidak menyesal sama sekali. Walau aku melakukan kesalahan dan merepotkan semua orang terutama dirimu tapi sekarang, aku sangat menikmati kehidupanku. Maaf lagi-lagi aku membawamu dalam masalah, Norman tidak melakukan perbuatan buruk padamu, bukan?"


"Baiklah, lupakan. Sekarang jawab aku, apa yang kau lakukan di sini, bukankah kau hamil anaknya?"


"Yeah, sekarang aku menetap di kota ini. Ini bar milikku, putri kecilku ada di rumah," jawab Vanila sambil tersenyum.


"Oh, ****. Hidupmu benar-benar berubah sekarang!"

__ADS_1


"Terima kasih, kau sendiri, apa kau masih bekerja di bar itu?"


"Oh, tentu tidak. Ini petualangan terakhirku. Setelah ini aku akan mengelola sebuah bar yang aku beli. Setidaknya kakakmu memberikan aku kompensasi yang cukup besar sehingga aku bisa berpetualangan seperti ini."


"Aku senang mendengarnya, Bilt. Aku minta maaf jika kakakku sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan padamu."


"Ck, jika tidak karena lima miliar yang dia berikan, aku pasti sudah membuat perhitungan denganmu karena hampir saja aku mati di tali cambuk berduri!" ucap Bilt dengan nada kesal.


"Jadi nyawamu hanya seharga lima miliar?"


"Bukan seperti itu, untungnya aku cerdik jika tidak aku sudah mati!"


Vanila tersenyum, dia sangat senang bertemu lagi dengan Bilt. Padahal dia mengira mereka tidak akan bertemu lagi, hanya pria itu saja sahabat yang dia miliki.


"Ngomong-Ngomong, di mana kau tinggal? Apa kau melahirkan anaknya?"


"Tentu saja, Bilt. Aku tinggal di rumah peninggalan nenekku. Apa kau ingin bertemu dengan putriku?"


"Tentu saja, aku mau lihat siapa yang lebih unggul tapi apa kau mengatakan hal ini padanya? Aku rasa dia harus tahu, bukan?"


Sebuah rumah sederhana sudah terlihat, seorang wanita tua sedang berdiri di depan rumah sambil menggendong bayi lucu yang menggemaskan.


"Anatasya, Mommy pulang," Vanila menghampiri Marion dengan terburu-buru dan mengambil putrinya dari gendongan Marion.


Bilt tersenyum melihat itu, baiklah. Dia harap Vanila tidak segila dulu setelah menjadi seorang ibu.


"Siapa dia, Nona?" tanya Marion.


"Sahabat lamaku," Vanila menghampiri Bilt yang masih berdiri di sisi mobil.


"Kenapa kau diam saja, ayo masuk," ajak Vanila.


"Kau tinggal sendiri?" Bilt melihat sana sini.

__ADS_1


"Tidak, kami tinggal bertiga."


"Usia putrimu?"


"Tiga bulan, tapi tolong jangan katakan pada siapa pun keberadaan kami terutama dia," pinta Vanila.


"Kenapa, Vanila? Dia ayah dari putrimu, bukankah dia berhak tahu akan hal ini? Aku rasa tidak adil menyembunyikan hal sebesar ini darinya!"


"Sebaiknya dia tidak tahu. Jujur saja semenjak hari itu, perasaan untuknya sudah tidak ada lagi. Aku benci dengannya yang telah memperlakukan kau dan Acton begitu keji padahal semua adalah kesalahanku. Semenjak hari itu, aku sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya padahal aku bisa mengatakan kehamilanku padanya saat itu. Lagi pula dia yang meminta aku untuk tidak menunjukkan wajahku lagi di hadapannya dan aku rasa, dia sudah menikahi tunangannya."


"Mengenai hal ini," Bilt menghela napas sejenak, "Gara-Gara kau menghilang begitu saja, aku mengira kau diculik olehnya sebab itu aku mengirimkan rekaman akan pembicaraan tunangannya. Aku rasa karena rekaman itu dia tidak mungkin menikahi tunangannya," ucap Bilt. Walau dia tidak tahu apa yang terjadi pada Abraham tapi dia yakin, setelah mendengar rekaman yang dia berikan, Abraham tidak mungkin mempertahankan tunangannya. Hanya orang bodoh yang akan tetap bertahan dengan wanita yang menjalin hubungan karena uang.


Vanila diam, dia seperti tidak peduli dan memang dia sudah tidak peduli. Cinta sesaat yang dia rasakan sudah lama mati. Sekarang dia tidak peduli lagi dengan pria yang bernama Abraham. Sekalipun dia adalah ayah dari putrinya, tapi pria itu akan menjadi kenangan terindah dalam hidupnya.


"Aku tidak mau mendengar apa pun lagi tentangnya, Bilt. Sebaiknya kau menceritakan padaku bagaimana kehidupanmu, apa kau sudah menikah?"


"Aku pria bebas, aku lebih suka berpetualangan tapi jika kau ingin menikah denganku maka aku tidak keberatan!" ucap Bilt.


"Sembarangan!"


"Ayolah, aku akan menjadi ayah yang baik bagi putrimu. Lagi pula aku sudah punya uang, aku sudah mampu menghidupi kalian berdua."


"Ck, kau menghidupi kami dengan uang yang kakakku berikan. Sungguh luar biasa!"


"Apa pun itu, yang pasti aku sudah memiliki uang. Aku jamin kau tidak akan menyesal menikah denganku!" ucap Bilt lagi.


"Membayangkan harus tidur denganmu dan melakukan se*ks saja aku tidak sanggup!"


"Tidak perlu dibayangkan, kita bisa melakukannya di kamar yang gelap!"


"Sialan, otak mesum!" Vanila memukul bahu Bilt.


Bilt terkekeh, entah yang dia ucapkan serius atau tidak tapi dia memang lebih suka petualangan bahkan belum ada yang menjadi kekasihnya sampai saat ini.

__ADS_1


Mereka masih berbincang, Marion meletakkan minuman yang dia buat ke atas meja lalu mengambil putri kecil yang diberi nama Anatasya Elouis itu dan membawanya ke kamar karena Anatasya tertidur di dalam dekapan ibunya. Memang tidak dipungkiri, wajahnya mirip Abraham namun Vanila yakin, semakin Anatasya bertumbuh besar, wajahnya tidak akan mirip lagi dan dia harap demikian agar Abraham tidak mengenalinya jika suatu saat mereka bertemu tanpa sengaja.


__ADS_2