Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)

Kidnap A Cruel Billionaire (Menculik Billionaire Kejam)
Aku Tidak Akan Lari


__ADS_3

Bilt menghentikan motornya di depan rumah Vanila pagi itu. Setelah mendapatkan pesan dari Vanila, Bilt memutuskan untuk mendatangi rumah Vanila karena dia ingin melihat keadaan gadis itu. Dia bisa menebak jika saat ini Vanila pasti sedang bersedih dan menangis.


Bilt turun dari atas motornya dan bergegas menghampiri pintu rumah. Pemuda itu melihat sana sini dan mengingtip dari jendela untuk melihat ke dalam, jangan sampai Vanila gantung diri karena hal ini. Biasanya orang yang putus cinta akan melakukan apa saja tapi semoga saja Vanila tidak melakukan perbuatan bodoh itu.


"Vanila!" Bilt berteriak memanggil sambil menggetuk pintu. Suasana hening, tidak ada yang menjawab. Bilt kembali mengintip lalu kembali memanggil Vanila.


Vanila terbangun dari tidurnya mendengar suara teriakan dan juga suara gedoran pintu yang begitu kencang di depan sana. Vanila duduk di atas ranjang dengan terburu-buru. Jangan-Jangan Abraham sudah kembali dengan beberapa anak buahnya untuk memberinya pelajaran.


"Vanila, jika tidak membuka pintu ini maka aku akan menghancurkannya menggunakan buldozer!" teriak Bilt.


"Bilt," ucap Vanila pelan. Senyum menghiasi wajahnya, Vanila turun dari atas ranjang dengan terburu-buru dan berlari keluar.


"Buldozer sudah siap, Vanila!" teriak Bilt.


"Jangan, rumah ini bukan punyaku!" teriakan Vanila terdengar dari dalam rumah.


Bilt mendengus, ternyata masih hidup. Bilt menggeleng saat pintu terbuka dan Vanila keluar dalam keadaan kacau. Sudah dia duga, Vanila pasti menangisi perpisahan itu.


"Menyebalkan, mana buldozernya?" tanya Vanila seraya melihat sana sini.


"Bodoh, sewa benda itu mahal. Aku hanya berbohong!"


"Menyebalkan, kau membuat aku berlari ketakutan!" dengus Vanila kesal.


"Nih, untukmu!" Bilt memberikan makanan yang dia bawa untuk Vanila.


"Wah, kebetulan aku lapar," Vanila mengambilnya dan meminta Bilt untuk masuk ke dalam.


Bilt mengikuti langkah Vanila menuju dapur, dia juga melihat sana sini. Ternyata benar, Abraham Aldway sudah tidak berada di rumah itu lagi.

__ADS_1


"Jadi dia sudah pergi?" tanya Bilt basa basi.


"Hm, seperti yang kau lihat," jawab Vanila sambil menjilati suas tomat yang mengenai jarinya.


"Lalu, apa yang kau tunggu?" tanya Bilt.


"Apa maksudmu, Bilt?" Vanila menatap sahabatnya dengan tatapan tidak mengerti.


"Apanya yang apa? Pergi dari sini, Vanila. Sekarang adalah kesempatanmu untuk pergi agar dia tidak menemukan keberadaanmu ketika dia datang. Kau tidak mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, bukan? Aku yakin dia akan mengetahui kebenarnya sesegera mungkin jadi sekaranglah kesempatan yang kau miliki untuk pergi!" ucap Bilt. Apa Vanila tidak memikirkan hal ini? Seharusnya dia tahu konsekuensi saat Abraham kembali.


Vanila belum menjawab, dia sedang menikmati pizza yang Bilt belikan. Ini memang kesempatannya untuk lari selama Abraham belum kembali tapi dia sudah memutuskan untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti. Dia sudah tidak mau melarikan diri apa lagi dia tahu Abraham pasti akan mencarinya sampai ketemu. Dia sedang melarikan diri dari keluarganya, jangan sampai dia melarikan diri dari Abraham lagi. Lagi pula apa yang akan terjadi, biarlah terjadi.


"Kenapa kau tidak menjawab?" tanya Bilt.


"Tidak, Bilt. Aku tidak akan lari ke mana pun!"


"Apa? Apa kau sudah gila, Vanila?" Bilt menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.


"Kau benar-benar gila. Apa kau tidak tahu? Dia tidak akan segan membunuhmu sekalipun kau seorang wanita!" ucap Bilt. Semoga Vanila memikirkan keputusannya setelah dia mengatakan hal itu tentang Abraham karena dia tahu pria itu memang akan membunuh siapa saja dan dia bisa menebak, Abraham tidak akan melepaskan Vanila karena perbuatan yang gadis itu lakukan padanya.


"Aku tahu, Bilt," Vanila tersenyum, "Aku sangat tahu oleh sebab itu aku tidak akan lari atau pun bersembunyi. Aku akan menunggu kedatangannya dan menerima kemarahannya sekalipun dia akan membunuh aku. Lagi pula hidupku tidaklah berarti," ucapnya lagi.


"Apa maksudmu hidupmu tidaklah berarti? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Bilt sungguh ingin tahu akan hal ini apalagi Vanila sedang dicari-cari oleh orang yang tidak tahu siapa.


"Tidak, apa yang bisa disembunyikan oleh gadis seperti aku?"


"Jika begitu, siapa orang-orang yang mengejarmu, Vanila. Jangan menipuku jadi katakan siapa mereka?"


"Entahlah, aku tidak tahu!" jawab Vanila seraya mengangkat bahu.

__ADS_1


"Tidak mungkin kau tidak tahu. Apa kau tidak mau mengatakannya padaku karena aku tidak bisa dipercaya?"


"Bukan seperti itu, Bilt. Tolong jangan salah paham. Aku benar-benar tidak tahu siapa mereka," dia memang tidak tahu siapa anak buah yang diperintahkan kakaknya jadi dia tidak menipu tapi salahkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bilt. Jiak dia bertanya siapa yang mengutus orang-orang itu maka akan dia jawab dengan benar.


"Baiklah, aku senang kau baik-baik saja. Tapi aku harap kau pergi dari sini. Bagaimanapun aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Terima kasih juga untuk makanannya," ucap Vanila.


"Aku takut kau melakukan hal bodoh. Sebaiknya jangan terlalu banyak menangis. Lagi pula kalian bukan pasangan kekasih dan lagi pula, kau dan dia pasti akan berpisah mau hari ini atau besok!"


"Aku tahu. Terima kasih, Bilt. Petualanganku dengannya sudah berakhir tapi jika ada yang tampan lagi, kau mau membantu aku menculiknya, bukan?" goda Vanila.


"Tidak!" tolak Bilt dengan cepat, "Kali ini aku tidak akan membantumu melakukan hal gila lagi sekalipun kau akan memberikan aku banyak uang!" ucapnya lagi.


"Sayang sekali," ucap Vanila sambil terkekeh.


"Ck, berhenti melakukan hal gila!"


"Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius," Vanila tersenyum manis. Bilt merasa lega melihat keadaannya yang baik-baik saja.


"Jika begitu aku pulang, tidak perlu mengantar. Habiskan semua makanannya dan ingat, jangan terlalu bersedih."


"Terima kasih sudah datang, Bilt."


"Tidak perlu berterima kasih, aku akan menjemputmu nanti," Bilt mengusap kepala Vanila sebelum beranjak pergi.


Vanila mengangguk dan tersenyum tipis, tatapan matanya melihat ke arah Bilt yang keluar dari dapur dan setelah itu dia kembali makan. Vanila diam, usapan tangan Bilt membuatnya teringat dengan kebersamaannya dengan Abraham.


Air mata menetes tanpa dia inginkan, padahal belum lama mereka berpisah tapi kenapa terasa begitu menyakitkan? Rasa rindu yang dia rasakan juga semakin besar. Rasanya tiba-tiba menjadi sepi dan hampa karena selama kurang lebih satu bulan Abraham tinggal dengannya tapi sekarang, dia harus membiasakan diri karena tidak adanya sosok pria itu lagi.

__ADS_1


Vanila beranjak setelah menikmati pizza, dia kembali masuk ke dalam kamar dan berbaring di ranjang sambil memeluk baju Abraham. Dia benar-benar sudah seperti anak kecil tapi dia yakin dengan seiring berjalannya waktu, dia bisa melupakan Abraham itu pun jika dia dilepaskan oleh pria itu karena seperti yang dikatakan oleh Bilt, Abraham tidak akan bermurah hati sekalipun dia adalah wanita apalagi saat Abraham tahu siapa dirinya.


__ADS_2