
"Kak! bener 'kan? Bener kamu masih ngurung Oliv?" Tanya Citra lagi.
"Lepas, dilepaskan kok sayang." Jawab Bara menelan rasa gugupnya demi menutupi masalah itu.
"Kamu pasti lagi bohong kan? Jawab yang jujur kak." Tukas Citra masih curiga.
"Aku udah jujur, Tapi kamu ada hadiah apa untuk kemurahan hati aku itu hem?" Tanya Bara mendekatkan wajahnya dengan wajah Citra.
*Aku tidak boleh salah tingkah dan kata sedikitpun, Audrin bisa-bisa akan tau kalo aku bohong, Audrin sangat sensitif.* Batin Bara berusaha untuk berhati-hati dalam bertindak.
"Nga- ngapain dekat-dekat?!" Sentak Citra bertanya dengan gugup.
"Engga ada apa-apa, Aku cuma teringat ada orang yang diam-diam curi cium aku dulu, aku berfikir untuk memintanya lagi secara khusus." Jawab Bara menjauhkan wajahnya kembali.
Citra lantas merona karena malu mengingat apa yang telah ia lakukan dulu, Sungguh berani dia curi cium Bara waktu itu. Entah apa yang ada di pikirannya hingga ia sangat berani untuk bertindak seperti itu.
"Hahaha, Ih aku bercanda... Ayo pulang, kamu bilang Tante sana Om mau telepon kan?" Ujar Bara merangkul Citra pergi.
"Ish lepasin ah! Jangan nyari kesempatan dalam kesempitan deh!" Desis Citra menyingkirkan tangan Bara dari pinggangnya.
"Iya Queen... Aku juga takut di tendang sama Papa mu." Balas Bara mengangkat kedua tangannya bak berhadapan dengan polisi.
"Ishh, Papa gak jahat ya! Papa itu malaikat ku." Desis Citra membela sang Papa dan merasa bangga pada papanya.
🌬️🌬️🌬️🌬️🌪️
Pasangan suami istri tengah duduk santai di kamar mereka, mereka sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk menghubungi putri mereka. Sudah beberapa hari ini mereka tidak mendengar suara putri mereka, karena mereka hanya bertukar kabar dengan Chet saja.
"Pa, gak nanti aja? Jam segini Citra pasti baru selesai ngampus." Ujar Mama Fahira duduk di sebelah sang suami.
"Justru itu, kalo udah malem cicit harus istirahat, jadi ya jam segini aja hubungi Cicit biar nanti anak kita bisa istirahat dengan leluasa." Jelas Papa Ilham.
"Hem ya udah deh terserah Papa, kayaknya gak buruk juga." Tukas Mama Fahira setuju.
"Mama mau bangunin anak-anak untuk shalat dulu ya Pa, Papa telepon aja Citra dulu, nanti mama kembali." Tutur Mama Fahira bangun dari duduknya.
"Iya Ma, jangan sampai mereka melewati shalat subuh." Ujar Papa Ilham mengangguk dan tersenyum.
_
_
"Assalamualaikum Papa... Gimana kabar Papa?" Salam Citra dan di akhiri pertanyaan.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah baik sayang, kamu gimana disana? Makannya cukup? Istirahatnya Cukup?" Jawab Papa Ilham sekaligus bertanya balik.
"Heheh cukup kok Pa, Papa tenang aja." Jawab Citra terkekeh kecil.
__ADS_1
Keduanya pun mengobrol lumayan lama hingga Mama Fahira dan kedua adik Citra muncul, keempatnya pun mengobrol gembira melepas rindu karena telah berjauhan begitu lama.
"Kakak, Liburan ini Mama sama Papa setuju bawa kita ke Jakarta." Ungkap Sandy girang.
"Wahhh asik dong, sayang banget kakak gak bisa kumpul." Celetuk Citra tersenyum.
"Gak apa-apa, kan masih banyak waktu, nanti kalo kak Citra udah balik kita tinggal liburan lagi aja." Balas Sandy dengan bangganya.
"Hahaha iya iya." Ucap Citra terkekeh.
"Aca gimana sekolahnya? Adik kakak ini udah besar aja ya." Tanya Citra beralih pada Arsha yang dari tadi hanya menyimak.
"Baik Kak, sekarang Aca udah punya banyak teman. Tapi Aca gak suka beberapa." Jawab Arsha mengadu.
"Loh? Emang Kenapa?" Tanya Citra bingung.
"Mereka ngajakin Aca buat main gadget, padahal masih kecil, Kata Kak Cicit kan gak baik anak kecil main gadget." Jawab Arsha.
"Wahh pintarnya adik kakak, Tapi apa kamu gak malu? Mereka pasti hina kamu kan?" Tanya Citra lagi, ia sangat tau rasanya ada di tengah-tengah yang namanya pertemanan.
Kedua orangtuanya sadar bahwa putrinya itu tengah khawatir pada sang adik, mereka tau bahwa Citra sangat tidak menginginkan adiknya merasakan yang namanya di tindas seperti dirinya dulu.
"Aca ayo cerita." Ujar Citra penasaran.
"Mereka bilang Mama Papa pelit gak mau belikan aku gadget, padahal kan aku yang gak mau minta. Ternyata benar kata Kak Bara, berteman itu harus hati-hati." Ungkap Arsha memangku tangan di dada.
"Ehem. Kak Bara bilang supaya aku hati-hati dalam berteman, dia takut aku di tindas. Dan seseorang yang penting baginya akan sedih." Jawab Arsha.
"Kak, Aca bingung deh! Kalau aku ditindas kenapa orang yang... Yang penting bagi Kak Bara yang sedih? Terus siapa itu?" Sambung Arsha bertanya-tanya.
Citra lantas tersenyum, ia tau bahwa yang Bara maksud adalah dirinya. Citra sungguh bersyukur ada Bara yang bersedia memberikan ketulusan untuknya.
Setelah puas berbincang-bincang akhirnya Citra mengakhiri panggilan video antara dirinya dan keluarga. Yah itu Citra lakukan karena ia harus bersih-bersih sebelum istirahat.
Tok tok tok
"Iya sebentar." Seru Citra yang baru saja selesai mandi.
CEKLEKK.....
Citra memunculkan kepalanya dari balik pintu mengintip siapa yang telah datang berkunjung, terlihat laki-laki tampan yang sangat ia cintai tengah tersenyum hangat pada dirinya, dan tentu ia balas tak kalah hangat pula senyuman itu.
"Ada apa?" Tanya Citra.
"Mau gak aku ajak makan di luar? Emm sebenarnya sih ini Bunda yang ngajakin." Jawab Bara sedikit berat.
"Haha Gak bisa nolak dong kalo gitu." Celetuk Citra terkekeh.
__ADS_1
"Ya udah tunggu disini, aku siap-siap dulu." Ujar Citra yang di angguki oleh Bara.
Citra pun masuk kembali dan bersiap-siap untuk makan malah bersama keluarga kekasihnya itu, Bara juga setia menunggu dengan sabar Citra yang sedang bersiap, dan Bara juga tau persis berapa lama Citra bersiap saat ingin pergi dengannya.
"Baiklah 10 detik lagi." Ucap Bara mengeluarkan sebuah kotak kecil yang di tutupi dengan tutup kaca.
10....... 6, 5, 4.... 2, 1
Ceklekk......
"Spesial untuk malam ini." Ucap Bara menyodorkan kotak kecil itu ketika Citra baru saja membuka pintu.
Citra terkejut dan menatap kotak kecil itu, karena tutupnya yang terbuat dari kaca Citra bisa melihat jelas apa isinya, sebuah kalung yang indah.
"Ya Allah indah banget... Kak ini kalungnya cantik banget loh." Celetuk Citra kagum.
"Pakai dong, atau aku yang pakaikan?" Ujar Bara menawarkan diri.
"Kalo mau romantis tuh jangan setengah-setengah dong." Tukas Citra datar.
Bara lantas tersenyum dan berjalan ke belakang Citra. "Baik yang mulia Ratu." Ucap Bara meraih kalung tersebut dan siap untuk di pakaikan ke leher Citra.
Setelah menyingkirkan rambut Citra ke depan, Bara pun mulai memasangkan kalung cantik itu ke leher Citra, Citra diam-diam tersenyum menerima perlakuan manis itu, Jujur ini pertama kalinya Bara memakaikan kalung untuk Citra.
"Bagaimana Ratuku? Suka?" Tanya Bara setelah memasangkan kalung tersebut.
Citra pun meraih kalung di lehernya dan menatapnya, Citra tiba-tiba mengernyit dan Bara yang melihat itu menjadi panas dingin.
"Kak! Ini kalung apa?!" Tanya Citra rada ketus.
"Eng... Ka-Kalung biasa kok." Jawab Bara membuang muka.
"Kamu ini ketara banget kalo lagi boong, Ini kalung berlian kan?" Tukas Citra di akhiri pertanyaan.
Bara diam sejenak dan kemudian mengangguk, Tetap saja tidak bisa membohongi kekasihnya itu, matanya sungguh jeli padahal Bara sudah secara khusus membuat kalung berlian itu sehalus mungkin agar Citra tak curiga ia memberikan kalung berlian padanya.
"Ihh kamu ini ya, kan aku udah pernah bilang jangan kasih aku berlian! Aku gak suka terlalu mencolok." Tukas Citra rada jengkel.
"Sayang Maaf.... Jangan di tolak dong, aku udah mendesign nya sehalus mungkin agar tampak seperti kalung biasa, jangan nolak ya... Sia-sia dong aku bayar pihak perhiasan kalo di tolak." Ujar Bara melas ketika melihat Citra ingin melepas kalung berlian tersebut.
"Coba bercermin, Itu tampak sederhana kok. Aku yakin kamu gak akan kecewa." Sambung Bara memberikan pertimbangan.
Citra pun meraih cermin kecil di tas selempang nya dan menatap kalung itu dengan cermin, Ia tak mengatakan apapun dan menaruh kembali cermin tersebut lalu menarik Bara pergi. Bara pun bertanya-tanya apakah Citra keberatan atau tidak sebenarnya? mengapa ia tak mengatakan apapun? Yah... Begitulah.
BERLIAN MAU DI TOLAK ASTAGA.....😭🥵
BERSAMBUNG............................................
__ADS_1