
Kini Bara tengah bersiap untuk pergi ke pesta keluarga meida, lebih tepatnya membunuh. Bara sedang berada di hotel ternama di Washington, dengan Kenzo yang menemani dan para anak buahnya yang menjaga di depan pintu kamar hotel. Kenzo membantu Bara mempersiapkan segala yang Bara perlukan. Setelah itu ia pergi keluar menunggu Bara selesai berganti pakaian.
20 menit kemudian, Bara membuka pintu kamar hotel, Dengan tampilan Baru yang sangat lama tidak pernah dirinya sentuh. Kemeja putih, Jas Navy, dan sepatu pantofel yang menambah nuansa kedewasaannya.
"Tuan Muda, ini adalah catatan saham yang berhasil kita jatuhkan, semuanya sudah di dapatkan dengan mudah, dan besok mereka akan mengumumkan kebangkrutan mereka." Ujar Kenzo yang hanya dibalas daheman oleh Bara.
"kirim beberapa orang lagi untuk menjaga Audrin, ingat! Harus yang handal. Jika sampai terjadi apa-apa pada audrin, nyawa mereka dan juga kamu sudah tidak di perlukan lagi." Tegas Bara penuh penekanan.
"Baik Tuan Muda."
Segera Kenzo menghubungi anak buah handal yang geng Black Devils miliki. Ya, itu adalah nama kelompok persatuan yang Bara dirikan, Geng Black Devils. Sebuah kelompok yang terkenal beberapa tahun lalu.
1 Jam Berlalu Bara sudah 10 menit ada di keluarga Meida, kabar dari sang penjaga bahwa keturunan Harrison Delwyn akan datang membuat kepala keluarga Meida menjadi besar kepala.
Mereka mengabaikan tamu lain demi menyambut keturunan Harrison Delwyn, dan tanpa mereka ketahui orang yang mereka tunggu tunggu telah ada di tengah tengah kerumunan tamu yang lain.
"Tuan Muda, mereka menunggu anda." Celetuk Kenzo memberitahu.
"Aku tau, biarkan saja. Mereka tidak tau bahwa yang datang bukan ayah, tapi aku." Ucap Bara santai seraya menatap pasangan suami-istri keluarga meida itu.
"Pertunjukan bagusnya masih tinggal 20 menit lagi." Sambung Bara tersenyum misterius seraya menggoyang minuman di tangannya.
*Sungguh tak masuk akal. Tuan Muda yang tak suka ada di tengah tengah keramaian sekarang malah bertahan selama ini. Nona memang sangat berpengaruh terhadap tuan muda.* Batin Kenzo menatap Bara diam diam.
Sementara Kenzo dan Bara menunggu 20 menit waktu memulai aksinya, Di rumah sakit Citra sudah sadarkan diri. Ia melihat langit langit rumah sakit, kemudian melihat sekeliling guna mencari keberadaan orang yang ia Cintai. Nihil, Bara tidak ada karena sedang berada di rumah keluarga meida.
Citra memanggil manggil nama Bara. Beberapa anak buah Bara yang menunggu diluar pun mendengar panggilan itu. Salah satu dari mereka pun masuk untuk menemui Citra. Citra sempat kaget saat kemunculan laki laki berpakaian hitam di ruangannya, namun akhirnya sebuah penjelasan dari orang itu membuat Citra tenang.
"Apa Nona memerlukan sesuatu? Saya akan ambilkan apapun itu." Ujarnya tersenyum.
"Tidak, Dimana Kak Bara?" Tanya Citra yang sibuk ingin bertemu Bara.
"Tuan Muda sedang keluar Nona." Jawabannya agak canggung.
"Hubungi dia, minta dia kembali. Aku ingin bertemu." Pinta Citra menatap orang di hadapannya itu.
__ADS_1
"Tapi.... Tuan tidak dalam kondisi bisa di ganggu Nona." Ucapnya bimbang.
Citra terdiam. Ia berfikir pekerjaan apa yang Bara lakukan hingga dia tidak bisa di ganggu bahkan dengan kabar dirinya telah sadar? Akhirnya Citra meminta untuk di antar ketempat Bara berada. Namun tetap saja anak buah Bara menolak nya, bagaimana tidak? Tidak mungkin mereka membawa Citra melihat Bara membunuh.
Berulang kali Citra meminta hal sama, dan berkali kali pula anak buah Bara menolaknya, hal itu membuat Citra menjadi penasaran sekaligus curiga. Hingga pada akhirnya..................
"Bawa aku menemui kak Bara atau aku bunuh diri disini." Ancam Citra dengan sebilah pisau buah tepat di lehernya.
"NONA!!" Pekik nya melihat aksi Citra.
Teriakan rekan kerjanya itu membuat yang lainnya menjadi terkejut. Mereka pun masuk kedalam ruangan untuk melihat apa yang terjadi, betapa terkejutnya mereka melihat Citra menodongkan pisau ke dirinya sendiri.
"Nona tenang, turunkan pisau itu." Ucapnya berusaha menenangkan Citra.
"Tidak! Aku mau bertemu Kak Bara!" Tolak Citra histeris.
"Tidak mungkin kami membawa anda ke sana! Di sana berbahaya Nona." Teriak salah satu di antara mereka yang seketika mendapat bungkaman dari rekan lainnya.
"No-Nona... Tenang, jangan dengarkan dia."
"Bawa aku menemuinya! Yang dia katakan benarkan?! Itu sebabnya kalian terus melarang ku! Kalian pikir aku bodoh!" Sentak Citra tak sabar.
Mereka hanya terus diam seraya melirik masing masing. Mereka bingung antara membawanya atau tidak. Tapi Citra sudah hilang kendali, dirinya benar-benar ngotot ingin bertemu Bara.
"Oh baik! Kalian tidak mau ya!" Tukas Citra tersenyum misterius.
"AGHHHH SSHHH" Ringis Citra menahan sakit.
Teriakan meringis itu menggema di seluruh ruangan itu, para anak buah Bara yang sedari tadi menunduk menjadi mendongak kasar. Betapa terkejutnya mereka melihat Citra menggores tangannya sendiri hingga selimut yang ia kenakan telah bersimbah darah.
Buru-buru salah satu dari mereka yang merupakan anak buah handal Bara menghampiri Citra dan membuang pisau di tangan Citra. Anak buah yang lainnya buru-buru memanggil dokter yang tak berselang lama dokter pun datang dengan panik dan cemas.
Sementara itu di sisi lain di keluarga Meida, Identitas Bara sudah di beritahukan oleh penjaga waktu itu, Tuan besar keluarga meida amat kaget ternyata orang yang di tunggu tunggu sudah datang sejak awal.
"Tuan Muda, sungguh maaf kami tak menyambut, saya benar-benar tidak tau bahwa itu anda."
__ADS_1
"Tidak masalah. Sebaiknya bantu aku menghitung mundur dari angka 10." Ujar Bara tersenyum misterius.
"Ha??" Ucapnya terheran.
10, 9, 8, 7, 6......
Kenzo dan beberapa bawahan yang lain menghitung dengan bangga nya, sementara anggota keluarga meida saling menatap satu sama lain karena bingung dengan situasi yang dilihat nya.
3...
2...
1...
"Baiklah cukup, waktu yang pas, 10:00. Bawa berkas itu kemari." Ucap Bara menggantung tangannya meminta sebuah laporan kebangkrutan keluarga Meida.
Kenzo menyerahkan berkas itu dengan senyum miring, dia benar benar tak sabar menonton pertunjukan bagus.
"Ini hadiah dari ku." Ucap Bara menyerahkan berkas itu pada kepala keluarga Meida.
Dia pun membaca berkas yang Bara serahkan, betapa terkejutnya dia melihat isinya. Dia benar benar tak percaya dengan berkas yang dia pegang. Perusahaan nya jatuh, dan sahamnya berhasil di rebut oleh perusahaan Handika Cabang. Delwyn Of Handika.
"Ini, tidak mungkin. Aku saja tidak menerima kabar apapun!" Sentak nya tak percaya.
"Karena aku yang meminta mereka tidak memberitahu mu, jika tidak kejutan ku akan gagal bukan?" Ujar Bara tersenyum devil.
"Tidak mungkin! Kau pasti berbohong!" Sentak nyonya Meida pula.
"Hei! Jaga nada bicara anda! Lihat anda bicara dengan siapa!" Sentak Kenzo tak terima.
"Biarlah Ken, dalam hitungan ketiga akan ada yang memberi tau kebenaran nya."
Dan benar saja, dalam hitungan detik ketiga kepala keluarga Kenward dan Dickson datang menghampiri kepala keluarga Meida dan memberitahukan kejatuhan perusahaan mereka.
"Tuan Josep, perusahaan kita benar benar telah jatuh!" Ungkap nya dengan ekspresi frustrasi nya.
__ADS_1
• WAH... BENAR BENAR BANGKRUT TERNYATA GUYS... 😱
BERSAMBUNG............................................