Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Jangan Menipu Diri Sendiri


__ADS_3

Anatasya sudah tidur, beberapa botol asi sudah berada di kulkas. Vanila mau pergi ke bar sebentar karena ada beberapa masalah yang harus dia selesaikan. Abraham berdiri di belakangnya saat Vanila mencuci pompa asi yang baru dia gunakan.


Vanila tidak mempedulikannya sama sekali, terserah pria itu mau melakukan apa dia tidak peduli. Vanila bahkan tidak mengajaknya bicara karena dia merasa hal itu tidaklah perlu.


Abraham berjalan mendekat, mereka berdua bagaikan musuh yang tinggal satu atap. Vanila benar-benar menunjukkan jika dia tidak suka dengan keberadaannya. Vanila bahkan melangkah pergi saat Abraham sudah berdiri di sisinya. Napas berat dihembuskan, wanita yang sulit untuk ditundukkan tapi itu adalah tantangan.


"Marion, aku sudah mau pergi. Tolong jaga Ana baik-baik," teriakan Vanila terdengar.


Abraham keluar dari dapur dengan terburu-buru, bolehkah dia yang mengantar Vanila? Semoga Vanila bersedia tapi sayangnya Vanila sudah pergi. Jarak yang dibuat oleh Vanila tidak mudah dia lewati.


Vanila menyibukkan diri di bar, rasanya tidak ingin kembali. Rasanya ingin minum sampai mabuk tapi dia tidak bisa melakukan hal itu karena Ana masih membutuhkan asi. Kedatangan Abraham sungguh tidak terduga, dia tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Sekarang, dia tidak tahu harus bagaimana karena dia benar-benar sudah nyaman dengan kehidupannya.


Tanpa Abraham pun dia bisa menikmati kehidupannya, dia tidak butuh pria itu dalam hidupnya bahkan dia tidak butuh pria mana pun karena dia sudah bahagia. Dia juga tahu, tidak mudah membuat pria itu pergi. Di juga tahu memang sejak awal yang salah adalah dirinya.


Napas berat dihembuskan, lebih baik dia berbicara dengan Bilt saja. Hanya sahabatnya itulah yang mengerti dirinya, mungkin setelah berbicara dengan Bilt perasaannya akan menjadi lebih baik.


"Ada apa? Jangan katakan kau menghubungi aku karena mau melarikan diri!" ucap Bilt dengan nada curiga.


"Tidak, aku tidak akan melarikan diri. Aku hanya ingin berbicara denganmu jika kau punya waktu."


"Tentu saja aku punya, katakan apa yang ingin kau bicarakan. Apa pria itu masih berada di sana?" sesungguhnya dia yakin Abraham masih berada di sana tapi dia hanya basa basi saja.


"Menurutmu, Bilt? Dia tidak mau pergi meski sudah aku usir!" ucap Vanila.


"Sudah aku duga, aku yakin kau tidak akan mudah mengusirnya pergi!"


"Bagaimana ini, Bilt?" Vanila terdengar putus asa.

__ADS_1


"Apanya yang bagaimana? Apa kau tidak senang dengan kedatangannya? Dia sudah jauh-jauh mencarimu, seharusnya kau senang. Bukankah kau ingin bersamanya dulu?"


"Itu dulu, Bilt. Sekarang berbeda. Aku sungguh sudah nyaman dengan kehidupanku saat ini, aku sangat menikmati kehidupanku dengan putriku tapi dia tiba-tiba datang dan mengacaukannya!"


"Ck, aku sungguh tidak paham tapi aku rasa seharusnya kau senang dengan kedatangannya!" ucap Bilt.


"Oh, jadi kau ingin aku bernyanyi dan menari melihat kedatangannya? Kau ingin aku berlari ke arahnya lalu memeluk dan meciumnya? Apa itu yang harus aku lakukan, Bilt?"


"Bukan seperti itu, Vanila. Aku tidak membela dirimu, aku juga tidak membela dirinya namun semua yang terjadi adalah kesalahanmu sejak awal. Baiklah, mungkin kau tidak butuh dirinya dalam hidupmu karena kau sudah nyaman dengan kehidupanmu. Lalu bagaimana dengan putrimu yang masih kecil? Setidaknya dia butuh sosok ayahnya. Yeah, jika kau mau menikah denganku maka aku akan menggantikan perannya untuk menjadi ayah dari putrimu," ucap Bilt sambil bercanda.


"Aku tidak akan melarangnya menemui Ana, Bilt. Kami bisa membagi waktu. Banyak pasangan yang melakukan hal itu tanpa perlu bersama," ucap Vanila.


"Apa itu cukup, Vanila? Kau di sana, sedangkan dia berada di London. Kau juga harus ingat, putrimu masih kecil. Jika putrimu sudah bisa bicara, aku rasa dia ingin kalian bersama tapi sayangnya dia masih bayi."


"Lalu, kau ingin aku melakukan apa, Bilt? Menikah dengannya?" tanya Vanila.


"Tidak, jangan asal bicara!" dia sendiri tidak tahu kenapa melakukan hal itu.


"Baiklah, sekarang aku tanya padamu, kenapa kau membencinya? Apa karena perbuatan yang dia lakukan dan perkataan terakhir yang dia ucapkan saat dia menangkap kita?"


"Entahlah," ucap Vanila enggan.


"Dengarkan aku baik-baik, Vanila. Dia mencambuk tubuhku, tapi aku tidak marah. Kenapa? Aku tahu itu adalah risiko yang harus aku dapatkan atas perbuatanku dan seharusnya kau tahu risiko dari perbuatan yang kita lakukan. Dia marah, itu wajar. Jika kita yang mengalami hal seperti itu, kita juga akan marah. Jika tidak percaya maka tanyakan pada kakakmu apa yang akan dia lakukan jika ada yang menculik dan memukulnya sampai hilang ingatan. Dia tidak membunuh kita, itu sudah bagus. Itu berarti dia masih memiliki hati, dan karena hal itu kau marah dan membencinya lalu apa dia tidak boleh marah pada kita yang sudah memukul dan menculiknya?"


Vanila diam, tidak menjawab. Semua yang terjadi memang akibat kesalahan yang dia lakukan. Dia tahu risikonya, seperti yang Bilt katakan seharusnya dia bisa menerima konsekuensinya.


"Aku berkata seperti ini bukan karena aku membelanya, jadi jangan salah paham. Aku hanya ingin kau berdamai pada dirimu sendiri dan pikirkan putrimu. Jika tidak ada Ana di antara kalian, maka aku tidak akan berkata seperti ini. Terserah kau mau melakukan apa, kau ingin menendangnya sampai ke pulau sekalipun aku akan mendukungmu!"

__ADS_1


"Aku tahu, Bilt," ucap Vanila. Sejak awal dialah yang menginginkan Ana hadir, sebab itu dia rela menyerahkan dirinya pada Abraham. Memang yang diucapkan Bilt sangat benar, semua berawal dari kesalahan yang dia lakukan.


"Jika begitu turunkan sedikit egomu, jangan dipersulit tapi jangan pula dipermudah," ucap Bilt.


"Aku tahu, aku ingin lihat sejauh mana dia akan bertahan. Untuk pria seperti dirinya aku rasa tidak akan lama."


"Wow, jadi kau ingin mengetesnya?"


"Tidak juga, sejak awal aku tidak mengharapkan dirinya. Sudah aku katakan, aku sudah nyaman dengan kehidupanku di sini dan tanpa kehadirannya sekalipun aku tidak kekurangan sesuatu apa pun. Aku tidak akan mencegahnya untuk berusaha, jika dia sudah merasa tidak sanggup maka dia akan pergi dengan sendirinya."


"Hei, jangan terlalu kejam!" ucap Bilt mengingatkan.


Vanila tersenyum, kejam? Dia tidak akan melakukan hal kejam, dia hanya ingin melihat seberapa lama Abraham bertahan di tempat itu. Sepertinya dia harus mengajak pria itu bicara.


"Baiklah, tidak sia-sia aku menghubungimu. Terima kasih atas nasehat yang kau berikan, Bilt."


"Tidak jadi soal, tapi kau harus menjaga rahasia jika aku tidak pernah pergi ke sana. Ingat, kakakmu tidak boleh tahu!" sekarang dia tidak perlu mengkhawatirkan Abraham lagi, dia justru mengkhawatirkan Norman.


"Tenang saja, kakakku tidak akan tahu."


"Bagus, aku harap kau benar-benar bisa berdamai dengannya untuk putri kalian!"


"Entahlah," lagi-lagi hanya itu jawaban Vanila. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mereka nanti, terus terang saja, dia tidak mau meninggalkan tempat itu.


Setelah berbicara dengan Bilt, Vanila memilih pulang karena dia sudah selesai. Selama di perjalanan, Vanila berpikir keras untuk nasehat yang Bilt berikan.


Saat melihat dia kembali, Abraham menggendong Anatasya dan menyambutnya di depan rumah. Abraham bahkan melambai ke arahnya, luar biasa. Mendadak dia merasa sedang disambut olah suami dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2