Ku Kejar Cinta Audrin

Ku Kejar Cinta Audrin
Episode 90


__ADS_3

8 menit 45 detik tersisa dari waktu yang ayahnya katakan, Bara tetap menunggu di sisi Citra Tampa melepaskan genggaman tangannya. Ia benar benar menunggu gadis yang amat ia cintai membuka matanya kembali.


"Sayang, biar aku tanya sesuatu. Apa kamu akan marah bahkan membenciku jika aku menghancurkan keluarga Meida, Kenward dan Dickson?" Tanya Bara tersenyum tipis pada Citra yang masih tak sadarkan diri.


"Kamu pasti tak akan setuju jika aku melakukan itu, iya kan? Tapi aku benar-benar tak bisa melepaskan mereka yang telah menyakitimu." Lirih Bara seraya mengelus rambut Citra lembut.


"Jika nanti kamu meminta ku melepaskan mereka, aku akan menuruti kemauan mu. tapi, aku hanya akan mengampuni nyawa mereka, tidak dengan kehidupan mereka." Tegas Bara.


"Aku ingin mengatakan semuanya pada mu, tapi aku takut kamu akan takut dengan diriku yang sebenarnya." Lirih Bara tersenyum miris.


Bara terus bicara sendiri seraya menunggu kesadaran Citra. 10 menit kemudian lebih dari perkiraan Citra mulai menggerakkan jari jemari nya yang memperlihatkan tanda kesadarannya.


Kurang dari 9 helaan nafas Citra mulai membuka matanya perlahan. Namun sungguh gadis yang malang, baru saja siuman dirinya harus menanggung ketakutan terhadap trauma yang dimiliki sedari kecil. trauma yang kembali terulang yang membuat Citra menjerit dan menahan sakit di kepalanya saat mengingat kenangan kenangan menakutkan baginya itu.


"Suuhtt... sudah tidak apa-apa, ada aku disini." Cicit Bara mendekap Citra dalam pelukannya.


"Hiks, itu terjadi lagi..... Kenangan pahit itu... Hiks, kenangan pahit itu terulang lagi...." Isak Citra dengan tubuh yang gemetar.


"Rasa sakit itu.... eghh kak... Sakit sekali...." Isak Citra yang kemudian memegangi dadanya yang terasa menusuk.


"Sayang ada apa dengan mu?" Tanya Bara dalam kepanikannya.


Citra tak menjawab, dirinya benar benar tak kuasa untuk melakukan apapun, bahkan sekedar bicara untuk menjawab pertanyaan Bara. Citra terus meremat dadanya yang masih sangat menusuk, ia merasakan sesak di dadanya yang tentu karena mengingat kenangan buruk itu yang membuat dirinya tertekan.


Dengan air mata yang terus mengalir deras, Citra berusaha menahan rasa sakit itu. Bara memeluk Citra erat, ia juga merasakan sakit saat melihat gadisnya kesakitan. Jeritan dan Isak tangis terus menggema di telinga Bara hingga gadis itu mulai melemah dan kembali kehilangan kesadaran nya.


"Drin, Audrin ada apa dengan mu? Sayang bangun!" Panggil Bara menepuk pipi Citra pelan.


"Kenzo! Bawa dokter kemari! cepat!" Teriak Bara dari dalam ruangan.


Kenzo yang menunggu di pintu ruangan itu pun kaget mendengar teriakan Bara, Kenzo buru-buru memanggil dokter untuk keruangan Citra.


Tak berselang lama, Kenzo pun kembali dengan dokter yang sama, yang memeriksa Citra di awal. Dokter itu dengan langkah besar dan panik mengikuti Kenzo menuju ruangan Citra.


"Tuan apa yang terjadi?" Tanya dokter itu cemas.


"Ak-aku, aku tak tau. Dia memegangi dadanya dan mengatakan sakit. La-lalu, lalu dia langsung tak sadarkan diri.." lirih Bara menahan sakit di hatinya, bahkan ia sampai menjeda jeda kalimatnya.


Dokter itu dengan perasaan cemas memeriksa kondisi Citra, sedangkan Bara tetap menggenggam tangan Citra erat dengan tangan yang gemetar. Ia benar-benar benci pada orang yang telah membuat kekasihnya menjadi seperti ini.


Oh iya Kenzo, yah Kenzo, hampir melupakan Kenzo. Kenzo tetap setia berdiri di belakang Bara. Ia khawatir dengan keadaan tuan mudanya itu, Bara belum makan dan minum apapun dari tadi, hingga membuat Kenzo sangat khawatir.

__ADS_1


*Demi nona, tuan muda tidak makan bahkan meminum sesuatu. Sepertinya nona benar benar penting untuk tuan muda. Dan sepertinya nona lah yang telah membuat tuan muda memiliki hati, Hingga ia bisa menoleransi orang lain.* Batin Kenzo menatap Bara dan Citra bergantian.


"Ken, besok pagi aku ingin melihat berita kebangkrutan 3 keluarga itu." Tegas Bara.


"Tuan muda benar-benar...."


"Aku tak akan melepaskan mereka! aku mau keluarga Meida, Kenward dan Dickson mengumumkan berita kebangkrutan nya besok! Dan itu harus! Jika kau tak melakukan nya dengan benar, ini adalah bayaran untuk mu!" Tekan Bara menodongkan pistol ke kepala Kenzo dengan gerakan cepat. Bahkan Kenzo tak tau kapan Bara mulai mengangkat senjata itu.


Kenzo sontak menegang karena terkejut. Kenzo benar benar tak menyangka Bara siap kapanpun membunuhnya demi gadis yang Baru Kenzo temui itu. Kenzo benar benar harus melakukan tugas itu tampa salah sedikit pun, jika tidak ia benar-benar tidak bisa menjamin hidupnya.


Sementara dokter yang memeriksa Citra tersentak dan hampir berteriak, namun Bara sigap membentaknya agar tetap diam dan fokus memeriksa Citra, Dokter itu pun membisu dan melanjutkan memeriksa Citra dengan kondisi yang tegang.


*Bahkan dia tak takut dengan 3 keluarga besar itu. Siapa sebenarnya laki-laki ini?* Batin dokter itu bertanya tanya.


"Kau paham Ken? Kau harus tau satu hal, apapun yang menyangkut Audrin aku akan menindak lanjuti hal itu tampa pengampunan, termasuk pada mu." Ucap Bara menegaskan seraya memutar-mutar pistol di tangannya bak memutar sebuah tali.


"Mengerti Tuan Muda, saya pasti akan menyelesaikan Semuanya dengan sebaik mungkin." Jawab Kenzo berusaha tenang.


"Baiklah, kerjakan sekarang juga, itu akan aku berikan sebagai hadiah sebelum KEMATIAN mereka. Hoho bukankah aku sudah sangat baik, Ken?" Ujar Bara penuh penekanan seraya tersenyum devil.


*Benar benar tatapan membunuh yang menakutkan.* Batin Kenzo tak berani menatap mata Bara.


"Kalau begitu saya undur diri dulu tuan muda." Ucap Kenzo menunduk hormat.


"Oh ya Ken, Siapkan aku baju pesta yang bagus dan mahal, aku harus tampil luar biasa di malam nanti. bukankah begitu senjata ku?" Sambung Bara saat Kenzo mulai beranjak pergi seraya menatap pistol di tangannya dengan senyum devil dan sesekali mengelus pistol itu.


"Ba-Baik tuan muda. Saya undur diri." Jawab Kenzo gugup seraya beranjak pergi.


*Ini bahaya, Nanti malam benar benar akan ada malam pembantaian.* Batin Kenzo takut.


Setelah Kenzo tak terlihat lagi, Bara mengatur nafasnya sebelum berbalik menatap dokter yang memeriksa Citra. Setelah dirasa nafasnya tidak memburu lagi Bara pun berbalik dan bertanya kondisi Citra pada dokter itu.


"Nona baik-baik saja, hanya saja nona pingsan karena mengalami tekanan berat. Mohon tuan menjaganya agar tidak terlalu tertekan. Jika tidak itu akan membahayakan kondisinya sekarang." Ucap dokter itu menjawab pertanyaan Bara.


"Baiklah, aku mengerti." Balas Bara menatap Citra sendu.


"Kalau begitu saya permisi Tuan Muda." Ujar dokter itu menunduk.


"Iya." Jawab Bara singkat dan dingin.


_

__ADS_1


_


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Kenzo akhirnya telah sampai di markas persembunyian mereka selama ini, Kenzo memberi pengumuman perintah bahwa mereka tidak perlu bersembunyi dari dunia luar seperti yang Bara instruksikan.


Kenzo kemudian memanggil beberapa bawahan unggul nya dan membagi nya menjadi 3 kelompok untuk pergi ke kediaman 3 keluarga yang telah berani bermain main dengan Bara. Setelah semuanya dijamin sesuai dan lengkap, Kenzo dan beberapa bawahan terpilih nya itu mulai berangkat untuk memulai aksinya.


"Tuan Kenzo bilang untuk menghancurkan semua saham keluarga Dickson, sebenarnya apa yang terjadi hingga tuan muda bisa menurunkan perintah seperti ini?" Tanya salah satu bawahan yang di tugaskan ke perusahaan Dickson.


"Sudah jangan banyak tanya, Mereka pasti telah melakukan kesalahan fatal." Timpal bawahan lain menjawab rekannya.


"Yang membuat ku penasaran adalah, mengapa mereka berani main main dengan tuan muda? apa kau tau Endy?" Tanya rekan satunya lagi.


"Entahlah, aku tak tau itu. Tuan Kenzo juga tidak mengatakan apapun." Jawab Endy yang merupakan ketua kelompok ini.


Sementara itu dirumah sakit, Bara menghadap kedua orangtuanya. Ia mengatakan pada ayah dan ibunda nya tentang apa yang akan ia lakukan nanti malam. Kedua orangtuanya itu sangat terkejut, ia tak mungkin membiarkan Bara membunuh di depan umum.


"Bara, memberi pelajaran mereka di depan umum ayah tak akan melarang, tapi membunuh mereka, itu bahaya Bar." Ujar Lukman menasehati.


"Baik, kalau begitu aku tak akan membunuh anggota keluarga itu, tapi aku akan meminta putrinya sebagai tawanan ku! Dan ayah tak bisa mengubah keputusan terakhir ku ini!"


"Apa kau akan menyiksa gadis itu?" Tanya Lukman agak ragu.


"Oh ayah.... Siksa atau tidak, yang pasti aku tidak akan membiarkan dia hidup senang, aku akan membuat dia membayar atas apa yang dia lakukan! Berani mengusik ku, Mati pun tak pantas untuknya!" Tekan Bara seraya beranjak pergi tanpa menunggu balasan kedua orangtuanya itu.


"Mas, Bara tidak akan membahayakan dirinya sendiri kan? Aku juga mau mereka menerima balasan karena menyakiti calon mantu kita, tapi aku takut Bara melukai dirinya sendiri." Ujar Lista setelah putranya tak terlihat lagi.


"Sudah Bunda. Bara sangat hebat, dia tidak akan melukai dirinya sendiri."


"Aku berencana menunjukkan markas itu pada Bara, tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat. Biarkan Bara tenang dulu. Ayo kita kembali."


"Tapi audrin......"


"Sudah ada Bara dan anak buahnya yang menjaga, Sekarang kita harus ke Mension. Entah seperti apa Mension itu sekarang."


"Mas sih di ajak tinggal di sini aja gak mau." Tukas Lista menyalakan.


"Perusahaan di sini kan sudah aja Jennie yang urus Bun, sedangkan di London gak ada."


"Hemm baiklah, ayo kembali, aku lelah banget Mas." Ajak Lista yang di balas anggukan oleh sang suami.


Sebelum pergi, Lukman mengatakan pada anak buah Bara bahwa mereka akan kembali ke mansion, jadi apabila Bara mencari kedua orangtuanya, Anak buah Bara bisa memberitahu bahwa mereka sudah kembali duluan.

__ADS_1


Kedatangan Lukman ke Amerika sebenarnya karena sebuah kontrak kerja sama baru dengan sebuah perusahaan di Kanada. Sebenarnya bisa saja Bara yang menangani, hanya saja dirinya tak ingin di kenal publik sebelum dirinya benar benar siap mengambil alih perusahaan.


BERSAMBUNG..........................................


__ADS_2